MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 56


__ADS_3

"Jadi ... kau selama ini kemana saja, Da?" tanya Midah setelah meredakan segala kegaduhan saat ia kembali.


Suasana rumah terasa hening. Anak-anak diminta Midah untuk beristirahat di kamar agar tak perlu terlibat dengan masalah orangtua mereka, sementara Ana ia biarkan pulang agar tak memperkeruh suasana. Suara Midah terasa dingin menusuk, "Kau menghilang kemana, Da? Setahun setelah dari Kuantan kau tak ada kabar. Ku susul kau ke kampung, nyatanya rumahmu di kampung telah kosong. Tak ada yang tau kau kemana ...."


Tatapan Midah seolah menguliti Ida.


"Aku ke Siantar Uni ... Ikut sama mak etek. Maaf aku benar-benar lupa untuk mengabari Uni," sahut Ida ciut. Perasaan bersalah mulai menjalarinya.


"Mak etek mana yang kau maksud? Aku sudah mencari ke rumah mak etek-mu di Siantar, tapi tek Risma, istri mak etek-mu bilang, kau sudah tidak di sana lagi. Lalu kau kemana?" Kali ini Burhan yang bertanya dengan nada yang menyelidik.


"Aku masih di Siantar setelah tak bekerja lagi dengan mak etek ...." Lalu Ida menceritakan segala perasaiannya di Siantar pada Midah dan Burhan.


"Aku dulu kan sudah bilang padamu, Da. Kalau kau kesusahan, datanglah ke tempatku. Anak-anakmu itu masih darah dagingku," ujar Midah tercekat.


Burhan hanya diam. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang ia duduki, menengadahkan wajahnya, memijat-mijat kening sambil memicing seolah menahan diri untuk tak mengeluarkan airmatanya.


"Aku tidak enak hati harus menyusahkan Uni, aku pikir di Siantar aku benar-benar bisa hidup mandiri. Ternyata aku salah," sahut Ida.


Ida menatap Midah dan Burhan bergantian, wajah Burhan tampak begitu terluka. Ida benar-benar seperti berhadapan dengan orang asing. Burhan yang ada di hadapannya tak seperti pria yang selama ini lekat dalam ingatannya. Burhan yang ia kenal selama ini adalah pria yang selalu penuh semangat dan kehangatan, bukan seperti yang ada di hadapannya saat ini.


Ah! Kemanakah waktu membawa pria yang selama ini selalu ia kenang? Selalu ia sematkan dalam setiap doa, yang selalu memberikan ia kekuatan untuk terus bertahan dalam setiap masa beratnya.


"Sekarang, apa kau mau kembali bersama Burhan?" tanya Midah setelah jeda yang cukup lama.


"Aku bingung, Uni," sahut Ida lirih.


"Apakah sudah tak ada aku lagi di hatimu, Da?" tanya Burhan dengan suara serak, menatap Ida dengan mata yang telah basah.


Andai saja hati Ida lemah, tentu ia akan menghambur ke pelukan Burhan, mencoba untuk sedikit meredakan perih yang menggantung di sana, mencoba mencari ketenangan seperti masa lampau. Namun, hatinya yang keras membuat ia tak bergeming. Hanya menatap dingin sosok yang sedang terluka di hadapannya itu dengan perasaan yang sama terlukanya.


"Kalian bicarakanlah berdua, aku hendak menemui anak-anakmu dulu," ujar Midah berlalu meninggalkan Burhan dan Ida.

__ADS_1


"Tempat Tuan di hatiku tak pernah berubah, hanya saja keadaan yang telah membuatnya tak lagi sama ...." Suara Ida mulai bergetar, hatinya terasa diremas ketika wajah Ana tiba-tiba saja muncul saat ia mengatakan kalimat itu.


"Aku sempat jatuh sakit karena terlalu lelah mencari dan memikirkanmu dan anak-anak ... Ana yang mengetahui aku sakit, hampir tiap hari datang mengurusku karena ni Midah terlalu sibuk berdagang dari pakan ke pakan. Agar tak menjadi gunjingan, akhirnya aku menikahinya ... Aku benar-benar tak mempunyai hati terhadapnya, Da," terang Burhan seolah mengutarakan alasannya. "Tak sedikit pun aku berhenti memikirkanmu," lanjut Burhan.


Ida menarik nafas, terasa sesak. Namun ia mencoba untuk kembali menata serpihan hati yang tadi sempat berserakan. Ia kehabisan kata-kata. Selama ini ketika semua orang menganggap Burhan telah tiada, hatinya masih saja meyakini bahwa suaminya masih hidup. Namun ketika harapannya terwujud, disaat itu pula ia harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan.


"Tak akan adil bagi Ana jika aku kembali bersama Tuan." Akhirnya ia mampu bersuara.


"Kenapa tidak adil? Bukan kah sudah lumrah jika seorang laki-laki beristrikan dua? Lagipula, dulu ketika aku bersamamu, beberapa kali tek Piah bilang kalau Ana rela jadi yang kedua," tanya Burhan.


Kalimat Burhan membuat darah Ida seakan mendidih. Bagaimana mungkin dari bibir pria yang dulu sempat meluluhkan hatinya, menganggap hal itu biasa. Padahal Burhan tau, kalau dirinya tak pernah ingin dimadu.


"Aku yang tak sanggup berbagi," sahut Ida singkat, akhirnya bendungan di matanya runtuh, melepaskan sesak yang sejak tadi ia tahan. Meluruhkan segala luka yang kembali menganga.


Wajah Burhan pias. Ia seolah tak mampu membantah kata-kata Ida. Ia telah melakukan kesalahan yang membuat hati perempuan di hadapannya terluka.


"Tak usah Tuan risaukan aku. Aku sudah terbiasa sendiri. Setidaknya aku sudah cukup bahagia saat ini, keyakinanku bahwa Tuan masih hidup telah terbukti ...." Ida memulai pembicaraan setelah hening diantara mereka.


"Keadaannya sudah tak lagi sama. Mungkin memang sebenarnya pertalian jodoh kita telah berakhir dari sepuluh tahun lalu, hanya saja aku yang belum mampu menerima," ucap Ida dengan suara makin bergetar. Ia kembali berusaha untuk kuat, tak mau memperlihatkan betapa hancur hatinya saat itu.


"Saat ini, mengingat Laili nanti bisa dinikahkan oleh ayah kandungannya saja sudah membuat aku cukup bahagia, Tuan. Aku tak mau serakah," lanjutnya.


"Sekali ini, tolong hilangkan sikap keras kepalamu, Da. Anak-anak pasti juga menginginkan kita berkumpul kembali," pinta Burhan.


Ida tersentak, bagaimana ia bisa melupakan anak-anaknya. Ia hanya memikirkan perasaannya yang hancur tatkala mengetahui bahwa Burhan telah bersama Ana.


"Ya, nanti aku tanya anak-anak. Apakah mereka juga menginginkannya," sahutnya kemudian.


"Tuan, aku bolehkah istirahat sebentar? Aku merasa teramat lelah," pamit Ida bangkit dari duduknya.


"Ya ... Nanti kita bicarakan lagi. Aku juga ingin menanyakan pendapat anak-anak," ucap Burhan memandang Ida dengan tatapan hampir putus asa.

__ADS_1


***


Matahari mulai meninggalkan peraduan, membiarkan rembulan menggantikan tempatnya. Siang yang tadinya terik, digantikan malam yang memberikan kesejukan. Burhan telah kembali ke rumah kediamannya bersama Ana setelah dipaksa oleh Ida. Ida meminta waktu untuk berpikir dan menanyakan pendapat anak-anak. Tak mungkin baginya mengambil keputusan dengan tergesa.


"Amak minta pendapat kalian. Apakah sebaiknya amak kembali bersama abak atau tidak?" tanya Ida ketika ia dan anak-anak hendak tidur.


"Aku tak begitu paham urusan seperti ini, Mak. Tapi kalau Amak ingin tahu pendapatku, Amak tak usah kembali lagi bersama abak. Aku melihat tek Ana itu perempuan bermulut tajam, aku takut nanti Amak bukannya bahagia kembali bersama abak, malah jadinya terluka. Sudah cukuplah penderitaan Amak sepuluh tahun ini, jangan ditambah lagi," sahut Laili. Ada nada geram dari suaranya tatkala menyebut nama Ana.


"Ya, amak pun juga merasa demikian. Namun amak takut jika memutuskan sendiri, ternyata kalian punya keinginan untuk hidup bersama abak kembali."


"Tapi kalau semisal Amak memang menginginkan kembali bersama abak, kami tidak melarang, selama ini amak tidak mau menikah lagi karena selalu teringat akan abak kan?" kali ini suara Laili sedikit menggoda Ida.


"Ah, tidak juga. Yang amak pikirkan hanya kalian. Kalau amak menikah lagi, sudah pasti perhatian amak akan terbagi dengan ayah sambung kalian, amak takut kalian akan merasa cemburu," gelak Ida getir.


"Tapi perasaan amak sama abak yang menjadi penghalang terbesarnya kan?" kembali Laili menggoda Ida untuk sedikit menghalau rasa pahit kenyataan yang mereka hadapi.


"Mak, memangnya abak sudah tak sayang kita lagi ya? Kenapa abak menikah dengan perempuan itu?" tanya Fatimah tiba-tiba.


"Salah amak juga, Ma. Amak tak memberi kabar mak tuo-mu kalau kita ada di Siantar," sesal Ida.


"Amak usah menyesali diri lagi, Mak. Amak yang selalu mengajarkan kami untuk tak perlu larut melihat ke belakang," hibur Laili.


"Ya, saatnya amak juga mulai belajar menerima kenyataan. Kalian tak menyesali amak kan? Kalau saja dulu amak tak membawa kalian ke Siantar, tentu kalian sudah berkumpul kembali dengan abak kalian, tak perlu menanggung susah seperti itu."


"Melihat Amak bersusah payah mengurus kami bertiga, bagaimana mungkin kami akan tega menyalahkan Amak." Laili memeluk Ida. Menahan cairan bening yang mulai menggenang di sudut matanya.


"Ya sudah, kita istirahat dulu. Kalian pasti masih capek," ajak Ida.


Sementara anak-anaknya telah terhanyut dalam mimpi mereka, mata Ida masih menatap nanar langit-langit kamar. Kepalanya terasa berdenyut tatkala mencoba untuk memahami takdir yang dituliskan Tuhan untuknya. Entah mana yang lebih perih hatinya, menerima kenyataan Burhan yang tak tau kemana rimbanya ataukah melihat pria itu bersama perempuan lain.


"Oh Tuhan bisakah ini dijadikan mimpi yang menemani tidurku saja? Enyahkanlah segala kenyataan yang ada ketika aku nanti terbangun," gumam Ida, kembali meluruhkan sisa sesak yang sedari tadi ia tahan.

__ADS_1


Mungkin inilah akhir dari untaian asa yang selama ini selalu tersimpan dalam hatinya. Saatnya ia harus merelakan apa yang tak mampu ia genggam. Melepaskan apa yang telah ditakdirkan untuk lepas. Membiarkan pergi dia yang tak lagi memegang janji. Memasrahkan diri pada semua takdir Ilahi. Seberat apapun cobaan yang telah menanti, ia akan tetap berusaha menjalaninya dengan penuh ketegaran.


__ADS_2