
"Baiklah,,aku harus ke kantor sekarang. Nanti, aku akan menjenguk mu lagi. " Ucap Velix seketika sambil memegang bahu Jesi.
Jesi mengangguk sambil tersenyum senang mendengar janji Velix itu.
"Aku akan memberitahu anda jika ada hal yang penting mengenai Jesi tuan. Terima kasih sudah berkunjung ke sini. " Jawab Wandy.
"Jesi belum bisa memikirkan hal hal yang berat. Jangan sampai kau bicara hal yang akan membebani pikiran nya. " Bisik Velix pada Wandy.
Wandy mengangguk seolah mengerti.
Kemudian Velix keluar dari ruangan Jesi. Sebenarnya Velix sangat cemburu melihat Wandy dan jesi sekarang bersama. Tapi dia tidak mau Wandy akan curiga padanya, kalau dia mencintai Jesi.
Velix tak mau hal ini akan sampai ke telinga ayah nya. Meski sebenarnya dia ingin menggantikan posisi Wandy untuk menjaga Jesi di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan mu Jes? " Tanya Wandy memegang tangan Jesi.
"Aku baik. " Jawab Jesi sambil melepaskan tangan nya dari genggaman Wandy.
"Berhentilah bersikap dingin pada ku Jes, apa kau masih belum bisa memaafkan ku? " Tanya Wandy.
"Sampai kapan aku di rumah sakit ini? Apa kau belum menghubungi keluarga ku? " Tanya Jesi seperti tak ingin membahas tentang perasaannya pada Wandy.
"Ibu mu menjaga mu dari semalam di sini. Dia hanya pamit pulang sebentar untuk mempersiapkan keperluannya di rumah, setelah itu dia akan kembali lagi. Begitu kata suster jaga di luar. " Jelas wandy.
__ADS_1
"Jesi, ada hubungan apa kau dengan tuan Velix? Aku melihat kalian sangat dekat. " Tanya Wandy.
"Kami hanya teman" Jawab Jesi.
"Syukurlah kalau hanya teman. Aku lihat tuan Velix sangat khawatir pada mu. Aku sampai cemburu dibuat nya. He. he. he. he" Jawab wandy tertawa.
"Kau sudah sadar nak? " Ucap Ibu robiyah tiba tiba saat kembali ke rumah sakit melihat anaknya Jesi sedang duduk dan bicara dengan seseorang.
"Ibu?? " Jawab Jesi menyapa ibunya walau tak terlihat tapi ia bisa mengenali ibunya dari suara.
Ibunya mendekat dan kemudian memeluk anak nya itu.
"Alhamdulillah kau sudah sadar nak. Ibu sangat mengkhawatirkan mu karena dari kemarin kau belum juga sadar. " Jawab ibunya penuh rasa syukur.
"Sabar sayang,, kau akan segera melihat lagi. " Jawab ibu Robiyah menenangkan anaknya itu.
"Tuan Wandy kau ada di sini? Bukan kah hari ini kau harus masuk kerja? Pergilah tuan, biar saya saja yang menjaga Jesi. " Sapa ibu Jesi pada Wandy.
Wandy agak kesal melihat ibu Jesi yang sudah datang sebelum dia bicara banyak dengan Jesi.
Belum lagi ibu Jesi sudah menyuruh nya untuk ke kantor, padahal dia masih ingin lebih lama lagi dengan Jesi di sini.
"Baik bu, saya akan segera pergi. Tapiii.... apa bisa saya bicara sebentar dengan ibu di luar? " Jawab Wandy.
__ADS_1
Ibu Robiyah merasa Wandy akan membicarakan hal penting. Dia menuruti saja permintaan Wandy untuk bicara di luar ruangan perawatan Jesi.
"Ada apa tuan? " Tanya ibu Jesi penasaran.
"Perkenalkan bu, saya Wandy. Saya atasan Jesi di kantor. Saat ini Jesi bekerja sebagai sekretaris saya bu. " Mulai Wandy.
"Ohh... jadi anda atasannya? Maaf dari semalam pikiran saya hanya tertuju pada anak saya Jesi, sampai sampai saya tak menghiraukan anda. " Jawab ibu Jesi.
"Tidak apa apa bu, saya sangat mengerti dengan kondisi ibu saat ini. Hanya sajaa.... saya ingin membicarakan sesuatu dengan ibu. " Jawab Wandy.
"Ada apa tuan? Bicara saja. " Tanya ibunya Jesi.
"Sebenarnya waktunya sekarang masih kurang tepat untuk membicarakan hal ini. Tapi aku hanya ingin ibu tahu, kalau aku sangat menyukai Jesi bu. Dan aku berniat untuk menjadikan dia istri ku. " Jelas Wandy.
"Kau menyukai anak ku? " Tanya ibu nya Jesi sedikit terkejut.
"Aku sangat ingin menikahinya bu. Aku sudah lama menaruh hati padanya. Aku mohon restuilah kami bu. " Mohon Wandy pada ibunya Jesi.
"Aku rasaaaa.... ini belum waktunya untuk membicarakan restu. Jesi juga masih harus menjalani pengobatan yang entah berapa lamanya. Tapi jika ini akan membuat Jesi bahagia, aku pasti merestuinya. " Jawab Ibu Robiyah.
"Ahh... terima kasih bu, terima kasih banyak. Aku janji, aku akan membahagiakan Jesi dan mencintainya sepenuh hati ku. " Jawab Wandy sangat girang mendengar jawaban ibu Robiyah.
"Baiklah bu, aku ke kantor dulu sekarang. Terima kasih untuk semuanya bu. " Ucap Wandy pamit dan mencium tangan ibu Jesi.
__ADS_1