
Seminggu sudah Ida berada di rumah. Kesehatan amai makin membaik, raut muka amai pun sudah semakin segar. Ida merasakan perubahan sikap amai terhadapnya. Tidak lagi keras seperti biasa.
Mak Dang juga sudah kembali ke Padang, melanjutkan perjuangan untuk mempertahankan kota Padang dan sekitarnya dari penguasaan Belanda.
"Mai, Ida boleh ikut jadi relawan lagi? Ida dengar petugas medis makin berkurang," tanya Ida suatu siang ketika memijit kaki amai.
"Kau tidak betah di rumah Da?"
"Bukannya tidak betah Mai, Ida kepikiran korban yang tidak terurus. Terakhir mau pulang saja, teman Ida meninggal terkena granat." Air mata Ida mulai merebak, teringat perpisahannya dengan Maryam.
Ia tak tau bagaimana kabar jenazah Maryam setelah peristiwa penyerangan itu. Apakah ada yang menyelenggarakan pemakaman yang layak untuknya atau jenazahnya bernasib sama dengan korban penyerangan di Banda Buek dulu. Baru bisa dikebumikan setelah beberapa hari, dengan kondisi jenazah sudah mulai mengurai.
"Kenapa kau Da?" tanya amai heran melihat wajah Ida yang murung dengan air mata yang menggantung.
"Ida hanya ingat teman Ida yang meninggal itu Mai, tak sempat mengurus jasadnya, padahal dia yang selalu membantu Ida," terang Ida.
"Boleh ya Mai? Ida kembali jadi petugas PMI?" Ida kembali mencoba memberanikan diri meminta izin amai.
Amai hanya diam memandangi Ida.
"Rasanya tak tenang hati Ida duduk tenang seperti ini, sementara di luar sana banyak yang bertaruh nyawa, Mai," lanjut Ida.
"Kita tunggu mamak kau pulang ya Da, kalau memperturutkan hati, aku tidak ingin kau pergi lagi Da," ujar amai kemudian.
"Kalau menunggu Mak Dang pulang, tidak pasti kapan Mai. Kondisi di jalan tidak menentu." Ida masih saja membujuk amai untuk memberi izin.
"Kau memang keras kepala ya, Da," kekeh amai.
"Untuk yang diyakini baik tidak apa-apa kan Mai." Ida tersenyum penuh harap.
"Aku hanya belum siap kehilangan kau Da. Tujuh bulan kau pergi tanpa kabar, susah hatiku setiap hari menunggu kabar kau, Da."
__ADS_1
"Selama tujuh bulan ini Ida belajar untuk sewaktu-waktu harus siap kehilangan orang-orang yang kita sayang Mai. Makanya Ida ingin memberi manfaat buat orang banyak ketika nyawa Ida masih ada."
Amai menarik nafas panjang. Memandang Ida dengan matanya yang sendu. Gurat khawatir tergambar jelas di wajahnya yang sudah keriput.
"Kalau kau pergi, kau hendak pergi dengan siapa?" tanya amai kemudian.
" Aku minta antar pak Angah saja, aku nanti ke Birugo. Karena menurut kawan aku, di Birugo kekurangan tenaga medis." Ida seketika seperti mendapat harapan dari amai.
Keinginannya untuk menjadi relawan kali ini bukan karena ingin melarikan diri dari rumah, akan tetapi ia merasa tenaganya memang dibutuhkan orang lain. Jiwanya merasa tidak tenang, ketika ia tau tak jauh dari rumahnya yang damai, para laskar dan Tentara bertaruh nyawa untuk mengusir Belanda dari negerinya.
Akhirnya dengan berat hati amai melepas Ida kembali menjadi relawan. Melaksanakan panggilan jiwanya.
"Jika keadaan di Bukittinggi aman kau pulanglah sesekali. Sudahlah aku harus melepas anakku, aku harus melepaskan cucuku pula." Suara amai seolah menahan rasa sedih, namun tak beliau tampakkan.
"Iya Mai, Ida mohon doa. Semoga Ida selalu dilindungi Allah selama bertugas ya," ucap Ida lirih.
"Aku titip amak lagi ya Tini. Maaf jika selama ini aku selalu menyusahkan kalian," ujar Ida kepada adik perempuannya.
Kali ini Ida berangkat dilepas oleh keluarganya. Ada rasa haru yang membuat air matanya tak mampu ia tahan. Tujuh bulan lalu ia tak begitu peduli bagaimana perasaan keluarganya ketika ia pergi. Namun, kepergian kali ini sedikit terasa berat.
Bendi pak angah mulai menjauh, namun amai dan Tini masih tak bergeming dari tempat mereka melepas Ida pergi. Ia mencoba menyimpan dalam memorinya setiap inci tanah kelahirannya itu. Rumah tempat ia bernaung mulai menghilang ketika bendi berbelok. Rumah-rumah yang berjejer mulai diganti kan pemandangan petakan sawah yang menghijau.
--------°°°°°°°-------
Hampir setaun sudah Ida kembali menjadi petugas PMI. Hari itu Ida mendapat kabar dari beberapa petugas lain, bahwa presiden Soekarno akan berkunjung ke Bukittinggi. Ada rasa gembira yang mereka rasakan mengingat kota yang saat itu menjadi ibukota negara akan dikunjungi oleh presiden dari Jakarta.
Berbagai persiapan dilakukan oleh pihak terkait. Kabarnya angkatan udara telah bersiaga di lapangan udara Gadut untuk menyambut pendaratan pesawat presiden.
Para pelajar dan masyarakat mulai berkumpul dengan suka cita di jalanan untuk menyambut presiden pertama itu. Namun, yang mereka nanti tak kunjungi datang.
Ida yang kala itu masih menunggu di area jam gadang bersama teman sesama relawan menunggu dengan harap-harap cemas. Beberapa orang ada yang sudah pergi meninggalkan area jam gadang. Namun, Ida dan rekannya masih bertahan di sana untuk menunggu.
__ADS_1
"Pak Soekarno jadi datang tidak ya," tanya Yani rekan sesama relawan Ida.
"Entahlah Yan. Sudah mau magrib, tapi tak ada tanda-tanda kedatangan beliau," ujar Ida. Ia pun berharap bisa melihat langsung bapak Proklamator itu.
"Kita pulang saja yuk, Da. Sudah mulai dingin," ajak Yani mendekap tubuhnya dengan kedua tangan.
"Ayo, aku juga tidak mau sampai malam menunggu di sini," ajak Ida.
Kota Bukittinggi mulai diselimuti warna jingga. Mereka turun dari arah jam gadang menuju Birugo, markas mereka.
Pukul delapan malam, terdengar suara pesawat mengitari kota Bukittinggi.
" Itu pesawat presidennya mungkin ya Da," ujar Yani ketika mereka selesai merapikan ruangan tempat mereka makan.
"Mungkin," balas Ida. Namun hati kecilnya was-was, bagaimana kalau itu bukan pesawat presiden, melainkan pesawat Belanda yang hendak menyerang. Karena dari kabar yang Ida dengar, Belanda masih saja ingin menduduki kota Bukittinggi.
Setelah mengitari kota Bukittinggi beberapa kali, pesawat itu hilang begitu saja. Tak ada lagi suara pesawat yang terdengar. Perasaan was-was makin menguasai pikiran Ida.
Rasa was-was Ida akhirnya terjawab, keesokan harinya, pesawat Belanda melancarkan serangan di kota Bukittinggi. Semua bangunan ditembaki. Belanda juga menyebarkan selebaran yang menyatakan bahwa Belanda tidak lagi tunduk dengan perjanjian Renville.
Ida yang kala itu sedang berada di Kantor Kawat, di Birugo dikejutkan oleh sebuah bom yang jatuh tak jauh dari Kantor itu didirikan, bom itu mengenai sebuah rumah. Untungnya bom itu tidak meledak.
Berusaha untuk menguatkan diri, Ida berlari menjauhi lokasi yang menjadi serangan Belanda. Ia berlari menjauhi bangunan yang ada di Birugo, karena sepanjang pengetahuannya biasanya yang menjadi sasaran Belanda adalah bangunan yang di anggap sebagai tempat para laskar bermarkas.
Rasa panik membuat Ida tak begitu memperhatikan kemana langkah ia belari. Ia baru menyadari ketika kakinya sudah menjejak di sungai yang membelah Ngarai Sianok. Tebing cadas ngarai Sianok tampak begitu gagahnya memagari sungai.
Ida terduduk lemas, suara tembakan bom yang diluncurkan pesawat Belanda masih saja terdengar. Ida menangis sendirian, meringkuk di pinggir sungai. Ia ingin kembali ke markas, mencari rekannya yang lain, namun rasa takutnya mendorong untuk berlari menjauh dari markas.
"Ida??"
Ida terkejut, ketika sebuah tangan menarik bahunya.
__ADS_1