
Sesampainya di pondok, suasana mendadak riuh. Mereka berebut hendak menggendong Emi. Kehadiran Emi seperti hiburan tersendiri bagi mereka. Melihat gadis kecil bermata bening dengan pipi bulat dan bibir mengerucut menggemaskan, membuat mereka sedikit lupa bahwa mereka sedang dalam persembunyian.
"Hati-hati, anaknya masih terlalu lemas." Amir memperingatkan Zubaedar yang mengambil alih Emi dari gendongannya.
Angku Munir memperhatikan luka di betis Emi, ketika Zubaedar menurunkan dari gendongannya. Ia membawa sebuah tas kulit kecil berwarna hitam yang di dalamnya terdapat beberapa alat yang terbuat dari stainless. Ida takjub melihat alat-alat yang ada di dalam tas yang dibawa angku Munir.
"Angku Munir seorang mantri? " tanya Ida takjub.
Jarang sekali ia melihat ada pribumi yang memegang alat itu selain mantri.
"Iya, mantri tidak jadi," balas angku Munir tergelak.
"Bagaimana bisa?" Ida menyelidik dengan mimik serius.
Melihat Ida bertanya dengan wajah yang serius, angku Munir akhirnya menceritakan kisahnya pada Ida.
"Ya, saya dulu pernah sekolah di STOVIA[1] sampai ketika Jepang masuk, saya ditarik pulang. Sekolahnya tidak selesai," kenang angku Munir.
"Wah sayang sekali ya ngku, padahal kalau jadi mantri kan hidupnya bisa enak."
"Kalau pun jadi mantri, saya akan tetap memilih jalan berjuang seperti ini," jawab angku Munir sambil terus menarik beberapa pecahan granat yang ada di luka Emi dengan penjepit berujung lancip.
Gadis kecil itu memekik lemah. Ida dan Zubaedar yang memangku gadis itu berusaha menenangkan.
"Tahan dulu sebentar ya ... Biar lukamu sembuh," ucap ida
"Nah... Sekarang coba cari pakaian yang bisa dipakai gadis kecil ini," ujar angku Munir setelah selesai membersihkan kepingan granat dan membalut luka kaki Emi.
"Mungkin baju aku cocok," ujar Zubaedar.
"Coba kau pangku dulu gadis ini," lanjutnya sambil memindahkan tubuh kecil Emi ke pangkuan Ida. Zubaedar memang berperawakan kecil. Sekilas tubuhnya hampir menyerupai anak umur dua belas tahun.
Ida dengan hati-hati merengkuh Emi ke pangkuannya. Sekali lagi gadis kecil itu meringis. Ida menyodorkan batok kelapa yang berisi air ke bibir Emi.
__ADS_1
Bertepatan dengan Zubaedar datang membawa pakaian, bu Saidah juga datang membawa semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap.
"Coba disuapkan anak ini makan," perintah bu Saidah.
Ida melihat ada gurat lelah di wajah perempuan setengah baya itu. Bagaimana tidak, perjalanan ke dalam hutan kemarin cukup menguras tenaga. Ia yang masih muda saja cukup merasa kelelahan, apalagi bu Saidah yang umurnya mungkin seumur amaknya.
"Baik bu, terima kasih." Ida mengulurkan tangannya mengambil batok kelapa yang berisik bubur itu.
Pagi itu petugas dapur memasak nasi bubur bercampur jagung. Perut Ida mendadak keroncongan mencium bau jagung hangat yang menjadi campuran bubur.
"Nanti kau juga jangan lupa makan ya... Perutmu sudah protes," kekeh bu Saidah.
"Baik bu, terima kasih."
Setelah mengganti pakaian Emi yang sudah penuh darah kering dengan pakaian yang diberikan Zubaedar, Ida menyuapi Emi dengan hati-hati. Anak itu makan dengan lahap, kentara sekali ia kelaparan.
Sore itu, seorang kurir penghantar berita datang membawa pesan dari pos yang ada di Lubuk Begalung. Dari pesan yang dibawa kurir itu, diberitakan bahwa Belanda masih sibuk berpatroli. Menangkapi setiap tokoh yang mereka anggap sebagai pemimpin pemberontakan. Bahkan Belanda tak segan melepaskan tembakan tanpa pandang bulu.
Pak Zain dan angku Munir selaku ketua rombongan, sepakat untuk menunda melanjutkan perjalanan. Mereka memutuskan untuk menunggu didalam hutan sampai kondisi agak kondusif.
Ida yang tadinya selalu menutup diri, lambat laun mulai bisa berbaur dengan yang lain. Bahkan Ida terkenal sebagai gadis yang ringan tangan membantu petugas dapur umum. Ia menjadi gadis favorit bu Saidah, karena kelihaiannya dalam memasak membuat masakan yang mereka masak terasa lebih nikmat.
Siang itu, pak Zain memanggil Ida. Menanyakan kesediaannya untuk menjadi kurir penghantar pesan yang baru, karena kurir yang lama sudah mulai dicurigai.
Rasyid yang mendengar permintaan pak Zain tampak gusar.
"Apakah tidak akan membahayakan pak? Ida belum begitu mengerti cara kerja kurir penghantar berita." Rasyid mencoba untuk membuat pak Zain mengurungkan niatnya.
"Tidak ada kandidat lain yang tepat selain Ida," tegas pak Zain.
"Penampilan Ida tidak begitu mencolok. Menurutku lebih pantas Ida menjadi pengganti kurir kita yang lama," lanjutnya.
"Kalau begitu, apakah aku boleh menemani nya?"
__ADS_1
"Tidak! Kau tak perlu gusar begitu, Ida perempuan pintar, ia pasti bisa jaga diri." Pak Zain melanjutkan pembicaraannya dengan Ida tanpa menghiraukan kegusaran Rasyid.
Sore setelah ashar, Ida bersama Amir dan Rasyid keluar dari hutan pinus melalui jalan yang berbeda dari jalur yang mereka lalui ketika masuk hutan. Jalur yang mereka lalui sekarang ternyata tidak perlu melewati hutan yang gelap seperti sebelumnya.
Cahaya matahari sore menembus daun-daun hutan yang mereka lalui tampak seperti garis cahaya di antara redupnya cahaya hutan sore itu. Gemerisik dedaunan yang ditiup angin sedikit menghilangkan senyap di antara mereka bertiga. Tak ada yang membuka suara, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Rasyid diam-diam memperhatikan Ida yang berjalan di depannya. Gadis itu didandani seperti penjual sayur lengkap dengan keranjang sayur besarnya, yang saat ini keranjang itu masih ada dalam gendongan Rasyid. Memang tak ada yang mencolok dari penampilan Ida, ia tampak seperti penjual sayur pada umumnya, namun pada kenyataannya Ida membawa pesan penting dari kelompoknya yang bertahan di hutan untuk pos pejuang yang ada di tempat lain.
Ida diberi instruksi untuk menyampaikan pesan itu kepada penjual kelapa yang berada di pasar, dan ia harus memastikan bahwa penjual kelapa itu adalah pembawa pesan berikutnya. Ida mengingat-ingat instruksi yang di berikan pak Zain agar pesan itu tidak jatuh kepada tangan yang salah.
Ketika sampai di ujung hutan, mereka bertiga harus berpisah, Ida harus meneruskan perjalanannya sendiri ke arah perkampungan dan dari sana ia harus meneruskan lagi perjalanan menggunakan pedati untuk bisa sampai ke pasar yang di maksud.
"Doe voorzichtig,"[2] ujar Rasyid ketika akan melepas Ida.
"Dank je," [3] Ida membalas dengan senyum.
Rasyid terpana. Untuk pertama kalinya ia melihat Ida tersenyum. Selama ini gadis itu selalu menunjukkan raut muka tidak suka bahkan terkesan dingin padanya. Ia juga takjub, ternyata gadis dengan dua lesung pipi yang menghiasi senyumnya itu juga mengerti bahasa Belanda.
Dalam diam, ia mengamati Ida yang berjalan makin menjauh.
"Sudahlah, jangan bersedih," hibur Amir ketika melihat raut muka Rasyid.
"Ah... Hahaha, aku hanya khawatir apakah nanti dia bisa menyampaikan pesan pada orang yang benar." Rasyid berusaha menutupi kegundahan hatinya.
"Dia gadis yang pintar, pasti bisa," hibur Amir.
Amir mengerti betul apa yang Rasyid rasakan. Temannya itu menaruh hati pada gadis berlesung pipi itu. Hanya saja Rasyid berusaha kuat untuk menutupi.
Setelah Ida sudah menghilang dari pandangan mereka, mereka pun bergegas kembali ke tempat persembunyian mereka.
_______________________________________
[1] STOVIA\=School tot Opleiding van Indische Artsen (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia)
__ADS_1
[2] Doe voorzichtig \= berhati-hatilah (bahasa Belanda)
[3] Dank je \= terima kasih.