
Memasuki musim penghujan, cuaca Teluk Kuantan sudah mulai sejuk. Tak terasa sudah hampir setahun Ida tinggal di Teluk Kuantan. Saat itu menjelang perayaan Maulid Nabi, masyarakat sekitar sungai Kuantan mulai mengadakan acara rutin menyambut Maulid. Salah satu acara yang rutin diadakan adalah pacu jalur.
Jalur yang dimaksud adalah sejenis perahu panjang yang digunakan masyarakat setempat sebagai alat transportasi air untuk mencapai daerah-daerah tepian sungai Kuantan yang jauh dari jangkauan transportasi darat. Pada saat acara pacu jalur, jalur-jalur tersebut dihias sedemikian rupa dan diperlombakan kecepatan lajunya.
Sungai Batang Kuantan yang terletak tak jauh dari rumah mak Halimah mulai ramai dipadati penduduk yang mempersiapkan jalur yang akan digunakan untuk perlombaan.
Hari yang ditunggu pun tiba. Laili dan Fatimah begitu bersemangat untuk menyaksikan pacu jalur. Semalaman mereka bertanya-tanya tentang acara itu. Begitu ayam berkokok, mereka langsung terbangun tanpa menunggu untuk dibangunkan. Bersiap sedari pagi, memilih-milih baju untuk dikenakan ke tempat perayaan.
"Andung! Apakah aku sudah cantik?" tanya Laili memutar tubuhnya yang telah dibalut baju terusan berwarna merah jambu dengan pita di dadanya. Rambut hitam tebalnya yang ikal telah diminyaki dan dikepang rapi.
"Aduh, cantiknya cucu Andung. Laili mau kemana?" tanya mak Halimah lembut.
"Mau melihat pacu jalur. Andung tidak ikut?"
"Andung di rumah saja, masih banyak yang harus dikerjakan. Laili jangan nakal, ya."
"Andung, aku juga cantik." Fatimah yang baru keluar kamar, juga ingin dipuji neneknya. Ia menirukan gaya Laili memutar-mutar tubuhnya di hadapan neneknya. Baju yang ia kenakan serupa dengan Laili. Rambut pendeknya pun telah diminyaki dan disisir rapi.
"Aduh, cantik-cantik cucu andung. Nanti kalian jangan jauh-jauh dari amak dan abak, ya. Anak cantik-cantik seperti ini nanti diculik kalau sendirian," nasehat mak Halimah.
"Iya Andung," sahut Laili dan Fatimah serempak.
Lomba sudah akan dimulai ketika mereka sampai di tepian sungai Kuantan. Ramainya penonton yang berdesakan di pinggir sungai, membuat Burhan dan Ida terpaksa harus menggendong Laili dan Fatimah agar tidak terinjak.
"Untung Salma tidak jadi dibawa, Tuan" ujar Ida ketika mereka sudah mendapatkan tempat terbaik untuk menonton perlombaan.
"Iya, aku tak mengira akan seramai ini."
Tak lama terdengar suara dentuman meriam sebagai penanda lomba akan dimulai. Laili mendekap abaknya karena terkejut. Jalur-jalur yang akan ikut perlombaan mulai bersiap pada garis lintasan awal. Setelah dentuman ketiga, jalur-jalur mulai bergerak seiring suara riuh penonton yang memberikan dukungan pada jalur yang sedang berlomba. Para pendayung jalur begitu bersemangat mendayung agar bisa mengalahkan lawannya. Suara teriakan aba-aba dari pawang jalur terdengar bersahut-sahutan saling memberi semangat pada anggota pendayungnya.
"Jalur yang paling depan itu juara dua tahun yang lalu, Da." Burhan sedikit berteriak pada Ida untuk mengalahkan kebisingan penonton.
Ida yang tidak begitu menyukai keramaian mulai merasa jengah. Burhan menyadari perubahan wajah Ida.
"Kita pulang saja, Da?"
"Apakah Tuan tidak ingin menontonnya sampai selesai?"
"Kau sudah terlihat tidak nyaman," sahut Burhan.
"Ya, aku memang tidak terlalu suka keramaian. Tapi anak-anak sepertinya masih mau menonton."
"Aku mau pulang saja, Mak." Laili juga mulai terlihat tidak nyaman.
Tanpa menunggu lomba selesai, mereka meninggalkan arena pacu jalur dengan segala keriuhannya.
"Kenapa sudah pulang?" tanya mak Halimah ketika melihat anak dan cucunya telah kembali.
"Panas, Andung," sahut Laili mengusap keningnya yang sudah dipenuhi keringat. Sementara Fatimah sudah tertidur dalam gendongan Ida.
"Salma rewel tidak, Mak?"
"Tidak, tadi hanya merengek sebentar karena mengantuk. Sekarang sudah tertidur di kamar Midah."
"Terima kasih ya, Mak."
__ADS_1
"Biarkan saja dia di kamar Midah, Da. Tak usah kau pindah."
"Iya, Mak."
Meninggalkan keriuhan pacu jalur, Ida kembali ke rutinitas sehari-hari. Membantu mak Halimah dan para pekerjanya di dapur.
***
Dua hari Teluk Kuantan diguyur hujan tiada henti, menyebabkan air sungai Kuantan mulai naik.
"Tuan, apa Tuan masih mau jalan dengan kondisi cuaca seperti ini?" tanya Ida mengutarakan kekhawatirannya.
"Ini bukan kali pertama aku pergi dalam kondisi cuaca seperti ini, Da. Tak perlu kau risau." Burhan berusaha menenangkan Ida.
"Tapi aku lihat, air batang Kuantan sudah naik. Apa tidak akan membahayakan?"
"Insya Allah tidak, kau berdoa saja."
Seperti pada hari-hari sebelumnya, Burhan dan mak Halimah kembali memuat barang dagangannya ke mobil yang akan mengantarkan ke dermaga perahu. Ida yang turut membantu, masih berasa was-was. Berkali-kali ia menyatakan keberatannya agar mak Halimah dan Burhan menunda keberangkatan.
"Nasi sudah dimasak, Da. Kalau aku tidak berangkat, nanti basi semua. Kau berdoa saja, seperti kata Burhan, ini bukan kali pertama amak pergi dengan cuaca seperti ini," hibur mak Halimah melihat wajah khawatir Ida.
"Iya, Mak ...." Ida menghela nafas panjang.
"Aku berangkat, Ya." Burhan mencium kening Ida mencoba sedikit mengurangi rasa khawatir yang membebani perasaan istrinya.
"Iya ... Tuan berhati-hatilah," sahut Ida lirih.
Ida memandangi Burhan dan mak Halimah yang menjauh bersama mobil yang mengangkut dagangannya. Mencoba meredakan segala rasa tak nyaman yang bergemuruh dalam hatinya.
"Kau tidak usah terlalu cemas, Da. Nanti kau sakit. Dari kemarin aku lihat makanmu juga tidak teratur." Midah mulai khawatir melihat Ida yang terus-terusan melihat jalanan.
"Iya Uni. Perasaanku makin tidak tenang." Ida menghapus matanya yang mulai menghangat.
"Salma juga merasakan kekhawatiranmu, kau tidak lihat dari kemarin dia terus-terusan menangis."
Ida hanya menangguk. Perasaannya makin tidak tenang, karena semenjak keberangkatan Burhan dan mak Halimah, ia terus-terusan bermimpi mertuanya meminta tolong. Mimpi yang sama setiap malam membuat perasaan yang dari awal tidak tenang makin terasa kacau.
Hari ketiga setelah Burhan berangkat, hujan masih saja mengguyur Teluk Kuantan tanpa henti. Udara yang sejuk karena guyuran hujan tak mampu meredakan perasaan Ida yang makin gelisah.
"Assalamualaikum ...."
Suara salam di depan pintu menghentikan kegiatan Ida yang sedang menampi beras. Ia meletakkan nyiru besar yang ia pegang ke lantai, beranjak ke ruang depan melihat siapa yang datang.
"Waalaikum salam ... Tuan mencari siapa?" tanya Ida heran, karena ia tak mengenal tamu yang datang. Seorang pria berbadan tegap, penampilannya seperti anggota militer.
"Ini benar rumahnya Ibu Halimah?" tanya pria itu.
"Iya, benar. Tapi amak sedang tidak ada di rumah."
"Saya bisa bertemu dengan keluarganya?"
"Saya menantunya. Ada apa Tuan?" perasaan tidak tenang mulai menjalar lagi di hati Ida.
"Ada apa, Da?" Midah yang baru datang dari pasar memandang heran tamu pria yang datang ke rumah mereka.
__ADS_1
"Tuan ini mencari keluarga amak," sahut Ida.
"Iya, ada apa Tuan? Saya anak tertua mak Halimah," sahut Midah.
"Saya dari Kantor polisi ingin menyampaikan bahwa perahu yang di tumpangi ibu Halimah kemarin terbalik di Air Molek. Kami ke sini meminta keluarga untuk mengidentifikasi korban."
Seperti mendengar petir, seketika wajah Ida pias mendengar penjelasan tamu yang mengaku seorang anggota polisi itu. Tanah yang ia pijak terasa ambruk. Midah tak kalah terkejut, wajahnya seperti kehilangan darah.
"Bagaimana kondisi ibu saya, Pak?" tanya Midah kemudian.
"Nyonya ikut saja dengan saya ke kantor, saya tidak bisa memberitahukan sekarang."
"Uni, aku juga ikut," pinta Ida berusaha mengumpulkan tenaganya untuk bisa berdiri.
"Kau di rumah saja, Da. Kasihan anak-anakmu," larang Midah.
"Anak-anak aku titip Nur saja. Pak, saya juga ikut, suami saya juga di perahu yang sama dengan mak Halimah."
"Iya, Mari kita berangkat."
"Sebentar, Pak." Ida berlari ke dalam rumah, "Nur ... Nur ..." panggilnya.
"Iya Kak?" Nur datang tergopoh mendengar Ida memanggilnya dengan nada yang tak biasa.
"Aku titip anak-anak dulu. Aku hendak ke kantor polisi, perahu amak terbalik," ujar Ida tersengal, tenggorokan nya terasa tercekat.
"Ya Allah, terus amak bagaimana?" Nur tak kalah terkejut.
"Aku juga belum tau, kau temani anak-anak dulu." Ida kembali berjalan tergesa ke pintu depan.
"I-iya Kak."
Di sepanjang perjalanan Ida berusaha meredam perasaan yang makin berkecamuk. Teringat mimpinya beberapa hari belakang, teringat wajah suami dan mertuanya. Midah di samping Ida mulai terisak. Perjalanan menuju kantor polisi yang hanya berjarak dua kilometer dari rumah, terasa begitu lama bagi Ida.
Ida meloncat turun ketika mobil yang membawa mereka sampai di depan kantor polisi. Ia berjalan seolah tak menapak. Mereka langsung diantar ke ruangan tempat penyimpanan jenazah. Harapan akan bertemu dengan orang yang mereka sayang seketika memudar. Kantong jenazah mak Halimah yang pertama kali dibuka. Wajah teduh mak Halimah tampak seperti tidur, seulas senyum yang selalu menenangkan masih terpatri di sana. Seketika tubuh Ida limbung, tulangnya berasa ditarik lepas dari tubuh, di sampingnya, Midah histeris.
Ida mengusap matanya, "Pak, boleh saya lihat jenazah suami saya?" tanyanya kemudian mencoba menguatkan diri.
Satu persatu kantong jenazah dibuka. Setiap kali satu kantong dibuka, Ida menarik nafas agar ia mampu menerima kenyataan. Sampai pada kantong terakhir, tak ada jenazah Burhan di sana. Antara lega dan khawatir, "lalu suami saya ada dimana?" tanya Ida dengan wajah linglung.
"Hanya mereka ini yang kami temukan di sekitar tempat kejadian, ibu Halimah yang paling jauh terseret arus, anggota kami dibantu masyarakat setempat sudah menyisiri tepian sungai, sudah tidak ada lagi korban yang ditemukan," terang petugas polisi yang menemani mereka.
Entah harus lega, atau bersedih. Ida menatap nanar jenazah yang ada di ruangan itu. Sedikit harapan bahwa Burhan masih hidup menyusup masuk ke hatinya, namun ia tepiskan, ia tak mau harapan yang muncul itu tercabik ketika harus dihadapkan pada kenyataan.
"Apakah masih memungkinkan untuk mencari lagi, Pak?" tanya Ida sedikit berharap.
"Ya nanti setelah kita identifikasi berapa orang penumpang perahu itu, baru kita lakukan pencarian ulang."
"Apakah tidak terlalu lama?" protes Ida.
"Hari ini, jika cuaca memungkinkan, akan kita lakukan penyisiran ulang tepian sungai ...." Ida sudah tak bisa menangkap pembicaraan petugas tersebut, pikirannya terasa diaduk.
Kalau jasad Burhan tak ada, lalu dimana suaminya sekarang? Apakah Burhan masih hidup ataukah jasadnya terbawa arus sungai Kuantan yang deras? Saat ini Ida hanya berharap dapat mengetahui keberadaan suaminya, hidup atau mati.
"Ya Allah, takdir apa lagi yang harus aku jalani. Kenapa aku tak pernah dibiarkan untuk mengecap kebahagiaanku sedikit lebih lama," jeritnya dalam hati.
__ADS_1