
Ida berjalan agak tergesa menuju perkampungan yang berada di pinggir hutan. Meninggalkan Rasyid yang masih memperhatikannya dari tempat mereka tadi berpisah. Ingin rasanya menoleh kembali ke arah pemuda itu, tapi ia urungkan niatnya. Ida menepuk pelan pipinya yang mulai agak memanas. Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai merasa senang atas perhatian yang di berikan pemuda itu.
Ida berusaha mengenyahkan perasaan itu, mulai mengingat-ingat instruksi yang diberikan pak Zain sebelum berangkat. Ia tidak mau tugas pertamanya gagal hanya karena memikirkan masalah perasaan.
Dari informasi yang ia dapat, perkampungan itu sudah mulai ditinggalkan sebagian besar penduduknya, karena Belanda sudah beberapa kali membabi buta memporak porandakan kampung itu. Namun, masih ada yang bertahan di kampung itu sebab ada anggota keluarganya yang tidak sanggup melakukan perjalanan jauh untuk mengungsi.
Ida menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan situasi kampung di pinggir hutan itu dengan seksama. Sesuai instruksi dari pak Zain, ia harus menunggu pedati yang akan mengangkutnya ke Lubuk Alung setelah isya di sebuah surau usang.
Ketika hendak melangkah menuju arah surau, tiba-tiba ia merasakan benda dingin menekan tengkuknya. Ida membeku di tempatnya berdiri.
"Berbalik!!" perintah sebuah suara dengan logat Belanda yang kental.
Ida membalikkan badannya perlahan, menghadap suara yang memerintahnya. Di hadapannya berdiri dua orang opsir Belanda, seorang menodongkan senjata ke arahnya, sementara seorang lagi berdiri berkacak pinggang dengan senjata tersampir di punggungnya.
"Kamu hendak kemana nona?" tanya opsir yang menodongkan senjatanya ke Ida.
"Saya hendak pulang tuan," Ida menjawab dengan suara sedikit bergetar.
"Kenapa sudah menjelang malam begini kamu masih berkeliaran diluar?" selidik si opsir.
"Saya sedari pagi mencari pakis dan kayu ke hutan, tidak begitu tahu waktu tuan. Ternyata begitu saya keluar dari hutan sudah menjelang senja." Ida berusaha menenangkan degup jantungnya yang mulai tidak beraturan.
__ADS_1
"Coba kamu turunkan keranjang itu!"
Perlahan Ida menurunkan keranjang besar yang ada di punggungnya. Debaran jantungnya sudah tidak dapat ia kendalikan lagi. Ia sudah sangat yakin kalau kedua opsir itu menemukan pesan yang ia bawa dalam keranjangnya, tamat sudah riwayatnya.
Salah seorang opsir yang tidak menodongkan senjata memeriksa keranjang Ida. Ida menatap harap-harap cemas. Satu persatu isi keranjangnya dikeluarkan sang opsir. Kayu-kayu kering, daun-daun pakis, dan beberapa bonggol umbi talas.
"Doorzichtig," (bersih) ucap opsir yang memeriksa keranjang Ida sambil menoleh kepada rekannya.
Ida menghembuskan nafas lega.
Dua opsir itu mengamati Ida sekali lagi. Penampilannya yang menggunakan pakaian dari goni, serta caping yang menutupi kepalanya memang tampak seperti pencari kayu di hutan.
"Silahkan lanjutkan perjalanannya nona," ucap si opsir kemudian menurunkan senjata yang sedari tadi ia todongkan pada Ida.
Ida berjalan was-was, tidak biasanya Belanda melepaskan seseorang begitu saja. Seringkali yang terjadi, ketika orang yang mereka suruh pergi berjalan, orang itu akan ditembak dari belakang. Ingin Ida menoleh, memastikan dua opsir itu benar-benar melepaskannya tanpa berniat melepaskan timah panas ke tubuhnya, namun ia urungkan. Sebait doa ia ucapkan perlahan ketika ia meninggalkan kedua opsir itu.
Setengah tergesa, Ida mengambil arah ke sebelah kiri, mengurungkan niatnya untuk menuju tempat yang ia tuju. Berjaga-jaga kalau saja dua opsir itu mengawasinya, ia tidak terlalu dicurigai karena memasuki surau tua itu. Lutut Ida masih terasa lemas, ia berusaha menyeret langkahnya memasuki perkampungan.
Matahari yang mulai turun dari peraduannya menciptakan cahaya jingga pekat di langit yang mulai gelap. Beberapa ekor burung terbang melintas di atas kepalanya. Ida berhenti sejenak, memastikan. Di ujung jalan setapak yang ia lalui, matanya menangkap siluet bangunan surau yang menghadap ke Barat.
Bangunan tua itu tampak makin gelap dengan latar belakang sekitarnya yang mulai kehilangan cahaya. Ida ragu-ragu ketika mendekati pintu surau. Bangunan itu seperti sudah lama tidak dipergunakan, tampak dari sarang laba-laba yang sudah menutupi sebagian pintu. Bangunan surau yang ada di depan Ida saat ini tidak seperti surau yang ia lihat sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
Surau tua itu, berbentuk bangunan surau pada umumnya memyerupai rumah panggung, akan tetapi tangganya tidak terletak pada bagian bawah pintu masuk, namun tangga menuju ruangan untuk shalat berada bersisian setelah pintu masuk.
Hembusan angin sore yang cukup kuat membuat daun pintu surau yang hampir lepas itu berderit-derit seperti suara lengkingan. Ida melongok ke dalam surau. Ada sedikit rasa takut mulai merayapi dadanya, ketika ia melangkah masuk melalui pintu depan surau.
Dengan menggumamkan bacaan ayat suci yang ia hapalkan, Ida melangkah masuk ke dalam surau, melewati kolam kering, yang biasa di gunakan untuk mencuci kaki oleh jamaah surau yang akan menunaikan ibadah shalat.
Begitu masuk, Ida disambut ruangan kosong menyerupai lorong panjang gelap. Di ujung lorong, Ida masih bisa melihat sebuah tungku besar dari sisa cahaya senja yang masuk dari dindingnya yang terbuka. Sepertinya surau ini dulunya juga sempat dijadikan tempat kegiatan untuk memasak ransum para pejuang. Mengingat tungku yang Ida lihat berukuran besar.
Memasuki bangunan surau, Ida mencium apak dari kayu bangunan surau. Tidak ada satupun yang dapat Ida lihat didalam ruangan yang digunakan untuk tempat shalat, cahaya matahari yang sudah tenggelam, membuat suasana surau itu makin mencekam. Ingin rasanya Ida pergi saja dari tempat itu, namun ia ingat tugasnya, ia harus menunggu di sana sampai tengah malam. Sampai ada pedati yang akan datang menjemputnya kemudian mengantarkannya ke pasar tempat ia akan menyerahkan pesan yang ia bawa.
Ia menunggu dalam gelap, berusaha mengenyahkan segala pikiran buruk yang mulai bersarang ketika matanya menyelidik isi ruangan surau.
Ida tersentak ketika mendengar bunyi lonceng yang biasa diikatkan di leher sapi atau kerbau yang membawa pedati berbunyi tepat di depan halaman surau. Ida mengintip dari balik celah tempat ia bersembunyi. Sebuah pedati dengan seekor kerbau yang cukup besar berhenti di depan surau. Kulit kerbau yang gelap, membuat pedati itu tampak mengambang di antara gelapnya malam. Beberapa penduduk kampung terlihat memuat bawaannya kedalam pedati.
Ida beringsut perlahan dari tempat persembunyiannya agar tidak terlalu menarik perhatian. Namun kusir pedati menyadari kehadirannya. Menyapa Ida dengan pertanyaan yang Ida anggap seperti kode yang diajarkan Marwan kepadanya.
"Membawa pakis hutan ya nak," tanya lelaki yang tampak sudah berumur enam puluh tahunan itu sambil memperhatikan Ida dengan keranjang besarnya.
"Iya pak, baru dipetik," Ida menjawab sesuai instruksi.
"Bergegas naiklah, kau duduk paling ujung ya," ujar kusir pedati.
__ADS_1
"Baik pak, terima kasih." Ida menaiki pedati, kusir pedati membantunya untuk menaikkan keranjang besarnya kedalam pedati.
Setelah semua penumpang beserta barang bawaannya masuk ke pedati, pedati itu bergerak perlahan. Seperti biasa, Ida tidak mampu menahan matanya untuk terus terjaga, tidak begitu lama pedati bergerak meninggalkan surau, Ida sudah terlelap dalam tidurnya.