
Matahari hampir turun dari peraduannya ketika bus Sibualbuali yang Ida tumpangi berhenti di teminal Pematang Siantar. Hampir seluruh penumpang bus yang duduk di bangku bagian depan telah turun, hanya Ida, anak-anaknya serta beberapa penumpang yang ada di bangku barisan tengah yang masih tersisa di dalam bus. Suara penumpang yang meminta kernet menurunkan barang bawaan mereka dari atas atap bus dan suasana terminal yang riuh, membuat Laili dan Fatimah terbangun.
"Kita sudah sampai, Mak?" tanya Fatimah sambil mengucek mata.
"Sudah, ayo kita turun."
Laili menggandeng tangan Fatimah turun dari bus.
Udara sore Pematang Siantar yang sejuk menyapu kulit Ida. Menghilangkan segala gerah akibat terkurung di dalam badan bus.
"Kalian tunggu di sini dulu, ya. Amak ambil barang kita." Ida menuntun anak-anaknya ke sebuah bangku yang tak jauh dari tempat bus berhenti.
"Kalian jangan kemana-mana," pesan Ida.
"Iya, Mak," sahut Laili mengeratkan pegangannya pada Fatimah.
"Bentor, Kak?" tanya seorang pemuda tanggung pada Ida yang baru saja mengambil barang bawaannya dari tangan kernet bus.
Ida hanya membalas dengan tersenyum dan menggeleng.
"Bang, bentor itu apa?" tanya Ida setengah berbisik pada kernet bus ketika pemuda yang menawarkan bentor berlalu.
"Becak Motor. Kakak ada yang jemput? Kalau tidak pakai bentor saja," sahut kernet dengan logat khas Sumatera utara.
"Ooh ... Biasanya paling mahal berapa?"
"Kakak mau kemana?"
"Aku mau ke Tanah Jawa, jauh tidak?"
"Tidak begitu jauh."
"Apa bisa berjalan kaki?"
"Tidak, kakak naik saja bentor itu. Paling mahal juga sepuluh rupiah kesana."
"Terima kasih, ya." Ida bergegas kembali ke tempat Laili dan Fatimah menunggu.
Tangan kirinya menahan tubuh Salma yang ada di gendongannya, sementara tangan kanannya menjinjing tas besar berisi pakaian mereka.
"Li, kau pegangi tangan Fatimah ya, amak susah menggandeng tangan kalian."
Baru saja mereka hendak beranjak dari tempat Laili dan Fatimah tadi menunggu, seorang pria paruh baya mendekati mereka, "kak, mau pakai bentor?" tanyanya menawarkan jasa.
"Ke Tanah Jawa berapa?" tanya Ida.
"Lima belas."
"Ah, mahal kali. Tak jadilah," sahut Ida menirukan logat penduduk setempat.
"Ya sudah, sepuluh. Kalau mau ayo, kalau tidak kau jalan saja lah," gerutu pria itu.
Setelah menyetujui harga sewa, mereka di antar ke alamat yang Ida berikan pada pengemudi bentor. Sinar matahari mulai meredup tatkala mereka sampai di sebuah rumah yang cukup asri. Halaman rumah seluas seratus meter bercat putih itu dipenuhi tanaman hias yang terawat dengan baik. Jalan setapak menuju teras rumah ditutupi batu kerikil kecil, kiri kanan jalan tertutup rumput halus. Pagar yang mengelilingi rumah dilapisi tanaman yang terpangkas rapi. Bagian pintu pagar terbuat dari besi tempa dicat berwarna putih, serasi dengan warna tembok rumah.
__ADS_1
Ragu-ragu, Ida meriksa alamat yang tertera pada kertas di tangannya. Ia tak salah alamat.
"Assalamualaikum ...." Ida akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu pagar dengan gembok yang menggantung disana.
Setelah salam ketiga, pintu rumah terbuka. Seorang gadis belia keluar, "oh, Kak Ida sudah sampai," sapa gadis yang baru saja membuka pintu. Erna putri bungsu mak eteknya bergegas membukakan pagar.
Setelah berasa-basi singkat, Ida dan anak-anaknya diantarkan ke sebuah kamar yang tampaknya sudah disiapkan untuk Ida. Kamar berukuran dua kali dua meter itu tak mempunyai perabot. Hanya sebuah kasur lebar dibentangkan di atas lantai yang beralaskan tikar.
Ida beranjak ke dapur membantu tek Risma, istri mak eteknya, setelah selesai membersihkan diri. Anak-anak ia biarkan beristirahat di kamar. Sebetulnya ia juga masih lelah, tapi perasaan tak enak hati membuatnya mengenyampingkan penatnya.
"Mau berapa lama kau di sini, Da?" tanya tek Risma ketika Ida tengah membantu menyiapkan makan malam.
Ida tercenung. Tak pernah terpikirkan olehnya ketika berangkat ke rumah mamaknya akan ditanyakan hal serupa itu. Seberapapun tak pekanya, ia tau kalau pertanyaan yang di ajukan tek Risma sebagai tanda bahwa eteknya keberatan jika ia menumpang lebih lama di rumah mereka.
"Kalau Etek izinkan, sampai Ida dapat rumah sewa yang sesuai kemampuan Ida, Tek," sahutnya pelan.
"Tak perlu cari rumah yang bagus-bagus, yang penting kau dan anak-anak bisa tidur nyaman."
"Iya, Tek."
Pikiran Ida berkecamuk, uang yang tersisa tak banyak, uangnya sudah habis untuk biaya keberangkatan mereka ke Pematang Siantar. Ia merutuki diri, bisa-biasanya ia tak memikirkan hal itu sebelum berangkat.
"Kau bisa baca tulis kan, Da?" tanya mak etek setelah selesai makan.
"Bisa, Mak."
"Berarti Ida bisa menggantikan si Anju, Ma," ujar mak etek pada tek Risma.
"Tentu saja Ida tidak keberatan, Mak."
Secercah harapan sedikit menyalandinhati Ida. Setidaknya ia bisa mendapatkan uang dari bekerja di tempat mamaknya.
***
Keesokan harinya, Ida ikut mak etek ke gudang tempat mak eteknya mengumpulkan hasil bumi yang dijual petani untuk dijual kembali oleh mak eteknya kepada penjual sayur di pasar.
"Li, amak mau ikut Inyiak ke pasar. Kau tolong jaga adik-adikmu, ya. Kalau bisa, kau bantu juga nek Risma," pesan Ida pada Laili ketika hendak meninggalkan mereka.
"Amak lama tidak?" tanya Fatimah.
"Amak kurang tau, kau jangan nakal di rumah, ya."
"Mak, di dekat sini kira-kira harga sewa rumah mahal tidak?" tanya Ida pada mak etek tatkala mereka di perjalanan.
"Untuk apa kau menanyakan itu, Da?" Mak eteknya balik bertanya.
"Aku berpikir untuk langsung mencari rumah saja, takut anak-anak merepotkan di rumah Mak Etek," sahutnya.
"Kau kan baru sampai, belum mengerti juga kondisi daerah sini. Kenapa tidak di rumah ku saja dulu."
"Ida hanya tak enak hati menumpang beramai-ramai begini, Mak. Lagipula biar Ida belajar mandiri juga," ujar Ida mengemukakan alasannya.
"Ya, nanti kita tanya sama anak gudang," sahut mak etek kemudian.
__ADS_1
Ida berdoa dalam hati, agar uang yang tersisa cukup untuk membayar sewa tempat tinggal yang layak bagi anak-anaknya.
***
Ida mendapatkan tempat tinggal setelah dua hari berada di Pematang Siantar. Sebuah petakan yang terletak di pinggiran tak jauh dari lokasi pemakaman Tionghoa. Mereka memulai hidup baru di tempat yang jauh dari layak, namun Ida tetap berbesar hati. Setidaknya dengan berada tempat baru, ia bisa sejenak melupakan semua kenangan tentang Burhan yang masih saja membuatnya sesak.
Laili dan Fatimah sudah mulai bersekolah di sekolah setempat yang tak jauh dari rumah. Mereka setiap hari bisa berjalan kaki dari rumah ke sekolah karena jaraknya tidak begitu jauh. Beruntung anak-anaknya sudah mulai mandiri, sehingga Ida bisa memusatkan perhatiannya pada pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Anak-anaknya juga tidak terlalu sulit beradaptasi dengan tetangga mereka yang kebanyakan juga perantau, yang berasal dari Jawa. Sementara Salma yang masih berumur empat tahun lebih sering diajak Ida ke gudang ketika ia bekerja.
Penghasilannya bekerja di tempat mamaknya hanya cukup untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, sehingga Ida tetap harus mencari tambahan lain selain dari penghasilan dari bekerja di gudang untuk membayar keperluan sekolah anak-anaknya serta uang sewa tempat tinggal. Setiap hari, sebelum berangkat bekerja, Ida membuat ketan dan goreng pisang untuk dijual Laili dan Fatimah berkeliling sebelum mereka berangkat sekolah.
"Mak, besok ada yang minta dibawakan lupis, amak bisa buat?" tanya Laili suatu hari ketika mereka selesai makan malam.
"Ya, nanti amak ke pasar membeli bahan-bahannya."
Setiap hari Ida seolah tak mengenal lelah, tak menghiraukan rasa letih yang kerap menghampiri, agar bisa memenuhi segala kebutuhan anak-anak. Pulang dari pasar, Ida hanya beristirahat beberapa jam, lalu ketika kebanyakan orang masih tertidur lelap, Ida mulai berkutat lagi di dapur mempersiapkan dagangannya.
Suatu hari, ketika Ida baru pulang, ia mendapati anak-anaknya tengah asyik menikmati makanan yang terbilang mewah bagi mereka.
"Siapa yang memberikan makanan itu, Li?" tanyanya heran. Tak mungkin tetangganya yang memberikan, karena hidup tetangganya juga tak jauh beda dengan kondisi hidup Ida.
"Tadi aku dan teman-teman ambil di makam mak," sahut Laili dengan wajah sumringah.
"Makam?"
"Iya, tadi banyak makanan di makam, jadi kami ambil. Sayang tidak dimakan."
"Ya Allah, Laili ... Sama saja kau mencuri. Makanan itu bukan diperuntukkan untukmu," ujar Ida dengan nada gusar.
"Tapi kan mubazir Mak, makanan itu tidak dimakan." Laili membela diri.
"Ima, Salma sudah kalian jangan makan makanan itu lagi!" Ida menarik jeruk yang sedang dipegang Salma dan Fatimah.
Salma menangis, Fatimah merenggut dan Laili hanya diam di pojokan rumah tatkala Ida memasukkan sisa makanan yang masih banyak ke dalam kantong plastik.
" Kalian tau tidak, makanan ini untuk orang yang meninggal, kalian tidak boleh makan," terang Ida.
"Tapi kan orang meninggal tidak bisa makan lagi, Mak," sengit Laili.
"Tapi kau minta tidak sama orang yang meletakkan di makam?"
"Tidak, Mak," sahut Laili menunduk.
"Sama saja kau mencuri kalau kau mengambil tanpa izin."
"Iya, Mak."
"Besok-besok jangan kalian ulangi ya. Kita tak akan mati jika tidak makan sehari, tapi sekali saja kalian makan yang bukan hak kalian, hidup kalian tidak akan berkah."
"Tapi kenapa orang malah membuang-buang makanan seperti itu Mak, kan mubazir," kata Fatimah.
"Menurut kepercayaan mereka, mereka memberi makan keluarga mereka yang sudah meninggal, makanya kalian tidak boleh ambil," terang Ida.
Ida memang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tidak memakan apa yang bukan hak mereka. Ia tidak mau kesengsaraan yang mereka alami membuat anak-anaknya menghalalkan apa saja untuk mengisi perut mereka.
__ADS_1