MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 60


__ADS_3

"Apa kabarmu, Da?" sapa Midah saat keluar dari kamar masih memakai mukena.


"Alhamdulillah sehat, Uni." Ida bangkit menyongsong Midah dan menyalaminya.


Disaat yang sama, Salma datang dari arah belakang.


"Maktuo, apa kabar?" sapa gadis itu menyalami Midah.


"Makin cantik saja kau Sal," puji Midah ketika melihat Salma yang memakai baju terusan berwarna putih gading. Rambutnya yang panjang dan hitam, tergerai indah membingkai wajah bulatnya yang putih. Hidungnya mancung dengan mata yang teduh. Membuat Midah teringat akan wajah Ida ketika awal mereka berjumpa dulu.


"Ah Maktuo, terlalu memuji," sahut Salma tersipu.


"Mau mengabarkan akan menikah kau, Sal?" tebak Midah setelah ikut duduk bersama Burhan dan Ida di ruang depan.


"Tidak, mau memberi tau kalau aku lulus jadi pegawai negeri," sahut Salma.


"Alhamdulillah ... selamat Sal. Dimana kau ditugaskan?" Midah menggeser duduknya lebih mendekat Salma.


"Di Labuah Basilang, Maktuo."


"Aaah ... Memang sudah takdir kau untuk kembali ke tanah kelahiran ya, Sal," ujar Midah dengan wajah cerah. "Tadinya aku pikir kau akan menikah muda juga seperti kakak-kakakmu, ternyata gigih juga kau menyelesaikan sekolah," kekeh Midah.


Salma hanya tersenyum. Masih ada rasa canggung yang ia rasakan terhadap maktuonya walaupun Midah selalu bersikap baik padanya.


"Kau tinggal di sini saja, rumah ini hanya aku yang tempati. Anak-anak dapur tinggal di rumah belakang. Fikar dan Dahlan juga sudah pindah ke rumah istrinya. Abak kau juga tidak tinggal di sini. " Midah melanjutkan.


Salma tidak langsung menjawab, ia menatap amaknya kemudian berkata, "apa nanti tidak masalah dengan tek Ana? Aku takut nanti jadi masalah baginya."


"Ah, tak usah kau pikirkan. Kau kan tinggal denganku," sahut Midah mengibaskan tangannya, seolah menganggap hal itu bukan masalah besar.


Suasana hangat mulai tercipta setelah mereka saling bertukar cerita. Dari sana Ida mengetahui bahwa Burhan masih ke Teluk Kuantan untuk berniaga, bahkan ia lebih sering menetap di sana daripada di Payakumbuh. Layaknya Ida, Burhan pun masih belum mampu mengenyahkan segala kenangan mereka di rumah itu sehingga ia lebih memilih untuk tidak terlalu sering berada di sana.

__ADS_1


"Kadang aku seperti mendengar suara Yasir, terkadang suara Mila. Lalu kadang-kadang suara Laili dan Fatimah yang sedang bercanda," cerita Burhan ketika mereka berjalan ke tempat Yasir dan Mila dimakamkan.


Entah kenapa Ida menyetujui begitu saja saat Burhan menawarkan diri mengantarkan ke pusara anak-anaknya. Saat itu ia hanya ingin sedikit memenuhi hatinya dengan kenangan bahagia mereka dulu, setidaknya dulu ia pernah merasakan kebahagiaannya bersama Burhan. Hal itu ia lakukan untuk meredakan segala penat yang tercipta dari rasa sakit yang hampir tak pernah putus menghampirinya.


"Aku pikir Tuan bisa kuat melewatinya."


Tak pernah tepikirkan oleh Ida bahwa Burhan pun merasakan kehilangan lebih dalam. Ternyata ia selama ini masih lebih beruntung, masih bersama dengan anak-anaknya. Perasaan terluka yang ia rasakan pada saat mengetahui pria itu telah bersama Ana dulu, membuat ia menutup diri memikirkan perasaan mantan suaminya.


Baru setelah ia berdamai dengan keadaan, matanya terbuka, ia mampu membayangkan bagaimana perasaan Burhan dulu ketika mereka terpisah.


"Apakah kau masih membenciku, Da?" tanya Burhan membuyarkan lamunan Ida.


"Tidak Tuan, aku tak pernah membenci Tuan selama ini. Aku hanya terluka, tetapi aku tak ingin merusak hatiku dengan kebencian," terang Ida.


"Aku sempat marah padamu, Da. Menyalahkan dirimu membawa anak-anak pergi ke Siantar tanpa kabar ...." Burhan berhenti bicara menunggu reaksi Ida. Ida hanya diam, seolah menunggu Burhan melanjutkan apa yang hendak pria itu sampaikan.


"Ditambah melihat reaksimu yang dingin saat kita bertemu kembali serta pengaruh Ana yang begitu kuat membuat ku abai terhadapmu dan anak-anak." Aku Burhan.


"Entah kenapa setelah pernikahan Fatimah, rasa benciku makin menjadi. Bahkan ketika Fatimah berkunjung, ku biarkan saja Ana memaki-maki dan mengusirnya ...." Mata Burhan tampak menerawang.


"Lalu, kenapa sekarang Tuan mau menceritakan hal ini padaku? Apakah sudah tidak membenciku lagi," tanya Ida heran.


Sebegitu bencikah Ana padanya sampai harus mempengaruhi Burhan seperti itu. Bahkan ketika anak-anak telah bertemu abaknya kembali, mereka tetap merasa bagai anak yatim. Mempunyai bapak tapi tak dapat bertemu.


Apakah karena perasaan Ana yang sebegitu dalam terhadap Burhan hingga membuat ia tega mencerai beraikan hubungan pertalian darah antara bapak dan anaknya. Jika membicarakan masalah hati, memang terasa rumit. Bahkan penderitaan yang ia alami selama bertahun-tahun itu pun berawal dari masalah hatinya yang tak mampu menerima kehilangan.


"Semenjak lebih sering berada di Kuantan, aku mulai bisa menjernihkan pikiran. Tapi ada perasaan malu juga untuk menemui anak-anak setelah kejadian Ana mengusir Fatimah waktu itu." sesal Burhan.


Ida hanya termangu mendengar alasan Burhan, ia tak tau harus bereaksi seperti apa. Mereka terus berjalan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing sampai mereka tiba di area pemakaman. Ia tertegun memandangi deretan makam yang menyambut mereka dingin. Angin bertiup pelan membawa aroma bunga kamboja, membuat suasana sore di makam terasa mencekam.


"Ayo ...." ajak Burhan kala melihat Ida yang masih tertegun di depan pintu masuk area makam.

__ADS_1


"Tuan masih ingat dimana letak pusara Yasir dan Mila?" Ida baru menyadari bahwa telah lama sekali ia tak mengunjungi makam anaknya. Sudah banyak yang berubah dari komplek pemakaman itu, sudah mulai tertata rapi.


"Tentu saja, aku sering membersihkan pusara mereka." Burhan berjalan terlebih dahulu di depan.


Ada perasaan rindu yang tiba-tiba saja menyesakkan dada. Wajah Yasir dan Mila masih saja terjejak jelas dalam ingatannya, bahkan gerak gerik mereka yang selalu menggemaskan pun tak luput dari memori Ida.


"Aku mungkin akan menceraikan Ana, Da." Suara Burhan yang tiba-tiba membuat Ida menghentikan gerakannya membersihkan rumput liar yang mulai terlihat menyemak di pinggir pusara Yasir.


"Kenapa?" tanya Ida mendongak melihat ke arah Burhan yang berada di depan pusara Mila.


"Karena memang sebenarnya aku tak pernah menaruh hati terhadapnya."


"Bukankah tadi Tuan bilang kalau sulit untuk lepas dari hutang budi?"


"Iya, tapi setelah aku ingat-ingat, aku juga telah banyak berkorban untuknya. Bahkan aku sampai dibenci oleh anak-anakku, darah dagingku sendiri." Burhan mengusap batu nisan Yasir, seolah ia sedang mengusap lembut kepala anaknya.


"Apa nanti dia tidak akan meradang?"


"Aku tak peduli. Aku akan menetap di Kuantan setelah ini." Burhan mengalihkan pandangannya dari batu nisan ke wajah Ida.


"Ah ... Ya, semoga di lancarkan segala urusan Tuan," sahut Ida melanjutkan kembali mencabuti rumput liar di samping pusara.


"Lalu, apakah kita tidak bisa menyambung kembali pernikahan kita?" tanya Burhan penuh harap.


Kembali Ida menghentikan gerakannya menyiangi rumput, menatap jauh ke bagian ujung komplek makam.


"Aku sudah tidak berpikiran untuk kesana lagi, Tuan. Karena telah terbiasa sendiri aku sudah merasa nyaman dengan keadaan seperti ini."


"Ah memang sudah benar-benar tertutup hatimu, ya ...."


"Haha ... Entahlah. Tapi bisa saling bercerita seperti ini saja tanpa beban, sudah membuat ku senang, seolah kembali bertemu sahabat lama." Senyum Ida terkembang tulis pada Burhan.

__ADS_1


Memang luka tak akan pernah sembuh sempurna, ia tetap akan meninggalkan jejak. Namun, bekas luka itu bisa menjadi cerita yang akan kita kenang suatu saat untuk memperlihatkan betapa kuatnya kita saat metangatasi luka.


__ADS_2