Memilikimu Dalam Hati

Memilikimu Dalam Hati
Janji Berpisah


__ADS_3

"Kau yang tak mengerti perasaan ku. Ku mohon pergilah dari sini. Jangan menggangguku lagi." Jawab Jesi.


"Tapi aku sangat mencintaimu Jes." Jawab Velix.


"Jika kau benar mencintaiku, kumohon lakukan kata kata ku. Aku akan sangat berterima kasih jika kau tidak menggangguku lagi. Lakukanlah demi aku. Kembalilah ke perusahaan, hadiri pertemuan itu." Jawab Jesi.


"Lakukanlah yang terbaik untuk perusahaan mu. Hiduplah dengan bahagia dengan istrimu. Dengan begitu aku juga akan tenang. Ku mohon padamu, lakukanlah demi aku." Sambung Jesi.


"Apa kau sungguh menginginkannya? Lalu bagaimana dengan perasaan ku? Aku akan terus memikirkan mu." Tanya Velix.


"Wandy adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Aku akan hidup bahagia dengannya. Dengan begitu kau tidak perlu terus memikirkan ku." Jawab Jesi.


Bukankah kau akan melakukan apapun demi kebahagiaan ku? Maka lepaskan aku." Sambung Jesi.


"Apa kau sungguh tidak menginginkan ku?" Tanya Velix.


"Aku hanya menginginkan kau bahagia." Jawab Jesi.


"Aku akan bahagia jika bersamamu." Jawab Velix.

__ADS_1


"Kau akan bahagia jika kembali pada kehidupan mu. Rumah tanggamu, karirmu, semua akan hancur jika kau bersama ku." Jawab Jesi.


"Sudah ku katakan aku tidak peduli dengan semua itu." Jawab Velix.


"Lalu bagaimana dengan ayah mu? Apa kau juga tidak peduli dengan perasaan ayah mu?" Jawab Jesi.


Mendengar Kata Jesi, Velix terpaku seperti patung. Hanya air matanya yang mulai menetes tak mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri.


"Kembalilah pada kehidupan mu. Jadilah Velix yang aku kenal. Hiduplah bahagia." Ucap Jesi.


Tiba tiba Velix menarik tubuh Jesi dan memeluknya dengan erat. Dalam keadaan seperti itu, air mata Jesipun tak tertahankan.


"Berjanjilah untuk hidup bahagia bersama Wandy." Ucap Velix setengah terisak.


"Pergilah.." Jawab Jesi.


Kemudian Velix langsung berbalik badan dan pergi tanpa melihat ke belakang. Langkahnya begitu cepat seakan tidak ingin terpengaruh untuk kembali lagi ke tempat itu.


Jesi menutup pintu dan kembali menangis. Perasaannya ingin sekali bersama Velix, tapi dia tahu itu tidak mungkin. Inilah keputusan yang paling tepat untuknya dan Velix.

__ADS_1


"Dddrrrrttt..... dddrrrrttt...." Ponsel Jesi berdering.


"Hallo Wandy!" Sahut Jesi.


"Kau bersama Velix?" Tanya Wandy.


"Tadi Velix di sini, tapi dia sudah pergi dari tadi. Kalau dia ke kantor, seharusnya dia sudah sampai saat ini." Jawab Jesi.


"Tapi dia tidak ada di sini. Telepon ku tidak pernah di angkat." Jawab Wandy.


"Tapi dia sudah janji pada ku akan ke kantor. Mana mungkin dia mengingkarinya?" Jawab Jesi.


"Lalu bagaimana dengan rapatnya?" Sambung Jesi.


"Rapatnya dibatalkan. Velix sepertinya tidak peduli dengan perusahaan ini. Dasar laki laki tidak bertanggung jawab." Jawab Wandy.


"Tidak mungkin, dia sudah janji pada ku. Pasti ada hal lain yang terjadi padanya. Tidak mungkin dia mengingkari janjinya padaku." Jawab Jesi.


"Terus saja membelanya. Aku tidak habis pikir kenapa kau begitu mencintai laki laki seperti dia." Jawab Wandy dan langsung mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin Velix berbohong padaku, dia sudah janji padaku. Mana mungkin dia mengingkarinya. Pasti terjadi sesuatu padanya. Aku harus mencarinya. Tidak mungkin dia berbohong padaku. Jelas jelas dia sudah janji." Begitulah Jesi berbicara dengan dirinya sendiri.


Ada perasaan bersalah, sedih dan juga khawatir pada hatinya. Beberapa kali Jesi menghubungi ponsel Velix, tapi benar yang dikatakan Wandy, ponselnya memang aktif, tapi tak dijawab sama sekali.


__ADS_2