
Dalam perjalanan pulang Jesi terus memikirkan Velix. Apa benar Velix datang hanya untuk sekedar melunasi tagihan rumah sakitnya. Apa benar Velix ada di rumah sakit saat itu. Tapi kenapa Velix tidak menemui nya. Semua pertanyaan yang ada di pikiran Jesi membuat Jesi tak bisa memikirkan hal lain selain Velix.
"Ibu, apa kau juga tahu siapa yang menabrak ku saat itu?" Tanya Jesi pada ibu Robiyah.
"Apa kau sudah tahu?" Tanya ibu berusaha untuk tidak mengatakannya.
"Ibu tidak usah menyembunyikannya dari ku. Aku sudah tahu Bu, aku hanya ingin tahu apa ibu juga sudah mengetahuinya atau tidak." Jelas Jesi.
"Tuan Wandy sudah mengatakannya pada ku" Tambah Jesi.
"Pemilik mobil itu memang sangat baik, dia sangat bertanggung jawab atas kesalahan supirnya. Awalnya dia meminta ku untuk menyembunyikan ini dari mu, karena dia tidak mau kau akan membencinya. Dia tidak mau kehilangan seorang teman seperti mu. Itu yang dikatakannya pada ibu." Jelas ibu Robiyah.
"Supir? " Tanya Jesi.
__ADS_1
"Iya, mobil itu memang milik tuan Velix. Tapi yang menyetir mobil saat itu adalah supirnya. Jadi, sebenarnya yang tidak sengaja menabrak mu itu adalah supirnya, bukan dia." Jawab Ibu Robiyah.
"Lalu kenapa dia harus sembunyikan itu dariku Bu?" Tanya Jesi.
"Dia hanya tidak ingin kau salah paham lagi dengannya nak. Ahh... ibu tidak mengerti kesalahpahaman apa yang pernah terjadi antara kalian. Tapi katanya jika kau mengetahui hal ini, kau pasti tidak akan memaafkannya. Kau akan mengira dia sengaja melakukan ini karena balas dendam." Jelas ibu Robiyah.
"Balas dendam?" Tanya ibu Robiyah.
"Iya, balas dendam. Sebenarnya kesalahan apa yang kau lakukan padanya nak? Dari caranya bertanggung jawab padamu atas kecelakaan ini, ibu tidak melihat niat balas dendam darinya. Sepertinya dia sangat tulus berteman dengan mu." Jawab Ibu Robiyah.
"Benar yang ibu katakan, dia sangat baik. Dia tidak pernah berniat untuk balas dendam pada ku. Aku saja yang ketakutan setengah mati. Hehehehe." Jawab Jesi sambil tertawa.
"Tidak bisa berpikir negatif terhadap orang seperti itu..." Jawab ibu Robiyah sedikit memarahi Jesi.
__ADS_1
"Iya Bu, maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi." Jawab Jesi sambil memeluk ibunya.
Tiga hari berlalu, penglihatan Jesi kini sudah berfungsi dengan sangat baik. Jesi segera menelpon Wandy untuk memberi tahu keadaannya sekaligus menanyakan kapan dia sudah bisa masuk kerja lagi.
"Tentu saja kau bisa masuk kerja kapan saja Jes. Aku sangat senang jika kau sudah bisa bergabung lagi dengan kami di perusahaan." Jawab Wandy senang saat mendengar kata kata Jesi dari telepon.
"Apa itu artinya aku sudah bisa masuk kerja besok?" Tanya Jesi.
"Jangan terburu buru Jes, istirahatlah sehari lagi. Aku tahu kau sangat bosan di rumah, tapi ini demi kesehatan mu. Kau baru saja pulih, mana mungkin aku akan langsung mempekerjakan mu besok." Jawab Wandy.
"Hmm... aku tidak sabar menunggu sehari lagi." Jawab Jesi sedikit kecewa.
"*Aku sangat mengerti keadaan mu Jes. Tapi tolonglah kali ini menurut pada ku. Aku tidak mau terjadi apa apa pada teman ku ini hanya karena dia terburu buru masuk kerja. " Jawab Wandy setengah membujuk Jesi.
__ADS_1
"Hmmm.. baiklah, aku akan istirahat sehari lagi*." Jawab Jesi.
Kemudian Jesipun menutup teleponnya dengan rasa yang sedikit kecewa.