MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 13


__ADS_3

"Kenapa Da?" tanya Maryam ketika melihat Ida tergesa-gesa menarik seng yang dipakai sebagai alas tungku.


Ida hanya memberikan isyarat dengan telunjuknya menutupi bibir.


Dengan sigap Ida meletakkan semua dokumen-dokumen yang ada di tangannya ke bawah seng, menutupi kembali dengan kayu bekas memasak yang masih tersisa di dalam tungku.


Setelah selesai menyembunyikan semua dokumen itu, Ida mengintip di antara pintu surau, memperhatikan pria yang tadi menyapanya.


Pria itu bangkit dari duduknya, berjalan ke arah persawahan, mengambil sesuatu dari sawah yang sudah dipanen. Tak lama, pria yang berdiri membelakangi surau itu mengibarkan bendera merah-putih-biru, bendera kebangsaan Belanda. Ida sudah paham, pria itu adalah mata-mata. Sekarang pria itu memberi tanda untuk menyerang surau.


Ida berbalik ke tempat petugas dapur umum, mangajak mereka menyelamatkan diri ke bawah tangga surau yang terbuat dari tembok. Menunggu. Sampai akhirnya bunyi dengungan mesin pesawat mulai terdengar membelah langit di siang terik itu.


Seperti yang sudah Ida perkirakan, surau itu diserang dari udara. Seolah dipaksa mengingat kembali kejadian di surau Banda Buek, Ida berusaha menenangkan diri. Dua orang gadis petugas dapur umum yang membantu Ida dan Maryam yang usianya masih belasan tahun itu menangis sesegukan dalam pelukan Ida. Beruntung atap surau yang terdiri dari tiga tingkat, jadi tidak ada satu pun peluru yang menembus masuk ke dalam surau. Ida hanya berharap, Belanda tidak menggunakan bom untuk menghancurkan surau. Jika itu terjadi, habislah mereka yang ada di dalam.


Tak berapa lama, Ida mendengar dengungan pesawat menjauh, diiringi bunyi tembakan senapan. Lalu hening. Kemudian pintu surau terbuka. Dua orang gadis yang ada di pelukannya meringis. Ida membekap mulut kedua gadis itu agar suaranya tidak terdengar oleh siapa pun yang membuka pintu surau.


Lalu, "Ida, Maryam,... Kalian ada di dalam?"


Ida mengenali suara pria yang memanggilnya. Suara pak Anas, pimpinan mereka di posko tersebut.


"Iya pak, kami di bawah sini," sahut Ida keluar dari bawah tangga.


"Alhamdulillah kalian selamat. Maafkan kami lalai menjaga pos ini," ujar pak Anas dengan penuh penyesalan.


"Kami terlalu yakin tempat ini sangat aman, jadi penjagaan di garis depan tidak seketat biasa," lanjut pak Anas.


"Sekarang kita bagaimana Pak? Apakah kita harus pindah dari tempat ini?" tanya Maryam.


"Tidak perlu, justru kalau kita pindah lebih beresiko."


"Kalian tetap disini saja, mulai hari ini saya akan meminta markas untuk menambah personil untuk berjaga di sekitar sini," lanjut pak Anas.


Sesuai janji, pak Anas keesokan hari nya menambah penjagaan di tempat Ida berada. Di pos tersebut Ida tidak terlalu banyak mengurus korban yang terluka, karena seperti yang pak Anas katakan, tempat itu memang merupakan pos paling aman. Mereka dengan mudah memantau pergerakan yang mencurigakan karena lokasi surau yang terletak di tengah area persawahan itu.


Selama di pos jika tidak sedang bertugas, Ida dan Maryam mengajarkan Ani dan Niar membaca karena dua gadis itu benar-benar buta huruf. Ida yang sempat mengenyam pendidikan sampai tingkat MULO* membagi ilmu yang ia dapat kepada kedua gadis itu.


"Uni, orangtua Uni dulu jabatannya apa?" tanya Niar.


"Tidak ada, mereka hanya petani."


"Lalu kenapa Uni bisa sekolah?" tanya mereka penasaran.


Karena suatu hal yang mustahil pribumi apalagi anak seorang petani bisa bersekolah sampai tingkat MULO. Hanya orang yang mempunyai jabatan penting yang bisa menyekolahkan anaknya saat itu.


"Karena aku dulu sempat diasuh oleh keluarga Cina, merekalah yang menyekolahkanku," kenang Ida.

__ADS_1


"Wah beruntung sekali Uni," ujar mereka takjub.


"Ahaha ... Ya, kalau sekarang aku ingat-ingat, cukup beruntung juga aku ya," gelak Ida.


"Padahal dulu aku merasa seperti anak yang dibuang, diserahkan ke keluarga Cina," lanjutnya.


"Lalu kemana keluarga angkat Uni sekarang?" selidik Niar.


"Ketika aku berumur lima belas tahun, rumah mereka kebakaran. Tidak ada yang selamat kecuali aku, aku kembali ke keluarga kandungku."


"Hei, kalian kapan mau belajarnya. Malah bercerita terus," tukas Maryam.


"Iya Uni." Niar melanjutkan pelajaran membacanya dengan Ida, gadis itu tidak pernah berani menyanggah perintah Maryam.


-----°°°°°°------


Sore hari di pertengahan Juni, udara kala itu sudah mulai dingin. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu panas, langit sore itu mendung. Ida dan kawan-kawan bercengkrama di pinggir kolam.


"Eh Uni, ikan Gurame nya sudah besar-besar sekali ya. Ayo kita tangkap," ajak Ani.


"Nanti malam saja, kalau malam ikan tidur, jadi mudah menangkapnya," terang Ida.


"Ah benar kah?"


"Ya. ... Kalau begitu, kita siap kan bumbunya dari sekarang saja. Nanti malam sekalian kita bakar," ajak Ida.


Setelah shalat isya, Ida turun ke kolam. Airnya yang dingin menusuk tulang membuat Ida hampir mengurungkan niatnya. Tetapi mengingat kelezatan ikan Gurame bakar, ia meneruskan niatnya menangkap ikan yang tak bergeming di sudut-sudut kolam.


Selesai menangkap dua ekor ikan Gurame yang cukup besar, Ida masuk ke surau mengganti pakaiannya yang basah. Setelah selesai mengeringkan tubuhnya, Ida berniat hendak menyusui tiga orang temannya yang sudah terlebih dahulu memulai membakar ikan hasil tangkapannya.


Namun tiba-tiba badannya terasa di tusuk-tusuk ribuan jarum. Rasa dingin menjalar di sekujur tubuh membuat ia yak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Ida jatuh terjerembab di lantai surau yang terbuat dari kayu, menyebabkan bunyi gaduh.


Maryam berlari ke dalam surau, mendapati Ida tergeletak di lantai atas tangga surau dengan badan yang menggigil. Maryam memanggil Niar dan Ani untuk membantu mengangkat Ida ke ruangan tempat mereka beristirahat.


Suhu tubuh Ida panas, ia mengalami demam tinggi. Maryam yang tak tega melihat sahabatnya menggigil seperti itu, mencoba untuk menutupi badan Ida dengan beberapa helai selimut. Namun Ida masih tetap menggigil hebat.


"Uni, kita batalkan saja bakar ikannya ya," ujar Ani muncul di ambang pintu.


"Tidak usah, kalian bakar saja ikannya. Sayang sudah dibersihkan. Kalau sudah dibakar masih bisa dimakan besok," tukas Maryam.


"Tapi, uni Ida tidak apa-apa?" tanya gadis itu dengan raut muka yang cemas.


"Biar aku yang mengurus Ida, kalian lanjutkan saja bakar ikannya ya."


"Baiklah Uni, kami tinggal ya." Niar dan Ani meninggalkan tempat itu. Melanjutkan membakar ikan.

__ADS_1


Keesokan paginya, ketika matahari mulai meninggi , cahayanya yang hangat masuk melalui jendela yang sudah dibuka. Ida terbangun, ia melihat Maryam tidur di sampingnya. Ketika ia mencoba untuk bangun dari tidurnya, badannya tidak bisa digerakkan. Ternyata ada tali yang mengikat di sekeliling tubuhnya.


"Yam, bangun Yam."


"Kau sudah bangun Da?" Maryam tersentak dari tidurnya.


"Kenapa aku diikat begini Yam?" tanyanya keheranan.


"Semalam kau menggigil hebat, setiap kali aku selimuti, selimutnya lepas terus. Jadi biar tidak lepas lagi, aku ikat," terang Maryam dengan muka bersalah.


"Kau tidak tidur semalaman ya?" tanya Ida ketika melihat wajah kusut Maryam.


"Aku khawatir Da, kau panas tinggi dan mengigau."


"Maafkan aku ya Yam, aku jadi merepotkanmu," tukas Ida.


"Tidak apa-apa Da. Bukan salahmu , kami merasa bersalah karena kami yang membuatmu berendam malam-malam. Lalu ikannya juga kau tidak kebagian. Tadi pagi ikan bakarnya disantap habis oleh laskar yang baru selesai berjaga semalam." Maryam menyampaikan rasa penyesalannya.


"Bukan rezeki aku. Lalu sampai kapan aku harus diikat seperti ini?" gelak Ida.


"Ah ... Hahaha maaf, Da." Maryam dengan cekatan membuka tali yang ia ikatkan ke tubuh Ida.


"Uni Yam, sudah turun panas ni Ida?" Niar datang dengan membawa dua mangkuk bubur hangat di tangannya.


Maryam meraba kerning Ida.


"Sepertinya sudah. Tidak panas seperti semalam," ujarnya.


"Ini aku bawakan bubur Cido."** Niar meletakkan dua mangkuk bubur yang ia bawa di hadapan Maryam dan Ida.


"Kau dapat pisang dari mana?" tanya Maryam keheranan.


"Ungku Jorong yang mengantarkan tadi pagi, jadi aku olah saja. Karena ikan bakar yang semalam sudah tak bersisa," terang Niar.


"Wah! Pintarnya kau, Niar," puji Ida.


"Hahaha. Cuma itu saja Uni. Nah Uni makan lah, aku akan membantu Ani menyiapkan untuk ransum nanti siang." Niar meninggalkan Ida dan Maryam.


"Terima kasih ya, Dik," ucap Ida terharu dengan perhatian yang diberikan Niar padanya.


"Sama-sama Uni. Oh iya Uni, tadi aku sudah kasih tau ungku Jorong kalau uni sakit. Ungku Jorong bilang, nanti siang dia akan membawa mantri ke sini untuk memeriksa Uni," lapor Niar.


"Aduh jadi merepotkan semua aku ya," tukas Ida dengan nada bersalah.


"Tidaklah Ni, namanya manusia pasti akan ada sakitnya. Nah, Uni lanjutkan lah makan. Aku ke dapur dulu," ujar Niar undur diri.

__ADS_1


* MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) \= sekolah pada zaman Belanda yang setara dengan sekolah tingkat pertama.


** Bubur Cido \= bubur yang terbuat dari campuran pisang dan beberapa rempah. Biasa diperuntukkan bagi yang sakit atau dalam masa pemulihan.


__ADS_2