
Setelah pertemuan kembali dengan Syamsyir Ida berusaha untuk menepiskan segala perasaan tidak nyaman yang mulai bersarang di hatinya. Terlebih lagi, masalah baru datang ketika tek Risma tiba-tiba mengatakan bahwa beliau sudah tidak bisa mempekerjakan Ida di gudang.
"Da, kau kan tau kondisi kesehatan mamakmu sudah makin memburuk. Biaya berobatnya makin membengkak. Aku terpaksa memberhentikan sebagian besar pekerja gudang untuk penghematan biaya pengeluaran. Tadinya aku tak hendak memberhentikanmu, tapi aku takut pekerja lain akan mengira aku pilih kasih karena kau kemenakan suamiku. Yang aku pertahanankan hanya pekerja yang sudah dari awal bersama kami. Jadi ... sekali lagi aku minta maaf karena tak bisa mempertahankanmu. Mulai besok kau tak usah datang lagi ke gudang." Ucapan tek Risma terdengar seperti putusan hukuman kematian bagi Ida. Selama ini, penghasilannya yang terbesar berasal dari hasil kerja di gudang mak eteknya.
Sebelum ia diberhentikan saja, ia masih kesusahan menutup biaya hidupnya dan anak-anak, apalagi sekarang setelah ia tak bekerja di gudang. Ida tak mampu berkata-kata lagi setelah tek Risma mengatakan hal itu. Pikirannya kosong. Kemana lagi ia harus mencari pekerjaan. Tak ada lapangan pekerjaan yang layak, mau menerima perempuan yang sudah berumur diatas empat puluh tahun. Pekerjaan yang banyak tersedia hanya untuk perempuan yang masih berusia muda.
Ida pulang dengan rasa sesak di dada. Ketika keluar dari rumah mamaknya, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Ida tak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan dibawah hujan, berharap hujan sedikit membawa beban yang ada di pikirannya. Awan gelap yang menutup langit seolah mewakilkan perasaannya. Ia menyeret langkah, menggumamkan sebait doa bersama hujan. Berharap Tuhan sedikit memberinya secercah harapan untuk hidupnya.
"Ida??" Sesosok laki-laki jangkung dengan payung hitam di tangan, berlari menyongsong. Laki-laki bermata almond itu menyorongkan payung yang ada di tangannya ke atas kepala Ida yang telah basah kuyub.
"Tuan?" Ida tersentak memandangi wajah laki-laki yang memayunginya. Syamsyir, laki-laki itu entah darimana datangnya, Ida tak menyadari tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya.
"Kau kenapa hujan-hujanan begini?" tanya Syamsyir dengan raut khawatir.
"Ah, aku hanya ingin mendinginkan kepalaku sejenak." Ida memaksakan senyumnya.
"Ayo aku antar kau pulang," ajak Syamsyir setengah memaksa menarik pergelangan tangan Ida.
"Tidak usah, Tuan. Aku hanya ingin sendiri untuk saat ini," sahut Ida menarik kembali tangannya, namun cengkraman Syamsyir lebih kuat dari dugaannya.
"Kali ini aku memaksa," ujar Syamsyir menatap tajam.
Sadar ia tak akan menang melawan tenaga Syamsyir yang begitu kuat, akhirnya ia menurut ketika Syamsyir menuntunnya ke sebuah mobil jeep berwarna putih yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Syamsyir membukakan pintu bagian penumpang, Ida bergeming.
"Ayo masuklah, Da." Syamsyir setengah berteriak mengalahkan suara hujan.
"Aku pulang sendiri saja," tolak Ida.
"Ayo lah, Da. Aku tau rumahmu masih jauh dari sini," bujuk Syamsyir.
"Sekali ini saja," lanjutnya dengan sorot mata memohon.
Ida akhirnya masuk dengan agak canggung karena pijakan kaki untuk menaiki mobil yang agak tinggi, licin terkena air hujan. Setelah ia duduk di kursi penumpang, Syamsyir menyusul masuk, duduk di belakang kemudi.
"Rumahmu ke arah kuburan Cina kan, Da?" tanya Syamsyir saat menyalakan mesin mobil.
"Bagaimana Tuan tau?" tanya Ida heran. Ia memalingkan wajahnya ke arah Syamsyir, setelah sedari tadi hanya menunduk.
"Tempo hari aku mengikutimu, setelah kau pergi begitu saja meninggalkanku," gelak Syamsyir.
"Untuk apa?" tanya Ida ketus berusaha menetralkan perasaan yang kembali bergemuruh tatkala menatap sorot mata itu.
"Entahlah, aku juga tidak mempunyai alasan khusus. Yang ada di pikiranku saat itu, aku hanya ingin memperbaiki apa yang sempat terputus," sahut Syamsyir tanpa menoleh pada Ida, matanya menatap lurus ke jalanan yang mulai sepi. Hujan sudah mulai berhenti, menyisakan rintik-rintik kecil seperti beribu jarum yang siap menghujam siapa saja yang melewatinya.
"Apa masih perlu?" sahut Ida lirih. Badannya mulai menggigil kedinginan akibat bajunya yang basah dan terkena angin yang masuk dari sela-sela kaca jendela mobil.
__ADS_1
"Kau kedinginan, ya?" Syamsyir tak menghiraukan pertanyaan Ida. Ia menepikan mobil, menarik rem dan beringsut mengambil sebuah jaket militer yang tersampir di bagian bangku penumpang belakang.
"Nah kau pakailah ini untuk sementara, daripada kau masuk angin." Syamsyir menyerahkan jaketnya pada Ida.
"Tidak usah, aku sudah terbiasa. Sebentar lagi juga sampai," tolak Ida dengan nada dingin.
Syamsyir meletakkan kembali jaket yang baru saja ia ambil ke tempat semula. Ia tak ingin membuat Ida jengah karena ia terlalu memaksa.
Hening menyergap. Ida kembali sibuk dengan pikirannya. Perasaan risau akan kehidupan anak-anaknya mengalahkan setitik rasa yang tadi sempat menyelinap masuk ke hatinya.
"Kau ada masalah, Da?" Suara Syamsyir memecah kesunyian yang tercipta.
Ida hanya diam. Matanya tetap menatap lurus ke jalanan. Ia mengerjapkan mata, agar cairan hangat yang menggantung di matanya tidak tumpah.
"Cerita saja, siapa tau bisa mengurangi sedikit bebanmu." Syamsyir kembali bersuara.
"Tidak ada yang perlu diceritakan," sahut Ida menghembuskan nafas perlahan.
"Kau ikut suamimu ke sini?" tanya Syamsyir kemudian.
Pertanyaan Syamsyir seolah mengoyak luka yang telah susah payah Ida obati bertahun-tahun. Mengingat Burhan membuat ia tak mampu mempertahankan perih yang telah lama ia tahan. Sekonyong-konyong pertahanannya runtuh, ia tergugu dalam isakan tangisnya.
"Astaga, Da. Maafkan jika pertanyaanku membuatmu sedih," ujar Syamsyir terkejut melihat Ida yang tiba-tiba menangis. Ia memperlambat laju mobil dan menepi.
"Da, apakah suamimu menyakitimu?" Syamsyir kembali bertanya. Kali ini tatapannya lekat ke wajah Ida yang menunduk. Ada gurat khawatir terjejak jelas di wajahnya.
"Lalu, apa yang membuatmu menangis ketika aku menanyakan suamimu?"
"Aku dan suamiku telah terpisah hampir sepuluh tahun, aku tidak tahu dimana keberadaannya sekarang. Bukan karena ia meninggalkanku atas keinginannya, tapi takdir yang mempermainkan hubungan kami," sahut Ida memulai kisahnya. Sepertinya ia memang membutuhkan seseorang untuk membagi kisahnya, rasa sesak akibat kehilangan Burhan yang telah ia pendam lama, membuat ia menceritakan begitu saja pada Syamsyir apa yang terjadi pada dirinya.
"Aku turut berduka, Da." Syamsyir seperti kehilangan kata-kata setelah mendengarkan kisah Ida.
"Aku harus segera pulang, kasihan anak-anakku menunggu terlalu lama."
"Ah, Iya. Maaf ...." Syamsyir kembali memutar kunci kontak mobil, mobil menyala dalam dua kali sentakan, dan kembali melaju membelah jalanan yang masih basah.
Ida melirik ke arah Syamsyir, wajah Syamsyir seperti sedang memikirkan sesuatu. Tatapannya menerawang jauh ke arah jalanan.
"Bagaimana kabar Tuan setelah pergi ke Jogja?" Akhirnya Ida membuka suara.
Syamsyir seolah tersentak, menoleh ke arah Ida seolah memastikan bahwa pendengarannya tak salah, kalau Ida memulai percakapan dengannya.
"Ah ... Agak rumit ...." Syamsyir seperti tenggelam dalam pikirannya.
"Setelah aku memutuskan untuk menyerah, aku malah menyesal. Setiap hari berharap Ros tak sempat memberikan surat yang pernah aku tulis padamu. Tapi setelah mendapatkan surat balasan darimu ...." Syamsyir tercekat, "aku akhirnya mencoba berbesar hati menerima apa yang telah terjadi. Lalu, setelah masa pendidikan usai, aku sempat bertemu kembali dengan Amir. Dia mengabarkan bahwa kau telah mendapatkan kebahagiaanmu dengan pria pilihan keluargamu ...." Syamsyir menghela nafas.
__ADS_1
"Aku sempat merasa hancur, namun aku sadar, bahwa akulah yang melepaskanmu. Aku harus menerima akibat dari apa yang telah aku lakukan." Syamsyir melanjutkan kisahnya.
Kembali hening menguasai.
"Lalu, apakah Tuan sudah menikah?" tanya Ida kembali memecah kesunyian.
"Sudah. Lima tahun yang lalu," sahut Syamsyir dengan senyum tipis.
"Oh," sahut Ida. Matanya kembali menatap ke arah jalanan.
"Lalu, kenapa Tuan sekarang berada di kota ini?" Ida kembali bersuara.
"Mungkin takdir untuk bertemu denganmu kembali," sahut Syamsyir tersenyum berusaha mencairkan suasana.
Wajah Ida memanas, "hei Tuan, ingat istrimu di rumah!" Ida tertawa gugup.
"Haha ... Sebenernya aku sudah bercerai setahun yang lalu," sahut Syamsyir kemudian.
Ida menatap Syamsyir tak percaya.
"Dia merasa kalau aku hanya menjadikannya tempat pelarian ... Jadi dia memintaku untuk melepaskannya, daripada terus-terusan memaksakan hubungan yang makin hari makin terasa dingin." Tatapan Syamsyir menerawang.
"Ah, maaf ...." sesal Ida.
"Tak perlu minta maaf ... Ini semua terjadi akibat kelemahanku. Harusnya dulu aku tetap memperjuangkanmu ...."
"Sudah lah, Tuan. Itu hanya sepenggal cerita masa lalu, tak perlu berandai-andai lagi," potong Ida.
Ida kembali bungkam, Syamsyir pun seolah tenggelam dalam pikirannya. Akhirnya mobil yang dikendarai Syamsyir berhenti di sebuah gang yang tak jauh dari area pemakaman. Semburat jingga langit sore setelah hujan membuat suasana di sekitar makam tampak mencekam. Sisa-sisa air hujan yang masih membasahi jalanan menambah dinginnya suasana.
"Terima kasih sudah mengantarkan," ucap Ida ketika hendak turun.
"Biar aku antarkan sampai rumahmu," sahut Syamsyir.
"Tidak usah. Aku tidak ingin anak-anak salah paham jika aku pulang dengan seorang laki-laki," tolak Ida.
"Ah, ya. Maaf ...." Syamsyir mengurungkan niatnya yang hendak membuka pintu mobil. Menatap Ida yang berlalu ke arah gang kecil di samping makam.
Ida berjalan setengah tergesa menuju jalan samping makam. Berharap anak-anaknya tidak terlalu cemas karena ia pergi agak lama. Biasanya sebelum ashar dia sudah berada di rumah, baru kali ini ia pulang terlalu sore. Sesampainya di ujung gang, ia melihat Salma berlari menyambut kedatangannya dengan wajah khawatir.
"Amak kenapa pulang terlalu sore? Uni dari tadi cemas memikirkan Amak," tanya Salma.
"Maaf ya, Nak. Amak membuat kalian khawatir. Amak tadi dari rumah nek Risma. Inyiak sakit lagi." Tiba-tiba perih kembali terasa mengiris hatinya ketika Ida mengingat percakapan dengan tek Risma. Mulai besok, ia harus mencari pekerjaan lain agar bisa memberi anak-anaknya makan.
"Amak pasti lelah, ya? Uni Laili sudah memasakkan makan malam buat kita. Aku sudah lapar ... Tapi kata uni harus tunggu amak pulang dulu baru kita makan bersama," celoteh Salma.
__ADS_1
"Ah, Maafkan amak jadi membuat Salma harus menunggu," sahut Ida menahan getir.
Ida menggenggam erat tangan Salma, seolah mencari kekuatan dari tangan kecil anaknya. Anak-anaknya lah yang menjadi sumber kekuatannya untuk bertahan agar kuat menatap hari esok yang masih terlihat suram. Kekhawatirannya terhadap kehidupan anak-anak, sedikit mengikis rasa yang sempat mengacaukan hatinya setelah pertemuan dengan Syamsyir. Ia berharap esok akan menyambutnya dengan penuh kehangatan. Berharap senyum penuh harapan dari wajah anak-anak, mampu menguatkan jiwanya.