
"Velix,, Velix,, " Ucap Jesi tiba tiba begitu sadar dari tidurnya.
"Jes... kamu sudah sadar?" Jawab Wandy yang seketika menyadari bahwa Jesi sudah mulai sadar.
"Tuan Wandy, kau di sini? Di mana Velix?" Jawab Jesi.
"Aku di sini semalaman menjaga mu dan kau hanya menanyakan Velix? Kau ini tidak pernah menghargai keberadaan ku.". Jawab Wandy sedikit kesal.
"Maafkan aku tuan Wandy, aku tidak bermaksud seperti itu." Jawab Jesi.
"Baiklah, aku maafkan. Lagi pula kau masih sakit. Kata dokter aku harus menjaga pikiran mu untuk selalu tenang. Sudahlah, tidak usah di bahas lagi." Jawab Wandy.
"Tentang Velix, dia sudah pulang pagi ini ke kota M. Kau tidak akan bertemu dengannya lagi." Sambung Wandy.
"Dia sudah pulang?" Tanya Jesi.
"Kenapa, apa kau sedih mendengarnya?" Tanya Wandy.
"Tidak, tidak apa apa." Jawab Jesi.
Terlihat kesedihan di wajah Jesi, dan Wandy juga menyadari hal itu. Wandy merasa sangat kesal melihat reaksi Jesi seperti itu terhadap Velix. Tapi Wandy menahan emosinya karena mengingat kondisi Jesi.
"Apa benar kata mu semalam tuan?" Tanya Jesi.
"Ehh,, maksud ku apa benar Velix yang menabrak ku waktu itu." Tanya Jesi.
__ADS_1
"Kau masih tetap saja membahas Velix." Jawab Wandy.
"Tolong jawab pertanyaan ku tuan." Paksa Jesi.
"Iya, tuan Velix yang menabrak mu waktu itu. Itulah mengapa dia sangat perhatian pada mu. Dia merasa bertanggung jawab atas sakit mu ini. Karena itu kau jangan salah paham padanya. Kau sudah mengakui ku sebagai kekasih mu di depannya. Jadi tolong kau hargai keberadaan ku Jes." Jelas Wandy.
Mendengar penjelasan Wandy, Jesi hanya tertunduk tanpa berkata kata lagi.
"Apa yang kau pikirkan Jes?" Tanya Wandy.
"Tidak apa apa, sudahlah tidak usah di bahas. Aku ingin istirahat lebih baik kau ke kantor saja dulu tuan." Jawab Jesi.
"Baiklah Jes, aku juga masih ada kerjaan di kantor. Kau istirahatlah dulu. Setelah pekerjaan ku selesai aku akan kembali ke sini. Kamu baik baik yaa..." Jawab Wandy sambil mengelus kepala Jesi.
"Iya, pergilah.." Jawab Jesi.
Menelpon Velix juga bukan hal yang tepat. Entah bagaimana tanggapan istrinya jika mengetahui Jesi menghubungi Velix.
Saat Velix berada di sini, mereka tidak pernah ada waktu untuk berbicara lama. Sekarang Velix malah sudah kembali dan tak meninggalkan pesan apa pun padanya.
"Velix, kau benar benar membuat ku sangat bingung." Ujar Jesi dalam hatinya.
Sore harinya....
"Suster, di mana pasien yang dirawat di ruangan ini?" Tanya Wandy pada salah satu suster yang sementara membersihkan ruangan tempat Jesi di rawat.
__ADS_1
"Pasiennya baru saja pulang tuan. Mungkin sekarang dia masih di parkiran." Jawab suster itu.
"Pulang? Apa dia meninggalkan pesan padaku." Tanya Wandy.
"Tidak ada tuan" Jawab suster.
Wandy berlari menuju parkiran berharap masih akan menemui Jesi di sana. Dan benar saja, Jesi baru saja akan menaiki taxi nya.
"Jesi..." Teriak Wandy.
Mendengar namanya di panggil, Jesipun segera menoleh ke arah Wandy.
" Kau mau pulang tanpa menunggu ku?" Sahut Wandy.
"Kata dokter aku sudah bisa pulang. Kau tidak perlu repot lagi dengan ku. Lagi pula aku juga sudah tidak apa apa lagi." Jawab Jesi.
"Aku antar kau pulang" Jawab Wandy.
"Tidak perlu tuan, aku sudah memesan taxi. Tidak enak kalau harus membatalkannya. Sudahlah kau pulang saja. Aku bisa jaga diriku sendiri." Jawab Jesi.
"Kalau begitu, aku akan mengikuti mu dari belakang saja." Jawab Wandy.
"Tidak perlu tuan, aku baik baik saja. Tolong pulanglah, aku ingin sendiri." Jawab Jesi.
"Baiklah jika itu mau mu" Jawab Wandy sedikit sedih.
__ADS_1
Kemudian Jesi masuk ke dalam taxi, dan berlalu pergi meninggalkan Wandy.