
"Kau tampak sangat mengkhawatirkan suami ku." Ucap Mey memulai pembicaraan.
Mey dan Jesi kini sedang berada di cafe dekat rumah sakit. Mey sengaja mengajak Jesi ke tempat ini agar bisa bicara berdua dengan Jesi.
"Akuuuu hanya kaget saja karena tuan Wandy mengatakan dia ada di rumah sakit. Jadi, aku mengkhawatirkan semuanya." Jawab Jesi terbata bata dan sangat gugup.
"Lalu kenapa kau tidak menghadiri rapat tadi pagi?" Tanya Mey.
"Aku tadiii... tiba tiba saja aku merasa tidak enak badan. Jadi, aku tidak datang. Maafkan aku nyonya." Jawab Jesi.
"Tapi saat kau tidak ada, Velix juga menghilang seperti ditelan bumi. Tidak ada yang tahu keberadaannya. Apa saat itu dia bersama mu?" Tanya Mey.
"Apa yang anda katakan nyonya, untuk apa tuan Velix mencari ku di saat sepenting itu." Jawab Jesi berusaha mengelak.
"Kita sudah terlalu lama di sini, apa tidak sebaiknya anda ke rumah sakit dan terus berada di sisi suami anda? Mungkin saja dia akan segera sadar." Sambung Jesi.
"Bukankah suami ku mengajak mu makan siang hari ini? Aku hanya menggantikannya memenuhi janji nya saja." Jawab Mey.
__ADS_1
"Apa? Apa maksud mu?" Tanya Jesi sedikit kaget.
"Aku tidak sengaja mendengarnya bicara di telepon dan menyebut nama mu." Jawab Mey.
"Mungkin anda salah orang nyonya." Jawab Jesi mengelak.
"Aku tidak mungkin salah. aku sangat mengenal suami ku. Aku tidak pernah melihat tatapan semanis itu di wajah suami ku saat melihat ku. Tapi saat melihat mu datang ke rumah kami malam itu, tatapan itu begitu hangat. Seperti sedang bertemu dengan orang yang sangat dia rindukan." Jawab Mey.
"Apa yang anda katakan nyonya?" Jawab Jesi.
"Dia tidak pernah mencintai ku Jes, selama ini dia hanya mencintai mu." Sambung Mey.
"Nyonya, kalian sudah bertahun tahun menikah. Pernikahan kalian sangat bahagia." Jawab Jesi.
"Sudah bertahun tahun menikah, tapi belum punya keturunan. Apa kau tidak merasa aneh dengan hal itu.?" Jawab Mey.
"Nyonya, keturunan itu hanya masalah rezeki dari Allah. Kau hanya perlu berdoa dan berusaha saja." Jawab Jesi menenangkan Mey.
__ADS_1
"Ha ha ha ha,,, apa kepolosan mu ini yang membuat suami ku tergila gila pada mu? Sebagai istrinya aku bahkan belum pernah disentuh olehnya. Pernikahan kita hanya bisnis. Dari dulu dia tidak pernah ada perasaan pada ku. Dia hanya menuruti keinginan ayahnya." Jelas Mey.
"Tapi, dia pernah bilang pada ku jika dia sangat mencintaimu. Saat hubungan kalian putus." Jawab Jesi.
"Dia hanya berusaha. lebih tepatnya dia terpaksa berusaha mencintai ku karena tidak mau mengecewakan ayahnya." Jawab Mey.
Jesi sangat terkejut mendengar kata kata Mey. Pandangannya sangat tajam dan tertuju pada Mey. Tak disangka Mey bisa menceritakan masalah rumah tangganya pada Jesi.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu? Kau tidak menyangka? Itulah mengapa aku senang mengetahui kau datang. Sampai kapanpun Velix hanya akan mencintai mu saja. Meski sudah ku curahkan semua kasih sayang ku padanya, dia akan tetap memaksaku untuk menyerahkan nya pada mu." Jawab Mey sambil menangis.
"Apa dia memaksa mu?" Tanya Jesi.
"Sikapnya yang memaksa ku." Jawab Mey.
"Nyonya... aku minta maaf. Aku akan segera pergi dari kota ini, dan tidak akan pernah lagi muncul dihadapan kalian berdua. Maafkan aku nyonya." Jawab Jesi.
"Tidak, Jangan... Kau adalah kebahagiaan Velix. Kau tidak bisa pergi meninggalkannya lagi. Selama ini kau sudah sangat menyakiti perasaannya. Untuk kali ini, tetaplah di sisinya." Jawab Mey.
__ADS_1