
Tak terasa air mata Velix jatuh di pipinya. Ia tak menyangka bagaimana bisa Jesi bisa berpikir seperti itu padanya. Padahal ia sama sekali tak pernah berniat untuk balas dendam pada Jesi. Velix memang benar benar sudah mencintai Jesi.
Sementara Mey, ia tidak pernah memiliki perasaan apa pun terhadap Mey. Meski dijodohkan, Mey tetap di anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Tapi menjelaskan semua ini pada Jesipun hasilnya pasti akan Percuma. Jesi tidak akan mempercayai kata katanya. Yang ada Jesi malah akan semakin ketakutakan melihatnya.
"Ahh,, bodoh sekali aku ini. Harusnya aku tidak terburu buru menyatakan perasaan ku pada Jesi. "Ujar Velix dalam hati.
"Tok.. tok.. tok.. "
Pintu kamar Velix di ketuk dari luar. Membuat lamunannya tentang Jesi terhenti. ia langsung bangkit dari duduknya, dan segera membuka pintu kamarnya.
"Velix, ayah ingin bicara dengan mu nak. " Ucap pria separuh baya yang ternyata adalah ayah angkat Velix.
"Ada apa yah,, mengapa tak menyuruh ku ke ruangan ayah saja. " Tanya Velix
"Sudah, di sini saja nak.. " Jawab ayahnya.
"Jadi begini, ayah sekarang sedang membangun perusahaan cabang di kota M. Kau sudah tahu itu kaan? ". Tanya Ayahnya.
__ADS_1
Velix hanya menggangguk mengiyakan.
Kebetulan ayah Mey juga adalah salah satu investornya. Sepertinya untuk perusahaan baru seperti itu ayah membutuhkan pemain lama yang sudah mengerti seluk beluk perusahaan ini. Ayah memutuskan kamu yang akan menjadi pimpinan di sana. " Jelas ayahnya itu sambil menepuk bahu Velix.
Walaupun Velix tidak terkait langsung dengan perusahaan ayahnya, tapi sedikit banyak ia sering membantu manajement di perusahaan ayahnya itu.
Mendengar perkataan ayah angkatnya itu Velix mengerutkan keningnya. itu berarti ia akan meninggalkan kota ini. Tapi belum sempat ia bicara, ayahnya melanjutkan kata katanya lagi.
"Saat kami sedang berbincang bincang tentang bisnis ini, ayah Mey mempertanyakan hubungan mu dengan anaknya nak" Tambah ayah Velix.
"Apa yang dikatakan ayahnya Mey ayah,? " Tanya Velix.
"Lalu bagaimana tanggapan ayah. " Tanya Velix.
"*Ayah pasti akan menyetujui apapun hal baik untuk anak ayah. Lagi pula, hubungan kamu dengan Mey sudah sangat lama. Mey juga wanita yang baik bukan? . ia pintar dan juga mandiri. Kalian adalah pasangan serasi." Jawab Ayahnya.
"Ayah Mey juga tidak menginginkan Mey bekerja sebagai staf di perusahaan orang lain lagi. Jika Mey sudah menjadi istrimu, Mey bisa bekerja di perusahaan mu. " Jelas Ayah Velix.
"Tapi bagaimana dengan perusahaan ku di sini. Ayah tahu perusahaan itu ku bangun dengan susah payah. Walaupun belum terlalu besar seperti perusahaan ayah, tapi itu hasil jerih payah ku sendiri yah. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya begitu saja. " Jawab Velix.
__ADS_1
"*Lagi pula, perusahaan ayah adalah perusahaan periklanan. Belum tentu aku bisa menjalankannya seperti perusahaan ku sekarang. Itu bukan bidang ku ayah. " Jelas Velix lagi.
"*Nak, Perusahaan periklanan ataupun percetakan itu sama saja. Ayah hanya butuh managerialnya saja. Kau tak perlu bekerja sendiri. Kau hanya cukup mengatur manajementnya**." Jelas Ayahnya.
"Lalu perusahaan ku. " ? Tanya Velix.
"Nak, berhentilah bekerja seperti seorang karyawan. Kau bisa menunjuk orang kepercayaan mu untuk menggantikan mu di sana. Dan sesekali kau bisa pulang untuk melihat perusahaan mu itu. " Saran Ayahnya kepada Velix.
"Apa ayah percaya aku bisa melakukannya? " Tanya Velix.
"Kepada siapa lagi ayah akan percaya. Ayah hanya memiliki kamu satu satunya anak ayah. Dari awal ayah sangat yakin dengan kemampuan kamu. " Jelas ayahnya.
"Baiklah ayah jika itu yang ayah mau. " Jawab Velix menyanggupinya.
"Apa itu artinya kau juga menyetujui pernikahan mu dengan Mey? " Tanya ayahnya.
"Emm,, masalah itu ku pastikan nanti. " Jawab Velix.
"Yaa sudah, ayah tunggu jawabannya secepatnya. " Ucap ayahnya.
__ADS_1