MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 31


__ADS_3

Siang hari ketika Ida tengah asyik membaca buku di ruang depan, buk Isah datang dengan seorang perempuan yang Ida taksir umurnya tak berpaut jauh dari amainya.


"Ida, ini mak Saroh." Buk Isah memperkenalkannya perempuan yang menyertainya.


Ida bangkit dari duduknya, menyalami mak Saroh dengan hormat.


"Ah sudah kelihatan ini wajah perempuan yang sedang mengandung," kekeh mak Saroh.


Keriput di wajahnya makin terlihat berlipat di sudut mata dan keningnya. Senyumnya yang lebar memperlihatkan gusi yang telah kehilangan beberapa penghuninya.


"Mari ke kamarku saja, Mak," ajak Ida.


Setelah Ida berbaring, mak Saroh mengusap perut Ida. Memincingkan matanya, mengangguk-angguk, lalu tersenyum kembali pada Ida.


"Tak sadarkah kau dari bulan kemarin sudah isi, Nak?"


"Aku tidak tau tandanya mak, kalau saja buk Isah tidak mengatakan padaku tadi pagi, aku tidak menyadarinya," sahut Ida.


"Sudah dua bulan," ujar mak Saroh mengusap-usap lembut perut Ida.


"Nanti aku buatkan ramuan untuk penguat," ujar mak Saroh kembali mengangguk-angguk. Mulutnya komat-kamit merapalkan bait-bait doa, lalu meniupkannya ke arah perut Ida.


Setelah memberikan wejangan tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan yang tengah mengandung, mak Saroh pamit pulang. Sebelum keluar, ia mengingatkan Ida kembali agar tidak lupa meminum ramuan yang sudah ia siapkan.


"Diminum ya. Biar kau segar selama bulan pertama ini," pesan mak Saroh sebelum ia turun.


"Iya, Mak. Terima kasih." Ida masih diam di pintu melepas kepergian mak Saroh.


"Segeralah kau beranjak dari pintu itu, tak baik perempuan yang tengah mengandung diam berlama-lama di depan pintu." Suara buk Isah terdengar dari arah belakangnya.


"I-iya buk." Ida menutup pintu, berbalik menghadap buk Isah, kembali duduk di kursi ruang depan.


Di tangan buk Isah sudah ada secangkir minuman yang asapnya masih terlihat mengepul.


"Nah, kau minumlah." Buk Isah menyodorkan cangkir enamel dengan tatakan yang ada di tangannya.


"Apa ini, Buk?"


"Ramuan yang tadi diberikan mak Saroh, ini sudah bisa langsung kau minum, sudah tidak terlalu panas." Bu Isah duduk di kursi seberang Ida.


Ida mengambil cangkir yang disodorkan buk Isah. Menyesapnya perlahan. Ketika minuman itu masuk ke mulutnya, perpaduan antara rasa manis dan sedikit asam segar serta hangat dari air, membuat rasa mual yang Ida rasakan sedari tadi mulai berkurang.


"Enak, Buk." Senyum tipis terkembang di bibir Ida.


"Nah, kau istirahat lah, aku hendak kembali ke dapur." Buk Isah mengambil cangkir kosong yang ada di tangan Ida, lalu meninggalkan Ida sendirian.


Ida bangkit dari duduknya, kembali ke kamar.


"Terima kasih ya, Buk," ujar Ida, tepat ketika buk Isah sudah berada di ujung lorong.


"Ya ...." sahut buk Isah seraya turun ke dapur.


--------°°°°°°°°---------


Tiga minggu berikutnya, Ida mulai tak mampu melakukan apa-apa akibat rasa mual yang ia rasakan makin menjadi. Setiap kali ia beranjak dari tempat tidur, setiap itu pula ia harus mengeluarkan isi perutnya. Ramuan yang diberikan mak Saroh juga sudah tak begitu mampu mengurangi rasa mual yang makin menjadi. Ida hanya mampu tergolek lemah di tempat tidurnya.


"Da, kau usahakan makan sedikit ya," bujuk buk Isah.


"Tak ada nafsu makan aku, Buk. Payah aku menahan untuk tidak muntah," gumam Ida lirih.


"Kasian anak kau dalam perut, Da." Buk Isah menatap Ida penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Paksakan sedikit, ya," ujar buk Isah menyodorkan sendok berisi bubur ke arah wajah Ida.


Begitu sendok yang disodorkan buk Isah mendekati hidungnya, sontak Ida kembali merasakan seolah-olah sesuatu hendak berlompatan keluar dari perutnya. Buk Isah dengan cekatan menyodorkan baskom kecil. Hanya cairan bening yang keluar. Buk Isah meletakkan kembali baskom ke bawah tempat tidur. Menggosok kaki Ida dengan Minyak hangat.


"Buk, aku mau tidur saja, ya," pinta Ida memelas.


"Kalau kau lapar, jangan kau tahan perutmu ya, Da." Buk Isah akhirnya mengalah untuk memaksa Ida mengisi perutnya.


"Iya, Buk," ujar Ida lirih merebahkan kembali tubuhnya.


"Anginnya kencang, aku tutup jendelanya ya, Da?"


"Tidak usah, Buk. Aku merasa gerah."


"Kalau begitu, aku mau membuatkan teman minum kawa bapak dulu." Buk Isah melangkah keluar kamar.


"Iya, Buk. Terima kasih."


Ida memandang keluar jendela, langit terlihat gelap. Angin makin kencang meniup awan yang menggantung berat. Tak berapa lama, tetesan hujan mulai turun. Aroma tanah yang disiram air hujan menyusup masuk ke kamar melalui jendela yang terbuka. Ida memenuhi ruang parunya dengan aroma menenangkan yang dikirim hujan. Setitik rindu mulai ia rasa akan kehadiran Burhan. Berharap pria itu ada bersamanya.


"Assalamualaikum, Da." Ida terperanjat mendengar suara Burhan dari pintu.


Ida membalikkan tubuhnya, melihat Burhan sudah berada di dalam kamar. Seorang wanita paruh baya berjalan di belakangnya.


"Tuan ... Amak." Ida tercengang melihat suami dan mertuanya ada di kamarnya.


"Ya Allah, Da. Kau jadi makin kurus," ujar mak Halimah, mertuanya dengan wajah khawatir.


"Kau tidak memperlakukan istrimu dengan baik, Han?" sembur mak Halimah, berbalik menatap anaknya.


Ida hanya tertawa kecil melihat ibu mertuanya berbicara tanpa memberi kesempatan pada suaminya untuk membela diri.


"Baru aku tinggal tiga minggu, kau sudah kurus saja, Da," ujar Burhan tak menghiraukannya pertanyaan amaknya.


"Alhamdulillah," ujar Halimah setengah tergesa mendekati Ida yang masih terbaring.


Burhan tampak bingung hendak bereaksi seperti apa. Ia hanya memperhatikan amaknya yang sibuk bercerita dengan Ida.


"Sebentar lagi kau jadi ayah, Han," tukas buk Isah tersenyum pada Burhan.


"Dari kapan Ida sakit Buk?" tanya Burhan antara senang dan khawatir melihat wajah istrinya.


"Semenjak kau tinggal," sahut mak Isah singkat.


"Aku sudah menghidangkan makanan di belakang, apa kau mau makan sekarang atau menunggu amakmu?" lanjut buk Isah.


"Nanti saja, Buk. Aku tunggu amak dulu. Pak Ujang kemana Buk?"


"Sedang ke sawah, hari ini dia mau menyemai bibit."


"Oh, sudah mau bertanam ya?"


"Iya. Kalau kau belum mau makan, aku ke kamarku dulu ya."


"Baik, Buk. Terima kasih."


Buk Isah meninggalkan kamar Ida dan Burhan. Burhan menghampiri tempat tidur tempat Ida dan amaknya masih asyik bertukar cerita. Ida tampak hanya membalas perkataan anaknya dengan anggukan dan sesekali tersenyum. Wajah pucat Ida membuat Burhan tak sampai hati melihatnya. Pipi yang tiga minggu lalu masih terlihat berisi, hari ini tampak tirus.


"Kau mau makan apa? Nanti biar amak masakkan buat kau, Da. Kalau amak dulu senang sekali makan asam padeh[1] ketika hamil Burhan." Mak Halimah bersemangat menanyai Ida.


"Tidak kepikiran mau makan apa, Mak. Setiap yang masuk langsung keluar lagi," sahut Ida lemah.

__ADS_1


"E-eh kau tak boleh begitu, harus makan. Sedikit tak apa. Kalau kau tidak makan sama sekali anakmu nanti dapat makan apa," sergah mak Halimah.


"Biar aku yang membujuk Ida makan, Mak. Amak istirahat saja dulu," ujar Burhan lembut pada mak Halimah.


"Ah, ya ... Kau bujuklah Ida makan," ujar mak Halimah pada Burhan.


"Cemas hatiku melihat wajahmu seperti ini Ida. Apa kata amai nanti kalau melihat kau seperti ini, dikira Burhan tak memperlakukan kau dengan baik." Mak Halimah menggosok lembut tangan menantunya.


"Maafkan aku, Mak. Menyusahkan hati Amak," sahut Ida lirih.


"Ah, tak perlu kau minta maaf. Sakit seperti ini perkara biasa, tapi kau usahakan makan ya, Nak." Tatapan lembut mak Halimah mengingatkan Ida pada amaknya. Seketika matanya memanas.


"Kenapa kau menangis, Da? Perempuan yang sedang mengandung tak boleh sedih-sedih." Mak Halimah mengusap mata Ida, membuat Ida makin tak mampu menahan air matanya.


"Da, apa ada kata-kataku yang salah?" tanya mak Halimah kebingungan melihat menantunya makin tergugu menangis.


"Tidak Mak, Ida hanya teringat mendiang amak Ida. Amak mengingatkan Ida pada beliau," sahut Ida di Sela tangisnya.


"Kalau begitu kau lepaskan saja tangismu," ujar mak Halimah masih terus mengusap-usap tangan Ida.


Burhan bergeming di ujung tempat tidur. Memperhatikan dua perempuan yang ia cintai dalam diam. Mencoba memahami apa yang Ida rasakan.


Setelah tangis Ida mulai reda, mak Halimah pamit untuk beristirahat ke kamarnya. Burhan mendekati Ida, memperhatikan wajah istrinya yang mulai tirus. Pipi penuhnya yang dulu merona, digantikan wajah pucat dan kuyu.


"Mau aku suapkan makan, Da?"


"Tadi sebelum Tuan pulang, buk Isah sudah menyuapkan aku makan. Tapi keluar lagi. Bukannya aku tak mau," sahut Ida.


"Aku kemarin membeli buah delima, kau mau coba makan? Siapa tau bisa mengurangi rasa mualmu."


Ida menatap wajah lelah Burhan. Seharusnya ia menyambut suaminya yang baru pulang dari perjalanan jauh dengan wajah yang cerah, tapi kali ini ia malah menyambut dengan wajah kusut masai.


" Sebentar, aku ambil delimanya." Burhan berlalu keluar kamar tanpa menunggu jawaban dari Ida.


Kembali ke kamar, ditangannya Burhan membawa keranjang kecil berisi beberapa buah delima. Ia meletakkan keranjang itu di meja kecil samping ranjang, dengan cekatan membelah buah yang ada di tangannya.


"Nah, kau makanlah." Burhan menyodorkan setengah buah delima yang telah ia potong ke tangan Ida.


"Apa mau aku suapkan juga?" Burhan tersenyum menggoda istrinya.


"Tak perlu," Ida mengambil setengah buah yang Burhan sodorkan ke tangannya.


Ia memipil daging buah yang tampak seperti kumpulan bebijian kecil itu dan perlahan memasukkan ke mulutnya. Rasa manis dari buah itu mampu membuat perut Ida yang sedari tadi tak mau menerima makanan menjadi lebih tenang. Tak terasa, setengah buah yang ada di tangannya habis ia makan.


"Mau tambah?" tanya Burhan yang sedari tadi hanya memperhatikan Ida dalam diam.


"Mau, rasanya segar." Senyum tipis terkembang pada bibir Ida. Lesung pipi yang biasa tercetak dalam pada pipinya tak lagi begitu tampak.


"Nah, kau habiskanlah." Burhan menyerahkan kembali sisa potongan delima yang telah ia kupas ke tangan Ida.


Ida menghabiskan sisa delima tanpa ada penolakan dari perutnya. Ia mulai berasa sedikit bertenaga setelah semua buah itu masuk ke dalam perutnya.


"Mau tambah lagi, Da?"


"Tidak, cukup. Sudah penuh terasa perutku," tolak Ida.


"Kalau begitu, aku bebersih dulu. Aku masih bau keringat. Nanti kau malah makin mual mencium bauku," cengir Burhan.


Ida hanya menjawab dengan anggukkan. Burhan berlalu keluar kamar, meninggalkan Ida dengan perasaan yang kembali bercampur aduk. Sosok Burhan yang selama ini tak ia ingini untuk mendampinginya, kali ini seolah menjadi penawar dari rasa sakit yang ia rasakan.


Di luar, hujan turun makin deras, seolah mendendangkan nyanyian syahdu penyejuk hati. Ida menikmati setiap alunan hujan dengan khidmat. Membuat matanya mulai memberat. Tak berapa lama, Ida tertidur bersama nyanyian hujan.

__ADS_1


[1] Asam padeh \= masakan tradisional minang yang bercita rasa asam dan pedas. Rasa asam berasal dari asam kandis yang dipakai untuk bumbu.


__ADS_2