
Sudah sangat lama Jesi keluar dan belum kembali ke ruangan Wandy. Awalnya Wandy ingin memberikan kesempatan pada Jesi untuk sendiri, tapi Wandy sudah merasa mulai khawatir karena ini sudah sangat lama.
Sekarang sudah menjelang sore, Setahu nya Jesi belum makan siang sejak tadi. Wandy mulai mencari nya ke setiap sudut ruangan kantor itu, tapi belum juga menemukan Jesi.
Sampai pada akhirnya matanya tertuju pada salah satu anak tangga di samping ruangannya itu. Wandy langsung mengenali Jesi dari pakaiannya.
"Jesi.... " Sahut Wandy sambil memegang pundaknya.
Mendengar sahutan itu, Jesi langsung melirik Wandy yang berada di belakangnya. Di wajah Jesi memang tak terlihat air mata yang menetes, tapi wajahnya terlihat sangat sedih. Dan Wandy merasakan Jesi memang lagi sedih.
"Jes, maafkan aku jika selama ini kau merasa terganggu dengan kelakuan ku pada mu. " Ucal Wandy sambil menghampiri Jesi, dan kini duduk di samping nya.
"Andai saja waktu itu aku tak mengajak mu makan gado gado di pinggir jalan itu, mungkin gosip ini tidak akan sampai ke telinga pak direktur. " Sambung Wandy.
"Sudahlah tuan, tidak perlu di bahas lagi. Maaf aku mau kembali ke ruangan dulu. " Jawab Jesi sambil berdiri dan melangkah menuju ruangan nya.
Tapi langkah itu tiba tiba di cegah oleh Wandy. Wandy ikut berdiri dan kemudian memegang kedua tangan Jesi.
"Tunggu Jes, Tunggu sebentar. " Cegah Wandy.
__ADS_1
Jesi terlihat sangat kesal dengan atasannya itu. ia bahkan tak ingin memandangi wajah Wandy sama sekali.
"Jes, kau tak bisa meninggalkan ku seperti ini. Aku sangat khawatir dengan mu. " Sambung Wandy.
"Aku baik baik saja tuan" Jawab Jesi sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Wandy.
Namun Wandy yang mulai tak tahan dengan perasaannya kemudian menarik Jesi dalam pelukannya. Jesi mendengar detak jantung Wandy dari dadanya yang bidang itu.
"Jes, aku tak bisa kau marahi seperti ini. Aku minta maaf, sungguh bersikap lah seperti biasa pada ku. " Ucap Wandy.
Jesi merasakan ketulusan Wandy padanya saat itu. Tak terasa matanya mulai berkaca kaca. Jesi merasa tak bisa membalas perasaan tulus dari Wandy.
"Jika kau tak bisa menahan diri mu seperti ini, aku lebih baik mengundurkan diri saja sebagai sekretaris mu. "Ucap Jesi sedikit mengancam Wandy.
"Jangan Jes, kau harus tetap menjadi sekretaris ku dan duduk di ruangan ku. " Jawab Wandy.
"Kalau begitu tolong jaga sikap mu tuan" Jawab Jesi sambil berlari menuju ruangan nya.
Wandy tak bisa berkata apa apa lagi. Dia mengikuti Jesi dari belakang menuju ruangannya.
__ADS_1
"Tuan, aku izin pulang cepat hari ini. Aku sedang tak enak badan. Hari ini tak ada pekerjaan besar untuk ku. Sekretaris lama mu juga sekarang berada di kantor kan? Itu artinya kau tak butuh sekretaris pengganti. " Ucap Jesi.
"Tapi kau belum makan Jes, makanlah dulu bersama ku. " Jawab Wandy.
"Aku bisa makan di rumah tuan, terima kasih." Jawab Jesi.
"Mmm apa aku bisa pulang sekarang?" Tanya Jesi.
Wandy hanya mengangguk menjawab pertanyaan Jesi baru saja.
Melihat Wandy yang sudah mengizinkannya pulang lebih dulu, Jesi langsung bergegas untuk pulang.
Jesi turun melalui lift. Setelah dari lift, Jesi harus melewati ruang staf penjualan dulu untuk bisa menuju pintu keluar. Jadi para staf akan melihat nya keluar dari kantor.
"Setelah memberikan hadiah pelukan pada pak manager sekarang dia akan pulang sebelum waktunya. " Teriak salah seorang staf wanita dari jauh.
Jesi mendengar suara itu, dan dengan refleks menoleh ke arah suara itu berasal. Tak jelas siapa pemilik suara itu, karena ada beberapa wanita yang berdiri di sana.
Tapi karena tak ingin cari ribut, Jesi bergegas pergi tanpa memperdulikan kata kata itu.
__ADS_1