MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 12


__ADS_3

Sesampainya di hutan pinus, Ida disambut gembira oleh teman-temannya yang sudah harap-harap cemas menunggu kedatangan Ida.


"Aku tidak bisa tidur semalaman Da, takut kau tidak kembali," ujar Ros.


"Kau pasti capek ya Da?" Maryam menyorongkan wadah berisi minum kepada Ida.


"Ah, makasih Yam," ujar Ida menerima wadah yang diberikan Maryam, meminumnya dengan cepat.


"Aku mesti menyampaikan pesan ini pada pak Zain dulu ya." Ida meminta ijin untuk menemui pak Zain, ketika ia melihat koordinator PMI itu datang dari arah sungai.


"Ya, kau cepat sampaikanlah. Kita juga menunggu kabar dari luar, kapan kita bisa keluar dari hutan ini," tukas Maryam.


"Assalamualaikum Pak," sapa Ida ketika pak Zain sudah berada dihadapannya.


"Waalaikum salam, Alhamdulillah, berhasil kamu pulang dengan selamat," ujar pak Zain dengan wajah senang.


"Ini Pak, pesan yang saya bawa." Ida menyerahkan lipatan kertas yang ia terima kemarin.


"Ah,... Ya terima kasih. Kamu sudah makan?"


"Sudah pak, tadi saya makan di rumah mak tuo tempat saya menginap."


"Yasudah, kamu istirahat lah." Pak Zain berlalu membawa kertas yang Ida serahkan.


"Idaaa. .... Coba ceritakan perjalananmu kemarin," Maryam menarik tangan Ida ke arah para gadis lain berkumpul.


Ida menceritakan pengalamannya kemarin kepada para gadis itu.


"Ya Allah Da, kalau aku ditodongkan senjata seperti itu mungkin sudah pingsan duluan," ujar Laila.


"Makanya bukan kamu yang ditugaskan pak Zain. Hahaha," gelak Maryam.


"Iya, pak Zain pasti sudah memikirkan matang-matang urusan seperti ini," balas Laila.


Tak berapa lama, pak Zain dan Marwan memanggil semua personil yang berada di hutan pinus itu.


"Saya sudah membaca pesan yang dibawa oleh Ida tadi. Alhamdulillah kondisi di luar sudah aman. Tapi tetap kita harus berhati-hati. Jadi kita akan keluar dari sini setelah ashar," terang pak Zain.


Ungkapan rasa syukur terdengar dari barisan. Mereka merasa lega, akhirnya bisa keluar dari hutan.


Sore itu, mereka berjalan keluar dari hutan. Tidak seperti sore sebelumnya, sore itu langit berawan. Cahaya jingga matahari yang tertutup lembaran awan membuat garis-garis cahaya panjang keemasan di langit. Mereka berjalan keluar dari hutan beriringan.


Emi yang berada di Gendongan Rasyid tak berhenti berceloteh.


"Nanti diluar, Emi bisa bertemu abak Emi kah?" tanya gadis kecil itu polos.


"Kita lihat nanti ya, apakah abak Emi ada disana," sahut Rasyid dengan suara lembut.


"Asyik, Emi bisa kembali ke rumah," ucap gadis itu dengan penuh kegembiraan.


Ida memperhatikan mata teduh Rasyid tampak basah.


"Kau menangis?" tanya Ida, memberanikan diri membuka percakapan dengan pemuda itu.


Rasyid terkesiap, menoleh pada perempuan yang ada di sampingnya. Ia mengerjapkan matanya berusaha untuk menghilangkan bekas airmata yang sempat menggantung di matanya.


"Aku hanya sedih mendengar harapan Emi," jawabnya singkat.

__ADS_1


Ida kembali menunduk, memahami apa yang dirasakan Emi. Ia juga anak korban perang, orangtuanya tewas akibat penyerangan Belanda. Ia paham bagaimana rasanya menunggu orangtuanya kembali ke rumah, namun yang ia tunggu tak kunjung datang.


Sesampai di pinggir hutan, pak Zain memerintahkan mereka berjalan terpisah agar tidak mencolok jika ada mata-mata yang mengawasi.


Seminggu berada di hutan, membuat mereka berasa di kurungan. Tak habis-habisnya mereka mengucapkan rasa syukur ketika berada di rumah mak tuo. Mak tuo menyediakan masakan yang banyak untuk menyambut tamunya sore itu.


Malam hari, pedati Inyiak Aro kembali ke kampung itu menjemput Ida dan rombongannya. Hanya rombongan relawan PMI dan tentara yang ikut melanjutkan perjalanan menuju markas Tentara Repulik di Lubuk Begalung. Sementara bu Saidah, petugas dapur umum dan Emi beserta kelompok Marwan tetap tinggal di kampung tersebut. Mereka tak membawa serta gadis kecil itu karena belum jelas bagaimana kondisi mereka di tempat baru nantinya.


"Jaga diri baik-baik ya Nak, ibu akan merindukan kalian," ucap bu Saidah ketika melepas mereka.


"Iya Bu, terima kasih banyak sudah membantu kami," balas Maryam sambil memeluk bu Saidah.


"Sampai ketemu lagi Tek." Emi memeluk Ida.


"Ya gadis manis, sampai ketemu lagi ya," balas Ida sambil memeluk Emi.


Sesampainya di Lubuk Begalung, Ida dan kawan-kawan disambut mereka yang sudah ada di markas.


-----°°°°°°-----


Dua bulan sudah Ida dan kawan-kawan berada di markas Tentara. Mereka sudah resmi menjadi petugas PMI, dibekali berbagai ilmu tentang pengobatan dan merawat korban.


Penyerangan demi penyerangan yang terjadi, membuat banyaknya korban yang berjatuhan, baik yang terluka, maupun yang meninggal, membuat petugas PMI menjadi sibuk. Tak terkecuali Ida. Namun Rasyid masih terus menemui Ida, walaupun gadis itu tidak terlalu menghiraukan kehadirannya karena sibuk mengurus korban dan sesekali menjadi kurir mengantarkan pesan dari satu pos ke pos yang lainnya.


"Jaga kesehatanmu juga Da, jangan terlalu sibuk mengurusi orang, kau jadi lupa kesehatanmu," pesan Rasyid suatu waktu.


"Iya, terima kasih sudah mengingatkan ya," balasnya memandang sekilas lalu melanjutkan lagi pekerjaannya membalutkan perban di kaki salah seorang Tentara yang terluka.


Walapun Ida tidak terlalu terlihat menghiraukan kehadirannya, bagi Rasyid bisa melihat Ida tidak menghindarinya seperti dulu sudah cukup. Kalau ia cukup beruntung, terkadang ia bisa melihat dua lesung pipi Ida ketika tersenyum menanggapi apa yang ia ceritakan.


"Da, apa kau tak capek dari pagi mengurus Tentara yang terluka seperti ini?" tanya Rasyid pada kesempatan lain.


"Kalau aku yang terluka, kau akan merawatku juga kan, Da," goda Rasyid.


"Kau berusahalah agar tak terluka."


"Kau tidak mau merawatku ya?"


"Bukan tidak mau merawatmu, aku tak mau melihat mu terluka," sahut Ida lirih.


"Terima kasih, Da. Aku akan berusaha untuk tidak terluka," sahut Rasyid dengan senyum terkembang di wajahnya.


-----°°°°°°------


Suatu pagi, ketika Ida masih sibuk mengurus korban yang terluka, Maryam mendatanginya dengan wajah pias.


" Ida, kau kesini sebentar." Maryam menarik tangan Ida sambil menyeret gadis itu.


"Kenapa Yam?" masih ada satu orang lagi belum aku pasangkan perban, tunggu sebentar." Ida mencoba menahan tarikan tangan Maryam.


"Kau tinggalkan saja sebentar, ini lebih penting," ujar gadis itu gusar.


" Hei, ada apa ini Yam?" tanya Ida keheranan.


"Nanti saja kau lihat sendiri!" Suara Maryam mulai bergetar.


Ida penasaran bercampur bingung melihat tingkah sahabatnya itu. Begitu sampai di tempat korban meninggal disemayamkan, Ida makin dibuat kebingungan. Sampai pada akhirnya Maryam menarik Ida ke ujung lapangan. Membuka kain penutup salah satu jenazah, seketika darah Ida seperti ditarik keluar dari tubuhnya. Badannya limbung, Maryam dengan sigap menahan agar Ida tidak terjatuh.

__ADS_1


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," gumamnya lirih.


Ia tak pernah menyangka akan melihat wajah teduh yang selalu membagi cerita dengannya selama ini, akan terbujur kaku di hadapannya. Rasyid tertembak ketika Belanda menyerang pos yang sedang dijaganya. Ida tak menyangka, kunjungan Rasyid dua hari yang lalu adalah hari terakhirnya melihat lelaki berwajah teduh dengan senyum penuh kehangatan itu. Senyum itu masih ada di wajah itu, tapi matanya sudah tertutup. Raganya sudah tidak lagi berjiwa.


"Kenapa kau malah pergi ketika aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu. Seharusnya kau tak perlu berusaha ada untukku kalau kau akan pergi secepat ini," gumam Ida dengan bibir bergetar.


Ida tak sanggup berlama- lama menatap tubuh lelaki yang telah menempati ruang di hatinya. Ia berlalu dari tempat itu, dadanya sesak.


Seribu andai mulai mengisi pikirannya. Andai ketika Rasyid menemuinya tempo hari ia menyempatkan diri menanggapi lelaki itu bercerita tentang pengalamannya berjaga di pos. Andai ia juga, sempat mengucapkan sebait doa untuk keselamatan lelaki itu ketika ia masih bisa tersenyum. Ida sadar, tak ada gunanya ia berandai-andai. Yang pergi tetap akan pergi sekuat apapun ia mencegah.


Ida paham, dengan kondisi seperti saat itu, seharusnya ia sudah siap sewaktu-waktu akan ditinggalkan orang-orang yang ia kenal. Tapi tidak kali ini, seakan merasa Rasyid akan selalu ada, datang menemuinya. Bercertia apa saja yang ia alami selama tidak berada di dekat Ida. Ia seakan tidak bisa menerima kenyataan.


"Ida!!" Maryam mencegat Ida.


"Aku mau melanjutkan mengurus yang terluka Yam," ucapnya lirih.


"Kalau kau ingin menangis, tidak usah ditahan."


"Tak ada yang perlu ditangisi Yam, aku menangis pun ia tak akan hidup kembali," ujar Ida dengan suara bergetar.


"Rasyid akan dimakamkan sore ini, kau sempatkan untuk mengantarkan ya," ujar Maryam dengan terisak.


Ida hanya membalas dengan anggukan. Dan berlalu dari tempat itu. Maryam memperhatikan kepergian sahabatnya, berusaha memahami apa yang dirasakan Ida. Ia paham kalau Ida bukan orang yang mampu mengekspresikan emosinya. Ia membiarkan sahabatnya mengobati lukanya dengan caranya sendiri.


Sore hari, jenazah para tentara yang gugur dikebumikan. Ida hanya menatap nanar ketika tubuh Rasyid diturunkan ke liang lahat dan perlahan-lahan hilang tertutup tanah merah.


"Kau yang tabah ya Da," hibur Amir di samping Ida.


Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir Ida. Matanya menghangat, airmata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Udara sore yang begitu panas, membuat rasa sesak yang Ida rasakan makin menjadi. Ia tak mau berlama-lama di pemakaman. Tempat itu mengingatkannya akan rasa sakit kehilangan amak dan abaknya beberapa tahun silam.


Maryam masih terisak di samping makam Rasyid. Membisikkan sebait doa untuk sahabatnya itu, lalu berlalu menyusul Ida yang sudah terlebih dahulu meninggalkan makam.


--------°°°°-----------


Pertengahan April, Ida dan Maryam dipindah tugaskan kesebuah posko yang ada di Sicincin. Selain bertugas sebagai petugas PMI, Ida juga merangkap sebagai petugas dapur umum dan kurir penghantar pesan.


Ros, Zubaedar, Laila dan Siti tetap berada di Lubuk Begalung. Sekali lagi Ida merasakan kehilangan. Para gadis itu, yang selama beberapa bulan ini saling berbagi suka dan duka sudah ia anggap seperti keluarga barunya.


Seperti pos di tempat lain, pos kali ini pun berada di sebuah surau yang terletak di tengah area persawahan.


Bangunan surau dengan tinggi lima belas meter, dengan tiga puluh tiang berdiri kokoh serta atap seng bertingkat tiga berbentuk piramid membuat surau itu tampak menjulang megah di tengah persawahan tersebut.


Di halaman surau terdapat dua kolam besar dengan air mengalir dari parit yang mengairi persawahan. Suasana surau yang cukup tenang dengan suara gemercik air membuat Ida sedikit melupakan segala kesedihannya beberapa bulan belakangan.


Siang itu, matahari sangat terik. Ida yang sedari pagi berkutat di dapur mengurusi ransum yang akan dibagikan pada para tentara, mengistirahatkan dirinya duduk di pelataran surau. Mengamati persawahan yang telah selesai dipanen. Di beberapa petak sawah, jerami sisa panen yang dibakar petani masih mengepulkan asap tipis.


Suara air yang mengalir dari parit ke dalam kolam ditambah hembusan angin yang lembut menguarkan bau jerami yang dibakar membuat Ida mengantuk. Disandarkan kepalanya ke dinding surau, menikmati sedikit kedamaian yang jarang-jarang ia rasakan.


"Sudah beres masak ya?" sapa sebuah suara.


Ida terlonjak, memperhatikan seorang pria yang menyapanya. Ia menggernyit heran karena wajah itu terasa asing.


"Sudah Tuan, Tuan dari kesatuan mana?" selidik Ida.


"Ah saya cuma penduduk sekitar sini, tadi habis mengurus benih, jadi mampir sebentar," tukasnya.


"Oh, baik. ... Saya ke dalam dulu ya." Ida undur diri.

__ADS_1


Perasaannya tidak tenang. Ketika ia akan masuk ke dalam surau, Ida memperhatikan pria itu mengeluarkan sebatang rokok, membakar dan menghisap rokok itu. Ida memperhatikan rokok yang sedang dihisap pria itu, bukan jenis rokok lintingan yang biasa pribumi hisap. Kecurigaan Ida muncul, tidak mungkin penduduk sekitar bisa memiliki rokok sejenis.


Setengah tergesa, Ida masuk ke dalam surau. Mengambil semua dokumen penting yang akan ia kirim.


__ADS_2