MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 62 (End)


__ADS_3

Waktu seakan bergulir begitu saja ketika seseorang merasa bahagia. Begitu pun Ida. Tak terasa lima belas tahun ia telah membersamai anak bungsunya, Salma.


Suatu siang, ketika Ida dan Raya —anak kedua Salma— tengah asyik bercerita, mereka kedatangan tamu, yang tak lain adalah Burhan.


"Jauh juga rumah Salma ya, Da." komentar Burhan ketika telah dipersilahkan Ida masuk.


"Iya, siapa yang memberitahukan Tuan alamat rumah ini?" tanya Ida cukup kaget dengan kedatangan Burhan yang tiba-tiba. Terakhir kali ia bertemu lima tahun lalu ketika berada di rumah Midah.


"Midah yang memberitahukan. Dia bilang kau terkenal jadi tukang urut di sini." Burhan terkekeh mencoba mencairkan suasana.


"Haha iya, untuk mengisi waktu luangku. Anak-anak Salma sudah besar, tidak terlalu menyita perhatian lagi. Lalu, siapa ini yang Tuan bawa?" Tanya Ida menunjuk anak laki-laki kecil yang menurut taksirannya masih berumur sekitar sepuluh tahun itu.


"Ini Yahya, adiknya Salma. Anak dari istriku di Kuantan," kekeh Burhan.


"Oh ... Aku pikir cucumu." Ida ikut terkekeh mengingat anak itu lebih muda dari cucu nya.


"Haha ... Lebih muda dari anak Salma, ya." Burhan kembali terkekeh.


Itu adalah kali kedua Burhan bertamu ke rumah Salma setelah anaknya itu menikah. Setelah menceraikan Ana, Burhan memilih untuk tak kembali ke Payakumbuh, menghabiskan waktunya untuk memulai hidup baru di Teluk Kuantan. Di sana ia menikah dengan seorang perempuan suku Jawa dan dikaruniai tiga orang anak. Anak yang dibawa Burhan adalah anak sulung dari pernikahannya dengan perempuan itu.


Cara masing-masing orang mengobati luka memang berbeda-beda. Jika Ida mengobati kehilangannya dengan terus bertahan dengan kesendiriannya, Burhan mengobatinya dengan cara mencari seseorang untuk menemani masa tuanya.


"Salma masih belum pulang?" tanya Burhan ketika melihat di rumah hanya ada Ida dan kedua cucunya, Asha dan Raya.


"Mungkin sebentar lagi dia pulang, biasanya dia pulang jam tiga."


"Bagaimana hidupmu, Da?" tanya Burhan kemudian.


Ia menatap wajah perempuan di hadapannya yang telah dimakan usia. Tubuhnya telah membungkuk, rambut hitamnya dulu sudah menipis dan memutih. Manik matanya yang dulu selalu mengalihkan pandangan setiap kali bersitatap, kini mulai berwarna kelabu ditutupi kelopak yang mulai mengendur. Satu hal yang tak berubah dari Ida, derai tawanya masih sama seperti saat mereka masih bersama. Derai tawa yang mampu menguarkan perasaan hangat dalam hatinya.


Sembilan tahun sudah ia tak bertemu. Namun, berapapun tahun yang telah terlewati, sudut hatinya masih saja menyimpan sosok perempuan pertama yang pernah membuat dunianya terasa sempurna sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Alhamdulillah, hidupku benar-benar terasa sempurna," sahut Ida memamerkan senyumnya yang sudah kehilangan beberapa gigi. Kedua lesung pipi yang selalu menambah pesona senyumnya tak lagi tampak, tertutup kerut yang menghiasi seluruh kulit wajahnya.


"Aku mendapatkan penghargaan sebagai veteran, jadi seperti orang gajian aku sekarang," lanjut Ida.


"Aah, memang sudah sepantasnya kau mendapatkan penghargaan itu," sahut Burhan.


"Apakah Tuan tidak mendapatkan penghargaan serupa?" tanya Ida, mengingat suaminya juga pernah ikut terlibat ketika agresi militer.


"Buat apa, Da? Tak banyak yang aku lakukan ketika perang," kekehnya.


"Tapi kemarin aku bertemu dengan beberapa teman yang juga mendapat penghargaan, padahal tugasnya dulu hanya membungkus nasi di dapur umum."


"Ya itu rezekinya, aku masih kuat bekerja. Lagipula aku merasa tak pantas menerima."


Tak pernah tepikirkan oleh Ida akan sampai pada masa ketika ia dan Burhan saling bertukar cerita tentang hidup mereka masing-masing seringan itu. Padahal dulu rasa kecewanya terhadap Burhan membuat ia berpikir tak akan sanggup lagi berhadapan dengan mantan suaminya.


Jauh sebelum kecelakaan terjadi, pernah juga ia berharap akan menjalani masa tuanya bersama suami, anak-anak, dan cucu-cucunya, namun takdir membuat mereka terpisah dan bertemu kembali layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Entah kemana perasaan yang dulu pernah mengusik jantungnya pergi.


"Assalamualaikum ...." Suara salam dari pintu menghentikan sepenggal cerita yang sedang Burhan dan Ida bagi.


"Sudah pulang kau, Sal?" sapa Burhan menatap penuh kerinduan pada wajah putrinya.


"Eh, Abak ... Sudah lama datang?" Salma menyalami Burhan.

__ADS_1


"Tidak terlalu lama, tadinya aku mau datang ke tempat kerjamu, tapi kupikir sebaiknya aku berkunjung ke rumahmu saja biar tak mengganggu waktu kerjamu."


"Haha ... Iya kapan lagi Abak bisa tau rumah ku kalau tak datang ke sini."


Pertemuan kembali setelah perpisahan memang mampu menghadirkan banyak cerita yang kadang bisa mencairkan suasana, namun tak jarang kekakuan juga tercipta. Begitu yang Salma rasakan saat Abaknya berkunjung. Rasa canggung begitu jelas terasa diantara percakapan anak dan bapak itu. Rentang waktu yang membuat mereka terpisah menjadikan mereka dua orang asing yang hanya terikat oleh pertalian darah.


****


Ida kembali harus berhadapan dengan kehilangan ketika ia mendapati kabar bahwa Burhan telah berpulang lima tahun setelah perjumpaan mereka terakhir kali di rumah Salma. Kunjungan itu merupakan kali terakhir Burhan bertemu dengan Ida sebelum ia jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya.


Diantar oleh Salma, Ida menghadiri pemakaman Burhan. Tak lagi ada derai air mata seperti ia melepas setiap kepergian pada masa lampau, bukan karena hatinya telah mati, tetapi ia memaknai setiap kepergian hanya sebatas perpisahan raga. Tak peduli orang yang kita cintai berada dimana, jika hati masih terpaut, mereka masih tetap tinggal di hati.


***


Maret 2007,


Sumatera Barat diguncang gempa hebat. Ida yang saat itu sedang berada di Bukittinggi merasakan dahsyatnya guncangan bumi pagi itu. Tak hanya bumi yang berguncang, hati Ida pun merasakan guncangan yang cukup dahsyat saat mendapatkan kabar bahwa Fatimah yang kala itu sedang menjalani pengobatan di Sumedang—Jawa Barat— menyerah dengan penyakitnya. Fatimah berpulang pada usia yang masih cukup muda, empat puluh tiga tahun.


Terpaksa merelakan kepergian buah hati tanpa bisa menyaksikan pemakamannya, membuat hati ibu manapun akan terasa remuk. Terlebih melihat kondisi anak bungsu Fatimah yang kala itu masih duduk di kelas dua sekolah menengah atas yang sangat terpukul, membuat Ida tak mampu menata hati yang terasa hancur.


Semenjak kepergian Fatimah, kondisi kesehatan Ida tak lagi sebaik biasanya. Katarak di mata membuat ia beberapa kali terjatuh, sehingga kaki tuanya mulai tak mampu untuk menopang badannya.


Karena kondisi Ida yang mulai bergantung pada orang sekitar, Laili meminta agar Ida untuk dipindah ke rumahnya di Candung.


"Uni, biar aku cari saja orang yang akan merawat amak, asalkan amak masih bersamaku," pinta Salma ketika Laili hendak membawa Ida ke rumahnya.


"Sal, amak itu masih punya anak yang masih punya waktu untuk mengurusnya, kenapa harus diserahkan pada orang lain. Biar uni saja yang mengurus amak. Kau tak perlu risau."


"Tapi aku telah bersama amak selama ini, tak sampai hati aku melepas amak dalam keadaan sakit untuk uni bawa. Aku tak mau dianggap habis manis sepah dibuang, saat amak sudah tua aku biarkan pergi bersama uni," isak Salma.


"Mak, maafkan aku ya. Aku ingin amak untuk tinggal bersamaku, tapi aku juga tak enak hati menolak keinginan uni," isak Salma tatkala melepas amaknya pergi.


"Kau tak usah sedih, Sal. Nanti kan masih bisa mengunjungi amak seperti pada awal kau kerja dulu," hibur Ida mengusap lembut rambut Salma.


***


Seminggu setelah lebaran, November 2008,


"Nek, Asha pamit berangkat ke Jakarta ya, Asha diterima kerja di sana," pamit Asha cucu Ida, anak pertama Salma.


"Ya, Asha kerja yang rajin ya, biar nanti kita bisa ke Mekah bersama," pesan Ida.


Asha, gadis yang dulu sering ia gendong sudah tumbuh besar. Dulu, ketika Asha masih tinggal bersamanya, mereka selalu merangkai cita-cita untuk berangkat ke Mekah bersama.


"Sebelum Asha pergi, tolong pijat punggung nenek ya, tak ada yang bisa memijat punggung nenek senyaman Asha memijat," kekeh Ida.


"Haha ... Nenek terlalu berlebihan," kekeh Asha.


"Tidak, nenek benar-benar rindu ketika Asha memijat punggung nenek," sahut Ida dengan suara bergetar.


"Nenek nanti doakan Asha jadi orang sukses ya, biar Asha bisa sering pulang untuk memijat punggung Nenek," sahut Asha menahan sesak.


Nenek yang selalu bersamanya semenjak ia kecil, belum mampu ia bahagiakan. Di hatinya, kedudukan Ida setara dengan kedudukan Salma. Neneknya yang selalu sabar menghadapi segala tingkah menyebalkannya ketika kecil. Meredam amarah Salma—ibunya— ketika Asha bertingkah. Menelisiki rambutnya ketika mereka mempunyai waktu santai bersama.


Setiap malam sebelum tidur, Asha selalu antusias mendengarkan cerita perjuangan Ida dulu. Ini bukan kali pertama Asha pamit untuk pergi keluar pulau, tetapi lebaran kali ini terasa begitu berat baginya berpamitan. Tubuh Ida tak lagi sekuat dulu, matanya pun sudah tak mampu lagi melihat.

__ADS_1


"Tentu saja, nenek selalu mendoakan anak dan cucu semuanya jadi orang sukses, tidak hanya sukses dunia, tapi akhirat. Asha juga harus ingat, jangan sekedar mengejar sukses dunia saja ya, sukses akhirat juga harus diperjuangkan," nasehat Ida.


"Iya Nek, insya Allah Asha ingat selalu."


****


Augustus 2009,


"Nek, Asha mau mengenalkan seseorang," ungkap Asha di ujung sambungan telepon.


"Calon pendamping mu, Sha?" tanya Ida.


"Haha ... Doakan saja," kekeh Asha di seberang, menyerahkan sambungan telpon ke seorang pemuda yang menyapa Ida dengan suara berat,


"Nek, saya Firman ...." sapa pemuda itu. Ada nada sungkan yang Ida tangkap dari nada dari pemuda di ujung Telpon.


"Ya, salam kenal ya. Kapan mau melamar cucu nenek? Jangan lama-lama, keburu nenek pergi," tembak Ida.


"Haha ... Doakan saja semua diberi kelancaran, Nek," sahut pemuda itu diselingi tawa kikuk.


"Ya, tentu saja. Nenek selalu berdoa untuk semua anak cucu nenek."


Setelah basa basi singkat dengan pemuda yang dikenalkan Asha padanya, percakapan mereka berakhir.


"Sal, kau coba kunjungilah anakmu. Kau lihat bagaimana pemuda itu. Tapi amak yakin, pemuda itu pria baik. Semoga saja mereka berjodoh dan lancar segala niat baik mereka," harap Ida.


Tak ada yang menyangka. Pembicaraannya dengan Asha ketika itu adalah pembicaraan terakhir dengan cucunya, sebelum Ida akhirnya menutup mata pada hari kedua lebaran, sebulan setelah pembicaraan itu.


***


September 2009,


Ida menutup mata untuk selamanya, meninggalkan begitu banyak kenangan pada anak-cucunya. Meninggalkan banyak pelajaran hidup dan berbagai petuah untuk menyemangati mereka. Ida mengajarkan pada anak-anaknya agar tak begitu saja menyerah dengan takdir. Mengajarkan arti kesetiaan kekuatan dan cinta yang tulus. Mengajarkan seburuk apapun hidup memperlakukanmu, jangan pernah berubah menjadi buruk. Karena hati yang bersih akan membawamu pada ridho Ilahi.


Ida memang bukan pahlawan kemerdekaan yang namanya tercatat dalam buku sejarah, pun pada batu nisan di makam pahlawan. Namun ia adalah pahlawan yang turut mempertaruhkan jiwanya untuk negeri, pahlawan bagi anak-anaknya. Perempuan yang selalu memberi tanpa pamrih, menyimpan seribu duka di balik senyum.


Kini, di bawah kaki gunung Marapi. Ida beristirahat dengan tenang, menyongsong keabadian dengan senyum terkembang indah pada wajahnya.


**TAMAT


****


**Assalamualaikum readers,


Terima kasih sudah memberi dukungan pada saya. Alhamdulillah selesai juga tulisan saya ini.


Btw tulisan saya ini terinspirasi dari kisah hidup nenek. Memang tak semua saya tuangkan pada tulisan ini, namun secara garis besar, seperti itulah perjuangan hidup nenek dulu ketika mengurus anak-anaknya.


Untuk tokoh semua nama samaran. Hanya mereka yang benar - benar terlibat saja yang tau siapa tokoh-tokoh itu hehe...


Akhir kata, saya ucapkan banyak terima kasih pada ibu dan maktuo yang telah menjadi narasumber saya saat menulis. Terima kasih buat dukungan sepupu semua. Dan terima kasih buat para readers yang telah menyempatkan membaca tulisan saya.


Love,


HN**

__ADS_1


__ADS_2