MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 40


__ADS_3

"Da ...." Burhan menghentikan kalimatnya.


"Ya?" Ida mengalihkan pandangannya yang sedang menyusui Laili ke arah Burhan.


"Tadi Mila cerita ...." Burhan kembali menghentikan kalimatnya.


"Tuan ini kenapa? Dari tadi bicaranya sepotong-sepotong," sergah Ida dengan nada yang tidak sabar.


"Haha ... Maaf, aku bingung bagaimana menyampaikannya. Takut kau tersinggung."


"Kenapa Tuan bertingkah seperti pada orang lain saja."


"Iya ya ..." Burhan berpikir sejenak.


"Jadi, tadi siang Mila cerita. Lebih seperti mengadu, dia bilang amak sudah tidak sayang padanya," gelak Burhan.


"Darimana anak itu mendapat pikiran seperti itu?" tanya Ida heran.


"Mungkin karena kau terlalu sibuk mengurus Laili, sehingga dia merasa perhatianmu padanya yang biasa penuh jadi terbagi."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Kalau bisa ... Ketika aku tak ada, selesai Laili menyusu, Laili kau serahkan saja ke buk Isah. Jadi kau ada waktu bermain dengan Mila seperti biasa," saran Burhan dengan nada lembut.


"Bukannya dia juga harus diajari agar mengerti keadaan? Tak selamanya semua perhatian tercurah padanya," sahut Ida ketus.


"Iya, aku tau ... Tapi sekarang dia masih belum bisa mencerna perubahan yang tiba-tiba. Dia masih kecil, dalam pikiran polosnya, dia merasa kalau amaknya tak lagi sayang padanya."


"Tapi aku tak enak hati kalau terus-terusan merepotkan buk Isah. Beliau sudah tua."


"Kalau cuma menggantikan sebentar mengurus Laili mungkin tidak terlalu capek, Da."


Ida menekuk wajahnya. Rasa lelah karena mengurus bayi dan Mila yang terus-terusan menuntut perhatian membuat ia tak mampu menangkap dengan baik apa yang disampaikan Burhan. Perasaannya seolah terluka.


"Kau kenapa menangis, Da?" tanya Burhan kaget melihat airmata istrinya tiba-tiba jatuh.


"Aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu," Burhan menggeser tubuh Mila yang meringkuk di badannya lalu mendekati Ida.


Ida makin terisak, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.


"Aku minta maaf, jika kata-kataku tadi melukai perasaanmu, Da," ujar Burhan lirih.


"Tidak Tuan, bukan Tuan yang salah. Hanya saja aku merasa jadi ibu yang buruk," isak Ida.


"Kau jangan berpikiran demikian, kita sedang sama-sama belajar. Kau belajar untuk jadi ibu yang bisa membagi waktumu untuk anak-anak, Mila belajar untuk memahami kondisi kalau saat ini bukan hanya dia yang harus kau perhatikan."


Ida hanya mengangguk.


"Sudah, kau istirahat lah. Maafkan kata-mataku tadi, ya."


Malam makin larut, mata Ida tak bisa terpejam. Kata-kata yang disampaikan Burhan sebelum tidur membuat dadanya sesak. Semenjak kelahiran Laili, ia berusaha untuk membagi waktunya dengan Mila. Namun gadis kecil itu bertingkah layaknya seorang yang mencari perhatian.


Setiap hari, ada saja tingkahnya yang membuat Ida naik darah. Ketika Ida memarahinya, ia berlari mencari buk Isah, mengadukan kalau dia dimarahi.


Rasa lelah akhirnya membuat Ida tertidur. Melenakannya dalam mimpi. Membuat pikirannya sedikit bisa beristirahat.


***


"Da, Mila demam," panggil buk Isah masuk ke kamar.


Ida baru selesai menyusui Laili. Ia meletakkan Laili hati-hati ke tempat tidur. Bayi itu menggeliat pelan, mulai merengek lagi. Ia menepuk-nepuk pelan badan Laili sambil melantunkan ayat suci. Bayi mungil itu kembali tertidur.


"Dari kemarin dia tidak mau bersamaku, Buk," sahut Ida sedih.

__ADS_1


"Kau coba bujuk dia untuk makan ... Dari semalam badannya panas sekali, dia mengigau-ngigau terus. Aku beri minum dia juga tidak mau."


"Iya buk, aku titip Laili ya."


"Iya."


Ida melangkah ke kamar mak Halimah, kamar yang dipakai Mila untuk tempat ia tidur ketika ia merajuk. Wajah gadis itu pucat. Walaupun dia tertidur, tapi mulutnya seperti menggumamkan sesuatu.


"Mila. Amak suapkan makan ya," panggil Ida lembut.


"Amak ... Mila mau digendong," sahut gadis itu lemah, mengulurkan kedua tangannya pada Ida. Sorot matanya redup.


"Sini amak gendong." Ida mengangkat tubuh gadis itu dari tempat tidur.


"Astaghfirullah ..." Ida terkejut tatkala memegang kulit Mila, terasa sangat panas.


Mila kembali meracau dengan suara lemah.


"Buk, kenapa ibuk tak memberi tahu Ida dari semalam kalau Mila sakit?" tanya Ida saat masuk kembali ke kamarnya.


"Kau sudah lelah seharian mengurus Laili, Da. Aku pikir akan turun panasnya, ternyata makin tinggi," sesal buk Isah.


"Tapi nanti dia makin menyangka aku mengabaikannya, Buk. Dipikirannya aku tetap tak menghiraukannya walaupun dia sakit." Ida menahan sesaknya.


"Iya, maafkan aku, Da. Aku tak berpikir sampai kesitu," sahut buk Isah pelan.


"Iya, Buk. Maaf ... Bukan Ida menyesali ibuk ...."


"Iya, aku paham, Da. Aku ambilkan air hangat dulu untuk mengompres Mila, ya?"


"Iya, Buk. Kalau boleh minta tolong Pak Ujang panggilkan mantri buk."


"Bapak sudah menjeput mantri dari tadi, mungkin lama karena mantrinya juga sedang mengobati orang."


"Ya." Buk Isah meninggalkan kamar.


Tak lama buk Isah kembali dengan mangkuk di tangannya.


"Nah, Mila di kompres dulu ya." Buk Isah menempelkan kain kecil ke kening Mila.


Mila merengek, mengeratkan pelukannya ke tubuh Ida.


"Mila, minum ya," bujuk Ida.


Mila mengangguk lemah. Ida menyodorkan gelas ke mulut kecil Mila. Hanya beberapa teguk, Mila terbatuk, tubuhnya mengejang.


"Mila kenapa, Nak?" Ida mulai khawatir.


Mata gadis kecil itu menutup. Hidungnya mengeluarkan darah. Ida mengusap darah yang mengalir dari rongga hidung anaknya, mulai was-was.


"Mila tidur ya, Nak?" panggil Ida sekali lagi.


Tak ada jawaban. Gemetar, Ida mencoba meraba nadi Mila. Tak ada denyut yang terasa. Dadanya mulai bergemuruh. Ia mencoba meletakkan telunjuknya di hidung gadis kecil itu, tak ada hembusan nafas.


"Mila ... Bangun nak," rintih Ida.


"Kenapa, Da?" Buk Isah tergopoh masuk kamar mendengar tangisan Ida.


"Assalamualaikum. ..." Terdengar suara pak Ujang masuk rumah.


"Sah, mantrinya sudah datang," panggil pak Ujang dari luar kamar.


"Silahkan masuk, Engku." Buk Isah mempersilahkan mantri yang baru datang masuk kamar.

__ADS_1


"Da, coba kau letakkan dulu Mila di tempat tidur," bujuk buk Isah.


Ida bergeming, ia memeluk erat tubuh Mila. Tak ada lagi suara nafasnya, tak ada lagi suara debaran jantungnya.


"Da ..." ulang buk Isah menarik tangan Ida dari tubuh Mila.


"Tidak buk, Mila sedang tidur, nanti dia terbangun," isak Ida.


"Da, coba letakkan dulu Mila di tempat tidur," seru buk Isah.


Ida belum siap mendengar hasil pemeriksaan mantri, ia tetap bergeming makin mengeratkan pelukannya pada tubuh gadis kecil itu.


"Da, kau mau menyakiti Mila? Coba letakkan dulu Mila ke tempat tidur," perintah buk Isah dengan suaranya yang parau.


Ida menyerah, melepaskan tubuh Mila untuk diperiksa mantri. Mencoba untuk menguatkan hati, untuk melepaskan kembali buah hatinya.


"Maaf Bu, Mila sudah tidak ada." Suara mantri terdengar seperti putusan hukuman mati bagi Ida.


"Ya Allah, ampuni aku ya Allah ... Ampuni aku tak mampu menjaga titipan-Mu, hingga Kau ambil kembali dari tanganku ya Allah," tangis Ida pilu.


Disela isak tangis Ida, sayup-sayup terdengar suara salam Burhan di depan pintu. Lalu suara telapak kakinya tergopoh ke kamar.


"Ida, ada apa?" Wajah Burhan yang lelah, pias tatkala melihat Ida yang yang meratap di sisi tubuh Mila yang terbaring.


"Tuan ...." isak Ida tak mampu meneruskan kalimatnya.


"Mila kenapa, Engku?" Burhan meminta penjelasan dari mantri yang masih berdiri di dalam kamar.


"Tadi saya ke sini hendak memeriksa Mila. Begitu sampai ternyata Mila sudah 'tidak ada'," sahut mantri, menekankan nadanya pada kata tidak ada.


"Innalillahiwainnailaihirojiun ...." Burhan terduduk lemas.


"Apa penyebabnya, Engku?" tanyanya menengadah, berharap mendapat jawaban yang masuk akal dari kepergian putrinya yang tiba-tiba.


"Kemungkinan pembuluh darah di otaknya pecah karena demamnya yang terlalu tinggi. Ada darah yang keluar dari hidung dan telinganya," terang mantri.


Burhan menguatkan diri untuk bangkit, duduk di samping istrinya yang masih menangis menyayat hati. Menarik tubuh Ida ke dalam pelukannya, mencoba untuk mencari kekuatan.


Seperti melihat ulang kejadian empat tahun yang lalu, siang hari yang panas itu makin terasa menyesakkan dada Ida. Perabotan kembali dipindahkan dari ruang depan untuk menyemayamkan jasad gadis kecilnya.


Para tetangga mulai berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Ida hanya menatap lemah tubuh kecil yang telah ditutupi kain.


"Da, tempat untuk memandikan sudah siap di belakang," lapor buk Isah.


"Kau mau ikut memandikan jenazah Mila?" tanya buk Isah hati-hati.


"Iya, Buk," sahut Ida lemah.


Mencoba menguatkan diri untuk berdiri. Burhan mengangkat tubuh gadis kecilnya ke tempat pemandian terakhir anaknya. Ida merasa jiwanya lepas dari raga, berjalan terasa tak menapak. Salah seorang tetangganya menuntun Ida turun ke tempat Mila dimandikan.


"Hati-hati, Da," ujar tetangganya ketika Ida hampir terjerambab pada saat turun dari tangga.


Ida menatap lekat wajah Mila yang sudah di baringkan di tempat pemandian. Wajahnya begitu damai, seulas senyum menghiasi bibir mungilnya yang selalu berceloteh ceria. Tak ada lagi dendangan lagu gembira dari bibir mungil itu.


Ida terisak, menyiramkan sedikit demi sedikit air ke tubuh gadis kecilnya. Biasanya Mila akan berteriak jika dimandikan dengan air dingin. Ida harus berlari mengejar gadis itu tiap kali hendak dimandikan. Kini tak ada lagi teriakan yang keluar dari bibirnya. Tubuhnya terbujur kaku, pasrah diguyur air dingin oleh amaknya.


Ia mengusap matanya dengan cepat, tak ingin matanya dikaburkan oleh air mata, ia ingin melihat jelas wajah anaknya. Mengenang senyum terakhir anaknya.


Semua prosesi penyelenggaraan jenazah Mila terasa begitu cepat. Ida berdiri mematung melihat tubuh mungil itu digendong Burhan turun ke Liang lahat. Ia masih belum mampu mencerna kejadian yang terjadi secara tiba-tiba itu. Ia menatap nanar tatkala Burhan menutup tempat peristirahatan terakhir Mila dengan tanah, sedikit demi sedikit, sampai lubang di tanah merah di hadapannya tertutup menyisakan gundukan.


"Ayo kita pulang, Da. Kasian Laili ditinggal terlalu lama," ajak Burhan menarik Ida menjauh dari tempat peristirahatan terakhir anak Mila.


Ida menyeret langkahnya, berharap ia masih kuat mengayunkan kakinya untuk kembali ke rumah dengan sisa tenaga yang ia punya. Berharap apa yang ia alami hanya mimpi permainan tidur semata dan ketika ia terjaga, ada Mila di sampingnya dengan dendang riang dan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2