Memilikimu Dalam Hati

Memilikimu Dalam Hati
Therapy Terakhir


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal therapy ke dua Jesi setelah insiden masuk rumah sakit sebulan yang lalu. Seperti biasa, Jesi menjalani therapy selama kurang lebih 2 jam di ruang tertutup.


Meskipun ada ibu yang menemaninya, tetapi sayang sekali ibunya tidak diperbolehkan masuk di ruang therapy. Kata dokter itu memang sudah aturan rumah sakit. Ibunya hanya bisa menunggu di depan pintu masuk saja.


"Nona, pengobatan mu hari ini sudah cukup. Nanti kau bisa datang 2 minggu lagi. Semoga dalam pengobatan kali ini penglihatan mu akan secepatnya pulih." Jelas dokter.


"Iya, terima kasih banyak dok. Saya permisi." Jawab Jesi.


"Aku belum bisa pastikan, tapi sejauh ini sistem syarafnya sudah sangat berfungsi dengan baik." Ucap dokter itu sedikit berbisik seolah sedang berbicara dengan seseorang.


"Bagaimana dok? Aku kurang mendengar yang kau bicarakan." Tanya Jesi.


"Ahh,, maaf nona. Aku sedang bicara dengan rekan ku" Jawab dokter.


"Ohh... apa ada orang lain di ruangan ini selain aku dan anda?" Tanya Jesi.


"Iya, asistenku selalu menemaniku di ruang praktek." Jawab Dokter.


"Oh begitu, baik dok. Aku pergi dulu. Terima kasih." Jawab Jesi seraya berlalu.

__ADS_1


"Tuan hampir saja ketahuan. Lain kali tunggu dia keluar dulu baru bicara dengan ku." Ucap dokter tiba tiba sesaat setelah Jesi meninggalkan ruangan prakteknya.


"Aku khawatir kalau matanya sudah sembuh, dia bisa terkejut melihat ku berada di sini." Jawab Velix.


"Kau selalu datang saat jadwal pengobatan nona Jesi. Dan selama itu juga aku harus merahasiakan darinya dan ibunya. Kau tahu tuan, gara2 permintaan mu, aku terpaksa menghalangi ibu Jesi untuk tidak masuk menemani anaknya saat sedang therapy." Jawab dokter.


"Aku tahu dokter, aku hanya bisa berterima kasih padamu." Jawab Velix.


"Aku pergi dulu dokter, sekali lagi terima kasih atas bantuanmu." Ucap Velix dan segera bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


Sudah beberapa kali menjalani pengobatan therapy, penglihatan Jesipun kini sudah berangsur pulih. Jesi sudah bisa melihat meski belum terlalu jelas. Tapi setidaknya dia sudah bisa mengenali sesuatu benda yang berada dekat dengannya.


"Lalu kapan aku harus kembali lagi." Tanya Jesi.


"Ini merupakan therapy terakhir mu. Kau cukup minum obat dari resepku secara teratur dalam 3 hari dan istirahat yang cukup. Ingat, obatnya harus dihabiskan. Setelah 3 hari, jika penglihatan mu sudah tidak ada masalah lagi, kau tidak perlu kembali lagi nona Jesi. Itu artinya kau sudah sembuh." Jelas dokter.


"Oh begitu ya. Baiklah dokter, terima kasih banyak." Jawab Jesi.


"Bagaimana nak?" Tanya ibu Jesi setelah melihat anaknya keluar dari ruang praktek dokter.

__ADS_1


"Ini therapy terakhir ku jika dalam 3 hari penglihatan ku sudah membaik. Tapi aku harus menghabiskan obat dari resep dokter. Begitu katanya Bu," Jelas Jesi.


"Alhamdulillah,, syukurlah nak. Semoga dalam 3 hari ke depan penglihatan mu akan jadi lebih baik. Ayok, kita selesaikan saja administrasinya." Jawab Ibu Jesi.


"Anda tidak perlu membayar Nyonya. Semua biaya pengobatan nona Jesi sudah dibayar termasuk dengan biaya resep obat ini." Jelas suster yang ada di bagian pembayaran.


"Bukankah kau bilang aku bisa melunasinya setelah pengobatan anakku selesai. Kenapa sekarang malah sudah dibayarkan?" Jawab ibu Robiyah sedikit bingung.


"Suster, bisakah anda beritahu padaku siapa yang sudah melunasi tagihannya.?" Tanya Jesi pada suster.


"Dari kwitansi yang telah ditanda tangani, tuan Velix yang melunasi tagihan Anda nona." Jawab suster.


"Velix? Dia membayarnya langsung? Apa tuan Velix ada di sini?" Tanya Jesi penasaran.


"Yang datang membayar adalah seorang laki laki, mungkin saja dia tuan Velix yang kau maksudkan." Jawab suster.


"Ini obatnya, aturan minumnya juga sudah ku catat di sini. Silahkan.." Jelas suster sambil menyerahkan obat pada Jesi.


"Ada lagi yang bisa ku bantu nona?" Tanya suster.

__ADS_1


"Tidak ada, terima kasih." Jawab Jesi sambil berlalu meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2