MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 42


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Ida terus menata hati, mengobati rasa sakit yang seakan tak pernah sembuh. Rumah yang pernah sempat kehilangan jiwa, seolah kembali mulai bernafas dengan kehadiran Laili dan Fatimah. Laili dengan ketenangan sifatnya bertolak belakang dengan Fatimah yang lebih aktif dan bersemangat. Keceriaan Fatimah seolah menghidupkan kembali suasana rumah yang sempat sepi karena kepergian Yasir dan Mila.


Jika Laili adalah malam yang menenangkan, Maka Fatimah adalah siang yang menyuguhkan keceriaan. Sifat Fatimah yang suka jahil terhadap kakaknya, membuat suasana rumah tak pernah sepi dari pekikan Laili.


Dari perawakan, Fatimah tidak berbeda jauh dengan Laili. Tampilan fisik mereka mirip dengan abaknya, namun kulit Fatimah lebih mengikuti kulit Ida yang kuning langsat.


"Ima! Tidak boleh nakal!" teriak Laili suatu siang, berlari mengejar Fatimah.


Ima --panggilan Fatimah-- berlari menghampiri Ida.


"Kenapa, Li?" tanya Ida tatkala melihat wajah Laili yang kesal.


"Ima menarik bonekaku sampai rusak, Mak," isak Laili menyodorkan boneka panda yang tak lagi utuh tangannya.


"Ima kan juga punya boneka, kenapa boneka Uni juga diambil?" tanya Ida lembut pada Ima yang sudah meringkuk di pelukan Ida.


"Ima injam," sahutnya takut-takut.


"Tapi jadi rusak." Laili mulai menangis.


"Nanti amak perbaiki lagi ya, Nak. Adikmu belum mengerti," bujuk Ida pada Laili.


"Iya, Mak." Laili mengusap mata dengan ujung bajunya.


"Ima harus minta maaf sama Uni, ya." Ida menarik Fatimah dari pelukannya.


"Aaf," ujar Ima mengulurkan tangannya pada Laili.


"Iya, besok tidak boleh tarik boneka uni, ya."


Fatimah mengangguk cepat. Ia kembali ke kamar bersama Laili. Tak lama suara tawa kedua gadis kecil itu mulai terdengar lagi.


Tak henti-hentinya Ida mengucapkan syukur. Teriakan dan tawa mereka seolah penawar bagi rasa sakit yang Ida rasakan selama ini Laili dan Fatimah, dua kutub yang bertolak belakang, seolah menyeimbangkan dunia Ida yang pernah hampir runtuh.


"Assalamualaikum ...." Suara salam di depan pintu membuyarkan lamunan Ida.


"Waalaikum salam," Ida membuka pintu, menatap heran sesosok pria tak dikenal di hadapannya.


"Tuan mencari siapa?" tanya Ida.


"Mak Isah masih tinggal di sini, Uni?"


"Iya, masih. Tuan siapa?"


"Mus, kau kah itu?" terdengar suara buk Isah dari belakang. Suara paraunya terdengar bergetar.


"Iya Mak, ini anak Amak," sahut pemuda di hadapan Ida. Matanya berkaca-kaca tatkala melihat buk Isah berjalan tergopoh menyambutnya.


Ida menepi, memberi ruang pada ibu dan anak itu.


"Ondeh, yuang. Aku kira kau sudah tidak ada. Kemana saja kau?" tangis buk Isah pecah.


Tiga belas tahun buk Isah berpisah dengan anaknya. Perang membuat mereka tercerai berai. Selama ini buk Isah telah merelakan kepergian anaknya. Tak pernah ia menyangka, anaknya yang selama ini ia anggap telah tiada kini muncul di hadapannya.


"Aku dibawa ke Jawa, Mak." sahut Musa, anaknya buk Isah.


"Kau duduklah ... Oh iya ... Da, ini anakku yang pernah aku ceritakan padamu selama ini," ujar buk Isah seolah baru menyadari kehadiran Ida di antara mereka.

__ADS_1


"Maaf ya Uni, kedatanganku tiba-tiba mengejutkan seperti ini." Musa menyalami Ida.


"Oh! Tidak apa-apa. Aku tinggal dulu ya," pamit Ida.


"Terima kasih, Da," sahut buk Isah. Rona bahagia tergambar jelas di wajahnya yang mulai penuh dengan kerutan.


"Ya, Buk." Ida tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan ibu dan anak itu.


Ida berlalu ke dapur, berniat hendak menyuguhkan minuman untuk Musa dan buk Isah.


"Siapa yang datang, Da?" tanya pak Ujang yang baru kembali dari sawah.


"Pak, Musa anak Bapak telah kembali," sahut Ida dengan penuh semangat.


"Aku tidak salah dengar kan, Da?" tanya pak Ujang seolah meyakinkan pendengarannya.


"Tidak, Pak. Segera lah bapak ke atas," seru Ida.


"Ah ... Ya ... Ya...." pak Ujang tergopoh menaiki tangga.


"Mus, benarkah kau yang datang?"


Ida mendengar suara pak Ujang bergetar, kemudian terdengar suara tangis pak Ujang. Segala ungkapan puja-puji ia ucapkan.


"Silahkan diminum." Ida meletakkan cangkir minuman hangat di meja.


"Terima kasih, Da." sahut buk Isah.


"Ya, Buk. Tidak apa-apa aku tinggal ya buk?" Ida kembali pamit, tak mau mengganggu reuni keluarga kecil itu.


Sore hari ketika Burhan pulang, ia bersorak bahagia tatkala melihat Musa.


"Jadi kau akan menikah?" tanya Burhan setelah mendengar kisah perjalanan hidup Musa.


"Iya. Aku baru bisa kembali ke sini setelah bisa mendapat masa cuti."


"Kenapa kau tak mengirimkan kabar, setidaknya melalui surat, apa kau tak tau bagaimana perasaan amakmu selama ini," tanya Burhan.


"Aku pernah mengirimkan surat, tapi tak pernah mendapatkan balasan. Aku sempat berpikir amak tidak selamat ketika Payakumbuh diserang. Tapi aku tetap berniat hendak memastikan keberadaan amak terlebih dahulu sebelum aku menikah," terang Musa.


"Alhamdulillah, senang hati amak, kau masih ingat kembali ke Payakumbuh, Mus. Diijabah doa amak selama ini," Buk Isah menyusut airmata yang mulai menggenang di ujung mata keriputnya.


"Kalau boleh aku minta sama kau, Han. Aku hendak membawa amak ke Jawa. Biar amak bersamaku. Bukan aku anak tak tau balas Budi sama keluargamu, tapi aku juga ingin amak tinggal bersamaku. Sekian tahun aku terpisah dengan amak, tak kuat rasa hatiku, Han." Suara Musa mulai bergetar.


"Ah ... Sebenarnya ini pilihan sulit bagiku, Mus. Mengingat aku juga telah menganggap amakmu sudah seperti amakku. Tapi apalah daya, kau lebih berhak," sahut Burhan. Mata Burhan mulai berkaca-kaca. Dipandanginya buk Isah dan pak Ujang yang duduk di ujung balai bambu tempat mereka duduk makan bersama.


"Aku mengerti, Han. Tapi aku sekarang ditugaskan di pulau Jawa. Tidak bisa menemui amak kapanpun aku mau." Musa mengajukan alasannya.


Burhan hanya mengangguk-angguk kecil, terlihat ia sedang berpikir. Entah apa yang ada di pikirannya. Ida hanya memperhatikan dalam diam.


"Da, kau tidak apa-apa kan, kalau aku tinggal? Sebenarnya hatiku juga berat meninggalkan rumah ini, tapi aku juga ingin bersama dengan anakku."


Ida menatap buk Isah, wajah yang telah dimakan usia itu tampak penuh harap. Ah, seandainya kisahnya juga seperti ini, bertemu kembali dengan amak dan abaknya. Ida mengerti bagaimana perasaan buk Isah.


"Iya, Buk. Ikutlah bersama Tuan Musa, bukankah ini jawaban dari doa Ibuk selama ini." Ida mengusap lembut punggung buk Isah.


"Kau tunggu amakku sebelum berangkat ya, Mus. Besok insyaAllah amak kembali ke Payakumbuh," ujar Burhan.

__ADS_1


"Iya, tentu saja aku harus pamit sama mak tuo," sahut Musa.


Ketika mak Halimah datang, beliau tak kalah bahagianya menyambut kembalinya Musa ke rumah mereka.


"Kapan kau akan kembali ke Jawa, Mus?" tanya mak Halimah.


"Insya Allah lusa, Mak."


"Kita jalan-jalan dulu sebelum kau berangkat," usul mak Halimah.


"Tapi Mak Tuo baru pulang dari Teluk, apa tidak lelah?" ada rasa sungkan dari nada Musa.


"Anggap saja buat perpisahan denganmu, Mus. Entah kapan lagi kita akan bertemu," sahut mak Halimah lembut.


Musa sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Musa dan Burhan hampir seumuran. Dulu, ketika mak Halimah berjualan dari pakan ke pakan, buk Isah yang selalu mengikutinya kemana pergi. Ketika buk Isah menikah, melahirkan Musa dan adik-adiknya, buk Isah sempat pindah ke kampung.


Lalu, ketika Burhan berumur tiga tahun, buk Isah kembali ke rumah mak Halimah di Payakumbuh, karena rumahnya di kampung habis terbakar ketika Belanda menyerang. Semenjak itu, buk Isah selalu bersama Burhan ketika mak Halimah memulai usahanya di Teluk Kuantan.


***


Minggu pagi, matahari bersinar dengan terik. Tak seperti pagi-pagi sebelumnya di Payakumbuh, pagi itu tak ada kabut yang menggantung. Langit begitu cerah, menampilkan gunung Sago yang menjulang kokoh seakan menopang langit biru di atasnya.


"Nah, ayo kita berangkat," ajak mak Halimah.


Di jalan depan rumah, sudah terparkir sebuah mobil yang biasa digunakan Burhan untuk membawa dagangannya. Tanpa menunggu lama, mereka bergegas menaiki mobil setelah memastikan semua perbekalan mereka muat ke dalam mobil. Mobil tua itu berjalan perlahan, meninggalkan Payakumbuh yang masih sepi.


Tujuan perjalanan mereka hari itu ke danau Singkarak, sebuah danau terbesar di Sumatera Barat. Perjalanan menuju Singkarak yang berkelok-kelok serta sejuknya udara yang masuk melalui jendela mobil, membuat dua penumpang kecil yang dari awal berangkat selalu bertanya akhirnya tertidur.


Menjelang siang, mobil yang mereka tumpangi berhenti di tepian danau dengan panorama yang menyejukkan mata. Danau terbentang luas di hadapan mereka, dikelilingi bukit barisan seolah berdiri menjaga danau yang terlihat menyimpan banyak rahasia.


Mereka menggelar tikar dan perbekalan yang mereka bawa di pinggir danau yang berbatu. Udara yang dingin serta bunyi air yang menghempas tepi danau karena ditiup angin, membuat Laili hanya meringkuk di pelukan Burhan.


"Laili kenapa? Ayo sini duduk sama andung," tanya mak Halimah melihat cucunya tampak tak bersemangat.


"Takut," sahut gadis kecil itu mengeratkan pelukan pada abaknya.


Sementara itu Fatimah berlari-lari di pinggir danau. Tampak menikmati ketika kakinya menginjak batu dan di sapu ombak danau.


"Uni, sini ... Abak, boleh berenang?" tanya gadis itu dengan bahasanya yang masih cadel.


"Masih dingin, Ima. Nanti kalau sudah agak siang, abak temani berenang."


Menjelang sore, mereka kembali ke Payakumbuh, setelah seharian menikmati panorama danau Singkarak nan asri. Anak-anak yang telah lelah bermain air, kembali tertidur melanjutkan petualangan mereka ke alam mimpi.


****


Hari yang ditunggu mak Isah datang. Buk Isah pagi itu mengenakan kain baju kurung di balik baju hangat rajut berwarna coklat. Selendang kuning dengan sulaman bunga Lili di pinggirnya, ia lilitkan ke leher untuk mengurangi rasa dingin. Matanya mengawasi Musa yang tengah memuat barang bawaan mereka ke rak yang terdapat di bagian atas bus antar kota itu.


Pak Ujang terlihat masih berbincang dengan Burhan tak jauh dari tempat bus terparkir. Wajah Burhan tampak serius mendengarkan apa yang disampaikan pak Ujang.


"Aku berangkat, Limah," pamit buk Isah pada mak Halimah yang berdiri di sampingnya.


"Kau hati-hati di jalan, Sah," sahut mak Halimah memeluk buk Isah tampak jelas tergambar rasa sedih di wajah mak Halimah.


"Terima kasih atas bantuan Ibuk selama ini ya, Buk," ucap Ida ketika buk Isah mendekatinya.


"Iya, Da. Kau baik-baik, ya." Suara buk Isah tercekat.

__ADS_1


Ida hanya mengangguk. Bagaimana pun, perpisahan selalu saja menyisakan rasa kehilangan. Sewindu kebersamaannya dengan buk Isah, membuat ia merasakan kembali kehadiran kasih sayang seorang ibu. Walaupun ia tak mempunyai pertalian darah dengan perempuan itu, buk Isah selalu memperhatikannya layaknya memperhatikan putrinya sendiri.


Setidaknya perpisahan kali ini, masih menyisakan sedikit harapan, suatu hari kelak mereka bisa bertemu. Entah kapan takdir akan mempertemukannya kembali, yang pasti ia bisa turut merasakan kebahagiaan seorang ibu yang menemukan kembali buah hatinya.


__ADS_2