Memilikimu Dalam Hati

Memilikimu Dalam Hati
Jawaban Yang Ditunggu


__ADS_3

Sesaat setelah Mey berlalu dari halaman kantornya, Velix tak kunjung turun dari mobilnya. ia terus saja memikirkan tragedi gelas jatuh di cafe tadi. ia jelas jelas melihat wajah Jesi yang hampir setengah menangis melihatnya bersama Mey waktu itu.


ia terus saja memikirkan kenapa gadis itu muncul lagi di hadapannya. Sejujurnya Velix benar benar tak dapat melupakan wajah Jesi, tapi ia juga tak dapat melupakan nama Desi. ia merasa Jesi tak sama dengan Desi, meski sebenarnya mereka memanglah orang yang sama.


Karakter Desi hanya dibuat agar ia tertarik dengan Desi. Sementara Jesi, ia sama sekali tak mengenal seperti apa karakter gadis ini sebenarnya. Meski pernah bertemu, tapi ia tak pernah berbincang lama dengannya.


berbeda halnya dengan Desi. Kegiatannya tiap hari, kebiasaannya, kesukaannya sampai hal hal yang tidak disukai Desi, semua sudah dihafal mati oleh Velix.


Tiba tiba saja mobilnya bergerak menuju ke kompleks perumahan Jesi. Dan benar saja, ia berhenti tepat di depan rumah Jesi.


"Non Jes, ada yang cari non. Katanya teman nona" Jesi tersentak kaget dari tangisnya. ia langsung saja menghapus air mata yang mengalir di pipinya itu.


"Suruh masuk saja bi, nanti saya segera kesana. "Jawab Jesi dari dalam kamarnya.


Jesi sangat terkejut melihat pria yang sekarang sedang duduk di ruang tamunya itu. Ia tak menyangka Velix akan datang ke rumahnya di saat hatinya masih sangat kacau seperti ini.


"Anda mencari ku tuan ?" Sahut Jesi.

__ADS_1


"*Aku tidak suka di panggil tuan. Aku rasa kau sudah tahu itu. " Jawab Velix.


"Baiklah*". Jawab Jesi singkat sejenak mengingat kembali saat ia berperan sebagai Desi. Velix memang sangat keberatan jika ia memanggilnya tuan.


"Apa yang bisa saya bantu? " Tanya Jesi datar.


"Apa seperti itu caramu bicara denganku? Berdiri saja di sana sampai kaki mu patah. " Ucap Velix kesal melihat Jesi yang tak mau duduk bersamanya.


Jesipun duduk di depan Velix. Velix melihat mata Jesi sangat dekat. ia merasa mata itu sedang lembab, seperti baru saja menangis. ditambah lagi matanya yang sedikit bengkak. ia yakin Jesi baru saja menangis.


"Apa kau menangis. " Tanya Velix.


"Katakan apa yang bisa aku bantu untuk mu? " Tambah Jesi.


Velix tahu Jesi berbohong, tapi ia membiarkannya.


"Katakan padaku, apa sikap mu sebagai Desi itu juga adalah kebohongan? " Jawab Velix.

__ADS_1


"Maksud mu? " Tanya Jesi bingung dan mengerutkan keningnya.


"Maksudku... ee... kita pernah bicara tentang kehidupan, persahabatan, cinta, orang tua, bahkan tentang agama dan Tuhan. Aku tahu apa yang kamu sukai dan kamu tidak sukai. Kamu menceritakan aktivitas mu setiap hari pada ku dari saat kau membuka mata mu sampai kau tidur kembali. Apa semua itu juga hanya kebohongan saja? " Jelas Velix lagi.


"Aku hanya bisa menyamarkan identitas ku saja, bukan pendapat ku, ataupun kesukaan ku." Jawab Jesi singkat.


"Kalau begitu aku sudah mendapatkan jawabannya. Aku pergi.. Terima kasih atas jawaban yang menyenangkan ini" Ucap Velix sambil berlalu dari hadapan Jesi.


"Apa maksudnya? " Gumam Jesi dalam hati.


Sekalipun Jesi tak mengerti apa maksud perkataan Velix barusan, tapi ia cukup senang melihat Velix tersenyum di hadapannya.


Sementara di mobil Velix sangat senang. ia cukup puas dengan jawaban yang diberikan Jesi padanya. ia merasa menemukan Desinya kembali dalam diri Jesi.


Namanya saja yang berubah, tapi sifatnya, perilakunya bahkan caranya berpendapat pun sama seperti Desi. Karena Desi adalah Jesi.


"Aku mencintaimu Jesi... " Teriak Velix meski sudah tak terdengar oleh Jesi karena mobilnya sudah berada jauh dari lokasi Jesi.

__ADS_1


"Kau akan mencintaiku, aku yakin kau pasti akan mencintai ku juga. " Gumam Velix dalam hati.


__ADS_2