MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 33


__ADS_3

Setelah melewati masa-masa berat awal kehamilan, Ida mulai terbiasa dengan segala perubahan yang ada pada tubuhnya. Siang itu, Ida mematut-matut diri di depan kaca sambil mengelus perutnya. Tujuh bulan sudah usia kandungannya. Perutnya sudah makin membesar. Sedikit rasa cemas juga mulai menjalar dalam hatinya mengingat proses persalinan nanti. Wajah yang tadinya cerah, berubah murung.


"Kau kenapa, Da? Baru saja aku melihat kau tersenyum, kenapa langsung berubah murung?" tanya Burhan.


"E-eh, Tuan dari kapan ada disana?" Ida balik bertanya sedikit malu karena suaminya melihat tingkahnya yang ganjil.


"Haha ... Sejak kau berputar-putar di depan kaca itu," gelak Burhan.


"Ah, Tuan membuatku malu saja," sungut Ida.


"Haha ... Tak ada maksud aku hendak membuatmu malu, Da. Aku hanya takut membuatmu terkejut." Burhan masih belum berhenti tertawa.


Ida membalas perkataan Burhan dengan menekuk wajahnya dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Sudah, jangan merajuk seperti itu. Aku hanya ingin memberitahumu, hari ahad pekan depan amak akan ke sini bersama beberapa keluarga dari kampung." Burhan ikut duduk di samping Ida.


"Oh, ada acara apa, Tuan? Apa yang harus aku persiapkan?"


"Bulan ini kan kandunganmu sudah Tujuh bulan, amak mau melaksanakan acara babatiah-batiah [1] untukmu."


"Aku harus mempersiapkan apa?" Ida mengulangi pertanyaannya.


"Kau tak perlu menyiapkan apa-apa, biar buk Isah saja yang menyiapkan. Oh iya, Da. Aku membelikan kau baju baru, kau cobalah." Burhan beranjak dari tempat tidur mengambil sebuah bungkusan dari atas lemari.


Ida membuka bungkusan yang diberikan Burhan, membentangkan baju pemberian Burhan. Sebuah baju kurung dan selendang dari kain sutera berwarna merah muda dengan sulaman kapalo samek [2] bermotif bunga. Kemudian Ida membentangkan kain sebagai bawahan bajunya yang terbuat dari tenunan berwarna merah hati.


Ida memeluk baju pemberian Burhan seperti mendapatkan benda yang sangat berharga. Baju yang terindah yang pernah ia miliki. Tanpa sadar ia menitikkan air mata.


"Da, kau kenapa? Ada yang salah dari pemberianku?" tanya Burhan dengan nada khawatir.


"Tidak, Tuan. Terima kasih hadiahnya. Aku sangat menyukainya, aku terlalu senang melihat baju ini. Apakah tidak terlalu bagus untukku?" sahut Ida dengan senyum terkembang dan air mata yang masih mengambang.


"Haha ... Aku pikir kau menangis karena aku membelikan baju yang tidak kau sukai," gelak Burhan dengan nada lega.


"Bukan, Tuan ... Bukan ... Aku amat sangat menyukainya," tangis Ida pecah. Entah kenapa rasa bahagia terlampau membuncah yang ia rasakan, membuatnya sesak.


"Maafkan aku, Da. Selama ini bukan tak mau membelikanmu baju, aku takut tak sesuai seleramu," ujar Burhan mengusap airmata Ida.


"Aku yang seharusnya meminta maaf pada Tuan. Selama ini aku bersikap tidak baik pada Tuan, tapi Tuan tidak menyerah dengan sikap kerasku," ucap Ida masih terisak.


"Sudah, tidak usah menangis lagi. Kau ingat kan pesan amak? Perempuan yang sedang mengandung tidak boleh menangis." Burhan kembali mengusap kedua mata istrinya, menyapu airmata yang menggantung disana.


Ida menangguk, menyunggingkan seulas senyum di bibirnya. Rasa hangat mulai menjalar dalam hatinya.


------------°°°°°°°--------------


Minggu pagi yang cerah di kota kecil yang terletak di kaki gunung Sago, kabut tipis masih menggantung di sela-sela pepohonan. Tetesan embun yang melekat di dedaunan terlihat berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi.


Di rumah yang tak jauh dari tepian sungai Batang Agam, Ida sudah mulai bersiap menyambut kedatangan mak Halimah, mertuanya. Pakaian yang diberikan oleh Burhan melekat Indah pada tubuhnya. Rambutnya yang digelung rapi, ditutupi selendang merah muda. Ida kembali mematut dirinya di depan kaca. Membetulkan letak selendang di kepalanya dan merapikan kembali kain yang ia pakai.


"Cantik sekali kau, Da," puji Burhan ketika ia masuk ke kamar.


"Tuan terlalu berlebihan," sahutnya dengan wajah merona.


"Aku tak mengada-ada, kau memang makin terlihat cantik memakai baju itu."


"Terima kasih, Tuan." Ida tersenyum, membuat lesung pipi di kedua belah pipinya terlihat, menambah pesonanya hari itu di mata Burhan.


Menjelang siang, tamu yang mereka tunggu pun datang.


"Assalamualaikum ...." terdengar suara mak Halimah di pintu depan.


"Ah, amak sudah datang," ujar Burhan.


Mereka bergegas menyambut kedatangan tamunya ke pintu depan. Rupanya buk Isah telah membukakan pintu untuk tamu mereka.


"Waalaikum salam, Mak," sahut Ida dan Burhan bersamaan, bergegas menyalami mak Halimah dan keluarganya yang lain.


"Aduh ... Tambah cantik saja kau, Da," puji Midah kakaknya Burhan.

__ADS_1


"Terima kasih Uni, bagaimana kabar Uni? Lama kita tak berjumpa."


"Alhamdulillah, kau terlihat sehat, Da. Senang hatiku melihat kau sekarang."


Ida terkesiap mendengar suara amai, ia tak menyadari kalau neneknya juga ikut serta bersama rombongan keluarga mertuanya.


"Amai ... Ida tidak menyangka Amai bisa turut datang ke sini. Alhamdulillah Amai juga terlihat sehat," ujar Ida menyalami amai dengan penuh hormat.


"Haha ... Amak sengaja tak memberi tahumu, kalau amak juga akan mengajak amai," gelak mak Halimah.


"Terima kasih, Mak," ucap Ida. Airmata dipelupuk matanya mulai mengambang.


"Ah, kenapa sekarang aku mudah sekali menangis," gerutu Ida dalam hati sambil menghapus airmatanya.


Ida kembali tersenyum menyambut para tamu yang datang. Hatinya benar-benar terasa hangat dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Rumah yang tadinya sepi, hari itu begitu ramai dengan gelak tawa dan aura kebahagiaan dari mereka yang memberikan doa buat si jabang bayi yang akan hadir.


"Nah, Da ... Sini kau duduk dekat amak," panggil mak Halimah.


Ida beringsut mendekati mertuanya. Duduk bersimpuh dengan susah payah di samping mertuanya yang memegang nampan berisi aneka makanan yang mereka bawa dari kampung.


"Nah, kau pilih lah. Hendak makan singgang ayam [3] bagian yang mana?" tanya mak Halimah.


Ida menunjuk bagian sayap dari singgang ayam yang ada di nampan. Dengan cekatan mak Halimah memotong bagian yang ditunjuk Ida. Meletakkannya pada piring yang sudah berisi nasi. Mak Halimah kemudian menyuapi Ida hati-hati.


"Semoga kau diberi Allah kelancaran sampai persalinan ya, Da. Diberkahi anak yang bisa menjadi penyejuk hati kalian dan kalian saling mengasihi sampai maut memisahkan," ujar mak Halimah penuh pengharapan.


Mereka yang hadir turut mengamini ucapan mak Halimah. Kebahagiaan yang Ida rasakan makin berlipat. Kehadiran keluarga mengubah suasana rumah yang biasa sepi menjadi ramai. Membuat rasa sepi yang selalu bersemayam di hati Ida mulai menepi.


"Sepertinya anakmu laki-laki ini, Da," ujar Midah ketika mendekati Ida yang asyik memperhatikan anak-anak Midah yang tengah bersenda gurau dengan Burhan.


"Oh ... Bagaimana Uni bisa tau?" tanya Ida menatap Midah dengan penuh minat.


"Dari bentuk perutmu, agak runcing. Hehe ...." kekeh Midah.


"Haha ... Begitukah tandanya, Ni?" tanya Ida masih penasaran.


"Konon katanya begitu. Sewaktu mengandung Fikar memang seperti ini," ujar Midah sambil mengelus perut iparnya.


"Kau dan Burhan berharap anak pertama ini laki-laki apa perempuan, Da?" lanjut Midah.


"Haha ... Tak terpikirkan juga, Uni," gelak Ida sedikit canggung.


"Aah, ya ... Yang penting bayi kalian terlahir sehat ya."


"Iya, Uni."


"Kau kelihatan sudah lelah, kalau kau mau istirahat, istirahat saja, tak perlu kau sungkan, Da. Ketika hamil itu mudah sekali merasa lelah, jangan sampai kau jadi sakit."


"Tidak lah, Uni. Aku tak begitu lelah. Aku hanya tidak terlalu biasa saja dengan keramaian," jawab Ida jujur.


"Haha ... Benar kata amai kau ya, Da. Kau memang tak pandai menghias kata," gelak Midah mendengar kejujuran iparnya.


"Hehe ... Amai cerita apa saja, Ni?" tanya Ida tersipu malu.


"Yaa ... Tentang sifatmu yang tak bisa berbasa-basi," sahut Midah dengan jujur.


Ida hanya tersenyum mendengar penuturan kakak iparnya. Hatinya sedikit tenang, setidaknya keluarga suaminya menerima keadaan dirinya.


"Uni, aku hendak ke tempat amai dulu ya." Ida pamit meninggalkan kakak iparnya.


"Iya, kau juga belum bertemu amai setelah pindah ke sini ya?"


"Iya Uni."


Ida meninggalkan ruang tengah menuju kamar mak Halimah, tempat amainya beristirahat. Dari semenjak amai datang, ia belum sempat berbicara banyak dengan amai karena meladeni pertanyaan-pertanyaan keluarga besar Burhan.


"Amai," sapa Ida ketika ia melongokkan kepalanya di pintu kamar.


"Ah, Ida ... Maaf amai tidak kuat duduk terlalu lama di depan," sahut amai.

__ADS_1


Ida mendekati amai yang bersandar di tempat tidur besi yang ada di kamar mak Halimah. Walaupun tubuh amai makin terlihat bungkuk, wajah amai tampak begitu cerah. Tak ada beban yang selama ini terlihat menggantung di mata teduhnya.


" Terima kasih sudah menengok Ida," ujar Ida sambil memijat kaki amai.


"Aku rindu kau, Da. Itu yang membuat aku kuat melakukan perjalanan ke sini." Amai tersenyum lembut memperhatikan wajah cucunya yang makin terlihat segar dari terakhir kali ia mengingatnya.


"Maafkan Ida tidak pernah mengunjungi Amai setelah pindah ke sini, Mai."


"Kau kan sedang berbadan dua, Da. Susah untuk ke kampung."


"Iya, Mai. Baru dua bulan ini badan Ida mulai terasa enakan. Tuan Burhan juga belum berani membawa Ida melakukan perjalanan jauh," tutur Ida.


"Alhamdulillah, aku senang melihat kau sekarang, Da. Wajahmu sudah terlihat berseri, tak seperti dulu seperti selalu ada awan hitam yang bergelayut di wajah itu." Amai menunjuk wajah Ida, kembali tersenyum memperhatikan wajah cucunya.


Mata kelabu di balik kelopak mata yang menyerupai tabir yang hampir menutup itu terlihat berkaca-kaca.


"Kenapa Amai menangis?" Ida mengusap tangan amai lembut.


"Aku bahagia, Da. Setidaknya kalau nanti aku mati, ruh ku bisa tenang." Amai mulai terisak.


"Amai jangan berkata begitu, Mai. Ida jadi sedih," tutur Ida juga ikut terisak.


"Kau kan yang pernah bilang, kalau kau harus menyiapkan hatimu melepas orang yang kau sayang pergi. Kau lupa apa yang sudah kau ucapkan, Da?"


"Iya, Mai," jawab Ida lirih sambil menyeka airmatanya.


-----------°°°°°°--------------


Keesokan paginya keluarga Burhan beserta amai dan Tini pamit kembali ke kampung. Rumah yang sempat ramai kembali sepi. Ida berasa berat melepas amai. Firasatnya mengatakan pertemuan itu adalah pertemuan terakhirnya dengan amai.


"Sudah ... kau tak boleh bersedih, Da. Nanti mempengaruhi kandunganmu," hibur amai.


"Iya Mai, Maafkan semua kesalahan Ida selama ini pada Amai. Maafkan Ida belum mampu membalas jasa Amai," isaknya.


"Melihat kau bahagia seperti ini aku sudah tenang, Da. Setelah nanti Tini menikah, sudah tak ada lagi yang aku inginkan dalam hidup ku."


"Terima kasih ya, Mai. Terima kasih sudah merawat Ida semenjak amak tak ada. Ida banyak berhutang budi pada Amai." Ida mengeratkan pelukannya pada tubuh Renta amai.


"Tak usah kau merasa berhutang budi padaku. Kau itu cucuku, darah daging ku, sudah kewajibanku merawatmu." Amai mengusap lembut punggung Ida.


"Uni, kami berangkat dulu. InsyaAllah nanti kalau Uni melahirkan, kami akan kesini lagi," potong Tini.


"Terima kasih ya, Tin." Ida melepas pelukannya pada amai.


"Kau masuklah, doakan saja perjalanan kami lancar. Aku doakan kau juga lancar hendaknya ketika melahirkan nanti," ujar amai.


"Iya, Mai."


Setelah semua anggota keluarga keluarganya pergi. Rasa sepi seketika menyergap Ida. Tak biasanya ia merasakan senyap dalam kesendiriannya. Namun kali ini, rasa sepi itu mulai menggerogoti hatinya.


-----------°°°°°°°--------------


Sebulan setelah kunjungan amai ke Payakumbuh, Ida mendapat pesan kawat dari Tini, bahwa amai telah menutup mata selamanya. Pergi dalam tidurnya, tersenyum meninggalkan dunia fana.


Firasat Ida terbukti, pelukannya dengan amai adalah kali terakhir ia memeluk tubuh perempuan yang telah berjasa besar dalam hidupnya. Ia hanya mampu menangisi kepergian amai di kamarnya seorang diri, Burhan tak mengizinkannya untuk ke kampung, karena kondisi perutnya yang sudah makin besar.


"*Amai, terima kasih untuk semua yang telah Amai berikan buat Ida. Maafkan Ida yang tak bisa mengantarkan Amai ke peristirahatan Amai yang terakhir.


Tuhan, berikanlah tempat yang terbaik buat nenekku. Berikanlah beliau singgasana di surga-Mu*," isak Ida dalam sujudnya.


Segala kenangan bersama amai, seolah diputar kembali. Ida makin terisak mengingat bagaimana keras sikapnya terhadap amai dulu. Namun, ia sadar tak ada gunanya menyesali segala hal yang telah terjadi di masa lampau. Setidaknya ia tau, amai telah mengakhiri tugasnya dengan bahagia. Tinggal ia yang harus melanjutkan hidup, menjalankan segala tugas yang disusun Tuhan untuknya.


Bersambung.....


[1] Babatiah-batiah \= acara tujuh bulanan ibu hamil. Pada acara ini, keluarga mertua istri akan membawa berbagai macam panganan khas daerah seperti tujuh macam lepat, buah-buahan, lauk yang sudah matang, nasi dan yang. Untuk lauk, biasanya yang di bawa singgang ayam (ayam bakar).


Pada Prosesi babatiah-batiah ini, mertua akan menyuruh menantu perempuannya memilih bagian ayam yang disinggang untuk dimakan oleh menantunya. Setelah menantu memilih bagian ayam yang akan dimakan, mertua perempuan akan menyuapkan menantunya yang sedang hamil.


Ada hal yang dipercayai pada saat Prosesi mambatiah-batiah, jika ibu hamil memilih bagian sayap ayam nantinya anak yang dikandungnya akan tebang jauh merantau meninggalkan kampung halaman. Jika ibu hamil memilih bagian kepala dan kaki, pertanda anak yang dikandung akan kuat mencari nafkah.

__ADS_1


[2] Sulaman kapalo samek \= jenis sulaman dengan menggunakan tekhnik membentuk sulaman dari benang yang dililitkan pada ujung jarum sehingga ketika ditarik, akan membentuk buhulan menyerupai kepala peniti (samek).


[3] Singgang Ayam \= ayam yang di bakar setelah di rebus dengan rempah-rempah.


__ADS_2