
"Kita akan minum cofee di mana? " Tanya Velix pada Mey.
"Terserah kau saja. Aku tak punya rekomendasi lain selain cafe favorit kita dulu. " Jawab Mey.
"Yaa sudah, di situ saja. " Jawab Velix.
Mey tersenyum mendengar jawaban itu.
Sebenarnya Mey masih sangat mencintai Velix. ia sangat marah ketika Velix cerita tentang kedekatannya dengan Desi. Apalagi saat Velix mengakui kalau dia sudah jatuh cinta pada Desi.
Mey memilih untuk meninggalkan Velix karena merasa Desi adalah wanita yang lebih baik darinya. Begitulah yang di dengar dari mulut Velix. Karena itu Mey berharap Velix akan bahagia bersama Desi.
Dari awal Velix memang hanya berusaha mencintai Mey. Orang tua Mey menjodohkan Velix dan Mey, karena merasa Velix adalah pria yang sangat baik. Velix yang sudah menganggap Mey seperti adiknya sendiri itu terpaksa menerima perjodohan ini karena merasa berhutang budi pada orang tua Mey.
Velix sudah tidak memiliki orang tua lagi. Velix di adopsi orang tua angkatnya sejak berumur 4 tahun. Saat usaha orang tua angkatnya hampir bangkrut, keluarga Meylah yang membantu mereka.
Meski hanya orang tua angkat, tapi Velix sangat menyayangi ibu dan ayahnya itu. Mereka mengasuh Velix seperti anak kandungnya sendiri. Diberi makan, dan di beri pendidikan yang baik. Hingga Velix sudah seperti sekarang ini.
Itulah mengapa Velix tak bisa bersikap kasar pada Mey.
Mey wanita berhati baik, ia sama sekali tidak egois. Tapi emosinya selalu meledak ledak, meski akhirnya akan reda dengan sendirinya.
"Velix.. ". Sahut Mey setelah mereka duduk di sebuah Cafe sambil menikmati coffe dan makanan kecil.
__ADS_1
"Ayah menanyakan mu**". Sambung Mey.
"Apa kau sudah mengatakan tentang hubungan kita pada ayahmu? " Tanya Velix.
"Tidak, ayah belum tahu. Justru itu ayah menanyakanmu. Karena ia tidak pernah melihat mu mengantar aku pulang lagi. " Jawab Mey.
"Baiklah, akan ku antar kamu pulang nanti" Jawab Velix.
"Apa itu berarti hubungan kita akaannn.... ". Mey tak melanjutkan kata katanya, karena ia tahu Velix sudah mengerti maksudnya.
"Ahh,, tidak tidak. Jangan salah paham. Tolong beri aku waktu. Aku masih belum bisa mengambil keputusan. " Jawab Velix mengerti.
"ehh,, maaf. Aku pikir kamuuu.... eh maksudnya kitaa.... Hmmm. " Mey malu dengan perkataanya sendiri.
Mey terdiam, tertunduk dan tak bicara lagi. Mey merasa sedikit sedih dengan jawaban Velix. Tapi ia tak bisa memaksakan perasaan Velix.
Velix merasa bersalah melihat sikap Mey seperti itu. Velix memegang tangan Mey yang ada di atas meja.
"Mey, kamu cantik, pintar, dan sangat baik. Aku yakin kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik dari aku. Pria yang akan benar benar mencintaimu dengan tulus. "Ucap Velix.
Mey hanya menggaguk dan kemudian menangis dalam pelukan Velix. Velix menyambut pelukan Mey dengan hangat.
Tiba tiba tangisan Mey terhenti mendengar gelas yang jatuh dari jarak yang tak begitu jauh dari mereka duduk saat ini.
__ADS_1
Velix dan Mey melepaskan pelukan mereka, dan melihat ke arah gelas tadi. Dan ternyata Jesi berdiri disana. Sejak tadi Jesi melihat Mey dan Velix dan tak sadar ia menjatuhkan gelas cofee yang di pegangnya.
"Maafkan aku,, maafkan aku.. " Jawab Jesi setengah menangis dan pergi berlari meninggalkan cafe itu.
"Kenapa gadis itu begitu ceroboh" Ujar Mey ketus.
"Gadis itu tidak ceroboh, ia hanya kaget melihat kita berdua ada di sini" Jawab Velix.
"Kaget? Heyy,, kau bicara seperti sudah sangat mengenal gadis itu. Apa kau mengenalnya. " Jawab Mey.
"Sepertinya aku pernah melihatnya. " Jawab Velix.
"Di mana? " Tanya Mey.
"Ahhh... kau terlalu banyak bertanya padaku. Sudahlah Mey, tak usah di besar besarkan. Habiskan cofee mu lalu kita pergi. " Jawab Velix mengalihkan pembicaraan.
"Maaf, aku sedikit emosi.." Jawab Mey menyadari keaalahannya.
Setelah menghabiskan cofee Velix kembali ke perusahaannya. Mey tak mau di antar pulang, karena ia membawa mobilnya ke kantor Velix tadi.
Saat mau ke cafe ia meninggalkan mobilnya di sana karena Velix mengajak Mey naik mobil bersamanya.
"Aku langsung pulang yaahh... " Jawab Mey sesaat begitu tiba di parkiran kantor Velix.
__ADS_1