MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 32


__ADS_3

"Amak pulang ke kampung dulu ya, Da." pamit mak Halimah.


"Iya, Mak. Maaf Ida tak bisa mengantar Amak ke stasiun," sesal Ida.


"Tak mengapa. Kau masih belum terlalu kuat. Istirahat sajalah di rumah, amak sudah terbiasa ke kampung sendiri."


"Tuan tidak mengantarkan amak sampai kampung?" tanya Ida menoleh pada Burhan.


"Tidak usah, kau lebih membutuhkan Burhan. Tak perlu kau risaukan amak." Mak Halimah membelai lembut rambut menantunya.


"Terima kasih, Mak." Ida mencium tangan mertuanya penuh hormat.


"Kau istirahat lah. Nanti amak ketinggalan kereta," kekeh mak Halimah.


"Iya, Mak. Amak hati-hati di jalan. Kalau amak ketemu amai, sampaikan salam Ida pada amai ya, mak."


"Iya, nanti amak sampaikan pada amai, kalau beliau akan punya cicit." Mak Halimah tersenyum hangat.


Sepeninggal mertuanya, Ida menyusul buk Isah ke dapur.


"Sedang masak apa, Buk?" tanya Ida ketika melihat perempuan itu sedang sibuk di depan tungku.


"Eh, Ida. Aku sedang memasak pangek[1] ikan. Kau suka Da? Nanti kau coba makan ya, biar segar badanmu," sahut buk Isah sambil meneruskan memasukkan ikan ke dalam belanga.


Asap yang keluar dari tungku membuat perempuan itu terbatuk-batuk. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. Matanya yang mulai keriput terlihat mengeluarkan air mata.


"Mari Ida bantu, Buk," tawar Ida hendak mengambil baskom yang masih berisi beberapa ekor ikan di dalamnya.


"Eh, kau istirahat saja. Kau tidak boleh ke dapur," larang buk Isah menepis pelan tangan Ida yang hendak mengambil baskom yang ada di tangannya.


"Kenapa tak boleh, Buk?" tanya Ida heran.


"Bayi diperutmu bisa kepanasan. Sudah biar aku saja yang masak. Kau istirahatlah," usir buk Isah.


Yakin tidak akan menang berdebat dengan buk Isah, Ida memilih mengalah. Ia kembali ke ruang tengah, memilih untuk kembali membaca buku.


"Assalamualaikum." Terdengar suara Burhan mengetuk pintu.


Ida bergegas membukakan pintu untuk Burhan.


"Amak sudah berangkat, Tuan? Cepat sekali Tuan kembali," tanya Ida heran melihat suaminya sudah kembali dari mengantarkan mak Halimah.


"Iya. Keretanya langsung berangkat. Kau sedang apa, Da?"


"Aku membaca. Tuan mau diambilkan minum?"


"Tidak usah. Aku bisa minta ke buk Isah. Badanmu kan baru enakan, kau istirahat saja." Burhan ikut duduk di samping Ida.


"Kau dapat buku dari mana, Da?" tanya Burhan heran melihat Ida memegang buku.


"Di kamar itu, kata buk Isah punya mendiang abak," tunjuk Ida ke ruangan sebelah kamar mereka.


"Oh, Pantas saja aku tidak asing dengan buku itu."


"Tuan sudah membaca buku ini?"


"Sudah. Ketika abak masih hidup beliau juga suka membacakan buku itu."


Ida meletakkan bukunya di meja, lalu duduk menghadap Burhan.


"Bagaimana perjalanan Tuan kemarin? Aku belum sempat bertanya." Ida tersenyum cerah pada suaminya.


Burhan heran melihat perubahan sifat Ida. Ia membalas senyum Ida sambil mengelus pelan pipi istrinya.


"Kau sakit karena merindu ya, Da? Ledeknya.


" Tuan terlalu percaya diri," sahutnya kembali menunduk.


Mendadak wajahnya kembali memerah, ia masih saja belum terbiasa dengan godaan Burhan.


"Tentu saja aku rindu, Tuan kan suamiku," ucap Ida lirih.


"Apa, Da? Kau bilang apa?" seringai Burhan mendekatkan telinganya ke wajah Ida.


"Jangan berpura-pura tuli, Tuan. Aku yakin Tuan mendengar apa yang aku katakan," gerutu Ida sambil mendorong pelan kepala suaminya menjauh.


"Haha ... Aku hanya memastikan saja telingaku tak salah dengar," gelak Burhan.

__ADS_1


"Warung makan amak ditutup selama amak di kampung ya, Tuan?" tanya Ida mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, masih buka. Ni Midah yang mengawasi yang kerja."


"Oh ...." Ida menjawab singkat.


Teringat ia akan kakak perempuan Burhan, uni Midah. Perempuan tangguh seperti mak Halimah. Umurnya terpaut lima tahun lebih tua dari Burhan. Pembawaannya luwes seperti ibunya. Ida hanya bertemu dua kali dengan kakak iparnya itu karena kakak iparnya lebih sering berada di Teluk Kuantan.


"Uni jarang pulang kampung ya?" tanyanya kembali.


"Iya, repot dia membawa anak-anaknya pulang. Kenapa kau jadi mengalihkan pembicaraan, Da?" Burhan tersadar kalau Ida mengalihkan pembicaraan.


"Ah, aku hanya teringat ni Midah saja, bukan mau mangalihkan pembicaraan," gelak Ida.


"Bukannya tadi kau bilang kalau rindu selama aku tak ada?" Burhan kembali ke pembicaraan semula dengan senyum terkembang di bibirnya.


Ida memperhatikan setiap detail wajah laki-laki di hadapannya. Mata Burhan seperti tenggelam ketika ia tersenyum. Tarikan bibirnya mencetak lesung pipi yang dalam pada pipi kirinya. Alis tebal menaungi matanya yang tajam. Hidung yang cukup mancung, dan garis rahang yang kokoh membingkai sempurna bentuk wajahnya. Mendadak jantung Ida kembali berdetak tak beraturan.


Bukan kali pertama ia melihat senyum itu, bukan kali pertama juga Burhan selalu menggodanya, namun kali ini perasaannya mulai berubah. Seperti candu yang membuatnya ingin terus menerus melihat senyum itu.


"Da, kenapa kau melamun?" tanya Burhan heran melihat Ida yang terdiam.


"A ... Aku ..." Ida tergagap, mencari alasan.


"Ida, Burhan ...." Suara mak Isah seolah menyelamatkan Ida.


"Iya, Buk," sahut Burhan tanpa memalingkan wajahnya dari Ida.


"Kau mau makan sekarang?" tanya buk Isah dari arah ujung tangga.


"Iya, Buk. Aku ke sana," sahut Burhan sambil bangkit dari duduknya.


"Ayo, Da. Kita makan dulu."


Tanpa banyak bantahan, Ida menurut ketika Burhan menggandeng tangannya ke dapur. Buk Isah dan pak Ujang ternyata sudah menunggu mereka untuk turut makan bersama.


"Oh, Pak Ujang sudah pulang. Bagaimana bibitnya pak?" tanya Burhan ketika ia telah duduk di samping pak Ujang.


"Aku baru membereskan tempat untuk menyemainya, Han," sahut pak Ujang.


"Aku suapkan ya?" tawar Burhan.


"Aku bisa makan sendiri, aku tak perlu terlalu dimanja, Tuan," gelak Ida.


Setelah menyendokkan nasi untuk Burhan, Ida mengambil seporsi kecil nasi dari bakul.


"Kenapa sedikit sekali kau ambil, Da?"


"Aku coba sedikit dulu ... Kalau kurang nanti aku tambah."


Ida makan dengan lahap, tak ada rasa-rasa yang membuat perutnya tak enak seperti beberapa hari lalu. Rasa gurih dari santan berpadu dengan rasa pedas bumbu serta legit daging ikan membuat nafsu makannya muncul. Tak terasa, seporsi kecil nasi yang ia sendokkan ke piringnya, habis dengan cepat.


"Alhamdulillah, akhirnya enak juga makan kau, Da. Risau hatiku tiga minggu ini kau tak mau makan," ujar buk Isah.


"Karena obat penawarnya sudah kembali, Buk," gelak Burhan.


"Aaah, ya ... Bisa jadi begitu. Seperti orang yang kehilangan jiwa saja Ida ketika kau tinggal, Han," kekeh buk Isah.


"Mana mungkin bisa begitu," sangkal Ida dengan wajah kembali memanas.


Burhan mengusap punggung Ida lembut. Ada gelenyar halus yang Ida rasakan kali ini, tak seperti biasa setiap kali suaminya itu menyentuhnya. Ida mencuci tangannya dengan air yang ada di cawan kecil. Berusaha menenangkan hatinya yang mulai riuh.


Ketika semua selesai makan, Ida berniat untuk membantu buk Isah membersihkan piring bekas makan mereka.


"Biarkan saja, Da. Tak usah kau cuci. Kau masih belum bisa terlalu capek."


"Tapi, aku sudah terlalu lama tiduran saja buk. Biar aku bantu mencuci piring."


"Tidak usah. Han, kau bawa lah istrimu ke atas," perintah buk Isah.


"Ayo, Da. Turuti saja perkataan orangtua."


Tak mampu berdebat dengan Burhan dan buk Isah, Ida hanya mengangguk. Menuruti Burhan yang mengajaknya kembali ke ruang depan.


Baru saja mereka duduk di ruang tengah, terdengar seseorang memanggil dari luar rumah.


" Assalamualaikum ...."

__ADS_1


"Waalaikum salam." Burhan bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pintu melihat siapa yang datang.


"Eeh, Burhan ada di rumah," sapa si pemilik suara.


"Iya, Tek," sapa Burhan ketika membukakan pintu.


Seorang perempuan paruh baya, muncul di ambang pintu. Wajah cantiknya tak termakan usia. Wajahnya mengingatkan Ida akan seseorang.


"Ada tek Isah?" tanya perempuan itu.


"Ada,sebentar aku panggil. Masuk dulu tek," ajak Burhan.


"Da, kau sudah kenal tek Piah?" tanya Burhan ketika tek Piah sudah berada di dalam rumah.


"Oh ... ini istri kau, Han. Ana sudah cerita kalau sempat bertemu kalian. Pintar benar kau mematahkan hati anakku, Han," ujar tek Piah tanpa basa-basi.


"Oh, ternyata Ibunya Ana, pantas saja aku merasa tak asing dengan wajahnya," gumam Ida dalam hati. Karena wajah tek Piah memang sangat mirip dengan wajah Ana.


"Haha ... Namanya juga bukan jodoh, Tek," sahut Burhan canggung.


"Bisa saja kau berkelit, Han ...." kalimat tek Piah terhenti oleh kedatangan buk Isah.


"Ah kenapa Piah, ada perlu apa?" tanya buk Isah.


"Oh, aku hendak me ngundang Etek untuk memasak di rumah. Minggu depan keluarga besar calon besan saya akan bersilaturahmi ke rumah," terang tek Piah.


"Oh, sudah ada yang melamar Ana?"


"Iya, akhirnya mau juga dia menerima pinangan keluarga Datuk Bandaro, setelah tau kalau Burhan sudah beristri. Patah hati anakku, Tek." Tek Piah bercerita seolah-olah Ida dan Burhan tak ada di ruangan yang sama dengannya.


Ida hanya terdiam mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut tek Piah.


"Ayo kita ke kamar saja, Da," ajak Burhan. Ia menyadari perubahan wajah istrinya.


"Aku tinggal ya tek, istriku sedang kurang sehat."


"Eh ... Iya," sahut tek Piah seperti mengurungkan niatnya hendak mengatakan sesuatu.


Ida dan Burhan meninggalkan ruang tengah, membiarkan tek Piah dan buk Isah yang masih melanjutkan perbincangan mereka.


"Kau tidak apa-apa, Da?" tanya Burhan melihat Ida yang masih tetap diam ketika di dalam kamar.


"Ya, tidak apa-apa," sahutnya kembali membuka buku yang ia bawa.


"Tak usah kau pikirkan ocehan tek Piah," pinta Burhan.


"Aku tak memikirkan apa-apa, kenapa Tuan menyangka seperti itu?" tatapan Ida yang datar tanpa ekspresi membuat Burhan jadi salah tingkah.


"Ah ... Haha, aku pikir kau diam karena tersinggung perkataan tek Piah tadi," sahutnya tertawa canggung.


"Untuk apa aku harus memikirkan perkataan orang yang tak ada hubungannya denganku," ucap Ida datar.


"Aku pikir kau cemburu," gelak Burhan.


"Kenapa aku harus cemburu, sudah jelas bagiku kalau hati Tuan saat ini hanya untukku."


"Berarti kau masih tak ada perasaan apa-apa padaku ya, Da?" tanya Burhan dengan suara getir.


"Kenapa Tuan sampai berpikir demikian?"


"Bukankah katanya, cemburu tanda cinta, Da" Kali ini wajah Burhan yang memerah, ia salah tingkah.


"Ah, tidak semua harus seperti itu, kan Tuan? Saat ini aku tak mau memikirkan apa yang belum jelas perkaranya. Berkaca pada pengalamanku yang lampau, terlalu banyak prasangkaku pada orang lain, membuat mata hatiku tertutup untuk melihat kebenaran," terang Ida.


Burhan tercenung mendengarkan penuturan Ida. Ia menatap lekat wajah istrinya.


"Kalau boleh tau, bagaimana hubungan Tuan dulu dengan Ana? " tanya Ida masih dengan wajah tanpa emosi.


"Aku tak ada hubungan apa-apa dengan Ana, Da. Yang aku pikirkan semenjak sepuluh tahun itu hanya kau," sahut Burhan meyakinkan Ida.


"Tidak takutkah Tuan kecewa jika aku tak sebaik yang Tuan sangkakan?"


"Aku tak berharap apa-apa darimu, Da. Hanya bersamamu saja bagiku cukup."


Ida balik menatap wajah Burhan. Menangkap kesungguhan akan apa yang Burhan ucapkan. Walaupun hatinya telah menerima kehadiran pria itu, namun ada sisi lain dalam hatinya yang masih saja merasa gamang. Akan kah Burhan bisa menjadi penghuni terakhir di hatinya, ataukah akan berakhir sama dengan mereka yang pernah singgah dulu?


[1] Pangek \= sejenis masakan gulai tapi tidak berubah. Atau bisa juga disebut gulai kering.

__ADS_1


__ADS_2