
"Drrrttt.... ddrrrtt..... "
Untuk kesekian kalinya Velix menghubungi Jesi lagi. Sebenarnya siapa teman Jesi itu tidak terlalu penting baginya.Velix hanya merasa ingin bicara dan mengobrol saja dengan Jesi yang dikenal dengan nama Desi itu. ia hanya mencari alasan saja.
ia penasaran dengan sosok Desi. Seorang wanita, anak kuliahan, tapi kok aktif sekali dalam kegiatan keagamaan seperti itu.
Velix sangat suka berteman, maka tidak heran kalau temannya juga sangat banyak. Laki laki atau perempuan semua bisa cocok dan jadi temannya. Tapi jarang sekali dia menemui teman temannya aktif di kegiatan keagamaan seperti itu.
Velix merasa Desi sangatlah berbeda. Di malan minggu seperti itu remaja seumuran Desi pasti sedang asyik pacaran. Tapi Desi malah memilih ke mesjid. Sungguh sesuatu hal yang baru baginya.
"Hallo..... " Sahut Jesi.
"Assalamualaikum ibu Ustadzah... " Ucap Velix.
"Waalaikumsalam,, " Sahut Jesi menjawab salam Velix.
"Gimana, apa kali ini saya bisa berbincang bincang dengan ibu ustadzah? " Tanya Velix menggoda membuat Jesi tersenyum.
"Maaf tuan, saya bukan ustdzah. Saya tidak pantas anda panggil seperti itu. Apalagi ada tambahan ibu didepannya. Rasanya saya sudah sangat tua sekali." Jawab Jesi tersenyum.
"Kamu juga memanggil aku tuan. Aku juga merasa sudah sangat tua. Padahal aku bahkan belum menikah. " Ujar Velix.
"Oh yaa,, kalau tidak salah waktu itu kamu bilang kamu sedang berada di kampus. Apa kamu kuliah? " Sambung velix bertanya.
__ADS_1
"ee.. iyaa, aku memang kuliah. " Jawab Jesi.
"*Semester berapa? " Tanya Velix.
"Baru semester satu. " Jawab Jesi tak bisa berbohong kali ini.
"Berarti usiamu kurang lebih 2 tahun di bawah aku" Pikir Velix.
"Entahlah,, aku tidak bisa menghitungnya. Karena aku tidak tau usia tuan saat ini " Jawab Jesi seolah tak perduli.
"Velix, panggil aku Velix Desii. usia kita hanya terpaut dua tahun, jadi kau jangan sekali kali memanggil aku tuan. Ujar Velix kesal.
"Ha. ha. ha. ha.. Baiklah Velix. Sekarang apa maumu menelponku. " Jawab Jesi.
Lalu Jesi menyebutkan beberapa nama temannya yang ia yakin Velixpun tidak mengenal mereka sama sekali.
"Apa mereka teman kuliahmu? Aku sama sekali tak mengenal nama nama itu. " Ujar Velix kebingungan.
"Iya, mereka teman yang meminjam ponselku saat itu. Kau tak mengenal mereka? Maaf, sepertinya itu bukan urusanku. Bisa saja kau lupa kan? " Jawab Jesi.
"Hmm... mungkin saja. Tapi mungkin aku bisa mengingatnya jika kau mempertemukan ku dengan mereka. " Ucap Velix mencari alasan karena sebenarnya ia hanya ingin bertemu Jesi saja.
"*Hah, bertemu? Ahh, itu tidak mungkin. Aku sibuk, jam kuliahku sangat padat. Aku juga ga biasa keluar rumah jika tak ada urusan yang penting. " Jawab Jesi menolak.
__ADS_1
"Apa aku saja yang menemui kalian di kampus? " Tanya Velix.
"eh, jangan jangan. Orang tuaku bisa marah kalau aku janjian dengan pria yang tidak aku kenal" Jawab Jesi menolak lagi.
"Apa? Orang tuamu bisa marah? " Tanya Velix kaget.
"Cewek ini beneran cewek rumahan yaa? Seperti tidak sembarang bergaul. Seperti apa wujudnya, bikin penasaran aja... " Gumam Velix dalam hati.
"Lalu bagaimana kita bisa bertemu*? " sambung Velix lagi.
"Untuk apa bertemu? Lagi pula temanku itu pasti akan menelponmu lagi jika ia memang ada perlu dengan mu. " Jawab Jesi.
"Hmm... baiklah jika itu memang mau mu Des. Tapi bisakah kita jadi teman? " Tanya Velix.
Desi hanya terdiam..
"Emm.... jujur aku ingin sekali jadi teman mu. Kamu sangat berbeda dari semua teman wanita yg pernah aku temui. " Jujur Velix.
Desi tidak menyangka, semudah itu ia mengambil hati Velix untuk bisa berteman dengannya. di satu sisi ia sangat merasa bersalah karena telah membohongi Velix, tapi di sisi lain ia tak bisa berbuat apa apa selain menuruti kata sahabatnya Sesil.
"Baiklah, kita berteman... " Jawab Jesi.
"Aku sangat senang bisa punya teman seperti mu. Thank u Des... " Jawab Velix senang.
__ADS_1
Desi tersenyum dan kemudian menutup teleponnya.