
"Kalian tunjukkan padaku di mana Desi " Teriak Velix seketika melihat Ega dan Weni masih duduk di ruang tunggu dengan amarah yang jelas pada wajahnya.
Ega dan Weni terkejut melihat Velix yang tiba tiba sudah berada di depan mereka. Mereka tak bisa menolak permintaan yang kedengaran seperti perintah itu. Melihat wajah Velix pun mereka sudah tak berani.
Setelah melihat anggukkan dari Ega dan Weni, Velix bergegas menuju mobilnya. Seolah mengerti isyarat Velix, Ega dan Weni pun mengikutinya dari belakang.
Mobil Velix bergerak menuju rumah Jesi atas petunjuk Ega dan Weni. Karena emosi, Velix mengendarai mobilnya dengan sangat laju. Hingga tak terasa tibalah mereka tepat di depan rumah Jesi.
Keadaan semakin menegangkan.
Sesampainya di rumah Jesi Velix sudah tak memperdulikan Ega dan Weni yang masih di mobil. ia segera keluar dari mobilnya dan langsing menghampiri Jesi yang saat itu sedang menangis. Terlihat juga Ros yang sedang menenangkan Jesi duduk di sampingnya.
"Aku mau kau panggil Sisil kemari." Sahut Velix tiba tiba saat sudah berada di depan Jesi yang sedang duduk di teras rumahnya itu.
"Aku yang akan menghubungi Sisil. " Jawab Ros segera.
"Oh, jadi begitu. Setelah semua apa yang kau lakukan, sekarang kau akan memperalat teman teman mu.?" Ujar Velix marah kepada Jesi.
__ADS_1
"Apa tidak puas kau memperalat aku, sekarang teman teman mu yang sudah sangat sibuk membela mu. Sedangkan kamu sendiri hanya diam seperti orang bodoh. " Tambah Velix.
"Oh,, maaf. Bukan bodoh, tapi pura pura bodoh. " Sambung Velix lagi.
Mendengar ucapan yang begitu kasar dari mulut Velix, Jesi tak bisa berkata apa apa. ia hanya meneteskan air matanya lagi.
"Aku tak butuh air mata mu Desi." Ujar Velix sambil menengadahkan telunjuk kemarahan di wajah Jesi.
"Aku Jesi Lix, bukan Desi. " Jawab Jesi sambil menangis tersedu sedu.
Dengan penuh kesal Velix memegang kedua pundak Jesi dengan kedua tangannya. Wajah mereka kini saling dekat. Velix melihat jelas penyesalan Jesi yang sangat dalam karena sudah berbuat seperti it terhadapnya. Tapi tak semudah itu untuk memaafkan Jesi.
"Aku mau Desi, bukan Jesi. " Teriak Velix tiba tiba dan kemudian menghempaskan tangannya dari Jesi.
Kemudian Velixpun pergi meninggalkan mereka semua. Velix meninggalkan rumah Jesi. Melaju dengan mobil mahalnya itu.
Sementara teman teman Jesi hanya terdiam terpaku melihat kejadian yang berlangsung di mata mereka saat itu.
__ADS_1
"Semoga Velix akan baik baik saja. " Harap Jesi dalam hati.
Tak lama kemudian Sisil tiba di rumah Jesi. Sisil yang sudah mengetahui kejadian inipun sudah sangat kesal mendengar ini semua dari Ros melalui telepon. Sisil takut jika nanti Velix akan melampiaskan amarahnya juga kepadanya.
"Apa yang kalian lakukan. Kenapa bertindak tanpa bertanya padaku terlebih dulu.? " Ujar Sisil sedikit emosi.
"ini semua karena kamu" Jawab Ega juga mulai emosi.
"Apa? Kenapa malah aku yang disalahkan. Jelas jelas ini salah kalian. Kalian yang membuka rahasia ini pada Velix, sampai akhirnya jadi seperti ini. " Jawab Sisil mempersalahkan Jesi dan teman temannya.
"Tapi kamu yang menciptakan rahasia ini. Kamu memaksa Jesi melakukan apa yang kamu mau, tanpa peduli akibatnya akan seperti apa" Bantah Ega pada Sisil.
"Oohh... yaa Ampun, entah apa yang akan dilakukan Velix terhadapku " Ujar Sisil sambil mengacak rambutnya.
"Sampai saat inipun kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Kamu sama sekali tidak peduli dengan perasaan Jesi." Ucap Ega kepada Sisil.
"Dasar egois.. " Tambah Weni mencibir Sisil.
__ADS_1