
Kekhawatiran Ida tidak terbukti. Pada masa kehamilan kali ini, ia masih mampu menjalani hari-harinya tanpa banyak keluhan seperti kehamilan sebelumnya. Sembilan bulan tak terasa telah terlewati. Tibalah masa menunggu hari kelahiran si bayi.
Mendekati hari persalinan, Burhan mulai membatasi perjalanannya untuk berniaga ke Teluk Kuantan. Tak seperti masa kehamilan Ida sebelum-sebelumnya, kali ini Burhan dengan segala kekhawatirannya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, menemani anak-anak dengan segala keriuhannya.
"Amak, adik kapan lahir?" Laili mendekatkan telinganya ke perut Ida.
"Sebentar lagi. Laili nanti bantu amak menjaga adik, ya." Ida membelai lembut rambut gadis kecilnya yang mulai tidak sabar menyambut anggota baru keluarga mereka.
"Iya, nanti Laili tidak akan nakal," sahut gadis itu dengan senyum terkembang di wajahnya.
***
Minggu pagi, Ida mengajak Burhan dan anak-anak menemaninya berjalan pagi di sekitar rumah. Anak-anak begitu semangat berjalan, membawa mereka sampai ke tepian sungai Batang Agam yang membelah Payakumbuh.
Udara Payakumbuh pagi itu cukup hangat, tepian Batang Agam sudah ramai oleh penduduk setempat yang mencuci pakaian. Airnya tidak terlalu deras dikarenakan sedang musim kemarau. Dasar sungai yang berbatu terlihat jelas dari pinggirnya. Banyak anak kecil bermain dengan ceria di tepiannya. Teriakan dan tawa mereka menambah hangatnya suasana pagi.
"Abak, Ima juga ingin bermain air," pinta Fatimah mendongak pada Burhan.
"Tuan temanilah anak-anak bermain, aku hendak menyiapkan sarapan pulang."
"Kau tidak apa-apa pulang sendiri?" tanya Burhan meragukan permintaan istrinya.
"Iya, tidak apa-apa."
"Aku mau ikut Amak pulang," pinta Laili menggenggam tangan ida.
"Laili tidak mau ikut bermain bersama Ima?" tanya Ida heran. Biasanya Laili yang paling bersemangat jika diajak abaknya bermain air di tepian Batang Agam.
"Aku lelah," jawab Laili singkat.
Mereka berpisah di jalan kecil menuju rumah. Burhan dan Fatimah berjalan menuruni jalan setapak menuju tepian Batang Agam, Ida dan Laili meneruskan jalannya menuju rumah. Makin mendekati rumah, perut Ida mulai terasa tidak nyaman.
"Amak kenapa?" tanya Laili menyadari perubahan wajah Ida.
"Amak hanya sedikit lelah," sahut Ida menutupi apa yang ia rasakan.
"Kalau begitu kita nanti beli lontong tek Jum saja, Mak," usul Laili.
"Laili tidak mau masakan amak?"
"Nanti Amak makin lelah." Laili mendongak menatap Ida. Mata beningnya terlihat bersungguh-sungguh.
Ida terharu mendengar kalimat yang keluar dari bibir gadis kecilnya. Anak sekecil itu sudah mau memahami kondisinya.
"Nanti aku mau sala lauak [1] nya yang banyak ya, Mak," ujar Laili penuh harap.
"Iya, nanti kita beli yang banyak, Abak juga suka salanya tek Jum."
Selesai membeli sarapan di warung tetangganya, uni Jum, Ida kembali kerumah. Baru saja memasuki rumah, perut Ida makin terasa tak nyaman, sekonyong-konyong air ketubannya pecah.
"Amak kenapa mengompol?" jerit Laili melihat lantai yang basah di sekitar kaki Ida.
Baru saja Ida hendak menjawab pertanyaan Laili, bayi yang ada dirahimnya mendesak begitu saja keluar tanpa hambatan.
__ADS_1
"Li, minta tolong panggil tek Jum ke sini, bilang adikmu sudah lahir," seru Ida tersengal. Ia tak menyangka kelahiran anak kelimanya akan secepat itu.
Tanpa menjawab, Laili berlari ke luar rumah, ia panik melihat amaknya. Tak lama, Laili kembali bersama uni Jum. Perempuan paruh baya itu berjengit tatkala melihat di lantai, sesosok bayi merah tergeletak begitu saja diantara genangan darah.
Wajah Ida pias, ia masih berusaha untuk tetap sadar dengan bersandar pada kaki kursi di ruang tengah.
"Astaghfirullah, Da!" Kenapa kau melahirkan sendiri begini!" teriak uni Jum panik.
"Aku panggilkan bidan, ya." Tanpa menunggu jawaban Ida, uni Jum menghambur keluar rumah.
"Apa yang harus aku tolong, Mak?" tanya Laili takut-takut.
"Kau tunggu saja abak di luar." Ida melihat airmata Laili sudah mulai menggenang. Ia tak ingin menambah ketakutan Laili. Menyuruh Laili untuk menunggu di luar rumah adalah satu-satunya cara agar gadis kecil itu bisa meredakan perasaan takutnya.
"Iya," ujar Laili, meninggalkan Ida seorang diri.
Tak lama berselang, uni Jum datang bersama bidan. Ida memperhatikan dengan kesadaran yang hampir tinggal separuh, bidan dan uni Jum membereskan semua kekacauan akibat proses kelahiran yang tiba-tiba.
"Uni, bayinya coba disusui ya, badannya mulai membiru karena kedinginan," perintah bidan Nita ketika Ida telah dipindahkan ke kamar.
Ida menatap bayi perempuan mungil yang ada didekapannya. Wajahnya terlihat lebam, bibirnya membiru. Tak ada suara tangisan yang terdengar. Ia mendekatkan telinganya ke bibir mungil bayi yang baru saja ia lahirkan, terasa hembusan nafasnya begitu lemah.
"Assalamualaikum ... Ada apa ini Jum?" Terdengar suara Burhan keheranan ketika masuk rumah.
"Ida sudah melahirkan, Han," sahut uni Jum.
Burhan tergopoh memasuki kamar.
"Astaghfirullah, Da. Kenapa tiba-tiba begini," seru Burhan dengan wajah pias.
"Ah! Lalainya aku membiarkan kau pulang sendiri," rutuk Burhan.
"Aku juga tidak merasakan tanda-tandanya tadi, Tuan." Ida berusaha menghilangkan perasaan bersalah Burhan.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Burhan kemudian.
"Perempuan. Tuan iqomatkan lah," pinta Ida menyerahkan bayi yang ada dalam dekapannya pada Burhan.
Fatimah masuk kamar dengan bersemangat ingin melihat adiknya.
"Mana adik, Mak?"
"Itu lagi digendong abak," tunjuk Ida.
"Abak, mau lihat adik." Fatimah meloncat-loncat meminta agar abaknya memperlihatkan adiknya.
Sementara itu, Laili berdiri di pintu kamar. Wajahnya masih terlihat pucat.
"Li ... Sini dekat amak," ajak Ida.
Perlahan Laili mendekat. Duduk di samping Ida.
"Laili masih takut?"
__ADS_1
Laili hanya mengangguk kecil.
"Amak terluka?" Akhirnya gadis itu membuka suara.
"Tidak."
"Tadi banyak darah, aku takut Amak terluka." Laili menatap mata Ida. Mencoba memastikan kalau amaknya memang baik-baik saja.
"Itu darah dari perut, tempat adik selama ini tidur di perut amak," terang Ida.
"Jadi, bukan Amak yang terluka?" Laili mencoba memastikan kembali.
"Bukan, amak baik-baik saja. Laili tidak perlu takut." Ida tersenyum lembut pada Laili.
"Da, aku pulang ya. Nanti kalau ada apa-apa kau panggil saja aku," pamit uni Jum di ambang pintu kamar.
"Terima kasih banyak ya, Uni. Maaf aku merepotkan," ucap Ida.
Burhan menyerahkan kembali bayi yang baru saja ia iqomatkan pada Ida. Mengantarkan uni Jum keluar. Tak lama setelahnya, bidan Nita pun pamit pulang.
Burhan turut bergabung dengan anak-anaknya yang telah mengerumuni Ida. Fatimah paling bersemangat bertanya, karena ia akhirnya mempunyai adik.
"Untung kau tidak melahirkan di jalan, Da." lirih suara Burhan.
Ia tampak memikirkan sesuatu. Memandang Ida dengan tatapan nanar. Keningnya berkerut.
"Tuan memikirkan apa?" tanya Ida, heran melihat suaminya.
"Haahh ..." Burhan membuang nafas, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sepertinya aku harus meminta Fahmi mengirimkan barang dagangan ke Kuantan, aku khawatir meninggalkan kau sendirian," sahut Burhan kemudian.
"Tidak usah Tuan khawatirkan aku ...."
"Anak-anak yang lebih membuat aku khawatir, takut nanti kau malah kerepotan sendirian di rumah dengan anak-anak," potong Burhan.
"Tuan sudah menyiapkan nama?" Ida berusaha mengalihkan pembicaraan karena wajah Burhan tampak mulai kusut.
"Sudah, aku ingin memberi nama Salma jika perempuan." Burhan tersenyum, sedikit menghalau kesan suntuk yang sedari tadi menggantung di wajahnya.
"Sudah mau dia menyusu, Da?" tanya Burhan kemudian setelah jeda beberapa saat.
"Sudah, Alhamdulillah Salma sehat ya, Nak." Ida mencolek pipi mungil bayi yang mulai memerah.
"Adik kecil sekali ya, Mak," ujar Fatimah memandang takjub pada Salma.
"Iya, Ima dulu juga kecil seperti ini. Iya kan Li?"
"Iya, dulu Ima juga sering menangis," gelak Laili, wajahnya mulai terlihat ceria kembali.
Setelah melewati pagi yang menegangkan, keluarga kecil itu akhirnya bisa tertawa dengan bahagia menyambut kehadiran anggota keluarga mereka yang baru.
Setitik asa mulai membasahi hati Ida yang kering. Ia tak ingin lagi memenuhi pikirannya dengan ketakutan akan masa depan. Hari ini ia hanya ingin memenuhi hatinya dengan kegembiraan yang telah mereka hadirkan.
__ADS_1
****
[1] Sala/ Sala lauak \= sejenis gorengan khas Minang berbentuk bola kecil yang terbuat dari tepung Beras yang dicampur dengan ikan asin yang dihaluskan. Selain dijadikan cemilan, Sala juga biasa dimakan bersama ketupat/lontong sayur.