
Setelah mengenalkan Ida pada buk Isah dan pak Ujang. Burhan mengajak Ida berjalan-jalan di daerah sekitar rumah, hingga mereka sampai di pinggir sungai Batang Agam. Di pinggir Batang Agam, terlihat segerombol perempuan yang sedang mencuci pakaian. Riuh rendah suara mereka yang bercengkrama serta pekikan anak-anak yang bercanda, menambah ramainya suasana Batang Agam pagi itu.
Aura bahagia yang terpancar dari mereka yang ada di tepian Batang Agam ikut mengalir ke dalam hati Ida. Tanpa sadar ia ikut tersenyum melihat seorang anak kecil melompat dan berteriak nyaring tatkala ia melompat ke dalam sungai.
"Kau cantik kalau tersenyum, Da."
Ida tersentak ketika mendengar suara Burhan, wajahnya merona seketika. Baru kali ini ia mendengar pujian langsung dari seseorang.
"Tuan terlalu berlebihan," ucapnya tersipu.
"Aku mengatakan yang sebenarnya." Burhan tersenyum lembut, menatap tajam pada perempuan yang ada di hadapannya.
"Tuan, Han?" Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara seorang perempuan dari arah belakang mereka.
Ida dan Burhan serentak berbalik ke arah suara yang menyapa Burhan.
"Ah benar, Tuan Han," pekik perempuan itu dengan senyum terkembang.
"Hei Ana," sahut Burhan.
"Kemana saja Tuan selama ini? Ada yang bilang kalau Tuan ikut tertembak pada saat Belanda membantai para pemuda di jembatan itu," ujar perempuan itu menunjuk jembatan yang membelah sungai Batang Agam dengan wajah sedih.
"Tapi aku tidak percaya kalau Tuan tertangkap oleh Belanda," lanjutnya.
Ida memperhatikan perempuan yang berbicara dengan Burhan dalam diam. Gadis itu berwajah manis dengan kulit putih bersih, rambut yang di gelung rapi, mengenakan baju terusan merah muda sampai bawah lutut. Hidung mancung dengan mata agak sipit. Cara berbicaranya yang luwes membuat siapa saja akan tertarik mendengarkannya.
"Oh iya, Ana ... Ini istriku, Ida," tukas Burhan menghentikan celotehan Ana.
Mata gadis itu membesar seakan baru menyadari ada perempuan lain yang berdiri di sana. Ada rona ketidak sukaan yang Ida tangkap dari ekspresinya.
"Tuan sudah menikah?" ucapnya kemudian dengan wajah tidak percaya.
"Ya, sudah tiga bulan yang lalu."
"Dimana kalian berkenalan? Sepertinya istri Tuan bukan orang sini." Mata Ana seolah mematut-matut penampilan Ida.
"Di kampung Amak, di Kubang Putih," sahut Burhan singkat.
"Aku hendak mengajak istriku ke pasar dulu, ya," lanjut Burhan seolah tak ingin melanjutkan percakapan dengan Ana.
"Ya. Jika Tuan punya waktu luang, mampirlah ke rumah. Mande sering menanyakan Tuan," sahut Ana makin memperlihatkan wajah tak suka pada Ida.
"Salam buat mande, ya. Aku masih belum punya waktu untuk berkunjung ke sana."
"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu lagi." Ana berusaha membuat wajahnya terlihat biasa, namun tatapannya membuat Ida merasa tidak nyaman.
"Ya," sahut Burhan singkat.
__ADS_1
"Sepertinya Ana mempunyai rasa terhadap Tuan," ujar Ida ketika mereka telah berjalan agak jauh.
"Iya," jawab Burhan singkat.
"Lalu, kenapa tidak dengannya saja Tuan menikah?"
"Karena aku tak ingin," sahut Burhan dengan senyum menggoda, menoleh pada Ida.
"Padahal dia gadis yang cantik."
"Iya, lalu?"
"Bukannya laki-laki lebih tertarik dengan perempuan yang cantik?"
"Kau cemburu?" Burhan tersenyum jahil.
"Kenapa aku harus cemburu?"
"Oh, iya kau kan tidak menginginkan bersamaku ya," sahut Burhan dengan suara getir.
"Bukan begitu maksudku. Bagaimana mungkin seorang laki-laki sepertimu menyia-nyiakan perempuan yang menaruh perhatian padamu begitu saja."
"Ya, karena aku memang tak ada rasa terhadapnya."
"Lalu apa yang membuat Tuan mau menikahiku? Kalau bicara rasa, sejak kapan Tuan punya rasa terhadapku? " Ida berhenti berjalan, mendongak memandang wajah Burhan meminta penjelasan.
"Kau tau tidak, Da. Pertama kali aku melihatmu ketika aku dibawa amak ke kampung. Aku melihatmu baru pulang entah dari mana bersama Amai. Kau mengenakan baju dan rok berwarna putih, rambut dikepang dua, terlihat seperti noni. Hahaha," gelak Burhan ketika mengenang kali pertama ia melihat istrinya.
Ida tercenung, ia mencoba mengingat kembali kenangan yang Burhan sampaikan padanya.
"Sepertinya itu ketika aku dibawa amai kembali dari rumah ko Akong, keluarga yang mengangkatku jadi anak asuh," sahut Ida.
"Mungkin. Lalu setiap kali aku melewati rumahmu, aku tidak pernah melihatmu lagi, sampai pada akhirnya aku lebih sering melihatmu berada di rumah amai sekitar tiga tahun yang lalu. Aku mencari-cari informasi dari pemuda di kampung tentangmu. Tapi mereka semua serempak mengatakan kalau kau gadis yang sulit untuk di dapatkan. Mak dang mu orangnya terkenal garang."
"Hahaha. ... " Ida terkekeh mendengar penuturan Burhan. Ternyata bukan hanya ia yang merasakan kalau mamaknya itu galak, tapi orang di kampungnya juga mengakuinya.
Burhan terkesiap melihat Ida yang baru pertama kali tertawa lepas di hadapannya. Beban yang selama ini menggantung di wajah istrinya, hari itu sedikit sirna dari sorot matanya.
"Kenapa kau tertawa?"
"Ternyata mak dang memang terkenal galak ya. Jadi wajar kan, kalau selama ini aku sering merasa tertekan," ujar Ida seolah mencari pembenaran.
"Lalu, kenapa kau dulu tidak mau menikah denganku?" Burhan menatap mata Ida, mencari sedikit kejujuran dari mata itu.
"Aku dengar Tuan suka main perempuan, suka mabuk-mabukan, suka main judi." Ida berhenti bicara, ia menatap wajah Burhan, melihat reaksinya.
"Burhan yang mana kau dengar itu?" tanya Burhan dengan wajah penuh keterkejutan.
__ADS_1
"Burhan anak Sutan Rajo Mudo," sahut Ida dengan nada agak kurang yakin.
"Siapa yang menyebarkan berita seperti itu? Aku bukan pemuda yang seperti yang kau tuduhkan." Burhan membela diri.
"Entahlah, aku tidak tau dari mana kabar itu berasal."
"Itulah hebatnya fitnah, Da. Karena kabar tak jelas itu, kau sampai ingin mengakhiri hidupmu karena takut akan dinikahkan denganku yang dianggap mempunyai reputasi yang buruk."
Ida tercenung.
"Ah. Sudah hampir siang. Kalau kita tidak cepat-cepat, nanti kita tidak kebagian ampiang dadiah di pasar." Burhan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tuan. ..." Ida seolah ragu untuk meneruskan kalimatnya.
"Iya, kenapa?"
"Tuan belum menjawab pertanyaanku." Ida melanjutkan kalimat yang sempat terhenti.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Burhan bingung.
"Kenapa Tuan masih bersikeras hendak menikahiku, padahal Tuan tau aku tak menginginkannya?"
"Karena aku tak mau melepaskannya begitu saja apa yang sudah ada di hatiku."
Ida terperangah mendengar jawaban Burhan. Ia mencoba mencari kebenaran dari sepasang mata yang selalu menatap tajam itu.
"Kenapa? Kau tak percaya?" tanya Burhan heran melihat wajah Ida menatapnya seolah tak percaya.
"Rupaku tak begitu cantik, apa yang membuat Tuan tertarik padaku?" gumam Ida seperti berbicara pada diri sendiri.
"Kau tau tidak Da. Ketika hati yang berbicara, mata bisa jadi buta," kekeh Burhan.
"Ah Tuan pintar sekali bermain kata, pantas saja Ana tergila-gila pada Tuan," sembur Ida.
"Akui saja kau cemburu, Da," goda Burhan mencubit gemas pipi istrinya.
"Hei, ini di tempat umum. Malu kalau dilihat orang!" gerutu Ida.
"Kenapa harus malu, kau istriku."
Ida tersipu, wajahnya terasa panas.
"Hei jantung, apa yang kau lakukan berloncat-loncatan di dalam sana. Tidak. Bisakah kau memompa darahku dengan normal?" gumam Ida dalam hati.
Hari itu Ida seolah merasa terlahir kembali, bersama orang yang selama ini tak ia inginkan untuk ada dalam hidupnya. Namun untuk kesekian kali, hatinya seolah mengkhianatinya. Membukakan pintu untuk orang yang selama ini ia tolak untuk masuk ke dalam ruang hatinya.
Bersambung....
__ADS_1