
Memulai menjalani hari setelah kepergian buk Isah ternyata tidaklah mudah bagi Ida. Ia yang selama ini terbiasa dengan kehadiran buk Isah, merasakan kehilangan yang teramat sangat. Biasanya dapur tak pernah sepi, setiap kali mereka menyiapkan masakan, buk Isah sering memberikan petuah-petuah dan nasehat hidup.
Tingkah polah anak-anak, terkadang membuat buk Isah terkekeh makin menambah ramainya suasana dapur.
Ida termangu di balai Bambu tempat ia biasa menyiangi sayuran bersama buk Isah. Dapur terasa seolah raga kehilangan jiwa. Ia mengedarkan pandangannya mengelilingi dapur, berharap buk Isah muncul dari pintu yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang rumah, tapi harapannya hanya disahut hembusan angin. Ia menyadari bahwa sebaik apapun perpisahan, tetap saja menyisakan rasa kehilangan.
Tak hanya Ida, anak-anaknya pun merasakan kehilangan. Beberapa hari setelah buk Isah pergi, Laili dan Fatimah sering mencari buk Isah ke kamarnya, lalu keluar dari kamar dengan wajah murung ketika tak menemukan orang yang mereka cari. Walaupun mereka akhirnya menyadari buk Isah memang sudah pergi, namun tetap saja mereka tak seceria biasa. Anak-anak dengan perasaannya yang lebih halus, seringkali sulit menerima perpisahan.
"Assalamualaikum ... Laili, Ima ... Abak pulang."
Wajah Laili dan Fatimah yang semula murung berubah ceria seketika, kala mendengar suara abaknya di depan pintu. Mereka berlomba menghambur menyambut kedatangan Burhan. Ida tersenyum simpul melihat kegembiraan anak-anaknya.
Walaupun wajah Burhan masih terlihat lelah, namun keceriaan anak-anak mampu mengikis bias lelah dari wajahnya. Burhan menggendong kedua gadis kecil itu di kedua lengannya.
"Abak bawa mainan?" tanya Laili kemudian.
"Abaknya baru pulang, ditanya dulu apakah abak capek," sergah Ida.
"Haha ... Hilang capek abak kalau sudah lihat wajah kalian. Sebentar abak ambil dulu." Burhan menurunkan dua gadis kecil itu dari gendongannya.
Burhan membuka tas yang ia letakkan begitu saja di lantai rumah ketika ia sampai, menarik dua buah kotak yang berisi boneka berbentuk anak perempuan dengan rambut yang dikepang dua, mata bulat seperti kelereng, memakai baju berwarna merah muda berenda. Burhan memang selalu membelikan mainan yang sama untuk kedua gadis kecilnya, ia berpikir agar mereka tidak merasa dibedakan oleh orangtuanya.
Fatimah terdiam memandangi boneka yang disodorkan Burhan. Ia tak menyambut uluran hadiah yang diberikan abaknya.
"Kenapa? Ima tidak suka?" tanya Burhan dengan nada heran. Tak biasanya gadis kecil itu akan diam saja ketika ia memberikan mainan.
Mata bening Fatimah tampak berkaca-kaca, bibirnya bergetar, tangannya memilin ujung baju yang ia kenakan. Sementara itu Laili telah membuka kotak pemberian abaknya dengan suka cita, menyodorkan boneka yang telah keluar dari kotak ke arah Fatimah.
Sontak Fatimah berteriak dan berlari mengejar Ida yang tengah berjalan ke dapur, hendak menyiapkan minuman untuk Burhan.
"Ima kenapa?" tanya Ida keheranan, ia menoleh pada Burhan, mencoba mencari jawaban, namun Burhan juga tampak kebingungan dengan tingkah Fatimah yang tak biasa.
"Neka ... Takut," sahut gadis itu menunjuk boneka yang ada di tangan Laili.
"Ima takut boneka ini?" Ida mengambil boneka yang di sodorkan Laili.
Gadis kecil itu mengangguk, mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya ke bahu Ida yang telah membungkuk.
"Maafkan abak, Nak. Abak kira Ima akan suka bonekanya." Burhan mendekati Fatimah dengan wajah menyesal.
__ADS_1
"Nanti kita beli gula-gula saja ya," bujuk Burhan menarik lembut Fatimah dari pelukan Ida.
Wajah gadis kecil itu sontak berubah ceria.
"Iya, gula-gula ...." teriaknya kegirangan.
****
"Da, kau ikut saja denganku ke Kuantan bulan depan." Ida menghentikan gerakannya memijat punggung Burhan.
"Kenapa Tuan tiba-tiba mengajakku ke Kuantan?" tanya Ida heran.
"Aku hanya khawatir karena kau sendirian mengurus anak-anak. Biasa ada buk Isah, aku masih agak tenang," sahut Burhan.
"Ah ... Rumah memang terasa lebih sepi tanpa buk Isah," desah Ida.
"Tapi aku akan berusaha untuk mengurus anak-anak ini sendiri. Lagipula, belum tentu anak-anak mau." Ida tersenyum tipis.
"Aku juga sedang belajar tak terlalu bergantung pada orang lain. Aku tak mau terlena dengan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini. Entah ini akan bertahan, atau hanya sesaat ...." Ida berhenti berbicara.
Hening.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Da?" Akhirnya Burhan membuka suara.
"Karena setiap kali aku merasa menemukan kebahagianku, kebahagiaan itu kemudian terasa dirampas begitu saja dari tanganku," sahutnya lirih.
"Jadi kau belum bahagia bersama ku?" Ada perasaan terluka dari suara Burhan.
"Bukan begitu maksudku ...." Ida menyadari perkataannya melukai perasaan Burhan.
"Ah ... Aku bingung bagaimana cara mengatakannya."
"Da, tak perlu kau risaukan hari esok, jalani saja hari ini. Serahkan semua pada Allah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Jangan sampai kekhawatiran akan masa depan merenggut kebahagian yang ada saat ini."
Ida hanya mengangguk pelan.
"Iya, harusnya begitu. Tapi karena pengalamanku selalu saja membuat ku terpuruk ...."
"Sudah, kau jangan terlalu melihat ke belakang, Da. Kau pandangi saja wajah anak-anak, jadikan itu penyemangat hidupmu." Burhan mengusap pipi Ida.
__ADS_1
"Nah, marilah kita istirahat. Mungkin kau lelah seharian, jadi berpikir macam-macam," ajak Burhan.
"Haha ... Mungkin begitu." Ida tergelak, berusaha menghilangkan segala kegundahan di hatinya.
Malam semakin larut, namun mata Ida masih belum mampu terpejam. Suara dengkuran halus Burhan menandakan suaminya sudah terlelap. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Kilasan-kilasan masa lalu yang membuatnya terpuruk, seakan mengejek tak mau pergi. Sejujurnya Ida lelah dengan segala sangkaan-sangkaan buruknya, namun pengalaman yang menyakitkan di masa lampau membuat hatinya terasa diselubungi cangkang yang keras, sehingga sulit untuknya menerima kebahagian yang datang.
Suara azan subuh menyentakkan Ida dari tidurnya. Tak terlihat Burhan di sampingnya. Ida bangkit dari tidurnya, sedikit terhuyung. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Ia kembali duduk di pinggir tempat tidur tepat ketika Burhan masuk ke kamar.
"Kau sudah bangun, Da? Tampaknya kau lelah sekali, sedari tadi aku membangunkanmu, kau tak juga bangun."
"Iya, mungkin karena beberapa hari ini Fatimah tiba-tiba saja selalu minta ditemani." Ida merapikan rambut, menggulungnya di belakang tengkuk.
"Segeralah kau berwudu, air di bak sudah aku isi."
Ida berjalan ke luar kamar, pening yang ia rasakan masih saja bergelayut di kepala, membuat ia berhati-hati menuruni tangga. Air dingin yang membasuh kulitnya sedikit mengurangi rasa tidak nyaman yang ia rasakan.
"Kau kenapa, Da? Dari tadi aku lihat mukamu pucat, kau sakit?" tanya Burhan ketika Ida sedang menyuapi Fatimah.
"Nanti kau pergilah ke tempat mantri untuk periksa, biar anak-anak bersama ku di rumah," usul Burhan.
"Nanti aku ke bidan belakang saja, kata ni Jum, ada bidan baru pindah ke dekat rumahnya."
Ida berhenti menyuapi Fatimah, ia menatap Burhan seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Kenapa, Da?" tanya Burhan melihat Ida tercenung.
"Ah ... Tidak, aku hanya teringat sesuatu yang tidak begitu penting," sahutnya, melanjutkan kembali menyuapi Fatimah.
***
"Tuan, aku mengandung lagi," lapor Ida ketika pulang dari bidan pada Burhan yang tengah asyik bersenda gurau dengan anak-anaknya.
Seketika senyum menghilang dari wajah Burhan, diganti kan wajah khawatir.
"Tuan tidak senang dengan kabar ini?" tanya Ida melihat perubahan wajah Burhan.
"Bukan tidak senang, aku hanya khawatir mengingat kau selalu kepayahan ketika mengandung."
"Kita berdoa saja, kali ini aku kuat." Ida tersenyum gugup.
__ADS_1
Hatinya membenarkan kekhawatiran Burhan, namun ia tepis, tak ingin rasa khawatir makin menguasai hatinya. Ia mencoba berlapang dada, melangkah menyongsong takdir yang entah akan membawanya kemana.