
"Tuan ...." sapa Ida ketika ia melihat Burhan yang duduk tepekur di hadapan bayi mereka.
"Kau sudah beres mandi?" Burhan tersenyum lembut menyambut istrinya.
"Sudah," sahut Ida singkat.
Wajah Ida yang tadi pias sudah terlihat segar, walaupun masih ada gurat rasa lelah menggantung di sana. Rambutnya yang masih basah digelung erat dengan handuk.
"Itu apa di keningmu?" tunjuk Burhan.
"Ah ... Ini ramuan dari mak Saroh. Katanya ini biar aku tidak pusing." Ida mengusap keningnya pelan.
Ida berjalan pelan, memegangi perutnya yang telah dibebat kuat dengan gurita oleh mak Saroh setelah memandikannya. Namun rasa nyeri masih saja ia rasakan.
"Kau mau istirahat? Biar aku yang menjaga Yasir," ujar Burhan ketika Ida telah duduk di pinggir tempat tidur.
"Yasir?" Ida menatap heran suaminya.
"Haha ... Aku menamai bayi kita Yasir. Apakah kau setuju?"
"Nama yang bagus, aku bahkan tidak terpikirkan namanya," Ida tersenyum lemah.
"Istirahatlah," seru Burhan.
"Aku tidak diijinkan tidur."
"Siapa yang tidak mengijinkan?"
"Mak Saroh. Katanya pantang buat perempuan yang baru melahirkan tidur di pagi hari."
"Oh, kenapa bisa begitu?"
"Nanti darah putihnya naik ke kepala, bisa buta."
Ketika Burhan hendak bertanya lagi pada Ida, mak Saroh masuk kamar membawa nampan dengan mangkuk dan minuman di atasnya.
"Kau makan dulu, Da. Sudah aku buatkan bubur dan ramuan, agar air susumu banyak dan darah kotormu keluar semua."
" Terima kasih, Mak. " Ida mengambil nampan yang dibawa mak Saroh.
" Kalau kau hendak tidur, nanti setelah zuhur ya, Da. Aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi."
"Aku antar ya, Mak." Burhan bangkit dari duduknya.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Aku pamit ya," ujar mak Saroh meninggalkan kamar.
"Terima kasih, Mak," ujar Ida dan Burhan serentak.
"Ya," sahut mak Saroh, menoleh sebentar lalu berlalu keluar kamar.
"Tuan sudah makan?" tanya Ida menoleh pada Burhan yang tengah asyik mencolek pipi bayinya.
Rona bahagia terpampang jelas di wajahnya. Ia menatap bayi merah itu dengan tatapan dan senyum teduh.
"Ya Tuhan, maafkan aku yang dulu telah menolak laki-laki ini dengan segala prasangkaku," gumam Ida dalam hati.
Ida tercekat ketika menyendok bubur ke mulutnya. Rasa bersalah dan bahagia memenuhi rongga dadanya. Ia menunduk menatap mangkuk yang ada di pangkuannya.
Teringat juga ia akan wajah amai, terngiang-ngiang janji amai yang akan datang kembali mengunjunginya saat ia melahirkan. Ida tak mampu menahan airmatanya untuk tak jatuh. Rasa pedih kehilangan masih belum mampu ia tepiskan.
"Da, kau kenapa menangis? Masih sakit?" tanya Burhan khawatir.
"Aku hanya teringat amai, Tuan," isaknya.
"Kita berdoa saja agar amai bahagia di alam kubur ya, Da." Burhan mendekati Ida. Mengusap pelan kedua belah mata istrinya.
Ida hanya menjawab dengan anggukan, suaranya seperti tak mampu keluar. Burhan menarik Ida ke dalam pelukannya. Mencoba memberi sedikit ketenangan pada istrinya. Rengkuhan lengan kokoh Burhan meruntuhkan tembok pertahanan Ida. Rasa sesak yang ia rasakan seakan luruh begitu saja. Ia makin terisak, membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Tak ada kalimat penghiburan, Burhan hanya membiarkan Ida melepaskan semua beban yang menumpuk di hati istrinya. Ia paham, takkan ada kata yang tepat untuk menghibur seseorang yang berduka.
"Terima kasih, Tuan," lirih Ida dalam isakannya.
"Kau sudah lega?" tanya Burhan melepaskan Ida dari pelukannya, menatap pada kedua belah mata sayu yang ada di hadapannya.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Kalau begitu, kau habiskanlah makananmu. Mau aku suapkan?"
"Tidak usah. Tuan sudah makan? Sedari pagi buk Isah menemaniku di sini, pasti lah Tuan belum makan."
__ADS_1
"Iya, tapi rasa laparku hilang. Terima kasih, Da telah melahirkan makhluk yang Indah ini." Burhan menatap bayi yang masih terlelap di samping Ida.
"Tuan makan lah, jangan sampai Tuan jatuh sakit karena lupa makan." Ida tersenyum lembut pada suaminya.
Pandangannya terhadap Burhan benar-benar telah berubah, perlakuan Burhan yang terus menerus menghujaninya dengan pujian dan perhatian membuat rasa penolakan yang pernah bersarang di hatinya makin terkikis.
"Nanti saja, masih belum puas aku memandangi wajah Yasir," tolak Burhan.
"Tuan memang keras kepala. Nanti setelah makan, Tuan pandangilah sampai puas," gerutu Ida.
"Sama keras kepalanya dengan kau, Da," gelak Burhan.
"Memang pintarlah Tuan membalikkan kata."
Ida menyerah menyuruh Burhan untuk makan, kembali melanjutkan menyuap sesendok demi sesendok bubur yang ada di dalam mangkuk.
Tak hanya perutnya yang terasa penuh, hatinya pun ikut terasa penuh akan limpahan rasa sayang dari suaminya. Kebahagiaannya kini bertambah dengan kehadiran bayi mungil yang diberi nama Yasir.
----------°°°°°°------------
"Assalamualaikum ...." lirih suara salam di pintu ruang depan, disusul bunyi pintu yang dibuka.
Ida yang sedang menyusui Yasir membangunkan Burhan yang telah terlelap. Ia tau, pasti mak Halimah yang datang. Hari sudah menjelang tengah malam. Ia mendengar pintu kamar mak Halimah dibuka, disusul suara rengekan anak kecil dan suara Midah yang menenangkan anak-anaknya.
"Ternyata amak dan ni Midah datang bersama," gumam Ida dalam hati.
Ida meletakkan Yasir kembali ke tempat tidur tatkala bayi itu melepaskannya hisapannya. Ia bergerak turun dari tempat tidur hendak menemui mertuanya.
"Amak ...." sapa Ida ketika ia melihat mak Halimah masih berada di lorong depan kamar.
"Aku membangunkan kau, Da?" sahut mak Halimah setengah berbisik.
"Tidak, Mak. Aku sedang menyusui ketika amak datang."
"Ah, syukurlah. Aku takut mengganggu tidurmu. Burhan sudah tidur? Bayimu tidak rewel kan, Da?" berondong mak Halimah ketika berada di hadapan Ida.
"Burhan sudah tidur, tadi aku bangunkan dia sepertinya capek sekali. Yasir tidak rewel, Mak."
"Oh, kalian sudah memberinya nama?"
"Sudah, Tuan yang memberi nama."
"Eh, kau terbangun?" Midah yang baru keluar kamar mendekati Ida dan mak Halimah.
"Kau istirahat lah, Da. Besok kita lanjutkan lagi," potong mak Halimah.
"Iya, Mak. Aku ke kamar dulu." Ida pamit pada mertua dan iparnya.
"Ya, kau istirahat lah. Aku juga mau istirahat," sahut Midah.
Keesokan paginya, suasana rumah telah riuh ketika Ida bangun. Suara teriakan anak-anak Midah berlari-lari di sepanjang rumah menambah riuh suana pagi itu.
"Kau sudah bangun? Mak Saroh datang hendak memandikan Yasir." Burhan muncul di depan pintu kamar.
"Baru saja," sahut Ida beringsut turun dari tempat tidur.
"Da, boleh amak masuk?" Mak Halimah muncul di belakang Burhan.
"Iya, Mak."
"Mana dia cucu andung," ujar mak Halimah menghampiri tempat tidur.
Seakan menjawab pertanyaan neneknya, Yasir menggeliat pelan dalam bedongan. Membuka mulutnya dan mengecap-ngecap.
"Ah, mirip sekali dengan kau ketika bayi, Han," ujar mak Halimah takjub lalu merengkuh Yasir ke dalam gendongannya.
Aura bahagia menguar dari wajah mak Halimah, menularkan pada hati Ida. Tak sadar ia ikut tersenyum tatkala mak Halimah menimang-nimang Yasir.
"Da, mak Saroh hendak memandikan bayimu." Buk Isah melongokkan wajahnya ke dalam kamar.
"Oh, iya Sah." Mak Halimah menyerahkan Yasir pada buk Isah.
"Kau juga setelah ini segeralah mandi, biar nanti dipakaikan gurita lagi oleh mak Saroh." Buk Isah berlalu meninggalkan kamar.
"Kalau begitu, amak ke dapur dulu membantu buk Isah menyiapkan sarapan," ujar mak Halimah bangkit dari duduknya.
"Iya, Mak."
"Han, pergi lah kau ke pasar ternak membeli kambing, untuk acara aqiqah anakmu. Nanti amak dengan buk Isah memanggil tetangga untuk membantu memasak."
__ADS_1
"Baik, Mak. Lalu siapa yang memotong kambingnya?"
"Kau saja yang potong. Bukan kah lebih baik dipotong sendiri kambingnya."
"Iya, Mak."
Mak Halimah keluar kamar, meninggalkan anak dan menantunya.
"Aku berangkat ya, Da. Supaya aku bisa dapat kambing yang bagus."
"Ya, Tuan. Berhati-hatilah."
------------°°°°°°°°°--------------
Dua hari setelah mak Halimah datang, rumah mulai ramai. Tak hanya karena kehadiran Midah dan anak-anaknya saja. Tetangga di sekitar rumahnya yang ikut membantu persiapan acara aqiqahan serta turun mandi yang akan diselenggarakan oleh mertuanya, turut meramaikan suasana rumah.
Siang itu, Ida sedang berada di bilik mandi. Dapur yang sedari pagi sudah ramai makin terdengar bertambah ramai tatkala salah seorang tetangganya baru saja datang.
" Eh, Piah. Baru datang kau. Kemana saja kau sehari ini? Tadi aku panggil-panggil kau tak ada dirumah," sapa salah seorang tetangga yang telah terlebih dahulu turut membantu.
"Aku baru saja kembali dari rumah calon besanku, Uni. Tadi diajak calon menantuku melihat tempat tidur."
"Oh iya sebentar lagi kau akan bermenantu, ya."
"Iya. Sudah dari lama aku membujuk Ana mau menerima pinangan anak datuk Bandaro, tapi hatinya masih saja tertambat pada Burhan," kekeh tek Piah.
Ida keluar dari bilik mandi. Entah kenapa kali ini hatinya terasa panas mendengar pembicaraan tetangganya itu.
" Eh .... Ida, selamat ya kau sudah melahirkan. Aku tak sempat menengok karena sibuk mengurus persiapan pernikahan anakku, " ujar tek Piah dengan senyum yang di buat-buat.
"Iya, Tek. Terima kasih. Aku permisi dulu," pamit Ida.
"Ya."
Tepat ketika Ida berada di ujung tangga teratas, tek Piah kembali membuka suara.
"Walaupun Ana sudah mau menerima anak datuk Bandaro, tapi sepertinya hatinya masih saja berat ke Burhan."
"Sudahlah, Piah. Anakku itu hati hanya untuk menantuku saja, kau usahlah mengumbar-umbar isi hati anakmu pada orang lain, hanya akan membuat malu anakmu saja nantinya," potong mak Halimah yang berpapasan dengan Ida di ujung tangga.
Mak Halimah mengusap pelan bahu Ida.
" Tak usah kau hiraukan mulut si Piah, Da," bisiknya seraya turun ke dapur.
Tek Piah yang dari awal kedatangan bersemangat menceritakan tentang perasaan anaknya pada tetangga lain mendadak terdiam, wajahnya memerah.
"Kau tolong jaga sedikit mulutmu, Piah. Menantuku baru saja melahirkan, jangan sampai hatinya terluka karena mendengar omonganmu," tukas mak Halimah ketika sampai di dapur.
Ida beranjak pelan ke kamarnya. Perasaannya mulai risau. Walaupun ia tau hati suaminya hanya terpaut padanya, tapi tidak ada yang tak mungkin, jika seseorang yang tengah mabuk akan cinta bisa saja berbuat nekat dan menempuh segala cara untuk mendapatkan orang terkasihnya.
Sesampainya di kamar, ia melihat Burhan tengah menggendong Yasir. Bayi mungil itu terlelap dengan damai ya di lengan ayahnya.
"Yasir tadi terbangun ketika kau ke belakang," terang Burhan tersenyum ketika melihat kehadiran Ida.
Senyumnya seketika menghilang tatkala melihat mata Ida berkaca-kaca. Wajahnya murung.
"Kau kenapa, Da?" tanyanya heran.
"Mataku hanya ke masukan debu, Tuan," kilah Ida.
"Matamu tak bisa berdusta, Da. Kau kenapa?" desak Burhan.
Burhan meletakkan Yasir hati-hati kembali ke tempat tidur lalu mendekati Ida yang masih bergeming di dekat pintu. Bibirnya bergetar, airmata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh.
"Kau kenapa?" ulang Burhan, menuntun Ida untuk duduk di tempat tidur.
"Tuan, bagaimana jika Ana masih memaksa untuk bersama Tuan? Apakah Tuan akan menjadikan dia maduku?" gumam Ida.
"Dari mana kau mendapat pemikiran seperti itu?" selidik Burhan.
"Tadi tek Piah bercerita ke semua tetangga yang ada di dapur, kalau Ana masih belum bisa melepaskan Tuan dari hatinya. Entah kenapa hatiku terasa sakit," isak Ida.
Burhan tergelak mendengar penuturan Ida.
"Haha ... Kau cemburu ya, Da?"
"Entah lah, yang jelas ada rasa takut yang aku rasakan. Aku takut jika Ana berbuat nekat, ia merebut Tuan dariku dengan cara yang tidak baik," isakan Ida makin keras.
"Sshh ... Sudah kau jangan berpikir terlalu jauh. Kita berdoa saja semoga Allah tak merubah perasaanku terhadapmu, Da," hibur Burhan.
__ADS_1
Burhan menatap tajam mata Ida yang basah. Hatinya terasa hangat. Perasaannya yang selama ini selalu terasa berat sebelah, hari ini seolah terisi sama beratnya. Ida telah menyambut perasaannya. Selama ini, ia merasa hanya memiliki tubuh Ida namun tidak hatinya. Hari ini, ia merasa telah memiliki Ida seutuhnya.
"Tuhan, terima kasih telah menjawab doa-doaku di setiap sujud sepertiga malamku," gumam Burhan dalam hati.