
Menjadi sekretaris Wandy adalah hal yang sangat menyenangkan sekaligus menyakitkan untuk Jesi. Menyenangkan karena Wandy sebagai atasannya bersikap sangat baik dan sangat menghargainya. Namun terasa menyakitkan karena harus menahan rasa bersalah telah mengecewakan hatinya.
Tapi bagi Jesi inilah hal yang terbaik walau sedikit menyakitkan. Akan lebih menyakitkan lagi jika dia terus memberi harapan pada Wandy tanpa bisa memberikan kepastian atas perasaannya.
Semenjak Jesi kembali bekerja, sikap Wandy sudah sangat berubah. Dulu sikapnya sangat arogan dan tak perduli dengan bawahannya. Tapi belakangan ini sikapnya sangat ramah dan hangat pada karyawan. Tak jarang dia sering menyapa bawahan jika sesekali berpapasan dengannya.
Perubahan sikap Wandy membuat semua karyawan senang dengannya. Mereka merasa pimpinan mereka benar benar sangat baik. Hal ini membuat karyawan jadi semangat bekerja, sehingga positif juga terhadap kemajuan devisi penjualan.
"Bulan ini penjualan kita meningkat 50%, ini prestasi yang luar biasa karena belum pernah terjadi sebelumnya di perusahaan ini. Ayo kita rayakan." Sahut Wandy senang pada Jesi.
"Aku turut senang dengan pencapaian mu, selamat. Tapi maaf, aku tidak bisa ikut denganmu." Jawab Jesi menolak ajakan Wandy.
"Ayolah, peran mu sangat besar dalam pencapaian ini. Mana mungkin aku membiarkanmu tidak ikut." Jawab Wandy sedikit memaksa.
"Aku sedikit capek hari ini. Maaf, kau rayakan dengan yang lain saja." Jawab Jesi.
"Hmm... baiklah. Sepertinya kau benar benar tidak ingin memberi harapan pada ku" Jawab Wandy sedikit bergurau.
__ADS_1
"Tapi ada satu hal yang lebih penting dari ini, dan kau tidak bisa menolak untuk ikut." Jawab Wandy.
"Apa?" Tanya Jesi penasaran.
"Kita diminta pergi ke perusahaan cabang di kota M. Penjualan kita dua bulan terakhir ini sangat meningkat pesat. Itu sebabnya direktur utama meminta kita untuk bekerja sama dengan perusahaan cabang yang lain. Dengan kata lain, direktur meminta kita untuk membantu penjualan pada perusahaan lain. Terutama untuk perusahaan kota M, karena itu ada perusahaan termuda." Jelas Wandy.
"Tapi...kenapa aku harus ikut ?" Tanya Jesi.
"Kau sekretaris ku, kau juga yang membantu sebagian besar pengambilan keputusan ku. Tidak bisa dipungkiri kau berperan penting dalam pencapaian ini Jes." Jawab Wandy.
"Tapiii...." Jawab Jesi.
"Ini tidak ada hubungan dengannya." Jawab Jesi sambil tertunduk.
"Jika ini tak ada hubungannya, maka sudah seharusnya kau ikut dengan ku. Ini masalah pekerjaan, jadi tidak ada kaitannya dengan masalah pribadi mu." Jawab Wandy sedikit kesal.
"Aku pergi dulu.." Jawab Jesi tiba tiba dan segera bergegas untuk pulang.
__ADS_1
"Jess,, aku belum selesai bicara. Jess.... kau belum menjawabnya. Jesssss....." Teriak Wandy memaksa Jesi untuk tetap tinggal.
Tapi Jesi sama sekali tak mengindahkan teriakan Wandy. Wandy sedikit emosi melihat tingkah Jesi yang selalu menghindar itu. Jelas terlihat dari wajahnya kalau Jesi masih sangat menaruh hati pada Velix. Itu sebabnya Jesi tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain.
"Sampai kapan kau begini terus Jes... sampai kapan...?" Ucap Wandy dalam hati.
Tak sadar tangannya yang mengepal itu memukul meja kerjanya berulang ulang.
"Jes,, kau mau pulang? Apa kau tidak ikut perayaan ini dengan kami?" Tanya Jemmy, sahabat Jesi yang adalah salah satu karyawan juga di revisi penjualan.
"Aku tidak bisa ikut dengan kalian, maafkan aku. Aku harus segera pulang." Jawab Jesi.
"Kau tidak apa apa kan? Terjadi sesuatu antara kau dengan manager?" Tanya Jemmy sekilas melihat kesedihan di wajah Jesi.
"Aku tidak apa apa Jem. Aku hanya merasa sedikit capek hari ini, aku ingin pulang dan segera istirahat." Jelas Jesi sedikit berbohong.
"Oh.. baiklah. Pulang dan istirahatlah. Sayang sekali kau tidak hadir malam ini. Semoga tenaga mu cepat pulih." Jawab Jemmy.
__ADS_1
"Terima kasih, aku pergi dulu. Salam buat yang lain." Jawab Jesi tersenyum.