MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 23


__ADS_3

Ketika membuka mata, Ida terbaring di ranjang rumah sakit. Beberapa selang terpasang di tubuhnya. Ketika matanya menelisik seluruh isi ruangan, seorang perawat masuk.


"Ida, kau sudah siuman?" sapa perawat itu terkejut.


Ida memperhatikan waja perawat itu, yang ternyata Ros.


"Ghhh ...." Suara Ida tak bisa keluar.


"Kau jangan berbicara dulu, aku ambilkan kertas sama pulpen ya."


Tanpa menunggu jawaban Ida, Ros keluar. Tak lama ia kembali membawa buku kecil dan pulpen.


"Kenapa kau ada di sini, Ros?" Tulis Ida.


"Sebulan yang lalu aku resmi jadi perawat di rumah sakit ini," balas Ros setelah membaca tulisan Ida.


"Kau tau sudah berapa lama kau tidak sadarkan diri, Da?" tanya Ros sambil memeriksa kondisi Ida.


Ida menggeleng kaku, perban yang ada di leher serta selang-selang yang menempel di tubuhnya membuat gerakannya terbatas.


"Kau sudah sebulan tak sadarkan diri, tepat disaat aku ditempatkan di rumah sakit ini," terang Ros sambil terus memeriksa denyut nadi Ida dan menuliskannya pada kertas yang ia pegang di papan jepit.


"Kau tunggu sebentar ya, aku panggilkan dokter. Aku hanya bertugas memeriksa kondisimu pagi ini. Aku harus melaporkan perkembanganmu." Senyum Ros terkembang. Rona bahagia tampak jelas dari mata jernihnya.


Ida kembali menunggu. Ruangannya sepi, hanya terdengar bunyi monitor yang terletak di samping ranjangnya. Ia masih mencoba mencerna kejadian terakhir yang ia ingat. Ia menyayat lehernya. Serta merta, tangannya meraba bagian yang ia sayat. Namun, di lehernya terpasang perban dan sebuah selang yang sepertinya ditanam di leher menuju tenggorokannya.


Dokter datang tepat ketika Ida berusaha hendak menegakkan tubuhnya dari ranjang.


"Kamu belum boleh banyak bergerak," tegur dokter itu.


Ida kembali merebahkan kepalanya. Dokter langsung memeriksa kondisi Ida. Memeriksa monitor yang terpasang, melirik Ida agak lama lalu ia berkata,


"Baru kali ini saya dapat pasien dengan luka separah kamu masih bisa bertahan. Memang mukjizat Tuhan." Dokter melanjutkan kembali memeriksa kondisi Ida.


"Kondisimu baik, selain luka yang ada di lehermu, tidak ada masalah lain. Kita lihat sore ini, kalau tidak ada masalah, kita cabut semua alat bantu," lanjut dokter itu.


Ida mendengarkan dengan seksama semua penjelasan dokter. Setelah dokter pergi, ia meminta Ros untuk tinggal menemani karena kebetulan jadwal shift jaga Ros sudah selesai.


"Oh iya Da, tadi adikmu Tini pulang dulu. Sudah tiga, hari ini dia menemanimu disini. Tadi dia mau melihat kondisi amai dulu pulang."


Ida hanya merespon dengan anggukan lemah.


Sore hari, setelah kondisi kesehatan Ida di periksa ulang, akhirnya alat-alat dan selang yang terpasang di tubuh Ida dicopot. Namun, ia masih belum diperbolehkan terlalu banyak bergerak.


Tak lama setelah alat bantu yang dipasang di tubuh Ida di lepas, Tini datang.


"Wah! Uni sudah siuman." Tini bergegas mendekati Ida.


Rasa lelah tergambar jelas di wajah Tini namun ia berusaha tetap tersenyum. Ida mengambil buku kecil pemberian Ros, menuliskan sesuatu.

__ADS_1


"Bagaimana kabar amai, Tin?"


Tini membaca apa yang Ida tulis.


"Kondisi amai mulai agak menurun lagi, tapi masih mau makan. Setiap hari amai menyesali diri karena membiarkan ninik mamak melanjutkan prosesi lamaran tanpa meminta persetujuanmu."


"Maafkan aku ya, aku tak bermaksud menyusahkan hati amai, hanya saja aku seperti sudah tidak mempunyai jalan lain waktu itu," tulis Ida.


"Sebenarnya, kalau saja Uni mau membuka mata. Uni seharusnya bisa melihat Burhan bukan seperti sangkaan Uni. Memang dia sering bergaul dengan parewa, tapi menurut kabar yang aku dengar, dia hanya terbawa pergaulan saja."


Ida diam. Mencoba mencerna apa yang Tini sampaikan. Memang, selama ini ia sendiri tidak melihat kelakuan Burhan dengan mata kepalanya sendiri, ia hanya mendengar dari omongan orang kampung. Namun, tetap saja hatinya masih belum bisa menerima seseorang yang ia belum kenal betul.


"Selama ini, Uni hanya sibuk memikirkan ego Uni. Uni selalu berpikir kami tidak menyayangi Uni, padahal sikap uni sendiri yang membuat Uni menjadi jauh dari kami."


Tini seolah menumpahkan semua unek-unek yang mungkin selama ini ia tahan dan tak ia sampaikan pada Ida.


"Maaf Uni, jika perkataanku terlalu pedas. Tapi aku merasa ini kesempatan aku untuk bicara, agar Uni benar-benar mau mendengar dengan hati Uni, bukan hanya dengan sangkaan-sangkaan Uni saja."


Ida tercenung mendengar penuturan Tini. Selama ini ia tak pernah mendengar Tini berbicara seperti ini padanya.


Seolah memutar balikkan semua kenangannya bersama amai setelah kepergian orangtuanya, Ida mencoba mengingat semua peristiwa masa kecilnya.


Ia ingat, setelah orangtuanya meninggal, Ida dan Tini yang tadinya akan diasuh Mak Dang, diambil oleh amai. Amai meminta agar mereka berdua diasuh oleh beliau. Lalu ketika kondisi ekonomi amai mulai memburuk, Ida yang kala itu sudah berumur tujuh tahun diminta oleh keluarga saudagar Cina langganan amai untuk menjadi anak angkatnya.


Amai menyerahkan Ida pada keluarga saudagar Cina itu, namun dengan satu syarat amai masih diperbolehkan untuk mengunjungi Ida sekali seminggu. Ia ingat dulu pesan amai ketika hendak meninggalkannya di rumah saudagar itu,


"Da, kita terpaksa berpisah untuk sementara. Bukan amai tak sayang kau Da, tapi kondisi amai yang tak sanggup memberi kalian kakak beradik makan dengan kondisi amai saat ini. Keluarga ko Akong keluarga baik, amai yakin kau akan diperlakukan dengan baik oleh ko Akong."


"Kau tau Da, kenapa aku tak mau menyerahkan kau pada mamakmu?" tanya amai suatu waktu.


Ida kecil hanya menggeleng.


"Mak Dang kau juga punya tanggungan keluarga, anaknya banyak. Amai tak ingin membebani Mak Dangmu. Amai juga tak ingin kalau kau nanti merasa dianak tirikan di keluarga mereka," terang amai.


Ida tak mampu menahan rasa sesak di dadanya. Tangisnya pecah, namun tanpa suara. Bagaimana mungkin selama ini egonya menutup semua kebaikan dan perhatian amai padanya.


"Aku menyesal, Tin." Ida menuliskan lagi apa yang hendak disampaikannya pada Tini.


"Tidak perlu menyesal Ni, semua ini ada hikmahnya. Setidaknya sekarang Mak Dang juga bisa menyadari kesalahannya, tak selamanya semua persoalan itu bisa diselesaikan dengan pemaksaan," ujar Tini. Senyum hangat mengembang dari bibir tipisnya.


Pantas saja Tini disayang semua orang, kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah tertata dengan baik. Ida tak merasa digurui maupun dihakimi oleh kalimat yang diucapkan Tini.


Tini mengambil bangku kayu yang ada di bawah ranjang Ida. Ia duduk di pinggir ranjang, mengusap punggung tangan Ida.


"Sekarang Uni coba pikirkan lagi, apakah Uni masih ingin mempertahankan pria pilihan hati Uni atau tetap menjalankan rencana yang sudah disusun keluarga besar kita," ujar Tini lembut.


Ida tak bergeming. Tatapan menerawang. Namun hati kecilnya seolah mempertimbangkan apa yang dikatakan Tini.


"Jika Uni masih mau mempertahankan perasaan Uni dan tetap memilih pria pilihan Uni, konsekuensinya Uni akan dikucilkan keluarga besar, karena sudah dianggap mencoreng nama ninik mamak kita. Namun, jika Uni memilih untuk melanjutkan apa yang sudah disusun oleh keluarga besar kita, Uni hanya mengorbankan perasaan Uni yang seiring waktu nanti juga akan terobati. Tak banyak hati yang akan kecewa, " lanjut Tini.

__ADS_1


Malam itu, Ida tak bisa memejamkan matanya. Selain karena luka di lehernya yang terasa nyeri, pikirannya juga dipenuhi oleh perkataan Tini tadi sore.


Malam itu Ida tidak ditemani keluarganya di rumah sakit. Ros menawarkan diri untuk menemaninya. Tini kembali ke kampung, mengingat amai selalu merasa kurang enak hati jika diurus oleh Mak Tuo.


"Kau belum tidur Da?" tanya Ros ketika melihat mata Ida masih terbuka.


Ida menggeleng. Ia meraih buku tulis dan menulis,


"Aku tidak bisa tidur Ros, mungkin karena sudah puas tidur selama sebulan." Ida tertawa tanpa suara ketika Ros membaca apa yang ditulisnya.


"Apa mau aku tambahkan obat pereda nyeri? Biar kau bisa istirahat?" tanya Ros.


Ida kembali menggeleng. Lalu ia menulis kembali,


"Kau ngantuk tidak Ros?"


"Belum. Kenapa?"


"Aku ingin mendengar ceritamu setelah aku tidak berada di Lubuk Begalung. Aku dengar kau menikah dengan Amir ya?"


"Ah ya! Kau pasti tau dari Syamsyir ya?" gelak Ros.


Seketika seperti ada yang menarik jantungnya keluar ketika ia mendengar nama pria itu. Namun, ia mengabaikan perasaannya. Ia lanjutkan bertanya pada Ros.


"Bagaimana kabar Amir?" Ida melanjutkan menulis.


"Amir sekarang sedang menjalani sekolah Militer di Jogja."


"Bagaimana cerita kalian bisa menikah?" Seulas senyum terkembang di bibirnya.


Terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan pada Ros. Dua tahun tidak bertemu, membuat Ida ingin mendengar cerita sahabatnya itu selama mereka tidak bersama.


"Hahaha aku juga bingung dari mana hendak memulai cerita." Ros tertawa menutupi mukanya.


"Ketika agresi Militer Belanda yang pertama, markas kita diserang habis-habisan oleh Belanda. Banyak yang tewas. Aku salah satu korban yang tertembak waktu itu. Sebulan lebih aku dirawat. Selama aku dirawat, Amir selalu datang menjengukku. Menghujaniku dengan perhatian-perhatiannya. Namanya perempuan, mudah sekali luluh kalau setiap hari dihujani perhatian seperti itu," Ros berhenti bicara, ia memandangi Ida yang tersenyum menatapnya.


"Hahaha.. Kalau di ingat sekarang kenapa aku jadi malu sendiri," gelak Ros.


Ida memberi isyarat "Tidak apa-apa, lanjukan ceritanya."


"Lalu, ketika aku sembuh. Amir melamarku. Namun saat itu aku tidak langsung menerima Amir. Luka yang aku dapat akibat tembakan itu membuat rahimku harus diangkat. Pelurunya bersarang tepat menembus perut bawahku. Aku merasa seperti perempuan cacat. Aku tak mau Amir menikahi perempuan cacat." Ros menghentikan ceritanya. Ia menatap Ida, menggigit bibirnya seolah mencari kekuatan.


" Tapi Amir mengatakan padaku, bahwa baginya kebahagiaannya cukup bersamaku. Ia tak menginginkan hal yang lebih besar lagi." Kali ini Rona bahagia terpancar jelas di wajah Ros.


Ida tersenyum. Ia seolah merasakan kebahagiaan yang dirasakan Ros. Ia ingat, Amir, pemuda ceria tapi bersahaja. Ia selalu teliti dalam melakukan segala hal. Cocok dengan Ros yang agak ceroboh.


"Oh iya Da. Sebenarnya ketika kau masih koma, Syamsyir beberapa kali datang menjengukmu. Ia terlihat terpukul sekali. Ia menitipkan surat buatmu. Sebentar aku ambil dulu ya."


Ketika kembali ke kamar, Ros membawa sebuah amplop putih di tangannya.

__ADS_1


"Ini Da," ujar Ros menyerahkan surat dari Syamsyir pada Ida.


Detak jantung Ida berdetak tak beraturan. Ia tak tau bagaimana pendapat Syamsyir tentang kebodohan yang telah ia lakukan. Berusaha menguatkan hati, ia merobek amplop pembungkus surat Syamsyir dan membacanya.


__ADS_2