
"Makdang?" Akhirnya Ida mampu mengeluarkan suaranya.
"Ternyata kau kabur kesini," ujar pria yang dipanggil Ida makdang itu.
Pria itu adalah kakak laki-laki amaknya. Ia tak menyangka akan bertemu mamaknya* di tempat itu.
"Gus, ayo bergegas lah!" teriak ungku Jorong pada Agus—makdang Ida.
"Kita selamatkan diri dulu, nanti kita bicarakan sambil jalan," ujar Agus dengan suara rendah.
Ida bergidik. Selama ini, selain amai, ia paling tidak berani membantah perintah makdang-nya. Entah apa yang akan makdang lakukan untuk menghukumnya nanti.
Ida berjalan terseok mengikuti rombongan yang telah lebih dahulu masuk hutan. Suasana hutan sudah sangat gelap. Mereka berjalan di antara pepohonan mengandalkan insting. Tidak ada cahaya untuk menerangi jalan yang mereka lalui. Suara binatang hutan di malam hari serasa menyayat hati. Membuat bulu kuduk Ida berdiri.
Ida kembali terisak, teringat jasad Maryam yang mereka tinggalkan di surau.
"Tak usah menangis kau Da, suara tangis kau itu nanti malah mengundang urang bunian,**" tegur makdang.
Ida terkesiap mendengar suara mak dang. Sekuat tenaga ia tahan tangisnya hingga ia merasakan rasa sesak di dadanya. Ida mulai merasa kelelahan, ketika akhirnya mereka sampai dari area hutan yang berbatasan dengan sungai. Suara gemuruh air sungai memecah kesunyian hutan dan kebisuan diantara mereka yang melarikan diri ke hutan.
Ida tidak dapat memastikan berapa orang yang berjalan bersamanya ke hutan malam itu. Awan yang sedari tadi menutupi cahaya bulan, sedikit terkuak, membuat area sungai yang semula gelap agak sedikit terlihat jelas. Cahaya keperakan sinar bulan malam itu seakan menambah piasnya wajah-wajah manusia-manusia yang sedang bertahan untuk menyelamatkan nyawanya.
"Kita istirahat disini dulu saja malam ini," ujar ungku Jorong berusaha mengalahkan suara deras air sungai.
Mereka hanya menjawab dengan anggukan, lalu mencari tempat masing-masing untuk beristirahat. Mak dang mengambil tempat di sisi Ida. Tatapan mak dang membuat Ida merasa terintimidasi. Nyali Ida makin menciut tatkala ia mendengar suara mak dang,
"Jadi dari kapan kau berada di sini?" tanya mak dang memandangi Ida.
Dari suaranya Ida merasa mak dang seakan hendak menelannya bulat-bulat, namun mak dang masih menjaga intonasi suaranya agar tidak terlalu menarik perhatian yang lain.
"Kalau di surau tadi sudah tiga bulan Mak," jawab Ida dengan wajah menunduk. Ia tak berani menatap mata mamaknya.
"Lalu, semenjak kau kabur dari rumah, kau kemana?" lanjut mak dang menginterogasi Ida.
__ADS_1
"Aku ikut relawan PMI mak," jawabnya singkat.
"Kau tau tidak Da? Amai jatuh sakit karena terlalu memikirkan kau! Kami anaknya tidak pernah membuat beliau sampai jatuh sakit karena mengkhawatirkan kami. Cucu durhaka kau Da!" Walaupun suara mak dang masih rendah, tapi kentara sekali mamaknya sedang naik pitam.
Ida tak berani menjawab. Ia hanya diam, menunggu mamaknya berbicara lagi.
" Setelah ini kita pulang, kau harus minta maaf sama amai!"
"Tapi Mak, kasih aku kesempatan untuk turut mengurusi jenazah sahabat ku. Jenazahnya sekarang ditinggal di dalam surau." Ida mulai terisak kembali.
"Kau lebih mementingkan orang mati yang tidak ada pertalian darah denganmu daripada amai kau yang masih hidup Da?"
Ida tak mampu menjawab.
"Apa nanti kau tidak menyesal kalau amai kau itu mati karena sakit memikirkan kau Da?" lanjut mak dang dengan suara yang mulai meninggi.
Beberapa orang yang berada di dekat mereka mulai melirik ke arah mereka. Ungku Jorong datang mendekati mereka karena merasa heran melihat Ida dan angku Agus mamaknya Ida tampak terlibat pembicaraan serius.
" Ada masalah apa Gus?" tanya ungku Jorong ketika ia sampai di tempat ponakan dan mamak itu beristirahat.
"Astaghfirullah Da, jadi selama ini keluarga mu tidak ada yang tahu kamu ada di sini?"
Ida masih tertunduk, tak mampu berkata-kata lagi. Dadanya sesak, hati kecilnya membenarkan perkataan mamaknya, bagaimana bisa ia mengkhawatirkan orang lain yang tidak ada hubungan darah dengannya daripada neneknya sendiri. Namun pikirannya berkata, bahwa orang lain lebih memahami dirinya daripada keluarganya sendiri. Ia lebih dihargai orang lain dari pada orang yang mempunyai pertalian darah dengannya.
Malam itu Ida seperti seorang pesakitan, diikat oleh mak dang agar tidak kabur lagi. Antara marah dan malu bercampur dalam hatinya, bagaimana mungkin keluarganya sendiri sampai hati memperlakukannya seperti itu. Namun rasa lelah, lapar dan kantuk serta rasa nyeri di pergelangan kakinya, membuat ia tak mampu menahan matanya untuk terus terjaga.
"Da, bangun!" Ida tersentak oleh suara mak dang nya.
Ketika Ida membuka mata, cahaya fajar mulai menerangi langit pagi itu. Ida menggigil, udara hutan dan cipratan air sungai yang dingin di pagi itu seolah menyayat bagian kulitnya yang tidak tertutup.
Ia mengedarkan pandangan, masih ada beberapa orang yang terlelap bersandar pada batu yang ada di pinggir sungai. Tak jauh dari tempat ia beristirahat, ia melihat Niar dan Ani duduk berdekatan dan menatap iba pada Ida.
"Kita jalan pulang sekarang, kau makan lah dulu," ujar mak dang sambil menyerahkan beberapa buah-buahan yang Ida tidak tahu buah apa itu. Ida memaksakan diri untuk mengisi perutnya dengan Buah yang diberikan mamaknya.
__ADS_1
"Jadi, Angku tetap mau kembali ke Bukittinggi Gus?" Ungku Jorong datang dari arah belakang Ida.
"Iya Ngku, saya harus membawa kemenakan saya ini menemui amak. Amak jatuh sakit semenjak anak ini tidak pulang."
"Baiklah, sebaiknya Syamsir dan Rizal ikut bersama kalian. Mereka cukup hapal hutan ini." Ungku Jorong seperti tidak mampu menahan mereka untuk tinggal.
"Baik Ngku, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah. Maafkan jika saya harus meninggalkan kalian disini."
"Tak apa, selagi masih punya keluarga untuk pulang, kalian pulang lah. Doakan kami disini bisa membalas serangan Belanda itu." Ungku Jorong menepuk pundak mak dang.
"Nah, berangkat lah kalian sekarang," lanjut pria paruh baya itu dengan senyum getir.
"Mak, boleh Ida berpamitan dulu dengan Ani dan Niar?" Ida memberanikan diri meminta ijin kepada mamaknya.
"Ah kalau sama orang lain kau mengerti sopan santun ya, kenapa sama keluarga sendiri kau tak tau sopan santun," ujar mak dang dengan suara beratnya yang terasa menohok
Ida berusaha mengabaikan rasa takutnya pada mak dang. Ia berdiri dan berjalan ke arah Niar dan Ani dengan terpincang pincang.
"Uni,...." sambut kedua gadis itu dengan tangisan.
"Uni pamit ya, kalian jaga diri baik-baik. .... Uni titip Maryam jika kalian bisa kembali ke surau,..." Suara Ida tercekat. Ia mencoba untuk bernafas normal, menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Terima kasih atas kebersamaan kalian selama ini, ..... Hiks," Ida mulai terisak, sudah tak mampu ia membendung rasa sesak yang terasa amat menyesakkan dadanya itu.
Belum lah Niar dan Ani menjawab, Ida sudah ditarik oleh mak dang.
"Mau sampai kapan kau bertangis-tangisan seperti itu," tukas mak dang.
Ida menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Tali yang mengikat kedua pergelangan tangan terasa perih menggesek kulitnya.
Setelah berpamitan dengan yang lain, Ida dan rombongan kecilnya bergerak ke arah utara meninggalkan orang-orang yang selama ini sudah ia anggap seperti keluarga barunya itu.
*Mamak \= saudara laki-laki ibu.
__ADS_1
** Urang bunian \= sejenis makhluk halus penunggu hutan yang di percaya oleh masyarakat di Sumatera Barat.