MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 51


__ADS_3

"Mak, kapan aku bisa sekolah?" tanya Salma ketika mereka baru pulang dari sekolah Laili.


Hari itu Laili telah berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar, sehingga Ida harus datang ke sekolah untuk mengambil surat tanda selesai pendidikannya serta menyelesaikan segala urusan administrasi di sekolah Laili.


Ida tercekat. Beban hidup selama tiga tahun tinggal di Pematang Siantar, membuat ia lupa kalau anak bungsunya telah memasuki usia sekolah. Laili baru saja lulus sekolah dasar, tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk melanjutkan ke sekolah lanjutan.


"Nanti kalau tangan Salma sudah bisa menjangkau telinga seperti ini," sahut Ida melingkarkan lengannya di atas kepala dengan telapak tangan menutupi sebelah daun telinga.


"Tanganku sudah sampai, Mak." Salma menirukan gerakan Ida dengan wajah penuh semangat.


Kembali Ida tercenung. Alasan yang ia kemukakan tadi tak lebih hanya untuk membuat Salma menahan keinginannya untuk masuk sekolah dalam waktu dekat, namun terbantahkan begitu saja. Ia kemudian memikirkan alasan lain yang lebih masuk akal.


"Nanti amak coba lihat dulu tabungan kita, ya." tentu saja Ida berbohong. Kebutuhan hidup sehari-hari membuat ia tak mampu menyisihkan uang yang ia dapat dari hasil kerja kerasnya sepanjang hari.


"Tidak apa-apa kalau Amak tidak punya uang untuk beli baju, aku pakai baju uni saja, yang penting aku bisa sekolah," ujar Salma penuh harap.


Diantara ketiga anaknya, memang Salma yang paling tinggi minat belajarnya. Salma sering ikut Laili ke sekolah hanya karena ingin mencuri dengar guru Laili menerangkan pelajaran di dalam kelas. Salma juga bisa menulis dan membaca hanya dengan menyimak ketika Laili mengajarkan Fatimah.


Ida mulai memikirkan dari mana uang akan ia dapatkan untuk membayar biaya Salma masuk sekolah.


"Mak, Amak tak usah risau untuk uang sekolahku. Aku sudah punya untuk pendaftaran nanti," ujar Laili ketika melihat Ida merengung di dapur.


"Uang dari mana, Li?" tanya Ida was-was. Ia takut anaknya melakukan pekerjaan yang tidak baik.


"Uang yang Amak beri setiap aku bisa menjual sampai habis ketan sama gorengan setiap hari itu." Laili duduk di dekat Ida, ia menyerahkan segulungan uang yang diikat karet.


Ida tak mampu menahan airmatanya saat menerima uang yang Laili serahkan ke tangannya.


"Lalu selama ini kau tidak pernah jajan?" tanya Ida tercekat.


"Aku membawa sisa dagangan yang tidak habis untuk ku makan di sekolah." Laili tersenyum lebar.


"Maafkan amak ya, Nak. Amak belum bisa membahagiakan kalian." Tangis Ida pecah. Pertahanannya runtuh. Rasa bersalah terhadap anak-anak yang selama ini bertumpuk di dalam hatinya luruh bersama airmata.


"Bukan salah Amak kita seperti ini, Mak. Amak jangan bersedih. Amak sudah berusaha menghidupi kami bertiga dengan sekuat tenaga," hibur Laili yang juga tak mampu menahan bulir-bulir bening di matanya.


Bagi Laili, Ida adalah ibu kuat yang pantang menyerah. Laili tau bagaimana perjuangan amaknya untuk memenuhi segala kebutuhan mereka. Amaknya bekerja tanpa lelah dari pagi hingga pagi lagi, amaknya hanya beristirahat beberapa jam saja setelah pulang dari pasar, setelahnya kembali mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan uang. Terkadang ada rasa khawatir yang Laili rasakan tatkala melihat amaknya bekerja begitu keras. Ia khawatir amaknya jatuh sakit. Entah berapa kali ia mengungkapkan kekhawatiran, namun tak pernah dihiraukan Ida.


"Sudah mau magrib, kau panggillah adik-adikmu pulang, Li. Amak siapkan makan malam kita," ujar Ida setelah tangis mereka reda.


"Iya, Mak." Laili beranjak keluar rumah sambil mengusap matanya.


Ida memandang punggung Laili dengan hati yang perih. Anak itu telah tumbuh dewasa melampaui umurnya. Awalnya Laili dan Fatimah tidak bisa menerima kondisi mereka yang sulit, karena telah terbiasa dengan kehidupan yang serba ada. Mereka menolak makanan yang tidak sesuai dengan seleranya, namun lambat laun akhirnya mereka mampu belajar memahami kehidupan yang tak lagi mudah.


Ida menghela napas panjang, tak mau berlama-lama menyesali takdir, ia hanya berharap segala kepahitan yang mereka jalani akan berakhir


****

__ADS_1


"Mak, bagaimana penampilanku?" tanya Salma ketika Ida hendak berangkat ke pasar. Ia memutar-mutar tubuhnya yang dibalut pakaian seragam sekolah dasar yang masih longgar di tubuhnya yang mungil.


Hari itu adalah hari pertama Salma masuk sekolah. Gadis bermata bulat itu tampak bersemangat. Mata beningnya tampak berbinar.


"Ya Allah, anak amak sudah besar saja," puji Ida, matanya menghangat.


Himpitan beban hidup yang mereka jalani, membuat ia melupakan pertumbuhan anaknya. Waktu yang tak mau menunggu, tiba-tiba saja menghadirkan gadis kecil yang akan memasuki masa sekolah di hadapannya.


"Amak kenapa menangis? " tanya Salma heran.


"Amak sedih tidak bisa mengantarkan Salma ke sekolah," sahut Ida.


"Tidak apa-apa, Mak. Aku bisa pergi sama uni. Kata uni Laili, nanti dia yang akan mengantarkan ke sekolah," sahut Salma dengan wajah ceria memamerkan gusi yang telah kehilangan beberapa giginya.


Ida tersenyum getir. Di tengah kesengsaraan yang ia alami, ia masih merasa beruntung mempunyai anak-anak yang mau mengerti keadaannya. Terkadang ada rasa ingin menyerah, namun ketika melihat wajah-wajah tanpa dosa itu menatapnya penuh harap, ia seakan mendapatkan kekuatan dari sorot mata bening mereka.


"Amak berangkat, ya. Kalian belajar yang rajin," pesan Ida sebelum meninggalkan rumah.


Ada perih yang Ida rasakan setiap kali akan meninggalkan anak-anaknya, namun keadaan memaksa ia berbuat demikian. Jika ia tak mengejar segala usaha untuk mengumpulkan uang, anak-anaknya akan kelaparan. Ia tak mau meminta belas kasihan dari mamaknya untuk memenuhi kebutuhannya dan anak-anak.


Angin dingin menerpa tatkala Ida melangkahkan kakinya keluar rumah, ia merapatkan baju hangat rajut yang mulai lusuh, mendekapkan kedua lengannya di dada untuk sekedar menghangatkan raganya, menembus udara dingin pagi yang mulai ramai oleh mereka yang sama-sama mengais rejeki bersamanya.


***


Tujuh tahun sudah Ida menjalani hari-hari yang berat di Pematang Siantar. Ada rindu yang ia rasakan pada kampung halamannya, namun keinginan itu ia tepis jauh-jauh. Selain keadaan ekonomi mereka yang masih belum membaik, hatinya masih saja belum mampu berdamai dengan kenyataan. Di suatu sudut hatinya masih saja berharap kelak ketika ia kembali ke kampung halaman, ia akan bertemu kembali dengan lelaki yang telah membawa separuh jiwanya pergi.


Siang itu, Ida baru saja keluar dari sekolah Salma dan Fatimah, setelah mengambil laporan hasil belajar mereka selama satu semester. Ia benar-benar bahagia melihat hasil belajar Salma. Dari awal masuk sekolah, Salma selalu berprestasi. Prestasi yang ia torehkan membuat Ida makin bersemangat bekerja agar anak-anaknya bisa ia sekolahkan sampai ke tingkat yang lebih tinggi.


"Amak ada uang?" tanya Salma dengan wajah heran, tak biasanya amak menawarkan mereka untuk membeli makanan di pasar.


"Alhamdulillah ada. Inyiak memberi amak uang lebih hari ini," sahut Ida tersenyum hangat.


Walaupun Ida bekerja di tempat mamaknya, bukan berarti Ida bisa mendapatkan uang dengan mudah di sana. Ia tetap menerima bayaran layaknya pekerja lain. Ia tak bisa menyalahkan mamaknya, karena yang mengurus keuangan di keluarga mamaknya adalah tek Risma istri mamaknya. Ida juga tidak mau berharap bantuan dari keluarga mamaknya, karena dari kecil dia memang diajarkan oleh amainya untuk tidak terlalu berharap pada bantuan orang lain.


"Mak, aku mau ombus-ombus, cukup tidak uangnya? " tanya Fatimah dengan wajah penuh harap.


Ombus-ombus adalah makanan kesukaan anak-anaknya. Makanan khas Sumatera Utara itu terbuat dari tepung beras yang dicampur gula merah dan di bungkus daun pisang. Mereka biasa memakannya jika ada yang sedang mengadakan hajatan saja karena tidak mampu untuk membeli makanan selain makanan pokok mereka.


"Iya, uang amak cukup untuk bisa beli empat bungkus," sahut Ida.


Fatimah dan Salma bersorak kegirangan. Mereka berjalan penuh semangat keluar dari pekarangan sekolah.


"Ida?" sapa sebuah suara berat seorang pria di belakang Ida.


Jantung Ida berdesir, suara itu terasa tak asing di telinganya. Ia membalikkan badan, mendapati seorang pria jangkung yang berdiri di hadapannya. Walaupun wajah pria itu telah berubah dimakan usia, namun sorot mata si pemilik mata almon itu masih sama. Seolah membuka kembali kotak kenangan yang telah ia kubur selama dua puluh tahun di relung hatinya yang paling dalam.


"Ah, ternyata benar ...." Pria itu kembali membuka suara, sudut matanya basah. Ada bias lega dan rindu dari sorot matanya.

__ADS_1


"Tuan ... Syamsyir ...." sahut Ida tercekat.


Ida tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan orang yang pernah menggenggam hatinya puluhan tahun lalu, di tempat yang tak ia sangka-sangka. Penggalan kelebat kenangan yang telah terlupakan seolah berlompatan berebut kembali menempati ruang hampa di hati Ida.


"Ah, tidak disangka akan bertemu denganmu di sini. Apa kabarmu, Da?" sapa Syamsyir mengulurkan tangannya.


Ida tak langsung menyambut uluran tangan Syamsyir. Ia masih saja belum mampu menyelaraskan pikirannya antara kenangan masa lalu dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Desir halus yang dulu pernah membuat jantungnya tak mampu memompa dengan baik, kembali mulai mengusik.


"Da?" Syamsyir membuyarkan lamunan Ida.


"Ah ... Maaf, aku hanya sedikit kaget bisa bertemu Tuan di sini," sahut Ida menyambut uluran tangan Syamsyir.


Telapak tangan Syamsyir yang kokoh menggenggam erat tangan Ida, yang segera ditarik kembali dengan cepat oleh Ida.


"Dan ... ini, anak-anakmu?" tanya Syamsyir menunjuk Fatimah dan Salma.


"Iya ... Ima, Salma, ini teman amak waktu amak ikut berperang dulu. Ayo beri salam," perintah Ida pada anak-anaknya.


Fatimah dan Salma menyalami Syamsyir dengan hormat. Syamsyir menyambut dengan hangat uluran tangan-tangan kecil itu sambil tersenyum.


"Sudah lama kau di sini, Da?" tanya Syamsyir dengan nada yang masih belum percaya akan pertemuan mereka.


"Sudah tujuh tahun," sahut Ida datar. Ia berusaha menyembunyikan setiap rasa yang mulai kembali menempati tempat yang pernah di tinggalkan Syamsyir.


"Aah, sudah lama juga ya. Aku baru dua bulan pindah ke sini. Kalian hendak kemana?" tanya Syamsyir seolah tersadar ketika melihat Fatimah menarik-narik tangan Ida.


"Mau ke pasar," sahut Ida singkat.


Ia masih belum percaya orang yang telah lama tersimpan dalam ingatannya akan bertemu dengannya dalam kondisi seperti itu. Walaupun Syamsyir sudah mulai menginjak umur setengah abad, gurat-gurat ketampanan masa lalunya masih saja tercetak di wajahnya. Membuat Ida berusaha sekuat tenaga untuk menepiskan setiap kelebat masa lalu yang tiba-tiba saja mengalir bagai air bah.


"Ayo berangkat bersamaku. Aku juga hendak ke arah pasar." tawar Syamsyir.


"Tidak usah Tuan, kami naik bentor saja." tolak Ida. Ia tak ingin kisah masa lalunya yang telah ia kubur mengusik lagi hari-harinya.


"Apa kau tidak ingin bertukar cerita, Da? Sudah lama kita tidak bertemu." Ada sedikit nada kecewa dari suara Syamsyir.


"Tidak ada yang menarik dari ceritaku, Tuan," sahut Ida dingin tanpa melihat wajah Syamsyir.


"Kau masih belum memaafkan aku?" Kalimat Syamsyir berhasil membuat Ida menoleh padanya.


"Memaafkan untuk kesalahan apa?" tanya Ida tak mengerti.


"Atas kepergianku dulu meninggalkanmu," sahut Syamsyir dengan sorot mata terluka.


"Mak, ayo. Nanti terlalu siang sampai di pasarnya." Salma menarik tangan Ida, sudah tidak sabar hendak membeli makanan kesukaannya.


"Setidaknya beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua, Da. Semenjak aku meninggalkan Bukittinggi, tak sedikit pun aku bisa melupakanmu."

__ADS_1


"Sudahlah, Tuan. Itu hanya cerita lama. Aku masih ada urusan dengan anak-anakku," sahut Ida terburu-buru menghentikan bentor yang lewat. Menaikinya dengan tergesa, membiarkan Syamsyir yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Ida memandangi sosok jangkung Syamsyir tak bergeming dari tempat ia meninggalkannya. Memaksanya meredakan setiap degup yang tiba-tiba saja menyesakkan. Entah kenapa kehadiran tiba-tiba sosok itu mampu mengacaukan peredaran darahnya. Ternyata waktu dua puluh tahun masih belum mampu membuatnya bersikap biasa terhadap kehadiran kembali pria itu. Ida menghela napas dalam, membuangnya secara kasar, berharap perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba muncul segera berlalu.


__ADS_2