
"Apakah Laili benar-benar tidak ingin kita berkumpul kembali?" tanya Burhan seolah tak percaya dengan pendengarannya tatkala Laili menolak keinginan Burhan untuk memulai hidup bersama kembali.
"Nanti yang akan menjalani hidup bersama Abak itu kan amak, kalau amak tidak mau, aku tak bisa memaksa," sahut Laili.
"Lagipula, mulut tek Ana itu pedas, Bak. Apa abak tak kasihan kalau nanti amak akan di serang tiap sebentar oleh istri muda Abak?" pertanyaan Laili seolah menohok perasaan Burhan.
"Ima juga ikut uni, Bak," ujar Fatimah saat Burhan menoleh akan menanyakan pendapatnya. Sementara itu, Salma tak bersuara. Ia hanya diam.
"Salma?" Burhan beralih menatap Salma. Gadis kecil yang dulu masih berumur setahun ketika berpisah dulu, terasa sedikit asing baginya. Namun wajah Salma yang persis wajah amaknya, bahkan caranya menatap pun, membuat Burhan ingat akan wajah Ida pada awal menikah dulu.
"Aku sudah terbiasa hidup tanpa Abak, jadi aku ikut dengan uni saja," sahut Salma menambah pupusnya harapan Burhan untuk kembali bersama Ida.
Ketegasan yang keluar dari bibir anak-anaknya membuat Burhan sadar, bahwa tak ada lagi harapannya untuk kembali menyambung rumah tangganya.
"Maafkan abak, tak ada niat abak untuk melukai perasaan amak kalian," sesal Burhan. Harapan yang sempat tumbuh tatkala meminta dukungan anak-anaknya seketika hancur begitu saja.
"Maaf jika aku lancang, Bak. Tapi menurutku, jika Abak memang tak berniat mengganti posisi amak di hati Abak ... Abak harusnya bisa tegas menolak tek Ana. Selama sepuluh tahun ini amak bertahan untuk tetap sendiri karena keyakinannya akan bertemu Abak kembali. Aku tau sudah banyak yang ingin menikahi amak ketika di Siantar, tapi amak selalu beralasan tak ingin melukai perasaan kami. Padahal kami tau sebenarnya karena amak tak mau ada yang menggantikan posisi Abak," cecar Laili.
Burhan membisu, tak pernah ia membayangkan akan mendapat penolakan dari gadis kecil yang dulu selalu berlari memeluknya ketika ia pulang. Kerasnya hidup yang mereka jalani, membuat mereka tumbuh menjadi perempuan yang tak mengenal kata kompromi.
"Maafkan Abak, Nak. Mungkin benar kata Laili, jiwa abak terlalu lemah. Abak putus asa karena tak kunjung menemukan kalian."
"Aku minta maaf, Bak. Tapi aku benar-benar tak ingin melihat amak menangis lagi. Sudah cukup sepuluh tahun kami melihat amak menderita membesarkan kami seorang diri," ujar Laili.
"Kalian sama keras hatinya dengan amak kalian ya," gelak Burhan mencoba mengusir getir yang terasa.
__ADS_1
"Kalau amak tak keras hati, mungkin dari dulu kami sudah punya bapak sambung," sahut Laili terasa bagai tamparan keras bagi Burhan.
"Ah ... Iya." Seketika wajah Burhan kembali muram.
"Abak tak perlu sedih. Ada kalanya kebahagiaan itu bisa tercipta walaupun tak lagi bersama," ujar Laili mencoba membesarkan hati abaknya. Bagaimana pun, abaknya tetaplah orang yang tak akan pernah terganti di hatinya. Walaupun ingatan akan kebahagiaan bersama abaknya telah samar-samar, namun ia tau dulu abaknya begitu amat sangat mencintai mereka.
Burhan hanya mengangguk pasrah, tak ada lagi yang mampu ia perbuat. Jika memang kembali bersama akan membuat istri dan anak-anaknya lebih menderita, lebih baik ia pendam saja keinginannya. Setidaknya ia masih tetap bisa melepaskan rindu, bertatap muka dengan mereka.
***
Persiapan prosesi lamaran dan pernikahan Laili membuat Ida cukup sibuk di kampungnya, Kubang Putih. Membuat ia mampu melupakan sejenak segala masalahnya dengan Burhan. Walaupun sesekali, perasaan perih itu kadang kembali datang ketika mendengar kasak kusuk omongan saudara dan tetangga tentang hubungannya dengan Burhan. Namun melihat rona bahagia yang terpancar di wajah Laili membuat sakit itu terasa terobati.
Empat bulan di kampung, akhirnya hari yang ditunggu Laili pun tiba. Rumah tua amai, kembali ramai oleh persiapan acara pernikahan Laili. Ida menatap wajah Laili yang tersipu ketika digoda beberapa saudara yang sedang memakaikan pacar di jarinya pada saat malam bainai.
"Ah, Nak ... Kenapa waktu tak pernah berjalan agak sedikit lambat, tiba-tiba saja kau sudah akan memulai hidup berumah tangga saja. Masa kanak-kanakmu tak terhiraukan oleh amak. Tau-tau kau sudah akan beranjak pergi dari pangkuan amak," gumam Ida dalam hati.
Wajah Laili begitu bahagia duduk bersanding di pelaminan. Sesekali Ida tersenyum kala menatap anak dan menantunya.
"Baru berasa kemarin ya, kita yang duduk di sana, Da." Tiba-tiba Burhan telah berada di samping Ida.
"Ah, iya ...." Ida menjawab gugup karena kedatangan Burhan yang tiba-tiba. Hatinya yang mulai berdamai dengan keadaan, membuat ia telah mampu bersikap biasa terhadap Burhan.
"Aku masih ingat saja wajahmu dulu ketika duduk di pelaminan. Mukamu seharian di tekuk, haha," gelak Burhan dengan nada getir.
"Iya ... " Ida membiarkan Burhan sedikit mengenang masa lalu.
__ADS_1
"Aku dulu berharap disaat pernikahan anak-anak seperti ini, kita masih bersama, Da."
"Ya ... Tapi kita hanya manusia lemah, tak kan mampu melawan kekuatan takdir." Ida tersenyum kecut. Ternyata mengenang masa lalu bersama orang yang pernah mengisinya tak semenyedihkan sangkaannya dulu.
"Tuan sudah makan?" tanyanya kemudian.
"Sudah ...." Tatapan Burhan masih lekat ke tempat Laili dan Basri bersanding.
"Kalau begitu aku mau ke belakang dulu, Tuan temani lah tamu yang datang," pamit Ida tanpa menunggu Burhan menjawab.
Mungkin benar adanya, terkadang waktu mampu mengikis setiap rasa. Walaupun jejaknya masih ada, namun tetap tak sama. Atau mungkin rasa sakit yang ditimbulkan oleh rasa terkhianati, membuat asa yang dulu pernah ada mengurai begitu saja. Ida menoleh kembali pada Burhan, tatapan mata mereka bersirobok, namun entah kenapa hati Ida seolah mati rasa, tak ada lagi desir halus yang dulu sempat tercipta oleh tatapan mata itu.
***
Seusai melangsungkan pernikahan, Laili menetap di Bukittinggi bersama Basri, suaminya. Pun dengan Ida, ia memilih untuk memulai kehidupannya yang baru di Bukittinggi bersama Fatimah dan Salma.
"Amak tidak mau tinggal bersamaku? Tanya Laili ketika Ida memilih untuk menyewa tempat tinggal di Bukittinggi.
"Kau itu baru memulai hidup baru, Li. Akan jadi beban saja bagimu jika amak juga ikut. Lagipula ada adik-adikmu, jadi makin berat kau nanti, "
"Maafkan aku masih belum bisa membahagiakan Amak. Harusnya aku bisa membantu amak," sesal Laili dengan air yang mulai menggenang di matanya.
"Harusnya amak yang meminta maaf, kau yang menjadi tanggung jawab amak, amak yang belum bisa membahagiakanmu. Kebahagiaan amak bukan tanggung jawabmu, jadi tak usah kau sesali," hibur Ida. "Amak cuma berharap kalian hidup yang rukun, kehidupan berumah tangga banyak cobaannya, berkaca pada pengalaman amak. Jangan sampai kau mengalami hal yang sama."
"Iya, Mak. Aku minta doanya ...."
__ADS_1
"Tentu saja, doa amak tak pernah putus untuk kalian," ucap Ida lembut sambil mengusap kedua mata Laili yang mulai basah.
Bagi Ida, kebahagiaan anak-anaknya lah harta yang paling berharga saat itu. Tak akan ia tukar dengan apapun, karena tak akan ada yang bisa menggantikan kebahagiaan saat melihat mereka tersenyum.