MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 17


__ADS_3

"Syir, kabut mulai tebal lagi. Apakah bisa meneruskan perjalanan?" tanya Rizal.


Syamsyir memperhatikan arah jalan yang akan mereka tempuh. Pria jangkung itu berpikir sejenak. Mengacak rambut ikalnya yang gondrong, lalu menghembuskan napas berat.


"Ngku, bagaimana kalau kita istirahat di sini dulu? Saya agak sangsi untuk meneruskan perjalanan kalau kabut tebal begini. Jalanan di depan bersisian dengan tebing," ujar Syamsyir kemudian.


"Ya aku ikut kau saja Syir, aku tidak begitu paham jalanan di sini," ucap Mak Dang.


"Lumayan juga ular ini bisa buat ganjal perut," kekeh Rizal berkacak pinggang menatap ular Piton yang masih berada di tempatnya jatuh tadi.


Ida berjengit mendengar usulan Rizal. Masih belum hilang rasa gemetarnya ketika melihat mulut ular itu menjulur ke arahnya.


"Ya bolehlah kita siangi saja ular ini buat mengisi kampung tengah kita, " kekeh Syamsyir menyetujui usulan Rizal.


"Hahaha calon pemangsa jadi mangsa ya," gelak Mak Dang.


Lelaki paruh baya itu langsung mengeluarkan pisau belati dari sarung pisau yang ada pada ikat pinggangnya. Menarik bangkai ular yang baru saja meregang nyawa itu dari balik pohon tempat Ida bersandar.


Ida hanya memperhatikan saja ketika ketiga pria itu mulai sibuk menyiangi ular itu untuk menjadi santapan mereka. Mak Dang dan Syamsyir bertugas menguliti hewan berdarah dingin itu.


Sementara Rizal, tampak sibuk mengumpulkan ranting dan daun kering yang ada di sekitar mereka. Membuat lubang di tanah, menumpuk daun kering dan ranting yang telah ia kumpulkan ke dalam lubang tersebut.


Lalu pria berkulit sawo matang itu mulai asyik membuat api dengan memutar-mutar tongkat kayu di atas alas kayu yang ditutupi tumpukan daun-daun kering sampai akhirnya Ida melihat asap tipis lalu api kecil mulai terbentuk.


Dengan cekatan Rizal menambahkan beberapa ranting dan dedaunan kering ke dalam lubang. Sementara itu dua pria yang bertugas menyiangi ular tampak sudah memotong-motong dagingnya dan menusukkannya ke ranting-ranting.


Wajah mereka tampak gembira mengingat sebentar lagi bisa menyantap hidangan berprotein, makanan yang sudah lama sekali tidak mampu mereka dapatkan.


Rizal mulai membakar daging ular yang sudah dipersiapkan oleh Syamsyir dan Mak Dang.


"Da, kenapa masih duduk di situ? Sini kau bantu aku membakar dagingnya," tegur Rizal ketika ia menyadari Ida tak bergeming dari tempat ia duduk pertama kali.


Mak Dang menoleh pada Ida, seolah ia baru menyadari bahwa kemenakannya itu masih duduk diam di tempat ia nyaris dimangsa ular yang akan menjadi santapan mereka.


"Kenapa Da?" Mak Dang tampak heran karena Ida hanya diam mematung.


"Tidak apa-apa Mak."


"Kenapa kau tidak ikut membantu membakar dagingnya?"


"Aku masih belum bisa menghilangkan rasa kagetku Mak, boleh aku di sini saja dulu?" tanya Ida takut-takut.


"Ya kalau kau maunya begitu." Mak Dang melanjutkan memotong-motong hewan melata itu. Meletakkan dagingnya yang telah dipotong di atas daun talas.

__ADS_1


Selesai memotong semua tubuh ular itu, Syamsyir menggantungkan kulit ular Piton itu di sebuah dahan pohon. Tubuhnya yang jangkung dengan mudah menyampirkan kulit ular yang cukup lebar itu di dahan yang agak tinggi.


Suasana hutan dengan cepat menjadi gelap. Kabut mulai menebal. Udara yang tadi memang sudah dingin, makin dingin menusuk tulang. Ida memandang ke sekeliling, mereka seperti dikurung dalam kubah asap. Tak ada yang terlihat di sekitar mereka. Tumbuhan hutan tampak seperti siluet di antara kabut tebal itu.


Tak lama indera penciuman Ida mencium aroma daging yang dibakar, membuat perutnya berkeriuk. Hutan yang sunyi dan tidak ada yang berbicara di antara mereka membuat suara perut Ida terdengar jelas oleh ketiga pria itu.


Mak Dang tertawa keras, "Ahahaha. ... Kau lapar ya Da. Sini kau tidak usah sungkan. Masih banyak itu dagingnya."


Sudah lama sekali Ida tidak melihat Mak Dang nya tidak tertawa selepas itu, memperlihatkan sederetan gigi rapi di bawah kumis tebal yang menutupi bibirnya. Selama ini yang ia tau, mamaknya itu orangnya keras. Namun, kali ini ia melihat sisi lain dari Mak Dang nya.


"Ah! Perut, kenapa kau mengkhianatiku!" gerutu Ida dalam hati.


"Kau jijik ya Da?" Sela Syamsyir ketika melihat Ida masih belum beranjak dari tempatnya duduk.


"Eh, ... Yaaa ... Sedikit," sahut Ida sambil nyengir.


"Sudahlah, kalau kondisi seperti ini boleh kita makan hewan ini, Da. Apalagi nanti udara di sini mulai dingin, bisa sakit kau, " sela Mak Dang.


"Baik," sahut Ida kemudian.


Ia bangkit dari duduknya, menghampiri mereka yang sudah terlebih dahulu mengisi perutnya dengan beberapa potong daging ular bakar itu.


"Nah, kau makanlah ini." Mak Dang menyerahkan daging yang sudah dibakar yang diletakkan di atas daun ke tangan Ida.


"Langsung kau makan saja Da, tak usah kau hidu seperti kucing mau makan saja," tegur Mak Dang.


Tanpa menjawab, Ida mencoba menggigit sedikit daging ular bakar itu. Ternyata tidak semenjijikkan bayangannya. Ia memakannya dengan cepat.


"Tambah Da?" tanya Syamsyir.


"Tidak, sudah cukup," tolak Ida.


"Ini kau minumlah." Mak Dang memberikan sebuah kelapa yang masih penuh airnya.


"Terima kasih, Mak."


"Kau istirahatlah, biar nanti bisa melanjutkan perjalanan," perintah Mak Dang.


"Iya Mak," Ida bangkit dari duduknya berniat hendak kembali ke tempat ia tadi duduk.


"Kau jangan jauh-jauh, nanti tidak keliatan kalau ada binatang hutan yang berbahaya seperti tadi," tukas Mak Dang.


"Baik Mak." Ida kembali duduk, beringsut ke arah perapian.

__ADS_1


"Kakimu bagaimana Da?" tegur Syamsyir.


"Sudah tidak terlalu nyeri seperti tadi. Terima kasih ya," ucap Ida.


"Kau sudah lama mengenal Ida, Syir?" Sela. Mak Dang.


"Semenjak dia pindah ke Sicincin saja, Ngku. Baru tahu saya kalau Ida kemenakan Engku."


"Kebetulan saja aku kemarin baru dikirim ke Sicincin untuk membantu pengamanan pos di sana, tidak disangka ketemu anak ini," terang Mak Dang.


"Anak ini kabur dari rumah, disuruh ke Pakan untuk belanja, dia tidak kembali lagi. Heboh orang se kampung mencarinya," lanjut Mak Dang. Tatapannya kembali penuh amarah kepada Ida.


"Maaf Mak," ucap Ida tertunduk.


Ia yang tadi berniat hendak beristirahat kembali duduk tegak menghadap mamaknya.


"Kau tahu tidak Da? Amai sampai meminta dukun mencari kau, dukun itu sampai angkat tangan tak tau di mana keberadaanmu," terang Mak Dang, namun kali ini nada suaranya sudah kembali rendah.


"Maaf Mak, Ida hanya memperturutkan emosi Ida. Ida tidak berpikir akibat dari ulah Ida," sesal Ida.


"Yang penting kau selamat. Jangan kau pikir kami tidak kehilangan kau, Da. Amai menyayangimu. Walaupun beliau keras terhadap kau, tapi dia selalu memikirkan kebaikan kau, Da."


Ida hanya menunduk, tak berani ia menatap wajah Mak Dang, kakak laki-laki amaknya itu. Semenjak orangtuanya meninggal, Mak Dang dan amai lah yang mengasuh ia dan adiknya Tini, sebelum ia diasuh oleh keluarga Cina yang ada di Bukittinggi.


Walaupun Ida sempat diserahkan kepada keluarga Tionghoa yang tidak memeliki anak di Bukittinggi, namun mereka berdua tetap memantau kehidupan Ida. Bahkan setelah keluarga yang mengasuh Ida pun tiada, mereka yang menampung Ida kembali.


Syamsyir dan Rizal hanya diam mendengarkan percakapan antar mamak dan kemenakan itu. Mereka tidak berani menyela. Syamsyir mencoba mengistirahatkan dirinya dengan menyandarkan tubuh ke pohon yang berada di belakangnya.


Sementara Rizal, ia masih terus memasukkan beberapa ranting kering ke api, agar tidak padam.


"Ah, malah aku ceramahi kau ya. ... Sudah istirahatlah," tukas Mak Dang.


"Baik Mak."


Ida menyandarkan tubuhnya ke pohon yang berada tak jauh dari perapian. Dengan sedikit was-was ia mendongak ke atas, memastikan tempat ia akan beristirahat aman.


"Engku, kita gantian saja istirahat. Sekarang biar aku yang jaga," tawar Rizal pada Mak Dang.


"Aku juga belum mengantuk Zal, sepertinya masih sore ini. Hanya karena tertutup kabut saja jadi gelap."


"Ya sepertinya begitu," tukas Rizal sambil memperhatikan sekeliling nya.


Sementara itu Ida mulai terlelap, karena dari kemarin malam, ia tidak bisa beristirahat dengan layak. Ia harus menjaga tenaganya agar tidak habis, karena ia tak tau berapa lama lagi jarak yang harus ia tempuh untuk sampai ke kampungnya.

__ADS_1


__ADS_2