
Mereka terus berjalan sampai matahari berada di titik tertinggi. Panasnya tidak begitu terasa, karena udara sejuk dari hutan. Namun, Ida mulai kepayahan untuk meneruskan perjalanan. Kakinya mulai membengkak. Kulit di sekitar pergelangan kakinya mulai memerah.
"Kau lelah Da?" Suara mak dang memecah kesunyian.
"Tidak Mak," jawabnya singkat.
"Lalu kenapa kau lama sekali, nanti kita bermalam di hutan kalau kau jalan seperti siput begitu," tegur mak dang.
"Alas kakimu kemana Da?" tanya Syamsyir ketika melihat Ida bertelanjang kaki, mengabaikan suasana canggung yang tercipta di antara mamak dan kemenakan itu.
"Kemarin ketika disuruh melarikan diri ke hutan, aku tidak sempat memakainya," sahut Ida pelan sambil menunduk.
Dengan cekatan Syamsyir merobek kedua lengan bajunya.
"Kau pakai ini saja buat menutupi kakimu ya Da," ujar Syamsyir menyerahkan kedua lengan baju yang terbuat dari kain berbahan tebal itu.
Ida melirik ke arah mak dang, ada rasa sungkan untuk menerima bantuan Syamsyir karena takut dengan mak dangnya.
"Cepatlah kau pakaikan ke kakimu, agar kita bisa lanjutkan perjalanan," ujar mak dang.
Ida mengambil kedua lengan baju itu dari tangan Syamsyir, menyarungkan ke kedua kakinya. Mereka melanjutkan lagi perjalanan, berharap bisa sampai di tujuan sebelum matahari tenggelam.
"Syir, apa kita bisa sampai sebelum magrib di Kubang Putiah?" Suara mak dang kembali memecah kesunyian.
"Semoga bisa Ngku."
"Kau nanti menginap dulu lah di rumah ku ya. Besok pagi kau lanjutkan perjalanan ke Birugo. Kita belum tahu kondisi Bukittinggi bagaimana," lanjut mak dang.
"Tidak usah Ngku, saya harus secepatnya menyampaikan pesan yang saya bawa ini," tolak Syamsyir.
Ida baru tahu, ternyata Syamsyir juga salah seorang kurir penghantar pesan. Selama ini ia hanya tahu Syamsyir membawa persediaan logistik untuk mereka.
"Benar juga ya," ucap mak dang membenarkan perkataan Syamsyir.
"Da, kau bergegaslah jalannya." Mak Dang menoleh kepada Ida.
__ADS_1
"Kenapa kaki kau?" tanya mak dang kemudian, ketika menyadari Ida berjalan terpincang.
"Sepertinya kaki yang tersangkut akar pohon kemarin keseleo mak dang, sekarang membengkak," terang Ida mulai memberanikan diri untuk berbicara pada mak dang.
"Coba aku lihat." Mak dang mendekati Ida.
Ida menarik ujung celana yang menutupi pergelangan kakinya. Kulit sekitar pergelangan kakinya sudah mulai berwarna ungu.
"Cideranya bisa makin parah kalau kita paksa Ida untuk berjalan Ngku." Kali ini Rizal yang membuka suara.
"Iya, kita istirahat saja sebentar, aku akan cari tumbuhan obat di sekitar sini untuk meredakan bengkaknya," Syamsyir menimpali.
Mak dang tercenung. Sedikit ada perasaan bersalah tergambar di wajahnya.
"Yasudah, kita obati dulu saja kakimu ya Da," tukas mak dang kemudian.
"Tidak usah Mak, nanti sampai di rumah saja. Aku masih kuat," tolak Ida.
"Kau tak perlu memaksakan diri kalau sudah tidak sanggup," tegur Rizal.
Ketiga lelaki yang berada di hadapan Ida hanya diam, lalu saling pandang.
"Yasudah, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, orangnya sendiri bilang tidak apa-apa. Ayo lah kita lanjutkan perjalanan. Kabut sudah mulai turun," ujar mak dang.
Mak dang paham betul watak kemenakannya itu, keras kepala. Walaupun orang yang ada di sekitarnya mengkhawatirkan dirinya, tapi kemenakannya itu selalu menolak perhatian orang lain.
" Tapi Ngku.... " Syamsyir mencoba untuk mengajukan argumennya.
"Ah sudah lah, anak ini tidak butuh dikasihani. Jangan kalian samakan dengan perempuan lain yang lemah, dia ini kuat," tukas mak dang.
Ida tercenung mendengar penuturan mak dang. Entah ia harus berbangga hati karena mak dang nya menganggap ia bukan perempuan lemah, atau malah justru harus berkecil hati karena mak dang nya tidak terlalu peduli dengan kondisinya.
Namun ia kemudian menyadari bahwa mak dang nya bersikap demikian juga karena sikapnya yang terlalu keras kepala pada keluarganya.
Kabut di hutan itu mulai menebal, cahaya matahari yang tadinya begitu terang mulai meredup tertutup dedaunan pohon besar.
__ADS_1
"Da, kau berpegang lah pada tali ini. Kabutnya mulai tebal," ujar mak dang menyerahkan seutas tali ke tangan Ida.
Ida mengambil tali yang diberikan mak dang, mengikatkannya ke tangan, agar tidak terlepas. Teringat kembali olehnya ketika ia berada di hutan pinus bersama teman-teman sesama relawan PMI. Seketika rasa sesak itu kembali muncul. Teringat akan Maryam yang tak sempat ia hantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Entah mereka sudah menguburkan jenazah Maryam atau belum.
Cepat-cepat Ida berusaha menepiskan rasa sedihnya. Suasana hutan yang mulai gelap tertutup Kabut membuatnya ingat pesan para orangtua, tidak boleh membawa perasaan sedih ketika berada di dalam hutan.
"Syir, kau tidak salah jalan kan?" Mak dang tampak agak was-was.
"Insya Allah tidak Ngku, di sini memang biasa kabutnya tebal. Nanti beberapa meter di depan, kabutnya akan berkurang," terang Syamsyir.
"Baik," jawab mak dang singkat.
Udara yang mulai makin dingin menusuk kulit, membuat Ida mendekapkan kedua tangannya di dada. Lengan baju yang diberikan Syamsyir untuk menutupi kakinya tidak begitu membantu untuk menghangatkan telapak kakinya.
Kabut yang menutupi hutan membuat suasana di sekelilingnya tampak begitu samar. Bahkan Rizal yang berada di barisan paling depan tidak begitu terlihat oleh Ida. Sesekali ia melihat mak dang menoleh ke belakang. Mungkin memastikan kemenakannya itu masih ada di belakang nya.
Tak berapa lama kemudian, jalanan yang mereka lewati mulai menanjak dan licin. Beberapa kali Ida terpeleset membuat rasa sakit di pergelangan kakinya makin terasa.
Lalu ketika jalanan mulai agak rata, ia melihat Rizal dan Syamsyir berhenti, di tangan Syamsyir ada beberapa helai daun yang Ida tidak begitu tahu daun apa yang di pegang Syamsyir.
"Ngku, kaki Ida di kasih ini. Biar bengkaknya sedikit berkurang," ujar Syamsyir pada mak dang.
Tampak ada sedikit rasa sungkan yang dirasakan Syamsyir.
"Oh! Ya..... Kau balurkan lah di kaki mu Da." Mak dang mengulangi instruksi Syamsyir.
Kali ini Ida tak membantah, karena memang kakinya sudah sangat membuatnya tak nyaman. Ida mengambil dedaunan yang diberikan Syamsyir, meremas daun-daun itu dan membalurkan ke kakinya. Seketika kakinya yang terasa berdenyut sedikit terasa sejuk.
Ida hendak berdiri, ketika mak dang menyuruhnya untuk duduk kembali. Di tangannya sebuah senapan terarah ke kepalanya. Ida memucat. Berpikir apakah mak dang nya akan menghabisi nyawanya di hutan itu.
"Diam kau di sana Da!" perintah mak dang dengan suara rendah.
Ida tercekat. Ketika mak dang mengokang senapannya, ia menyadari bahwa tatapan mak dang nya ke bagian atas kepalanya. Perlahan, ia mendongak, mendadak lemas ketika mendapati seekor ular besar sudah menganga lebar beberapa meter diatas kepalanya. Seketika tubuhnya berasa kaku. Ketika mulut ular makin mendekat, "Dhuaaar!!!" Suara tembakan senapan mak dang membelah kesunyian hutan disusul bunyi berdebam benda jatuh.
Ida memutar tubuhnya melihat ular yang baru saja dibunuh mak dang. Badannya hampir sebesar badan Ida. Ida tak bisa membayangkan jika saja tadi mak dang tidak melihat ular itu ada di atasnya, mungkin ia sudah menjadi pengisi perut ular itu untuk beberapa bulan ke depan.
__ADS_1