
Velix terkesan mendengar suara wanita yg bernama Desi itu. Dari suaranya, sepertinya wanita itu masih sangat muda.
Velix terkesan dengan wanita seumuran Desi tapi suka menghadiri kegiatan keagamaan seperti itu. Apalagi diketahui kalo Desi ikut juga mengurus semua kegiatan ini agar berjalan dengan baik.
"drrrttt... ddrrttt..... "
Ponsel Jesi sekarang berdering lagi.
"Pria itu menghubungiku lagi" Ujar Jesi gugup setelah melihat panggilan dari Velix.
"Hallo... " Sahut Jesi.
"Haii Desi, apa kabar. Sepertinya kamu sudah sampai dirumah" Ucap Velix seolah yakin karena tidak mendengar suara ramai lagi dari balik ponsel Jesi.
"Hmm.... iya, aku sudah di rumah. Tapi aku sangat lelah hari ini. Lagian tidak baik bagi perempuan dan laki laki bukan muhrim untuk bicara sudah larut malam seperti ini meski hanya via telepon" Jawab Jesi berusaha menghindar.
Jesi memang sama sekali belum siap menjalankan sandiwara ini. ia tidak bisa berkata apa apa kalau nanti Velix bertanya tentang temannya itu.
__ADS_1
"Heyy,, jangan marah dulu. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin memperjelas teman yang kau maksud tadi. Maksudku,, teman yang meminjam ponselmu dan menelponku itu" Jelas Velix.
"Tadi aku di kampus bersama teman temanku. Beberapa di antara mereka meminjam ponselku untuk menelpon seseorang. Jadi aku tidak tau jelas siapa yang menelpon tuan saat itu. Mungkin ada salah satu dari temanku yang menelponmu. Tapi entah temanku yang mana. " Jawab Jesi agak kesal.
"emm,, maafkan aku tuan, tapi ini sudah larut malam. dan aku sangat lelah seharian ini. Mungkin anda bisa bicara lain waktu lagi denganku. Nanti akan ku sebutkan siapa siapa teman yang bersamaku saat itu" Sambung Jesi lagi.
Jesi sangat terpancing emosi saat Velix memaksanya untuk bicara. Tapi ia merasa bersalah karena sudah bersikap tidak sopan pada pria yang belum dikenalnya itu.
"Baiklah,, aku memaafkanmu. Tapi besok aku akan menelponmu. Jangan berusaha menghindar lagi. " Jawab Velix sedikit mengancam.
"Tuut.. tuut.. "
"Sisil......... " Teriak Jesi sambil menarik rambutnya.
Jesi sudah sejak tadi berbaring di tempat tidurnya. ia bahkan sudah bolak balikkan badannya untuk mencari posisi nyamannya untuk tidur. Tapi itu sama sekali tidak berhasil.
Padahal ia sudah sangat lelah saat itu. Tapi kenapa pikirannya selalu teringat pada perkataan Velix yang mengancam akan menelponnya kembali.
__ADS_1
"Lebih baik aku telepon Sisil" Ujar Jesi dalam hati.
"ia Jes..? " Jawab Sisil mengangkat ponselnya.
Jesi menceritakan semua kejadian tapi pada Sisil. ia merasa tidak sanggup melakukan apa yang di perintah Sisil terhadapnya.
"Aku ga bisa Sil, Velix akan bertanya siapa teman yang menghubunginya. Aku lebih baik jujur padanya saja." Ucap Jesi.
"*Jangan Jes. ini kesempatanmu untuk menjalin komunikasi dengan Velix. Jadilah temannya, agar nanti kamu bisa mencari tahu aktivitas Jefri darinya. " Mohon Sesil.
"Tapi aku harus jawab apa kalau nanti Velix bertanya lagi tentang kamu?" Jawab Jesi agak kesal.
"Kamu sebut saja sembarang nama. Katakan itu teman yang menelponnya. Kalau dia merasa tidak mengenalnya, katakan itu bukan urusanmu*. " Jawab Sesil memberikan ide.
"Kalau dia bertanya lagi tentang teman ku? ehmm, maksud ku bagaimana kalau dia bertanya tentang hal lain selain namanya. Misalanya tempat tinggal, atau kampusnya? " Jawab Jesi makin bingung.
"Kamu mengarang saja Jesiii,, yang penting ia tidak bisa tahu tentang yang sebenarnya terjadi. " Jawab Sesil.
__ADS_1
"Yaa sudah, kamu istrahat gih. Besok kabar kabari lagi ." Sambung Sesil.
Sepertia biasa, Jesi langsung menutup sambungan teleponnya tanpa bicara sepatah katapun. Itu memang kebiasaan Jesi jika ia sedang kesal. Dan Sesil sudah sangat paham dengan tingkah sahabatnya itu.