
Tanpa menunggu lama, rombongan kecil itu mulai bergerak meninggalkan surau tempat mereka bernaung. Langit pagi itu sangat cerah, awan tipis seperti potongan kapas beterbangan menghias langit biru pagi kala itu.
Cahaya matahari seolah tak mampu memberi rasa hangat pada rombongan itu. Mereka, khususnya petugas PMI, masih diliputi perasaan ketakutan, bahkan bunyi pesawat yang memberondong atap surau masih terngiang-ngiang di pendengaran mereka.
Lima belas orang berjalan beriringan memasuki hutan yang tak jauh dari surau. Meninggalkan tempat mereka beristirahat. Beberapa perlengkapan untuk bertahan hidup sudah tersampir rapi di pundak para tentara. Ros tampak kepayahan membawa tasnya yang terlihat penuh dan cukup berat. Ida menawarkan bantuannya, karena ia sendiri tidak membawa apa-apa selain tas yang diselempangkan pada bahunya.
"Ros, sini aku bawakan separo isi tas mu. Ada yang bisa dimasukkan ke kain panjang tidak? Nanti digulung dan diikat pakai kain panjang ini saja," tawar Ida.
"Ah kau tak membawa apa-apa Da? Kemana barang-barangmu?" Ros seperti baru menyadari bahwa Ida tak membawa beban apa-apa seperti yang lainnya.
"Aku cuma membawa tas ini, mau aku bawakan separuh isi tas mu?" ulang Ida menawarkan bantuannya ke Ros.
"Oh, boleh kalau begitu Da. Sepertinya perjalanan kita akan jauh. Isi tasku cukup berat juga." Ros dengan cekatan mengeluarkan sebagian pakaian yang ada di tasnya, menyerahkan pada Ida yang dengan cekatan juga mengikatkannya ke dalam kain panjang batik dan menyampirkannya ke punggung.
"Berat tidak Da? Kalau berat, biar dikurangi lagi," tanya Ros.
"Ah, tidak... Ayo kita jalan."
Sesekali Ida melirik ke langit. Cahaya matahari yang menyilaukan membuatnya menyipitkan mata.
"Masih takut ya Da?" tegur Rasyid ketika melihat Ida beberapa kali mendongakkan wajahnya ke langit.
"Ah ... Ya ... Aku hanya berpikir, apakah mereka tidak penasaran karena surau tidak roboh, lalu mereka balik lagi memberondong kita," terang Ida menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Ya, pasti mereka balik lagi. Makanya sebelum mereka balik, kita harus berada di dalam hutan agar tak begitu kelihatan kalau mereka memantau dari atas. Kemarin kita beruntung. ..."
"Allah masih lindungi kita, bukan keberuntungan itu!" potong Ida
"Ya.... Kita beruntung masih dilindungi Allah," ralat Rasyid.
"Ida ... Apa sebaiknya kau ganti pakaian mu saja Da?" tiba-tiba Maryam muncul disamping Ida.
"Kenapa memangnya dengan pakaianku ini?" Ida keheranan dengan pertanyaan Maryam.
"Kita mau masuk hutan, kau pakai rok seperti itu, apa tidak akan sulit nanti. Lagipula, nanti kakimu bisa ditempelin pacet."
"Hanya ini pakaianku yang pantas aku pakai Yam. Pakaian yang ada di tasku hanya ada kebaya encim sama kainnya. Mana mungkin aku memasuki hutan dengan pakaian seperti itu," gelak Ida.
"Ah, kau pakai saja celana panjangku," tawar Maryam.
Maryam berhenti berjalan, menurunkan tas yang ada di punggungnya, menarik sepotong celana yang terbuat dari bahan drill tebal. Maryam menyorongkan celana yang terlipat ke tangan Ida.
"Nah, kau pakailah ini, nanti makin masuk ke dalam hutan, akan semakin dingin juga," lanjut Maryam.
Ida tercenung memegang celana yang disorongkan paksa ke tangannya oleh Maryam. Ia tidak pernah menyangka akan ada orang lain selain orang yang ia anggap keluarga akan peduli padanya.
"Hei, kau tunggu apa lagi. Cepat ganti lah."
"Hei, kalian yang di belakang, kenapa berhenti." Tiba-tiba suara bariton pak Zain mengagetkan Ida.
"Sebentar pak, ada yang mau ganti pakaian dulu," terang Maryam.
"Hei, ini kondisi darurat masih sempat-sempatnya memikirkan pakaian." Suara pak Zain mulai gusar.
__ADS_1
"Ah, ini juga untuk menjaga keselamatan pak. Coba bapak lihat, gadis ini memakai rok. Apa nanti tidak akan menyulitkan." Maryam mengajukan argumennya.
"Ya Tuhaan... Cepat lah kau ganti rok mu itu." Pak Zain ikut memerintahkan Ida untuk mengganti pakaiannya.
Rasyid hanya tertawa kecil melihat Maryam dan pak Zain beradu argumen. Ia menyusul rombongan yang lebih dahulu berjalan di depan dengan langkah cepat. Selain itu, agak risih juga ia mendengar dua perempuan memperdebatkan pakaian.
Sementara itu, tanpa menunggu perintah berikutnya, Ida dengan cepat mengganti rok yang ia pakai dengan celana pemberian Maryam. Menyarungkan celana di balik rok yang ia pakai sambil terus berjalan. Setelah celana terpasang, Ida bingung, celana yang diberikan Maryam terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.
"Haha longgar ya, kau pakailah ini" Maryam menyerahkan seutas tali dari kain blacu.
Dengan cekatan Ida melepaskan rok yang ia pakai di atas celana pemberian Maryam dan mengikatkan tali di sekeliling pinggangnya. Ida terpaksa melipat bagian bawah kaki celana karena celana itu terlalu panjang baginya. Bagaimana tidak, Maryam ditaksir Ida mempunyai tinggi tubuh sekitar setatus enam puluh senti, mungkin lebih. Sementara tinggi tubuhnya hanya setinggi dada Maryam.
"Nah, sekarang kaki kau lumayan terlindungi kan." Senyum puas Maryam tersungging melihat Ida.
"Terima kasih ya Yam.. Kau baik sekali memikirkan sampai seperti itu."
"Kalau kondisi seperti ini, ya kita harus saling menjaga. Ya kan?" Maryam meminta persetujuan dari gadis yang lain.
"Iya ... Kita keluarga sekarang, jadi harus saling jaga." Zubaedar membenarkan perkataan Maryam.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Tak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Tak berapa lama suara dengungan pesawat terdengar lagi. Rombongan itu tak memberhentikan langkah mereka, pun tak ada yang berniat untuk memulai percakapan. Mereka bertahan dalam diam, melanjutkan perjalanan mereka masuk ke kedalaman hutan, mencari sedikit tempat berlindung dalam rimbun dan gelapnya bayangan pohon.
Entah berapa lama mereka berjalan, Ida mulai merasakan kakinya perih. Kakinya hanya beralaskan sendal jepit kulit yang diikatkan ke pergelangan kaki tak mampu melindunginya dari duri semak-semak yang mereka lalui. Ia melirik jemari kakinya, ada beberapa goresan yang melukai punggung kakinya mengeluarkan darah.
"Kenapa Da?" tanya Ros menggamit tangan Ida.
"Eh, ini... Kakiku mulai perih Ros... Tadi sempat tercucuk duri," terang Ida.
"Kenapa? Capek?"
"Bukan pak, kaki Ida berdarah karena tadi sempat tersangkut semak yang kita lalui."
Ida tetap bungkam, ia tak berani membuka suara. Ia bukan orang yang biasa mengeluhkan apa yang ia rasakan pada orang lain. Walaupun selama ini selalu dianggap pemberontak, tapi ia bukan perempuan yang bisa mengungkapkan segala perasaan yang ia rasakan. Ketika sakit, ia lebih memilih untuk menahannya dalam diam, pun ketika ia merasa gembira, ia tetap menahannya sendiri.
"Nanti saja, tahan dulu, sedikit lagi kita sampai di pos laskar tak jauh dari sini."
"Baik pak, tidak apa-apa.. Cuma tergores sedikit." Akhirnya Ida membuka suara.
"Bagus, jangan kalah dengan luka kecil ya. Nanti kita akan berhadapan dengan yang lebih parah dari itu." Pak Zain tersenyum pada Ida.
Ida hanya menjawab dengan anggukan.
"Tak perlu dibesar-besarkan lah Ros. Nanti aku dikira anak manja," kekeh Ida pada Ros.
"Ah ya, Maafkan aku ya Da. Aku takut kau malah makin kesakitan," ujar Ros membela diri.
"Hehe terima kasih ya, Ros."
Cahaya matahari sudah mulai meredup tertutup daun-daun pohon besar yang ada di hutan, udaranya pun makin terasa dingin. Ida menarik selendang yang dihadiahkan Mai, menutupi kepala dan mengalungkan ke lehernya. Lumayan memberikan kehangatan.
Ida meraba perutnya, sedari kemarin malam belum diisi. Perutnya mulai mengeluarkan bunyi gemuruh.
"Lapar ya da?" Siti yang ada di belakangnya mencolek Ida.
__ADS_1
"Ah ... Haha kencang sekali ya bunyi perutku," gelak Ida.
"Haha tidak terlalu, aku lihat kau dari tadi memegang perutmu."
"Haha, iya baru sadar kalau lapar."
"Kita benar-benar tidak bisa istirahat barang sejenak ya." Kali ini Siti mulai berbisik.
"Ya mau bagaimana lagi, ini juga demi keselamatan kita." Ida pun ikut membalas dengan berbisik.
Dalam hitungan Ida, mereka berjalan mungkin sudah setengah hari. Ida tidak bisa menerka waktu, karena cahaya matahari benar-benar sudah terlihat samar-samar di antara rimbunnya pepohonan.
"Kira-kira di hutan ini ada inyiak* tidak ya?" Ida mendengar Laila berbisik kepada Maryam.
"Ah, tak usah berpikir aneh-aneh, La. Kau ini, ada-ada saja yang kau ingat." Maryam berjengit mendengar pertanyaan Laila.
"Ah, aku hanya takut saja Yam, makin lama hutannya semakin gelap." Tampak jelas muka takut terpampang di wajah Laila. Matanya yang bulat besar benar-benar menyiratkan kengerian.
"Berdoa sajalah kita selamat." Maryam menepuk-nepuk punggung Laila, menenangkan nya.
"Iya, semoga saja," balas Laila lemah.
Beberapa saat kemudian, cahaya matahari mulai terlihat lagi. Pohon-pohon besar yang menutupi pandangan mereka mulai berganti dengan deretan pohon pinus. Semak-semak yang menutupi jalan mereka pun juga semakin jarang. Sekonyong-konyong, di tengah deretan pohon pinus, mereka melihat semacam pondok. Pondok itu didirikan dengan beberapa kayu yang diikat ke pohon yang bagian atap dan dindingnya ditutupi jerami kering.
Ketika mereka masih fokus mengamati pondok itu, tiba-tiba dari balik semak terakhir yang mereka lewati, beberapa orang pria bersenjata menghadang mereka.
"Angkat tangan!" teriak salah seorang pria yang bersenjata.
Pria itu menggunakan pakaian dari sejenis karung yang dibolongi di bagian leher dan lengannya, di bagian pinggang diikat dengan tali rami. Kepalanya ditutupi caping, sehingga wajahnya tidak begitu kelihatan karena tertutup bayangan caping.
"Kami pasukan dari Banda Buek, ke sini hendak menyelamatkan diri, karena kemarin sore surau kami diserang pesawat Belanda." Angku Munir menerangkan dengan cepat.
"Ah angku!" Tiba-tiba pria yang menodongkan senjata itu menarik dan merangkul angku Munir.
"Haaa Marwan!!" Angku Munir membalas rangkulan pria yang ia panggil Marwan itu.
"Sudah, turunkan senjata kalian. Ini angku Munir yang biasa berjaga di pasar Banda buek." Marwan memerintahkan kepada rekannya yang lain.
Selesai perkenalan singkat dengan beberapa orang laskar yang diketuai oleh Marwan, mereka dipersilahkan untuk beristirahat. Dengan cekatan petugas dapur menyiapkan perbekalan untuk mengisi perut mereka yang sudah tidak dapat ditawar lagi untuk berhenti berteriak.
Tanpa diminta, petugas PMI yang semuanya terdiri dari para gadis muda itu ikut turut membantu petugas dapur menyiapkan hidangan untuk mengganjal perut mereka.
"Di dalam ada sekarung Beras, ambillah buat dimasak," tukas Marwan pada bu Saidah petugas dapur.
"Ah, kalian masih punya beras?" bu Saidah tampak takzim ketika Marwan menawarkan beras.
"Sisa simpanan dari bulan lalu. Itu juga kondisinya sudah tidak terlalu bagus."
"Ah baik, saya masak saja agak banyak ya. Daripada berasnya makin memburuk." Bu Saidah meminta ijin pada Marwan.
Tak memerlukan waktu yang lama, mereka selesai menyiapkan makanan untuk mengisi perut mereka yang sudah tidak mampu diajak berkompromi lagi. Rendang pun menjadi hidangan mewah yang tersaji menemani mereka melepas penat dan saling mengenal satu sama lain di dalam hutan pinus petang itu.
*Inyiak \= Harimau. Jaman dulu di Sumbar, Tabu mengatakan Harimau kalau di dalam hutan, karena dipercaya akan memanggil Harimau itu datang.
__ADS_1