
"Tuan, berhentilah memegang tangan ku" Ucap Jesi sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Wandy.
"Ada apa dengan mu.? " Tanya Wandy.
"Kau tidak lihat semua mata mereka mengarah ke kita. Tolong bersikaplah seperti selayaknya atasan ku. " Jawab Jesi.
"Mas, gado gadonya dua. " Ucap Wandy pada bapak yang berjualan gado gado itu seolah tak memperdulikan kata kata Jesi.
Setelah memesannya, mereka duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
"Sudah lama aku tak makan gado gado" Sahut Wandy sambil cengengesan.
"Di cafe tempat makan mu yang biasa juga ada tuan" Jawab Jesi.
"Tapi tak seperti disini. Di cafe biasanya gado gadonya terpisah dengan saus kacangnya. Tapi di sini semua jadi satu. rasanya akan sangat berbeda. " Jawab Wandy.
"Gado gado di mana mana sama saja rasanya tuan. Kacang, gula jawa, bawang putih, bawang merah, dan sayur sayuran. Bumbunya kan itu itu aja, pasti rasa nya sama saja " Jelas Jesi.
"Kau sepertinya bisa bikin gado gado. Kau sangat hafal semua bumbunya. Aku mau dong dimasakin gado gado. " Jawab Wandy.
__ADS_1
"*Kau bisa beli lagi jika kau masih mau." Jawab Jesi.
"Aku mau gado gado buatan mu Jesi. Pasti rasanya akan sangat nikmat jika kau membuatnya untuk ku. " Jawab Wandy sambil memegang dagu Jesi.
Jesi yang menyadari semua mata tertuju pada mereka berdua sangatlah takut. ia tak mau ada gosip yang akan menimpa dia dan bosnya itu.
"Hentikan tuan, ini akan membuat mu malu sendiri" Ucap Jesi sambil melepaskan tangan Wandy yang sedang mencubit dagunya itu.
Wandy hanya tersenyum melihat tingkah Jesi seperti itu. Walaupun sedang marah, bagi Wandy Jesi tetap menggemaskan.
Wandy juga tidak khawatir jika akhirnya semua karyawan di kantornya akan mengira ia memiliki hubungan istimewa dengan Jesi. Tak ada yang perlu ditakutkan, justru dia sangat senang dengan hal itu.
Setelah selesai makan siang Wandy dan Jesi bergegas kembali ke kantor. Meski banyak mata yang melihat hubungan mereka sejak tadi, tapi tak ada satu pun yang berani angkat suara. Mereka takut karena tuan Wandy yang terkenal galak itu.
"Jesi, apa benar yang ku dengar tentang gosip yang sedang beredar di kantor?" Tanya Jemy tiba tiba saat mereka berada di parkiran untuk pulang.
"Gosip? Gosip tentang apa? " Tanya Jesi bingung.
"Gosip tentang kau dan tuan Wandy. Kalian makan di tempat gado gado di pinggir jalan. Benarkan itu? " Tanya Jemmy.
__ADS_1
"Tuan Wandy yang ingin makan di situ, aku hanya menuruti kemauan nya saja. " Jawab Jesi.
"Banyak karyawan kantor ini yang melihat kalian sangat mesra saat berada di sana. Mereka merasa kalian ada hubungan yang lebih dari sekedar bos dan sekretarisnya. " Jelas Jemmy.
"Yaa ampun,, yang ku takutkan akhirnya terjadi juga. " Jawab Jesi sambil menepuk jidatnya.
"Apa itu benar Jes" Tanya Jemmy kembali.
"Aku tak punya hubungan apa apa dengan tuan Wandy. Aku berani sumpah Jem. " Jawab Jesi.
"Tapi gosip yang beredar akan sangat meluas. Terus terang aku juga agak sedikit percaya, karena melihat tingkah tuan Wandy tadi yang seolah hanya ingin pergi makan siang dengan mu saja. " Jawab Jemmy.
"Tuan Wandy memang seperti orang nya, aku rasa kau lebih dulu tahu dari aku." Jelas Jesi.
"Justru karena aku tahu jelas tuan Wandy tidak seperti itu, makannya aku percaya. Tuan Wandy sepertinya menyukai mu Jes. " Jawab Jemmy.
"Apaan sih kamu, udaah jangan pikir macam macam ahh. Ayoo pulang. " Jawab Jesi mengakhiri pembicaraannya.
Walaupun Jesi sudah tahu Wandy menyukainya, tapi ia berusaha menyembunyikan nya dari Jemmy. Jesi tak mau ada orang lain yang tahu kalau tuan Wandy itu sudah mengungkapkan persaannya pada Jesi.
__ADS_1
Jesi tak mau permasalahannya dengan tuan Wandy ini akan meluas dan semakin besar. Jesi sudah menolak Wandy, dan ia berharap Wandy tak kan berusaha merayu nya lagi.