
Pemakaman mak Halimah dan beberapa orang pekerja yang turut meninggal bersama mak Halimah diiringi derai airmata. Isak tangis dari mereka yang ditinggalkan menyertai kepergian mak Halimah. Mak Halimah, perempuan yang lembut tapi tegas, merupakan sosok ibu yang mengayomi seluruh pekerjanya. Kepergian mak Halimah memberikan duka yang mendalam bagi mereka.
Ida sudah tak mampu lagi menangis, ia hanya menatap nanar gundukan tanah merah yang ada di hadapannya. Gerimis yang menyertai acara pemakaman tak membuat Ida beranjak dari area pemakaman. Ia berharap kejadian itu hanya mimpi, mimpi yang selalu mendatanginya beberapa hari ini. Ia berharap, sebentar lagi akan terbangun dan menyambut kedatangan mak Halimah.
Seminggu setelah kecelakaan itu, Ida mulai mencoba untuk menerima kenyataan. Mereka yang telah pergi tak akan kembali. Pun dengan keberadaan Burhan yang belum jelas, Ida tak mau membangun harapan yang nanti akan menghancurkannya.
"Mak, abak kenapa belum pulang?" Mata Fatimah berkaca-kaca. Gadis berusia empat tahun itu selalu menunggu kepulangan abaknya setiap kali abaknya pergi berdagang. Sudah hampir seminggu Fatimah menunggu di depan pintu kepulangan abaknya, tapi yang ditunggu tak jua datang.
"Abak masih ada pekerjaan, Nak. Belum bisa pulang." Ida tercekat tatkala mengatakan kalimat penghiburan untuk Fatimah.
"Mak, aku dengar katanya abak hanyut, sekarang sedang dicari polisi," ujar Laili yang berbaring di samping Fatimah.
"Siapa yang berkata begitu, Li?" Ida terkejut, ternyata Laili sudah paham dengan keadaan yang terjadi.
"Aku dengar orang di dapur berbicara begitu. Bagaimana nasib abak ya, Mak? Apa abak bisa pulang berkumpul dengan kita?" Laili bangun dari posisi tidur, menatap wajah Ida dalam keremangan kamar.
"Kita berdoa saja abak selamat, Li. Amak juga belum tau bagaimana nasib abakmu." Ida berusaha menahan airmata yang beberapa hari ini sudah mulai mengering. Tenggorokannya tercekat mendengar penuturan Laili.
"Ya Allah, hamba mohon ... Kabulkan lah harapan anak-anak ini," rintih Ida dalam hati.
Tak pernah terbayangkan dalam benak Ida ia akan membesarkan anak-anaknya seorang diri. Perlakuan Burhan yang selalu memanjakannya selama ini membuat ia terlena, lupa bahwa Burhan juga sewaktu-waktu akan pergi meninggalkannya. Tapi ia tak pernah menyangka ia akan berpisah secepat ini.
***
Hari berbilang minggu, minggu berbilang bulan, bulan pun berganti tahun. Tak ada kabar apapun dari kehilangan Burhan yang Ida terima. Walaupun Ida mulai terbiasa dengan kehidupannya tanpa Burhan, namun hatinya masih saja merindukan sosok Burhan. Pertanyaan anak-anak yang menanyakan kapan abaknya pulang, selalu saja mengiris hati Ida. Ia tak tau harus memberikan jawaban apa. Setitik harapan masih saja tak mau pergi dari hatinya, harapan akan bertemu dengan suaminya yang masih hidup.
Suatu sore, ketika Ida selesai membantu memasak di dapur, Midah memanggil Ida ke kamarnya.
"Da, bulan depan aku berencana akan pindah lagi ke Payakumbuh. Dua tahun ini payah hatiku menahan rasa sedih, selalu teringat amak." Mata Midah mulai basah, ia mengusap matanya dengan ujung baju, "apa kau mau terus tinggal di sini atau ikut aku ke Payakumbuh?" lanjut Midah setelah menguasai diri.
"Aku juga akan ikut pindah, Uni. Begitu banyak kehilangan yang membuat aku tak mampu bertahan lagi di sini. Kalaupun nanti Tuan memang benar selamat, dia pasti tau kemana hendak mencari kita," sahut Ida tercekat, "tapi nanti aku akan pulang ke Kubang Putih saja. Aku belum sanggup kembali ke rumah di Payakumbuh. Terlalu banyak kenanganku bersama Tuan Burhan di sana, aku takut tak mampu menguasai hatiku." Tangis Ida pecah.
"Nanti bagaimana kau menghidupi anak-anakmu, Da? Kau ikut saja denganku."
"Nanti Uni juga memulai hidup baru di Payakumbuh, aku tak mau menjadi beban Uni," tolak Ida.
Semenjak suaminya meninggal, Midah berjuang berdua dengan mak Halimah menghidupi anak-anaknya Fikar dan Dahlan. Ida tak mau kehidupannya dengan anak-anak akan menambah beban kakak iparnya itu.
"Kita sama-sama memulai, Da."
"Tekadku sudah bulat, Uni. Aku akan pindah ke kampung saja."
"Baiklah kalau memang begitu keputusanmu, Da. Aku juga tidak bisa memaksa. Tapi kalau nanti kau kesusahan, kau datanglah ke tempat ku. Bagaimana pun juga, anak-anakmu itu ada pertalian darah juga denganku."
***
Perjalanan pulang terasa begitu berat karena jarak jauh yang harus mereka tempuh, serta rengekan anak-anak yang tak mau meninggalkan Teluk Kuantan karena abaknya belum kembali.
__ADS_1
" Nanti abak menyusul kita, kalau abak sudah kembali, " hibur Ida.
Perjalanan melewati Kelok Sembilan tak lagi seindah kala ia meninggalkan Payakumbuh bersama Burhan tiga tahun yang lalu bagi Ida. Suasana hutan seolah mengejeknya dengan kenangan kala ia berangkat bersama Burhan. Ia menahan sesak yang tiba-tiba muncul.
"Tuan, setidaknya Tuan mampirlah ke mimpiku. Kabarkan apa yang terjadi pada Tuan," lirihnya dalam hati.
Mereka sampai di Payakumbuh menjelang senja. Udara Payakumbuh yang sejuk menyambut kedatangan mereka. Angin yang bertiup, seolah membawa setiap kenangan yang pernah Burhan torehkan di hati Ida di kota itu. Rasa sesak yang sedari tadi menyapanya makin terasa menghimpit. Ida mengusap airmatanya, tak ingin anak-anak melihat ia bersedih.
Ida terpaksa harus menginap di Payakumbuh sebelum meneruskan perjalanan ke Bukittinggi, khawatir anak-anak terlalu lelah melakukan perjalanan yang begitu panjang.
Langkah Ida makin terasa berat ketika menaiki tangga rumah yang selama ini ia tempati sebelum pindah ke Teluk Kuantan. Aroma rumah, mengingatkannya akan sosok Burhan. Sosok yang selalu tertawa renyah dengan lesung pipi yang menjejak dalam di pipi kirinya. Matanya yang tajam seolah tenggelam dalam rongga matanya ketika ia tertawa. Rindu memang selalu menyesakkan, namun rindu akan makin terasa menyakitkan jika ia yang dirindui tak tau entah ada dimana.
"Amak, aku rindu abak." Suara Laili terdengar serak.
"Iya, Nak ...." Ida mengusap lembut rambut Laili. Ia tak mampu meneruskan kata-katanya yang hendak menghibur Laili. Ia juga butuh kata-kata untuk menguatkan hatinya. Selama ini, Burhan lah yang selalu ada ketika ia terpuruk.
Ida menghirup dalam-dalam aroma kenangan yang disajikan rumah tua itu. Menahan sesak yang seakan berdesakan ingin keluar dari netranya.
Makin masuk ke dalam rumah, rasa sesak itu makin menekan dadanya. Setelah membujuk anak-anak untuk tidur, tangis Ida pecah. Rasa sesak yang sedari tadi bertumpuk ia luruhkan bersama airmata.
"Tuan, kemana lagi aku hendak mengadu. Selama ini Tuan selalu ada ketika aku terpuruk. Tuan membawa pergi separuh jiwaku," ratap Ida, "Tuhan, jika Engkau memang telah menuliskan ini sejak awal, kenapa Engkau membiarkan aku terlarut dengan kebahagiaan sesaat yang Engkau hadirkan."
Rasa lelah dan sedih yang berbaur menyatu, akhirnya membuat Ida terlelap. Tak terasa, matahari mulai menyapa Payakumbuh dengan sinar lembutnya, masih belum kuasa menembus kabut yang selalu setia menemani pagi kota itu.
" Assalamualaikum .... " Suara salam diiringi ketukan di pintu kaca membangunkan Ida.
"Waalaikum salam," sahut Midah masih dengan suara serak.
"Eeh, Uni Midah yang pulang. Aku sangka Ida yang pulang," sapa tamu mereka yang ternyata Jum tetangga sebelah.
"Ida juga ada, Jum. Kau masuklah." Midah yang masih terlihat mengantuk mempersilahkan Jum masuk.
"Ni Jum, maaf aku baru bangun. Duduk lah," ujar Ida.
"Tidak usah, aku ke sini hanya menyapa sebentar saja, rindu aku dengan anak-anakmu. Masih tidur ya mereka?"
"Iya, masih lelah sepertinya mereka."
"Aku tinggal ya," pamit Midah, meninggalkan Ida dan Jum.
"Iya Uni. Maaf pagi-pagi mengganggu," sahut Jum.
"Tidak apa-apa, kami saja yang kesiangan bangun," gelak Midah sambil lalu.
"Kerasan kau di Teluk Kuantan ya, Da? Bahkan Burhan juga tak terlihat pulang."
Mendengar nama Burhan disebut, hati Ida terasa nyeri kembali.
__ADS_1
"Eh, maaf ada yang salah dengan kata-kataku?" Jum menyadari perubahan wajah Ida.
"Tuan mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Ni. Perahunya terbalik, amak juga ikut menjadi korban."
"Innalillahi ... Maafkan aku, Da. Aku tak bermaksud membuka luka lama." Suasana canggung mulai terasa.
"Tidak apa-apa, Uni. Sebenarnya kami juga belum tahu keberadaan Tuan Burhan. Setelah kecelakaan, jasadnya tidak ditemukan. Kami masih sedikit berharap, Tuan selamat dari kecelakaan itu." Ida menggigit bibirnya, menahan agar tak ada lagi airmata yang jatuh.
"Jadi Burhan tidak diketahui keberadaannya, Da?"
"Iya, Ni. Aku masih belum bisa menganggap Tuan Burhan meninggal, karena belum melihat jasadnya."
"Semoga Burhan selamat dan berkumpul lagi dengan kalian," hibur Jum berusaha membesarkan hati Ida.
"Terima kasih Uni ...."
"Aku bawakan sala untuk anak-anak, nanti kalau mereka bangun, ajak lah ke rumah ku ya, Da."
"Iya, mungkin nanti siang kami akan berangkat ke Bukittinggi. Aku akan tinggal di kampung setelah ini."
"Kenapa tidak tinggal di sini saja, Da?" tanya Jum penasaran.
"Aku belum sanggup menjawab pertanyaan anak-anak, Ni. Mereka selalu bertanya-tanya kenapa abaknya belum pulang."
"Iya, benar juga. Memang anak-anak akan sulit menerima perpisahan begini...." Hening, "Aku pamit dulu kalau begitu, Da. Semoga kau diberi kekuatan menjalani ini semua, ya. Aku hanya bisa berdoa," lanjut Jum kemudian.
"Iya Uni. Terima kasih," sahut Ida kembali tercekat.
***
Matahari mulai meninggi, tatkala Ida dan anak-anaknya sampai di stasiun Payakumbuh.
"Tidak apa-apa kalau aku tidak mengantar, Da? Khawatir juga aku membawa Fikar demam begitu," tanya Midah ketika Ida hendak naik ke gerbong kereta.
"Iya, tidak apa-apa Uni. Semoga demam Fikar cepat turun."
"Iya, nanti aku akan menengokmu ke kampung kalau kondisi ku di sini sudah membaik ya."
"Iya, Uni. Li, Ima, Sal ... Ayo pamit sama mak tuo."
"Kami berangkat Makwo," pamit Laili mencium tangan Midah. Bergantian dengan Fatimah dan Salma.
"Iya, baik-baik ya sama amak kalian. Jangan nakal, bantu amak kalian, ya." mata Midah mulai berkaca-kaca.
"Iya,"sahut mereka serempak.
Sepur diesel tua itu perlahan meninggalkan Payakumbuh, kota seribu kenangan akan cinta Ida terhadap laki-laki yang dulu tak ia harapkan untuk mendampinginya, laki-laki yang sama dengan saat ini telah membawa separuh jiwanya pergi. Kota Payakumbuh mulai mengabur, bersama gerak kereta api yang meninggalkan stasiun dan airmata yang menggenang di pelupuk matanya. Entah kapan ia akan kembali ke kota itu dengan senyum terkembang di bibirnya.
__ADS_1