MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 29


__ADS_3

"Kau sedang apa, Da?" tanya Burhan mendekati Ida yang sedang duduk di depan tungku.


Ida menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk adonan di baskom yang ada di pangkuannya, mengalihkan pandangannya pada Burhan.


"Aku membuat pinukuik[1], kemarin buk Isah mengajari ku," sahutnya sambil menyeka keringat yang mengaliri keningnya.


"Jadi kau belajar memasak makanan kesukaan suamimu, ya?" ujar Burhan dengan senyum lebar.


"Oh, ini makanan kesukaan Tuan kah?"


"Ya, nanti aku beri tahu makanan kesukaanku yang lain, ya. Biar aku bisa mencicipi masakan istriku. Sudah ada yang matang?" Burhan melongok tungku tempat Ida memasak.


"Sudah, Tuan mau untuk teman minum kawa[2]?"


"Boleh. Aku tunggu di depan ya."


"Baik, Tuan tunggulah di depan. Tak baik laki-laki berlama-lama di dapur," usirnya.


"Haha sama saja kau dengan amak, Da," gelak Burhan sambil berlalu menaiki tangga menuju ruang tengah.


------------°°°°°°°°-----------


"Ini minumnya Tuan, hati-hati masih panas." Ida meletakkan gelas minuman dan piring yang berisi makanan yang masih mengepulkan asap di atas meja.


Ketika ia hendak kembali ke dapur, Burhan menahan tangannya.


"Mau kemana, Da?"


"Hendak meneruskan memasak pinukuiknya, masih belum selesai aku memasaknya."


"Kau temanilah aku di sini, biarkan buk Isah yang meneruskan memasaknya," pinta Burhan mengeratkan genggamannya pada pergelangan istrinya.


Ida salah tingkah, tatapan pria berkulit sawo matang itu seakan membuat jantungnya membunyikan tabuhan genderang.


"Iya, Tuan." Ida duduk di kursi yang berseberangan dengan Burhan.


"Kau duduklah di sampingku." Burhan menarik kembali tangan Ida, memaksa Ida untuk berdiri dan duduk di sampingnya.


"Aku masih berkeringat," sahut Ida.


Tangannya mengusap rambutnya berusaha buat merapikan rambutnya yang keluar dari kondenya.


"Kau terlihat manis kalau salah tingkah," gelak Burhan.


"Jangan menggodaku!" sungut Ida.


Wajahnya makin memerah, degup jantungnya yang tak beraturan membuatnya makin salah tingkah.


"Hahaha ... Kenapa kau seperti ikan keluar dari air begitu, Da." Burhan makin tergelak melihat Ida yang makin salah tingkah.


"Ah ... Sebaiknya aku kembali ke dapur, kalau Tuan hanya mau menggodaku." Ida bangkit dari duduknya.


"Hahaha ... Kau jangan merajuk begitu, Da. Apa salahnya aku bercanda dengan istriku," seringai Burhan makin menjadi menggoda Ida.


"Aku tidak tau di mana letak lucunya, Tuan," tukas Ida dengan wajah bingung dan makin memerah.


Burhan menghentikan tawanya, ia terbatuk-batuk menahan tawanya melihat wajah Ida yang makin memerah.

__ADS_1


"Nanti ada pasar malam, kau mau ke sana tidak?" tanya Burhan dengan wajah serius.


Ida mengernyitkan dahinya. Mematut-matut apa yang hendak dibicarakannya.


Burhan mengambil kue yang terhidang di meja, memakannya dalam sekali gigitan.


"Lebih enak pinukuik buatanmu dari buatan buk Isah, Da," puji Burhan.


"Tuan terlalu berlebihan memuji," ujar Ida menunduk malu.


"Memang enak, Da. Aku tidak mengada-ada."


Burhan mengambil lagi kue terakhir yang ada di piring, mengunyahnya dengan cepat. Lalu menyeruput minumannya.


"Jadi, kau mau tidak nanti ke pasar malam?"


"Aku tidak terbiasa ke tempat seperti itu, Tuan."


"Sesekali tidak mengapa, Da. Biar kau tak bosan di rumah. Lagi pula, minggu depan aku akan berangkat ke Teluk Kuantan. Biar kau tak rindu kalau aku tinggal lama." Burhan berusaha membujuk Ida.


Ida tergelak mendengar bujukan suaminya,


"Tuan terdengar seperti orang putus asa saja."


"Kau hendak membalasku?" Burhan menggelitik pinggang Ida.


Ida berusaha menghidar namun tiba-tiba meringis kesakitan.


"Kenapa, Da?" Wajah Burhan terlihat khawatir dengan perubahan tiba-tiba Ida.


"Maafkan aku, Da. Aku jadi membuatmu sakit," ujar Burhan, menarik tubuh Ida ke dalam pelukannya.


Hening. Perasaan Ida makin campur aduk. Aroma lembut minyak kasturi yang di pakai Burhan menyusup masuk ke dalam indera penciumannya membuat degup jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Ia berusaha menenangkan diri.


"Da ...." Suara buk Isah dari arah lorong membuat Ida terlonjak, serta merta ia mendorong tubuh Burhan.


"Iya, Buk," sahut Ida berusaha menutupi kegugupannya.


"Kenapa kau biarkan pinukuiknya hangus." Buk Isah muncul dari lorong.


"Astaghfirullah! Aku lupa mematikan api tungku buk!" pekik Ida setengah berlari ke dapur meninggalkan Burhan yang terkekeh pelan melihat Ida yang salah tingkah.


"Hahaha ... Kenapa istrimu , Han?" kekeh buk Isah melihat kepanikan Ida.


"Salahku juga buk, tadi Ida sedang memasak, aku minta untuk menemani minum kawa," sahut Burhan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


--------°°°°°°°°°---------------


"Da, jadi tidak kita ke pasar malam? Nanti ada panggung sandiwara juga," tanya Burhan tatkala melihat Ida selesai membaca kitab suci.


Ida melipat mukena dan sarung yang ia kenakan, meletakkannya di pinggir tempat tidur. Terdiam agak lama sebelum akhirnya ia menjawab,


" Baik, Tuan. Aku berkemas dahulu."


Mendekati pasar malam, terdengar suara alunan saluang[3] dan dendang yang mendayu suara tukang dendang. Riuhnya suasana pasar malam membuat Ida gugup. Ia tak pernah merasa nyaman berada di keramaian.


Terakhir kali ia ke pasar malam bersama keluarga angkatnya di Bukittinggi belasan tahun lalu. Ramainya pasar malam, serta minimnya penerangan, membuat ia terpisah dari Ama, ibu angkatnya. Ida yang kala itu masih berusia delapan tahun, merasa amat sangat ketakutan. Perasaan itu amat sangat membekas dalam ingatannya. Pengalaman itu yang membuat ia menjadi takut akan keramaian.

__ADS_1


Burhan yang melihat perubahan gerak-gerik Ida, menarik dan menggandeng tangan istrinya. Ida tersentak ketika tangan Burhan menggenggam tangannya. Ia mendongak, melihat Burhan tersenyum padanya seolah meyakinkan kalau tak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Tuan, Nyonya, saksikanlah pertunjukan sandiwara yang sebentar lagi akan berlangsung ...." Seorang pemuda tanggung bersorak memberi tahu pengunjung pasar malam.


"Ayo kita bergegas, Da. Supaya kita bisa dapat tempat duduk yang bagus," ajak Burhan.


Mereka bergegas berjalan ke arah panggung sandiwara yang sudah ramai pengunjung. Beberapa diantara mereka sudah menempati tempat duduk yang ada di barisan depan panggung.


Malam itu pertunjukan sandiwara mengisahkan tentang kisah Cindua Mato, cerita Rakyat Minangkabau dengan latar belakang kerajaan Pagaruyung. Ida terbawa suasana cerita. Sesekali ia terkesiap ketika pemeran sandiwara memerankan adegan perkelahian, ia pun memperlihatkan wajah lega tatkala Cindua Mato berhasil mengalahkan Tiang Bungkuak.


Selesai pertunjukan sandiwara, para penonton yang meninggalkan tempat pertunjukan membuat Ida kembali merasakan kegugupannya.


"Sudah, tak perlu risau. Aku memegangimu," ujar Burhan ke telinga Ida.


Kali ini Ida tersenyum menatap suaminya. Sikap Burhan yang berusaha memperhatikannya membuat ia merasa nyaman.


"Terima kasih," ucap Burhan kembali ke telinga Ida.


"Untuk apa Tuan, berterima kasih?" tanya Ida heran, menoleh kembali pada suaminya.


"Untuk senyummu," sahut Burhan tersenyum lembut.


Ida merasakan wajahnya memanas. Serta merta ia menundukkan wajahnya. Tak sanggup ia menatap lama-lama senyum si empunya mata tajam itu. Biarpun suasana pasar malam tidak terlalu terang, Ida bisa merasakan tatapan Burhan masih tertuju padanya.


Tak lama kemudian, Ida kembali merasakan suasana pasar malam kembali riuh tatkala mereka mendekati salah satu panggung yang terdapat di seberang lapangan tempat panggung sandiwara berada. Terdengar suara dendang dan pantun dari seorang pria yang berdiri di panggung yang kemudian disambut sorakan dari penonton.


"Mau mencoba main Kim [4] tidak, Da?" tanya Burhan ketika mendengar suara dendang yang dilantunkan oleh pendendang yang ada di panggung seberang.


"Apa tidak sebaiknya kita pulang Tuan? Aku sudah mulai mengantuk, lagipula sepertinya sebentar lagi akan hujan." Ida menunjuk langit.


Cahaya bulan purnama yang tadinya bersinar terang mulai terlihat gelap ditutupi awan. Angin yang bertiup juga sudah mulai membawa udara dingin. Ida merapatkan jaket yang ia kenakan di atas baju kurungnya.


" Ah, baik kalau begitu. Mari kita pulang saja."


Mereka berjalan meninggalkan pasar malam. Meninggalkan hiruk pikuk tempat itu. Hening menguasai tatkala mereka sudah menjauhi tempat pasar malam dilangsungkan.


"Da, wajahmu mengingatkan aku pada bulan purnama," ujar Burhan mencoba untuk mengusir kesunyian di antara mereka.


"Ah, sebegitu jelekkah mukaku?" gerutu Ida.


"Kenapa kau berkata demikian, Da?" Burhan terkejut mendengar jawaban Ida. Maksud hati ia ingin memuji agar istrinya merasa senang, namun istrinya malah memperlihatkan rasa tidak suka.


"Coba Tuan lihat lagi bulan purnama itu, banyak lubang-lubang di permukaannya. Sedangkan wajahku tak demikian," sahut Ida menangkupkan kedua belah telapak tangan pada pipinya.


"Ahaha ... Ada-ada saja kau, Da!" gelak Burhan geleng-geleng kepala. Ia kehabisan kata, bingung hendak menjelaskan bagaimana pada istrinya.


Ida hanya membalas dengan tatapan bingung, bagian mana dari kalimatnya yang dirasa lucu oleh Burhan, hingga membuatnya tertawa.


Bersambung.......


[1]Pinukuik \= sejenis kue serabi, tapi rasanya lebih gurih dari kue serabi.


[2] Kawa/ aia kawa \= minuman yang terbuat dari seduhan daun kopi. Tradisi minum kawa ini dikarenakan pada zaman Belanda, biji kopi yang dipanen oleh petani harus diserahkan kepada Belanda. Masyarakat yang ingin mencoba meminum kopi, mengakalinya dengan cara menyeduh daun kopi.


[3]Saluang \= alat musik tiup tradisional Minang seperti se ruling.


[4] Kim \= sejenis permainan Binggo. Peserta yang ikut dalam permainan ini biasa diberikan kertas yang berisi angka-angka. Lalu seorang pendendang akan mendendangkan lagu sambil mengambil kertas dalam sebuah kotak. Isi lagu biasanya berupa pantun yang kemudian berlanjut pada penyebutan angka yang ada pada kertas yang diambil oleh tukang dendang.

__ADS_1


__ADS_2