MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 38


__ADS_3

Saat umur Yasir menginjak dua tahun, Ida mengandung anak kedua. Kebahagiaannya terasa lengkap. Mempunyai suami yang menyayanginya dengan sepenuh hati serta anak laki-laki kecil yang tumbuh sehat dan selalu penuh energi.


Kehadiran Yasir dalam keluarganya menjadikan suasana rumah menjadi lebih hidup. Setiap kali Burhan, abaknya, pulang dari bepergian, ia selalu menyambut dengan gembira. Berceloteh menceritakan apa saja yang ia alami ketika abaknya sedang tidak ada di rumah. Mendengarkan cerita Yasir yang masih cadel membuat Burhan selalu ingin cepat kembali ke rumah.


Sore itu, Burhan pulang dengan bersemangat, membayangkankan Yasir akan berlari menghambur ke pelukannya. Ia membawakan mainan mobil-mobilan yang ia beli ketika di perjalanan pulang.


"Assalamualaikum. ..." Burhan membuka pintu.


Mengulangi lagi salamnya karena tak terdengar suara telapak kaki Yasir yang berlari menyambut.


"Da?" Burhan membuka pintu kamar. Ia melihat Ida tertidur di samping putranya.


Burhan berbalik hendak membersihkan diri ke bilik mandi, namun ia urungkan tatkala menyadari ada selembar kain kecil ditempelkan di kening Yasir. Burhan mendekati tempat tidur, meraba leher Yasir, seketika ia meringis. Kulit Yasir terasa sangat panas.


"Ah, Tuan sudah pulang? Sudah lama?" Ida terbangun dari tidurnya.


"Baru saja. Yasir dari kapan demam, Da?" tanyanya dengan nada gusar.


"Sudah hampir seminggu. Aku sudah membawanya ke mantri, tapi belum ada perubahan."


Rasa lelah dan khawatir tergambar jelas di wajah Ida.


"Sekarang jadi keluar ruam di kulitnya, coba Tuan lihat." Ida menyingkapkan pakaian Yasir. Terlihat jelas bintik-bintik merah seperti lepuhan di kulitnya yang putih.


"Mantri bilang sakit apa?" tanya Burhan.


"Kemarin hanya bilang panas biasa, aku belum membawanya lagi ke mantri. Baru semalam ruam ini muncul."


Tak lama, Yasir terbangun. Anak kecil itu merengek pelan.


"Anak abak sudah bangun?" sapa Burhan.


"Bak ... Akiit ...." rengek Yasir tatkala melihat abaknya.


"Iya, Nak ... Yasir anak kuat, nanti abak gendong ya. Badan abak masih bau."


"Segeralah Tuan membersihkan diri. Dari kemarin dia mengigau memanggil-manggil Tuan."


"Ya." Burhan berlalu keluar kamar, menahan sedih mendengar tangis pilu Yasir minta digendong.


"Tuan mau aku buatkan minum?"


"Tidak usah, Da. Nanti saja setelah aku selesai mandi, kasihan Yasir kau bawa-bawa ke dapur," sahut Burhan yang sudah berada di ujung tangga.


"Amak ... Nas ... Aduuh, anas mak ..." jerit Yasir.


"Iya, Nak ... Sebentar amak kasih obat, ya." Ida mengusap pelan punggung Yasir. Mengoleskan salep yang dibuat buk Isah semalam ke kulit Yasir yang terlihat melepuh.


Merasa sedikit nyaman setelah dioles salep, Yasir mulai terkantuk. Ida mengayun-ayun pelan tubuh Yasir. Hatinya seolah remuk melihat wajah mungil yang biasanya ceria tampak begitu lemah. Mata yang selalu bersinar jenaka itu terlihat sayu. Bibir mungilnya yang selalu berceloteh terlihat seperti daun kering di musim panas.


"Kalau saja bisa bertukar tempat, biar amak yang merasakan sakitmu, Sir," gumam Ida.


"Da, kau sudah makan? Aku lihat makanan yang aku siapkan masih utuh di bawah," tegur buk Isah.


"Belum, Buk. Dari tadi Yasir tidak bisa aku tinggal."


"Sini aku gantikan, kau pergilah makan. Kau juga harus menjaga kandunganmu, Da." Buk Isah mengambil Yasir dari gendongan Ida.


"Terima kasih, Buk. Tuan juga sudah pulang, aku mau menyiapkan minumannya dulu."


"Iya, pergilah."


Ida beranjak ke dapur, meninggalkan Yasir bersama buk Isah di ruang depan. Balita itu kembali merengek yang kemudian ditenangkan oleh buk Isah.


"Yasir tidur, Da?" tanya Burhan ketika melihat Ida yang tengah menyiapkan minuman di dapur.


"Tidak, lagi digendong buk Isah."


"Biar aku gantikan buk Isah," sahut Burhan hendak melangkah kembali ke atas.


"Tuan sudah makan?"

__ADS_1


"Belum."


"Tuan makan saja dulu, aku juga belum makan."


Mereka makan dalam diam, tak ada yang yang membuka suara. Ida diam menahan kantuk dan lelah karena semalaman begadang mengurus Yasir yang rewel, sementara Burhan diam menahan rasa khawatir memikirkan kondisi Yasir.


"Da, kau istirahat saja setelah ini. Biar aku yang menjaga Yasir." Akhirnya Burhan membuka suara.


"Tidak usah Tuan ... Tuan juga masih lelah."


"Aku sudah istirahat di perjalanan, kau kan juga butuh istirahat, jangan sampai kau yang jatuh sakit."


Ida hanya menangangguk, tak berniat lagi membantah. Makanan yang masuk ke mulutnya tak lagi berasa apa-apa. Baru kali ini putra kecilnya sakit dalam waktu yang lama sampai terlihat tak bertenaga. Biasa paling lama Yasir hanya demam tiga hari, itu pun masih bisa tertawa dan berceloteh seolah tak merasakan sakitnya.


Sore hari Burhan meminta mantri untuk datang ke rumah memeriksa ulang Yasir. Berharap mendapatkan pengobatan yang tepat untuk putranya.


"Anak Tuan terkena Cacar, nanti saya resep kan obatnya," ujar mantri setelah memeriksa kondisi Yasir.


"Kalau bisa, ibu jangan berada dekat anaknya dulu, karena ibu sedang mengandung. Takut tertular pada jabang bayinya," lanjut mantri menoleh pada Ida.


"Saya minta obat yang bagus, Engku," Pinta Burhan.


***


Seminggu berlalu setelah mantri memeriksa Yasir, kondisinya masih belum membaik. Lepuhan di kulitnya pun makin menyebar ke seluruh tubuh. Hampir sepanjang hari Yasir mengerang kesakitan.


Ida tak mengindahkan larangan mantri yang menyuruhnya untuk tak berdekatan dengan Yasir, tangis Yasir membuatnya tak mampu meninggalkan putra kecilnya.


"Da, biar aku saja yang menjaga Yasir. Aku khawatir jika penyakit Yasir juga menular padamu," larang buk Isah ketika melihat Ida masih tidur di dekat Yasir.


"Ibu mana yang akan tega meninggalkan anaknya seperti ini, Buk." Ida mulai terisak.


"Aku bahkan rela menukarkan nyawaku untuk kesembuhan Yasir," isak Ida pilu.


"Da ... Jangan kau berkata demikian, kata yang keluar dari mulut bisa jadi di kabulkan Allah. Apa kau tidak kasihan akan nasib Yasir, jika nanti Allah benar-benar mengambil nyawamu?" nasehat buk Isah.


"Iya, Buk. Tak kuasa aku melihat wajah Yasir makin hari makin kuyu."


"Iya, Da ... Aku paham itu. Mari kita berdoa saja supaya Yasir segera diberi kesembuhan sama Allah. Sekarang kau istirahatlah, biar aku yang menjaga Yasir. Kau sudah terlihat sangat lelah."


"Biar aku bawa Yasir ke kamarku supaya kau bisa istirahat sebentar," paksa buk Isah mengambil Yasir dari gendongan Ida.


Pasrah, Ida menyerahkan Yasir pada buk Isah. Tak ada gunanya ia berdebat. Tenaganya memang terasa telah terkuras.


"Terima kasih, Buk," ucapnya pelan.


"Burhan kemana, Da? Tadi dia minta dibuatkan teh telur, nanti dingin kalau tidak segera diminum," tanya buk Isah ketika hendak keluar dari kamar.


"Dia keluar hendak mencari kelapa buat Yasir, Buk."


"Oh ... Sekarang kau istirahat lah." Buk Isah keluar dan menutup pintu kamar.


Seketika kamar begitu sunyi. Angin berhembus pelan dari jendela yang terbuka. Bunyi tongkeret yang bersahut-sahutan seperti menyanyikan lagu penghantar tidur, membuat Ida tak mampu menahan matanya untuk tetap terbuka. Rasa lelah yang menumpuk mengurus Yasir yang sakit beberapa minggu ini, membuatnya tertidur dengan mudah.


"Da ... Ida ..."


Ida tersentak dari tidurnya ketika Burhan membangunkannya pelan.


"Ah, Tuan sudah pulang? Air kelapanya sudah diminum Yasir?" tanyanya seraya bangkit dari tempat tidur.


Suasana kamar sudah mulai gelap.


"Ah, sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Ida kembali.


Tak ada sahutan dari Burhan. Ida menatap heran wajah suaminya. Matanya memerah, rahangnya mengeras, bibirnya bergetar.


"Kenapa, Tuan?"


"Yasir ..." Suara Burhan tercekat, seketika tangisnya pecah.


"Kenapa Yasir, Tuan?" pekik Ida.

__ADS_1


Pikirannya berkecamuk. Apa yang membuat suaminya sampai menangis, laki-laki yang selama ini ia kenal selalu kuat, tak pernah memperlihatkan rasa sedih di hadapannya.


Ida tergopoh keluar kamar, melesat masuk ke kamar buk Isah. Di kamar buk Isah sudah ada mantri yang selama ini memeriksa Yasir, berdiri di samping tempat tidur.


"Kenapa Yasir, Engku?" Ida mendekati tempat Yasir dibaringkan.


"Da, kau yang tabah, ya ... Yasir sudah tak kuat melawan penyakitnya," ujar buk Isah pelan.


"Maksud Ibuk apa?" tanya Ida seolah menolak apa yang disampaikan buk Isah.


"Engku, coba tolong periksa anakku sekali lagi," pinta Ida menoleh pada mantri yang masih berdiri di pinggir tempat tidur.


"Bu, saya mohon maaf. Detak jantung anak ibu sudah tidak ada."


"Saya mohon ...." isak Ida pilu.


"Sudah, Da ...." ujar Burhan dengan suara parau.


"Tuan, tolonglah ... Aku hanya ingin memastikan kalau mantri ini tidak salah," desak Ida.


"Aku sudah memastikan, Da. Yasir sudah pergi. Aku yang melepasnya." Burhan kembali terisak.


"Kenapa Tuan tak membangunkan aku? Kenapa Tuan baru mengatakan setelah Yasir pergi?" isak Ida lirih.


Ida mendekati tempat tidur, memandangi wajah putranya yang tampak seperti sedang tertidur. Wajahnya begitu tenang. Ia mengusap pelan wajah yasir, membelai rambut hitamnya yang tebal.


"Yasir, kenapa Yasir meninggalkan amak? Yasir tidak sayang sama amak?" gumamnya lirih. Ia mencoba menahan agar airmatanya tak tumpah.


"Bukankah Yasir ingin mengajak adik bermain? Kenapa Yasir pergi sebelum adik datang?" Ida mengusap kedua belah matanya agar bisa melihat wajah Yasir dengan jelas.


Azan magrib berkumandang, mantri yang memeriksa Yasir pamit undur diri. Seolah-olah berada di dimensi lain, Ida hanya memperhatikan dengan tatapan kosong ketika isi rumah dibenahi. Perabotan yang ada di ruang depan dipindahkan.


Sekonyong-konyong rumah telah ramai di datangi pelayat. Tubuh Yasir di baringkan di tengah ruang depan. Suara lantunan ayat suci memenuhi rumah.


"Da, kau makan ya," bujuk buk Isah.


Ida bergeming. Ia hanya duduk di pinggir kamar tanpa suara tanpa air mata, memandang nanar pada tubuh kecil yang ditutupi kain panjang. Pikirannya seolah tak mampu mencerna segala kejadian yang tampak bergerak cepat di depan matanya.


Keesokan harinya, ketika Yasir hendak dimakamkan, buk Isah melarang Ida untuk ikut ke pemakaman.


"Tidak baik perempuan yang tengah mengandung ke pemakaman, Da. Kau tunggu saja di rumah."


Seolah kerbau yang dicucuk hidung, Ida menurut. Ia seperti tak mempunyai tenaga untuk membantah apa yang di katakan buk Isah. Ketika, tubuh Yasir dimasukkan ke dalam keranda, dunia Ida terasa gelap. Ia pun kehilangan kesadarannya, jatuh tak sadarkan diri.


"Da ..." Ida merasakan seseorang menepuk pelan pipinya. Kemudian penciumannya dipenuhi bau rempah yang menyengat. Ia membuka mata. Tampak mak Halimah duduk di pinggir tempat tidur.


"Alhamdulillah kau sudah sadar," ucap mak Halimah lega.


"Amak kapan sampai?" Ida berusaha bangkit untuk duduk.


"Kau berbaring saja, Da." Mak Halimah mendorong pelan tubuh Ida agar tetap berbaring.


"Aku baru saja sampai. Kau minum dulu ya." Mak Halimah menyodorkan sendok berisi teh hangat ke bibir Ida.


"Ida tidak haus, Mak," tolak Ida.


"Bukan untuk menghilangkan hausmu, Da. Supaya memberimu sedikit tenaga," paksa mak Halimah tetap menyodorkan sendok ke bibir Ida.


Ida mengalah, mencoba menelan air teh yang disendokkan mertuanya. Mak Halimah mengusap lembut pipi menantunya, walaupun jelas rasa sedih terpampang di wajahnya yang mulai keriput, namun mak Halimah tetap berusaha tersenyum untuk membesarkan hati Ida.


***


Tujuh hari setelah Yasir meninggal, rumah masih dipenuhi tetangga yang hadir untuk mengadakan pengajian. Ida masih belum mampu menerima kepergian Yasir. Ia hanya berkurung diri sepanjang hari di dalam kamar.


"Da, kau coba ikhlaskan Yasir, ya. Aku pun masih belum mampu merelakan kepergian Yasir ... Tapi kalau kau terus-terusan seperti ini, kasihan bayi yang ada di perutmu," bujuk Burhan.


"Tuan, aku hanya mencoba mengingat kesalahanku, kenapa ketika aku mulai mendapatkan kebahagiaanku, Tuhan merenggut paksa kembali." Ida menatap nanar wajah suaminya.


"Tak perlu kau berpikir terlalu jauh, Da. Ini ujian buat kita. Kau jangan terlalu larut dalam sedihmu." Burhan menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi Ida. Menatap kedua mata yang kelopaknya membengkak.


"Semoga kelak Yasir menjadi anak yang akan menjemput kita di pintu surga."

__ADS_1


Ida menatap wajah suaminya, sorot mata yang biasa tajam, hari itu tampak sendu. Ia sadar, bukan hanya dirinya yang berduka. Ia harus kembali menata hati, menata hidup karena ada jiwa baru yang sedang tumbuh dalam rahimnya yang juga membutuhkan dirinya.


"Yasir, maafkan segala kekurangan amak mengurusmu ya, Nak. Amak mencoba mengikhlaskan kepergianmu. Sekarang Yasir sudah tidak sakit lagi," gumamnya lirih.


__ADS_2