MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 49


__ADS_3

Semburat jingga senja mulai menutupi langit ketika Ida dan anak-anaknya sampai di tanah kelahirannya, Kubang Putih. Bendi yang mereka tumpangi berhenti di halaman rumah kayu yang sudah ia tinggalkan sepuluh tahun lamanya. Rumput halaman tak lagi terawat, daun-daun kering pohon mangga berserakan menambah kusam halaman rumah. Bangunan rumah berdiri suram di hadapan mereka, seolah bersedih ditinggalkan penghuninya. Rumah itu terlihat tak terawat semenjak Tini pindah mengikuti suaminya ke Padang Sidempuan. Setitik rindu akan amai dan Tini membuat ia tergugu melihat rumah yang seolah balik memandangnya dingin.


Terakhir Ida ke rumah itu lebaran lima tahun yang lalu berkumpul bersama saudara ibunya yang juga pulang ke kampung. Semenjak saat itu, ia tak pernah lagi menjejakkan kakinya di Kubang Putih.


Ida berjalan perlahan menaiki tangga kayu menuju pintu rumah, guci yang ada di samping kanan tangga yang biasa selalu berisi air untuk mencuci kaki, tampak dipenuhi dedaunan kering. Ida merogohkan tangannya kebagian atas cekukan pintu, menarik sebuah anak kunci yang masih tersimpan disana. Bau lembab ruangan langsung menguar ketika Ida membuka pintu rumah.


"Assalamualaikum ...." ucap Ida lirih.


Ida menghela nafas panjang sebelum ia masuk. Mencoba menguatkan hati untuk bisa kuat melawan kelebat penggalan kenangan yang mulai berputar di ruangan itu. Kelebat kenangan pagi terakhirnya bercengkrama dengan amai.


"Amak, kita akan tinggal di sini?" Suara Laili membuyarkan lamunan Ida.


"Iya, besok kita bersihkan. Sekarang kita istirahat dulu, kalian pasti lelah."


"Aku lapar, Mak." Kali ini Fatimah yang berbicara.


"Kita masuk dulu, sudah mau magrib." Ida menyalakan lampu tempel yang masih berada di tempat biasa.


Tak ada yang berubah dari isi rumah itu, masih sama seperti saat amai masih hidup. Bahkan carano[1] tempat amai menyimpan sirih dan perlengkapannya masih ada di atas meja. Ah, betapa ia rindu masa itu, masa dimana ia dan amai mulai saling memahami. Masa ketika ia dan amai sudah tak lagi bersitegang.


Ida seolah disentak dari kenangannya ketika merasakan tangan kecil Salma memeluk erat kaki Ida. Salma mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan wajah takut.


"Salma kenapa, Nak? Salma takut?"


Gadis kecil itu hanya menjawab dengan anggukan.


"Ini rumah amak juga. Dulu sebelum amak tinggal di rumah kita yang di Payakumbuh, amak tinggal di sini," terang Ida pada Salma untuk menghilangkan rasa tidak nyaman pada gadis itu.


Salma hanya melirik Ida. Tak ada jawaban yang terucap dari bibir kecilnya. Mata gadis berpipi montok itu masih saja melebar memperhatikan setiap ruang kosong yang ada di rumah.


Laili menuntun Salma duduk di ruang tengah.


"Sini sama Uni, amak mau menyiapkan makanan untuk kita," ajaknya.


Salma menurut saja, duduk tak bergeming di samping Laili. Ida mengeluarkan rantang yang ia bawa dari Payakumbuh, menatanya di atas tikar dan menyendokkan untuk anak-anak. Mereka makan dalam diam. Wajah lelah masih jelas tegurat dari wajah-wajah polos anaknya. Sorot mata itu entah kenapa selalu saja membuat hati Ida teriris, sorot mata yang mengingatkannya pada pemilik setengah hatinya.

__ADS_1


Sunyi seketika menyergap ketika anak-anak sudah terlelap bersama mimpi mereka. Rasa lelah dan dinginnya udara kaki gunung Marapi membuat Ida ikut terhanyut ke dalam mimpi bersama anak-anaknya.


****


Memulai hidup baru di Kubang Putih ternyata tidak semudah harapan ida. Gunjingan tetangga yang menuding ia dicampakkan Burhan merebak entah dari mana asalnya. Keadaan semakin berat karena kebutuhan ekonomi dengan tiga anak yang harus ia tanggung membuat Ida hampir berputus asa.


Ida mengerjakan apa saja yang bisa ia kerjakan asal bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhannya dan anak-anak. Beruntung anak-anaknya Laili dan Fatimah tidak terlalu banyak menuntut. Mereka bahkan turut membantu Ida mencari nafkah dengan berjualan berkeliling kampung sambil bergantian mengasuh Salma yang masih berumur tiga tahun.


Delapan bulan di kampung, anak-anaknya yang semula bersih dan terawat mulai terlihat tak terurus. Pipi mereka yang dulu montok makin hari makin tirus. Setiap malam Ida bersimpuh bersujud disepertiga malam, memohon agar kiranya Allah mau sedikit berbaik hati memberikannya jalan untuk menghidupi anak-anaknya.


Suatu pagi, Kubang Putih masih diselimuti kabut tebal. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, namun udara di kaki gunung Marapi itu masih saja dingin. Ida hendak berangkat ke sawah Sutan Palimo untuk menyiangi rumput di sela-sela tanaman padi. Ida juga bahkan mau mengurusi sawah warga di kampungnya agar bisa mendapatkan penghasilan untuk menghidupi anak-anaknya. Asal pekerjaan halal, ia kerjakan.


"Ida?" sapa sebuah suara ketika ia hendak keluar dari halaman rumah.


"Mak Etek?" Ida memastikan pria jangkung dengan rambut mulai memutih yang berdiri di hadapannya. Ia terkejut ketika melihat adik laki-laki ibunya yang sudah lama merantau ke Pematang Siantar itu ada di hadapannya. Sudah lama ia tak bertemu dengan mak etek, adik ibunya. Bahkan ketika ia menikah pun, mak eteknya tidak menghadiri.


"Iya, kau sekarang tinggal di sini?"


"Iya, Mak. Mak etek sendirian?" Ida tak melihat keluarga mamaknya ikut serta bersama.


"Eh, masuk dulu, Mak. Ida buatkan minum kawa," ajak Ida.


Setelah mendengarkan kisah Ida, wajah mamaknya terlihat sedih.


"Tak ku sangka hidupmu akan sepelik ini, Da. Maafkan aku belum bisa jadi mamak yang baik," sesal mamaknya.


"Tidak apa-apa, Mak. Mamak juga punya tanggungan hidup."


"Apa kau mau ikut denganku ke Siantar, Da? Setidaknya kau bisa jauh dari gunjingan tetangga yang membuat panas telinga itu."


"Nanti aku hanya jadi beban mamak," tolak Ida.


"Di Siantar masih banyak pekerjaan yang bisa kau kerjakan, tidak seperti di sini."


"Ida coba pikirkan dulu, Mak."

__ADS_1


"Ya, coba kau pikirkan. Kasihan juga anak-anakmu kalau kondisimu terus-terusan begini." Ada gurat sedih di wajah mak etek ketika mengatakan itu.


****


Harapan ingin mendapatkan kehidupan lebih baik untuk anak-anak membuat Ida akhirnya memutuskan untuk ikut dengan mamaknya ke Pematang Siantar. Ia pun berharap, jika memulai hidup barunya di tempat yang jauh, akan membuatnya lebih mudah menata hati, akan lebih mudah baginya untuk tidak terlalu tenggelam dalam kelebat kenangan yang terus menerus membayanginya.


"Amak, kenapa kita pindah lagi?" tanya Laili ketika mereka membereskan barang-barang yang akan dibawa.


"Supaya amak bisa punya uang untuk sekolah Laili. Di sini amak tidak bisa mendapat pekerjaan untuk membayar sekolah Laili."


"Nanti tempatnya di sana seperti apa, Mak?" tanya Fatimah yang duduk di tempat tidur bersama Salma, memperhatikan amak dan uninya berkemas.


Ida menghentikan gerakannya, menatap Fatimah. Sejujurnya ia juga belum tau seperti apa tempat yang akan mereka tuju. Pertanyaan Fatimah membuatnya sedikit gamang. Apakah benar keputusan yang ia ambil, takdir apa yang akan menanti mereka di sana?


"Nanti kita lihat seperti apa tempatnya di sana ya, amak juga belum pernah ke sana," jawab Ida jujur.


"Kita nanti naik apa?" Fatimah kembali bertanya.


"Kita nanti naik Bus. Ima sekarang istirahat dulu ya, besok perjalanan kita jauh, biar Ima tidak lelah."


"Iya, Mak."


Malam semakin larut, Ida masih belum mampu memejamkan matanya. Ia menatap nanar langit-langit kamar yang gelap, berharap keputusannya kali ini benar-benar bisa membuatnya melupakan segala kesedihan beberapa tahun ini, melupakan harapannya untuk bisa bertemu kembali dengan suaminya. Mencoba menerima kenyataan, bahwa ia harus menjadi tulang punggung keluarganya kini.


***


Bukittinggi telah diselimuti malam ketika mereka mulai bergerak meninggalkan kota itu. Bus yang mereka tumpangi bergerak pelan ke arah barat daya, melewati jalan yang pernah ia lalui enam belas tahun lalu saat markas mereka harus dipindah ke Palupuh.


Jika dulu ia melalui jalan itu untuk memperjuangkan kemerdekaan negerinya, hari ini ia melewati jalan itu untuk memperjuangkan kemerdekaan dirinya. Berjuang untuk lepas dari segala kenangan yang membuatnya merasa terpuruk. Berjuang untuk kehidupan anak-anaknya yang lebih baik. Ia berusaha menepiskan segala rasa gamang yang mulai mengusik hatinya. Ia mencoba membesarkan hatinya dengan harapan baru. Harapan akan kehidupan yang lebih baik.


___________________________________________


Catatan :


[1] Carano \= Boko. Wadah dari tembaga untuk menyimpan sirih

__ADS_1


__ADS_2