
"Haii.... senang sekali melihatmu pagi ini sudah berada di kantor. Bagaimana keadaanmu?" Ujar Wandy menyapa saat melihat Jesi sudah berada di kantor.
"Hallo tuan Wandy, senang juga melihat mu. Aku sangat bosan di rumah, tidak sabar menunggu hari ini." Jawab Jesi senang.
"Apa kau sudah tidak sabar bertemu denganku lagi?" Tanya Wandy sedikit menggoda Jesi.
"Hehehehe,, tidak tidak. Jangan terlalu percaya diri." Jawab Jesi tertawa.
"Hahahaha katakan saja, kau tidak perlu malu mengakuinya...hahahaha." Jawab Wandy.
"Sudah ku katakan, aku sangat bosan di rumah, apa lagi dengan keadaan buta dan sederet pengobatan yang tak ada henti hentinya. Dan sekarang aku sudah bisa menjalani aktivitas ku seperti biasa, bagaimana aku tidak senang." Jelas Jesi.
"Iyaa iyaa,, aku tahu itu, kau tak perlu menjelaskannya lagi. Sampai kapan pun kehadiranku tak kan pernah membuat mu bahagia." Jawab Wandy.
Tiba tiba saja ekspresi Jesi berubah, dengan sekejap tawa di bibirnya hilang dan berganti kecemasan.
"Bukan begitu tuan, maksudku......" Jawab Jesi.
"Ahh...sudahlah, tidak perlu diteruskan. Lagi pula, meski bukan aku penyebab kesenangan mu hari ini, aku tetap senang sekali melihatmu berada di kantor ini lagi. Sudah sangat lama kau tidak pernah ke kantor, wajar saja jika aku merindukan nya. Sudahlah, ayoo ke ruangan. Meja kerja mu tidak pernah ku pindahkan ke mana mana." Jawab Wandy.
__ADS_1
"Baik, terima kasih." Jawab Jesi.
"Mulai saat ini, selain sekretaris ku, kau juga adalah sahabat ku. Jadi, jangan sungkan untuk bicara apapun dengan ku." Jawab Wandy.
Jesi hanya tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
Jesi melihat setiap sudut ruangan. Semuanya tak ada yang berubah, masih seperti saat dia tinggalkan. Barang barangnya pun masih lengkap, begitu juga dengan fotonya yang sedang tersenyum yang masih berada di atas mejanya.
Sesaat dia tertegun melihat ruangan tempatnya bekerja, seperti sangat senang bisa kembali lagi ke meja kerja itu.
"Sebenarnya aku tidak begitu merindukan mu, sebab di ruangan ini sudah ada wanita cantik yang menemaniku?" Ucap Wandy tiba tiba yang sudah berada di belakang Jesi.
"Wanita cantik?" Tanya Jesi.
"Hmm...Kau bercanda lagi" Jawab Jesi tersenyum.
"Aku tidak bercanda, selama kau tidak di sini aku hanya bisa melihat foto itu. Karena itu aku sangat berterima kasih padamu." Jawab Wandy.
"Untuk apa?" Tanya Jesi.
__ADS_1
"Karena kau tidak membawa foto itu bersama mu." Jawab Wandy.
"Ayolah tuan, kau sudah berjanji pada ku." Jawab Jesi merasa sedikit kesal.
"Berjanji menjadi sahabat mu bukan berarti berhenti menunggu mu." Jawab Wandy sambil tersenyum.
"Apa kau bermaksud membuat ku merasa bersalah?" Tanya Jesi.
"*Aku bermaksud membuat mu bahagia" Jawab Wandy.
"Tapi*...." Jawab Jesi.
"Tapi jika menjadi sahabat mu akan membuat mu bahagia, maka aku akan melakukan nya. Bukankah aku juga bisa menjaga mu saat menjadi sahabat mu?". Jawab Wandy.
Jesi terdiam tanpa bisa mengatakan apapun.
"Heii... jangan terlalu banyak berpikir. Kau tak berhak melarang ku untuk tetap mencintai mu. Tapi kau tenang saja, aku akan selalu menjadi apapun yang kau inginkan. Aku takkan membebani mu dengan perasaan ku ini. Kau tenang saja." Jelas Wandy sambil memegang tangan Jesi.
"Sebagai atasanmu, aku mau kau bekerja dengan baik di kantor ini. Tapi sebagai sahabat mu, aku ingin kau menjaga kesehatan mu. Itu artinya kau harus bisa mengatur pekerjaan mu tanpa mengabaikan kesehatan mu. Kau pikir itu saja, selebihnya biarlah menjadi urusan ku." Jawab Wandy.
__ADS_1
"Ayoo.. selamat datang kembali, semangat bekerja untuk hari ini." Sambung Wandy.
"Terima kasih, terima kasih atas pengertiannya." Jawab Jesi sambil menyunggingkan senyum pada Wandy.