MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 25


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Ros, Ida yang hari itu hanya dijemput Tini, meninggalkan rumah sakit. Kembali ke rumah di Kubang Putih. Di sepanjang perjalanan pulang, Ida masih melihat sisa-sisa bangunan yang hancur akibat penyerangan Belanda. Beberapa ada yang mulai diperbaiki, namun sebagian lainnya masih dibiarkan begitu saja.


Ida mengingat semua perjalanannya selama dua tahun ini, berawal dari keinginannya untuk menghindari proses perjodohannya, ia meninggalkan rumah. Memberikan baktinya pada negeri. Melihat betapa banyaknya yang harus dikorbankan bangsa ini untuk mendapatkan sebuah kata kebebasan. Terbebas dari penindasan penjajah.


Hati Ida terasa perih, disaat ia turut membantu memperjuangkan kebebasan negerinya dari penjajah, ia malah tidak mampu memperjuangkan kebebasannya sendiri. Kebebasannya memilih orang yang akan mendampingi hidupnya. Ia merasa tidak diberi kebebasan untuk memilih. Pilihan yang dihadapkan padanya terlalu sulit baginya.


"Uni, apakah masih terasa sakit lukanya? Muka Uni pucat," ujar Tini membuyarkan lamunan Ida.


"Tidak. Aku baik-baik saja."


"Dari tadi aku perhatikan, Uni melamun saja."


"Mungkin karena efek obat, kepalaku masih terasa berat," sahut Ida berusaha menepiskan kekhawatiran adiknya.


"Kalau begitu, Uni istirahatlah."


"Iya," jawabnya singkat.


Sesampainya di depan rumah. Ida terhenti sejenak. Menatap rumah tua yang ada di hadapannya. Pintu dan jendela rumah terbuka lebar. Sayup-sayup ia mendengar suara Mak Dang yang sedang berbicara, entah dengan siapa, Ida tak begitu mendengar dengan jelas suara lawan bicara Mak Dang.


"Ayo, Uni," ajak Tini menggandeng tangan Ida.


"I-iya," sahut Ida gugup.


"Sudah, tak perlu khawatir. Mak Dang tak akan memarahimu, beliau juga menyesal telah memarahimu," ujar Tini seakan memahami kekhawatiran kakaknya.


"Iya," sahut Ida, lalu mengikuti Tini berjalan masuk ke halaman rumah.


"Assalamualaikum." Tini mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Waalaikum salam." Mak Dang dan Amai menjawab bersamaan.


"Onde, sudah pulang cucuku." Amai bergegas menyambut Ida yang muncul di belakang Tini.


"Amai...." Ida menyalami Amai dan mencium tangan neneknya.


"Mak Dang," lanjut Ida menyalami mamaknya. Ia tidak berani menatap wajah mamaknya itu.


"Sudah sehat kau, Da?" tanya Mak Dang menyambut salam kemenakannya.


"Sudah, Mak." Suasana canggung jelas terasa di antara mereka.


"Mak tuo kemana, Mak?" lanjut Ida berusaha menghilangkan kecanggungan.


"Ah ... Iya, mak tuomu sedang menjenguk mamaknya ke Padang Panjang, beliau titip salam buatmu."


"Iya, Mak."


"Kau duduklah. Ada yang harus kita bicarakan," ujar Mak Dang mempersilahkan Ida duduk.


"Iya, Mak," sahut Ida singkat, lalu duduk di kursi yang ada di hadapan mamaknya.


"Aku minta maaf, karena selama ini aku sudah terlalu keras padamu. Aku sadar, apa yang kau lakukan tempo hari bukan lah karena kau hendak membangkang, tapi karena perasaan tertekan." Mak Dang berhenti bicara.

__ADS_1


Matanya yang biasa terlihat garang, hari ini terlihat teduh. Mak Dang mengusap wajahnya, lalu tangannya berhenti pada kumis tebalnya, memandang Ida sejenak, lalu melanjutkan berbicara.


"Maaf jika selama ini aku belum menjadi mamak yang baik buatmu. Selama ini aku tidak membimbingmu dengan baik, seperti seharusnya seorang mamak lakukan pada kemenakannya."


Ida seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Melihat ekspresi mamaknya, mencoba meyakinkan kembali apa yang ia dengar dan ia lihat bukan mimpi.


" Kau tak percaya kalau mak dang mu yang sedang berbicara ya, Da," kekeh amai memperlihatkan separuh gigi yang telah hilang dari tempatnya.


Ida membalas dengan senyum kaku, menggigit bibirnya. Bingung hendak menjawab apa. Lalu Mak Dang tertawa, mengenyahkan segala kecanggungan yang tercipta.


"Aku sudah mendengar dari Amai, kau mau meneruskan rencana pernikahan dengan Burhan?" tanya Mak Dang kemudian.


Selalu saja seperti ada pisau yang mengiris hatinya ketika hal itu kembali dibahas. Walaupun ia telah memutuskan untuk menerima keputusan keluarganya, namun hati kecilnya masih saja merasakan sakit itu.


" Iya, Mak," jawabnya pelan.


"Amai memintaku untuk malipek tando, tapi aku ataupun amai belum punya uang untuk membayar dendanya." Mak Dang seolah menyesali dirinya.


"Tidak usah, Mak. Aku terima apapun keputusan keluarga, aku tidak mau menjadi penyebab masalah lagi dalam keluarga ini," ujar Ida pelan.


Mak Dang menoleh pada amai, seakan memastikan bahwa telinganya tak salah dengar.


"Sebenarnya, Ida sudah menerima keputusan ini, Gus. Tapi aku masih berusaha untuk mencarikan jalan, agar Ida tak berlarut-larut dalam kesedihannya," terang amai.


"Aku tak salah dengarkan?" Mak Dang seolah mencari kepastian kembali atas apa yang ia dengar.


"Tidak, Mak. Mungkin memang Burhan jodohku. Karena aku sudah berusaha untuk berlari menjauh, namun tetap saja jalannya menyeretku kembali pada jalan menuju pernikahan ini," lanjut Ida dengan suara parau. Ia berusaha keras menahan agar airmatanya tak perlu jatuh di depan Mak Dang.


"Sudah lah, Gus. Ida pasti masih lelah, biarkanlah dia beristirahat dulu. Lagi pula tak perlu kau pertanyakan kembali keputusannya, hanya akan menambah bebannya saja."


"Baiklah, kau istirahat lah." Mak Dang akhirnya menghentikan pembicaraan itu.


-------------°°°°°°°°---------------------


Dua bulan setelah kepulangannya, persiapan pernikahan Ida mulai dilakukan. Semua keluarga sapasukuan* mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk pesta pernikahan Ida. Segala prosesi menjelang pernikahan pun telah ia lakukan.


Mendekati hari pernikahannya, halaman belakang rumah pun disulap menjadi dapur. Para perempuan dalam keluarga besar sukunya berdatangan untuk membantu.


Dua buah tungku besar juga sudah dipersiapkan untuk memasak rendang dan masakan lainnya yang akan dihidangkan bagi para tetamu.


Rumah amai yang biasa terasa luas ketika mereka tempati bertiga, hari itu terlihat sesak. Pelaminan sudah mulai dipasang para lelaki di ruang tengah rumah. Berbagai ornamen untuk menghias pelaminan juga sudah terpasang menambah semaraknya suasana tahta calon raja dan ratu sehari itu.


Dinding rumah pun tak ketinggalan ditutupi kain merah dan kuning keemasan. Rumah yang tadinya terlihat dingin, tampak begitu meriah oleh dekorasi yang telah terpasang.


Prosesi malam bainai** tak ketinggalan dilangsungkan. Para tetua dalam keluarga besar Ida berdatangan, memberi doa dan restu untuknya. Seharusnya malam bainai adalah hal yang menggembirakan bagi calon mempelai, namun Ida masih belum mampu merasakan kebahagiaan itu dalam hatinya.


"Eh, kenapa anak daronya*** cemberut terus," goda salah seorang sepupu amaknya ketika melihat Ida hanya menunduk selama prosesi malam bainai berlangsung.


"Bukannya dari dulu wajahku seperti ini ya, Tek?" ujar Ida menutupi kegundahan hatinya dengan seulas senyum yang dipaksakan.


"Oh, iya ya. Tapi setidaknya kau perlihatkanlah wajah bahagiamu, Da. Kau akan dinikahi anak orang kaya, sudah tak susah hidupmu nanti." Sepupu amaknya, yang berusia empat puluhan itu menasehati dirinya.


"Iya, Tek," sahut Ida singkat.

__ADS_1


Riuh rendah suara gelak tawa dan celoteh keluarga yang ikut membantu persiapan resepsi pernikahan Ida malam itu, membuatnya makin terasa terasing di antara orang-orang yang mempunyai talian darah dengannya itu.


Membuat ia makin tenggelam dalam kilasan perjalanannya bersama sahabatnya, orang-orang yang tak mempunyai hubungan darah dengannya, namun membuatnya merasa bisa melebur bersama mereka. Membuat ia merasa diterima.


Ida merasa waktu diputar cepat. Sekonyong-konyong ia telah dihadapkan pada hari besar dalam hidupnya. Hari dimana ia akan memulai kehidupan baru dengan pria yang tak pernah ia kenal bagaimana pribadinya. Pria yang hanya ia kenal dari berita mulut ke mulut warga kampungnya.


Bunyi talempong**** bertalu-talu membuyarkan lamunan Ida. Suara ninik mamak keluarganya dan keluarga Burhan yang saling berbalas pantun terdengar di halaman. Ida hari itu terlihat anggun dalam balutan pakaian pengantin merah berbahan beludru. Rambutnya yang digelung rapi, ditutup selendang beludru berwarna senada dengan baju yang ia kenakan.


Pergelangan tangannya dihiasi gelang berukuran besar yang terbuat dari kuningan. Ida memutar-mutar gelang yang ia kenakan untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja bersarang di hatinya.


Udara dingin di kaki gunung Marapi pagi itu tak begitu terasa bagi Ida. Keringat membasahi tubuhnya, telapak tangannya pun telah basah oleh keringat. Ida kemudian beralih meremas ujung selendang yang dipakainya untuk menghilangkan rasa gugup.


Ida mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar. Kamar yang biasa ditempati amai telah dihias sedemikian rupa. Sebuah ranjang besar dipasang lengkap dengan kelambunya tepat berada di tengah ruangan. Ida duduk di pinggir ranjang, menatap keluar ke jendela terbuka. Langit pagi di Kubang Putih tampak begitu bersih, tak ada awan yang terlihat menggantung.


Suara riuh rendah di halaman seolah tak mampu mengusir rasa sepi yang masih bersarang di hati Ida. Ia menatap nanar pada langit, berharap semua ini hanya gurauan yang nantinya akan ia tertawakan.


Tak lama suara riuh rendah bunyi talempong dan suara berbalas pantun tak lagi terdengar. Berganti suara lantunan ayat suci yang dilanjutkan petuah nasehat yang disampaikan oleh buya Nasir pemuka Agama di kampungnya.


Suara buya Nasir yang lembut terasa menyejukkan ketika memberikan nasehat-nasehat pernikahan. Ida berusaha menyimak setiap kata yang beliau sampaikan.


"Jodoh merupakan rahasia Allah. Tak peduli seberapa jauh kau mengembara, Allah akan tetap menuntunmu ke tangan orang yang telah dituliskan untukmu. Namun sebaliknya, jika dia bukan jodohmu, sekuat apapun kau merengkuhnya, ia tetap akan pergi. Dalam berumah tangga, perasaan kasih sayang itu amat sangat dibutuhkan. Kalian harus saling menumbuhkan perasaan itu. Banyak pernikahan yang awalnya tidak ada perasaan cinta, sering berjalannya waktu perasaan itu akan tumbuh, jika kalian saling menghormati dan menyayangi pasangan kalian."


Kalimat demi kalimat yang disampaikan buya Nasir begitu mengena di hati Ida. Perasaan yang tadi membuatnya tertekan, karena menikah atas dasar paksaan berusaha ia kesampingkan. Ia mengingat lagi perjalanannya untuk menghindari pernikahan ini, namun pada akhirnya ia tak kuasa lagi melawan takdir yang telah dituliskan untuknya.


Selesai buya Nasir memberi nasihat pernikahan, tak lama terdengar suara serak pak etek, adik laki-laki abaknya mulai membacakan ijab kabul, yang langsung di jawab lantang oleh suara Burhan yang berat.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rosidah Binti Hasril Sutan Pamenan dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai."


"Sah?" Suara penghulu terdengar memecah keheningan.


"Sah!" seru dua orang saksi bersamaan.


"Alhamdulillah....." Terdengar gumaman dari seluruh anggota keluarga.


"Ida, ayo keluar," panggil tek Em, sepupu amaknya mendekati Ida yang masih duduk di ranjang.


Ida bangkit dari duduknya yang langsung dituntun eteknya berjalan keluar kamar.


"Selamat ya, Da," ujar tek Em dengan senyum dengan mata berbinar, mengusap punggung Ida.


Ida melangkah keluar kamar, menemui pria yang telah mengucapkan janji untuk mengikatkannya dalam ikatan suci pernikahan. Diliriknya pria yang selama ini selalu ia hindari. Duduk bersila dengan penuh kharisma di hadapan pak eteknya. Tatapannya yang tajam melirik ke arah anak daro yang baru saja keluar.


"Silahkan duduk di samping suamimu, Da." Tek Em menuntun Ida duduk di samping Burhan.


Ida menurut, ia duduk di samping pria yang akan ia dampingi seumur hidupnya. Mencoba menerima takdirnya dengan lapang Dada. Karena ia tau, bahwa ini bukanlah akhir dari perjalanannya. Pernikahan ini, merupakan awal dari perjalanan panjangnya hingga nanti menapaki senja.


*sapasukuan\= sesuku.


** malam bainai \= Prosesi memasangkan tumbuhan pacar yang telah dihaluskan pada kuku calon pengantin. Prosesi ini juga sebagai bentuk doa restu dari keluarga pada mempelai.


*** anak daro \= mempelai perempuan.


**** talempong \= alat musik pukul Minang yang mirip alat musik bonang pada gamelan.

__ADS_1


__ADS_2