Memilikimu Dalam Hati

Memilikimu Dalam Hati
Menyesal


__ADS_3

"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memberitahu Jesi tentang siapa yang menabraknya? Tapi kenapa kau tiba tiba bicara tentang itu di hadapannya?" Tanya Velix pada Wandy saat sedang menunggu Jesi dari depan pintu IGD.


"Kau bicara tentang cinta dengan kekasih ku tuan, karena itu aku terbawa emosi." Jawab Wandy.


"Oh yaa.. tolong beritahu pada ku seperti apa hubungan kalian sejak dulu. Aku berhak tahu semua itu" Sambung Wandy.


"Itu bukan urusan mu" Jawab Velix.


"Aku kekasihnya, aku berhak tahu semuanya." Jawab Wandy sedikit emosi.


"Aku tidak ingin berdebat dengan mu. Berhentilah menanyakan hal itu pada ku. Sampai kapanpun kau tak kan mendapatkan jawabannya dari ku" Jawab Velix.


"Baiklah, tapi tolong kau jangan menemui Jesi lagi. Seperti apapun hubungan kalian, kau tetaplah masa lalunya. Jika kau masih terus mengganggu Jesi, aku tidak tahu lagi apa yang akan ku lakukan padamu." Jawab Wandy.


"Kau mencoba mengancam ku?" Tanya Velix.


"Tolong jangan membuat ku melupakan bahwa kau adalah anak dari direktur utama kami." Jawab Wandy.


"Kau tenang saja, aku akan pulang besok. Tapi sebelum itu aku harus memastikan bahwa Jesi baik baik saja.". Jawab Velix.


"Aku yang akan menjaganya. Dia akan baik baik saja. Lebih baik sekarang kau pulang untuk mempersiapkan keberangkatan mu besok." Jawab Wandy.

__ADS_1


"Kau mengusir ku?" Tanya Velix.


"Ku mohon pergilah, jangan memaksaku untuk melakukan hal yang lebih kasar dari ini." Jawab Wandy.


"Dddrrrrrttt.... dddrrrrttt...." Ponsel Velix berdering.


"Halo Mey" Sahut Velix.


"Sayang, apa kau jadi pulang besok?" Tanya Mey dari balik telepon.


"Iya, ada apa?" Tanya Velix.


"Ahh.. tidak apa apa sayang. Aku hanya ingin memastikannya saja. Kau lagi di rumah ayah kan? Apa kau sudah makan malam?" Tanya Mey.


"Oh... Apa orang yang kau tabrak itu masih di rumah sakit?" Tanya Mey.


"Emm.... Bukan, bukan yang itu. Ini teman kantor ku." Jawab Velix.


"Nanti saja kita ngobrolnya, aku sudah mau pulang sekarang" Sambung Velix memutuskan pembicaraan dengan Mey.


"Baiklah, cepatlah pulang sayang. I Miss you....! " Jawab Mey.

__ADS_1


"Iya, terima kasih." Jawab Velix.


"Pulanglah, istri mu sudah mengkhawatirkan mu?" Ucap Wandy tiba tiba dari belakang Velix.


Velix tak menjawab kata kata Wandy. Dia pergi meninggalkan Wandy tanpa berkata kata lagi.


Bukannya pulang, Velix malah bergegas pergi menemui dokter yang merawat Jesi.


"Dokter, maaf mengganggu waktu mu. Aku ingin bicara sebentar dengan mu dokter." Sahut Velix saat bertemu dengan dokter yang merawat Jesi.


"Tuan Velix, silahkan duduk. Tidak usah sungkan dengan ku. Apa yang bisa ku bantu untuk mu?" Jawab dokter yang sudah sangat mengenal baik keluarga Velix itu.


"Aku ingin tahu keadaan pasien yang bernama Jesi." Jawab Velix.


"Nona Jesi keadaannya baik baik saja tuan. Aku hanya melihat pikirannya sedikit terganggu hingga menyebabkan dia jatuh pingsan. Bukankah sudah ku katakan dari awal untuk menjaga emosinya. Dia masih harus menjalani pengobatan lanjutan. Jika hal ini terjadi lagi, maka akibatnya akan sangat buruk bagi pasien. Bisa saja proses kesembuhannya akan menjadi lebih lambat, atau bahkan tidak akan sembuh lagi. Bisa bisa dia tidak akan bisa melihat selamanya." Jelas dokter.


"Baiklah dokter, aku mengerti. Terima kasih." Jawab Velix.


Velix merasa sangat menyesal terhadap sikapnya pada Jesi. Seharusnya dia tidak meminta Jesi untuk bertemu malam ini. Kalau tidak, masalah tadi tidak akan terjadi, dan Jesi akan baik baik saja.


"Mungkin benar apa yang dikatakan Wandy, aku lebih baik menjauhinya saja. Jesi sudah menemukan pria yang ia cintai, seharusnya aku senang melihatnya. Bukan malah mengganggu hubungan mereka." Ucap Velix dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya malam itu Velix memutuskan untuk pulang dan kembali ke kota M esok paginya.


__ADS_2