
"Kapan rencana Tuan berangkat ke Teluk Kuantan?" Ida berbalik menghadap Burhan. Ia menghentikan gerakan menyisiri rambutnya.
"Kau sudah bosan melihatku, Da?"
Burhan yang hampir tertidur menoleh pada Ida.
Wajah Ida hanya tampak seperti siluet karena Ida duduk membelakangi cahaya lampu minyak yang digantung di samping meja rias. Ia tak bisa melihat ekspresi istrinya dengan jelas.
"Bukan begitu maksudku, nanti aku mau memasakkan bekal untuk Tuan di perjalanan. Tuan mau dibuatkan apa?"
Burhan duduk dari posisi yang tadinya berbaring.
"Apa saja yang akan kau buatkan untukku, aku terima, Da." Senyum lebar terkembang di bibir Burhan. Lesung pipinya tercetak makin dalam di pipi kirinya.
Perasaannya seperti gayung bersambut. Istrinya yang biasa kaku dan tampak selalu menghindar, sudah mulai membuka hati.
"Kalau begitu, besok aku ke pasar untuk belanja."
"Kenapa tidak minta buk Isah saja buat belanja?"
"Tak enak hatilah aku meminta buk Isah, Tuan. Lagipula aku juga ingin mengenal daerah sekitar sini."
"Kalau begitu, biar aku antar ya. Nanti aku tunjukkan tempat langganan amak biasa belanja ...." Burhan menghentikan kalimatnya.
"Tapi apa mereka masih ada ya? Semenjak tahun kemarin aku belum ke pasar lagi," lanjut Burhan dengan suara agak sedikit ragu.
"Memangnya mereka kemana?" tanya Ida penasaran.
"Setelah Belanda masuk akhir tahun 1948, pasar sudah lengang. Sepertinya tidak ada yang berani berjualan juga."
Ida berpindah duduk ke samping Burhan. Burhan menatap Ida, bingung.
"Tuan ada dimana waktu agresi terjadi?" tanyanya penasaran.
Burhan teridam agak lama, memandangi wajah istrinya yang tampak penuh minat. Lalu tersenyum.
"Memang beda ya kalau mantan pejuang," gelaknya.
"Maksudnya?" Ida memperlihatkan wajah bingung.
"Kalau aku cerita dengan orang lain, mereka tidak begitu tertarik. Sementara kau, malah sebaliknya. Tidak biasanya mau mau duduk di sampingku kalau tidak aku suruh," gelak Burhan.
"Haha ... Aku penasaran, selama ini aku hanya merasai kondisi perang di Padang dan Bukittinggi saja. Jadi aku juga ingin tau kondisi di tempat lain."
Kali ini Ida menatap lama mata Burhan penuh harap. Berharap Burhan mau menceritakan kisahnya pada masa agresi.
" Aku ada di sini waktu itu." Burhan berhenti bicara. Menunggu reaksi Ida.
Mata Ida membuka lebar. Ia merubah posisi duduknya makin menghadap Burhan.
"Lalu?" Ida mulai tidak sabar.
"Kau penasaran?"
"Iya, kenapa ceritanya hanya sepotong-potong seperti itu?" sungutnya.
"Coba sambil kau pijat punggungku," seringai Burhan.
"Jadi cerita ini ada upahnya?"
"Iya, aku tak mau memberikan cuma-cuma."
"Tuan suami pelit," rajuk Ida.
"Nanti gantian," bujuk Burhan.
"Berbaliklah," perintah Ida.
"Jadi kau mau?" Burhan tampak tak mempercayai pendengarannya.
"Iya," sahut Ida singkat.
__ADS_1
Sekilas Burhan mengecup pipi istrinya. Walaupun itu bukan kali pertama Burhan mengecupnya, tapi kali ini ada perasaan lain yang ia rasanya. Pipinya memanas. Untung saja Burhan sudah berbalik, jadi ia tak terlalu malu jika Burhan melihat perubahan di wajahnya.
"Desember tahun 1948, aku tidak begitu ingat tanggalnya. Belanda mulai menyerang kota ini, menghancurkan beberapa bangunan penting di sini. Nanti kapan-kapan aku ajak kau berkeliling melihat bangunan yang menjadi sasaran serangan Belanda ya." Burhan memulai kisahnya.
"Iya. Lalu?" kejar Ida mulai memijat punggung Burhan.
"Pandai kau memijat ya, Da. Enak sekali rasanya," puji Burhan ketika merasakan tangan istrinya mulai memijat punggungnya.
"Lanjutkan ceritanya. Ini bukan hadiah cuma-cuma."
"Haha ... Kau juga istri pelit," gelak Burhan.
"Ya sudah. Kalau begitu tidak usah dilanjutkan. Aku mau tidur saja." Ida menghentikan pijatannya dan menggeser duduknya.
"Haha ... Jangan merajuk seperti itu lah, Da." Burhan menarik kembali tangan Ida.
Ida kembali duduk masih dengan wajah yang ditekuk, menunggu kelanjutan kisah suaminya.
"Belanda pada saat itu, juga memberlakukan jam malam. Hampir setiap hari kami di sini melihat mayat bergelimpangan. Belanda benar-benar membabi buta dalam melakukan pembersihan. Tidak pandang bulu, salah langkah sedikit nyawa taruhannya."
"Lalu Tuan kemana?"
"Aku membawa amak melarikan diri ke Simalanggang bersama buk Isah dan pak Ujang." Burhan berhenti bicara, seperti ada perih yang menggantung di matanya.
"Setelah memastikan amak aman, aku kembali, bergabung dengan BPNK ...."
"Apa itu BPNK?"
"BPNK itu singkatan Badan Pengawal Negeri dan Kota, terdiri dari para pemuda yang ada di Payakumbuh." Jeda agak lama. Kali ini Burhan seperti tercekat hendak meneruskan kembali ceritanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ida melongokkan wajahnya ke arah Burhan.
"Kami sering bergerilya untuk menyerang markas Belanda. Akibatnya Belanda makin mengganas. Mereka menangkapi setiap pemuda yang mereka curigai, aku berhasil lolos. Sayangnya beberapa temanku tertangkap, mereka digiring ke jembatan di Batang Agam yang kemarin kita lihat sewaktu hendak ke pasar ...."
Hening. Ida sudah bisa membayangkan kemana arah kisah Burhan. Ada rasa sesal di hatinya menanyakan kondisi Payakumbuh kala itu. Ia merutuki diri, kenapa ia malah membuka luka. Bukan hanya luka Burhan saja yang terbuka, luka di hatinya pun ikut terbuka. Membuka setiap titik luka kenangan akan kehilangan orang yang ia sayangi selama masa agresi Belanda.
"Maaf, Da. Aku tak sanggup meneruskan ...." Suara Burhan terdengar serak.
"Maafkan aku, tak ada niatku hendak membuka luka," sesal Ida.
"Ya, tak mengapa. Bukan hendak melupakan begitu saja perjuangan kemarin, tapi aku masih belum mampu untuk mengobati sakit hatiku, Da," ujar Burhan lirih.
"Iya, aku mengerti."
"Mungkin nanti, ya. Kita saling bercerita pada anak cucu kita," seringai Burhan, walau masih ada sedikit luka yang menggantung di matanya.
"Ya," sahut Ida singkat. Ia masih terbawa suasana, ia masih belum mampu mengelola hatinya.
"Maafkan aku, Tuan," ujarnya kemudian setelah merebahkan kepalanya ke bantal.
"Untuk apa?" Burhan menghentikan langkahnya yang hendak meniup lampu minyak.
"Karena aku sudah merusak suasana hatimu," sahut Ida, lebih terdengar seperti gumaman.
"Tak usah kau pikirkan, marilah kita istirahat."
--------------°°°°°°----------------
"Kau baik-baik ya di rumah. Kalau hendak keluar, minta temani pada buk Isah," pesan Burhan.
"Ya, Tuan berhati-hati lah di jalan." Ida menyalami Burhan.
"Doakan saja semua urusanku beres dengan cepat. Mungkin nanti aku pulang bersama amak."
"Nanti amak ikut pulang ke sini?"
"Iya, tapi kau tak perlu mempersiapkan apa-apa. Biasanya amak cuma sehari dua hari di sini," ujar Burhan mengelus pipi Ida lembut.
"Baik." Ida tertunduk, menahan wajahnya yang mulai memerah.
Burhan menaiki truk pengangkut barang yang telah menunggunya di jalan depan halaman rumah. Rak bagian atas truk keluaran Chevrolet tahun 1948 itu dipenuhi barang dagangan Burhan berupa rempah, biji kopi, dan sato [1].
__ADS_1
Kali ini adalah kali kedua Burhan meninggalkan Ida untuk berdagang setelah menikah. Seperti ada yang membuatnya merasa berat melepas suaminya. Setelah sebulan penuh ia selalu bersama Burhan, membuatnya mulai terbiasa dengan kehadiran suaminya.
Ada setitik sepi menyusup ke dalam hatinya setelah truk yang membawa Burhan mulai menjauh. Ida masuk ke rumah, menutup pintu perlahan. Matanya masih terpaku ke arah jalan, entah berharap melihat apa dari jalanan itu.
Ida berjalan ke arah dapur. Ketika melewati kamar yang terdapat di sebelah kamarnya, ia melihat pintu ruangan itu terbuka. Di sana ada buk Isah yang tengah asyik menjahit sesuatu dengan mesin jahit.
"Sedang menjahit apa, Buk?" Ida mendekati buk Isah yang tak menyadari kedatangannya.
"Eh, Ida." Buk Isah menghentikan kakinya yang menggenjot pedal mesin jahit. Seketika bunyi deru mesin jahit terhenti.
"Sudah berangkat ya, Burhan?" tanya buk Isah memutar tubuhnya menghadap Ida.
"Sudah. Ibuk sedang menjahit apa?" Ida mengulangi pertanyaanya.
"Oh, ini ... Aku sedang menjahit baju. Kau bisa menjahit, Da?"
"Bisa, tapi belum terlalu bagus hasilnya." Ida menduduki kursi yang ada di samping buk Isah.
"Nanti kalau kau mau jahit, pakai saja mesin ini. Mertuamu sudah mengizinkan memakainya."
"Iya, Buk. Aku belum punya kain untuk di jahit. Teruskan saja menjahitnya buk." Ida melirik lemari yang ada di samping buk Isah. Sebuah lemari ramping berupa rak dari kayu, seperti perabot lainnya di rumah itu, terbuat dari kayu jati yang dipelitur.
Ida mendekati lemari. Di rak lemari itu berjejer buku yang disusun rapi, buku-buku sastra dan kitab-kitab.
"Ini buku siapa, Buk?" tanya Ida takjub tanpa mengalihkan pandangannya dari susunan buku.
"Punya mendiang abak Burhan. Dulu ini ruangan kerja beliau." Buk Isah kembali menghentikan gerakan kakinya pada pedal mesin jahit.
"Aku boleh pinjam, Buk?" Ida menatap penuh harap pada buk Isah.
"Kau bisa membaca?" tanya buk Isah takjub.
"Bisa, Buk. Jadi boleh aku pinjam?"
"Ya, kau bacalah. Aku tidak bisa membaca, jadi buku itu hanya jadi pajangan buatku," kekeh buk Isah.
Wajah Ida seketika berubah cerah. Ia memilih-milih buku yang akan dibacanya. Matanya tertuju pada sebuah buku dengan judul "Kasih Tak Terlarai". Ida pamit meninggalkan buk Isah, masuk ke kamarnya.
Seharian itu, Ida menghabiskan waktu di kamar membaca buku yang di bawanya dari kamar sebelah. Ia keluar hanya untuk makan dan sesekali ke air.
Setelah shalat isya, Ida meneruskan membaca buku, namun karena sudah tak mampu lagi menahan kantuknya, ia tertidur di depan meja riasnya.
Pagi setelah shalat subuh, Ida yang hendak membantu buk Isah memasak untuk sarapan, tiba-tiba merasa pusing. Keringat dingin mengucur dari keningnya.
"Kau kenapa, Da? Wajahmu pucat betul," tanya buk Isah dengan wajah khawatir.
"Berasa tak enak badanku, Buk. Mungkin karena kemarin kelamaan membaca," sahut Ida lirih.
Tak lama, ia berjalan tergesa ke bilik air. Ia merasakan perutnya seperti dijungkal balikkan. Ketika ia keluar dari bilik air, buk Isah sudah berdiri di depan pintu bilik.
" Kau sudah datang bulan, Da? " tanya buk Isah dengan ekspresi yang tak dimengerti Ida.
"Sepertinya bulan ini belum, Buk."
"Sudah berapa lama kau tidak datang bulan?" selidik buk Isah.
"Aku tidak begitu ingat. Kenapa Buk?" tanya Ida heran.
"Mungkin kau sudah mulai mengandung." Senyum buk Isah terkembang pada wajah tirusnya menampilkan gigi yang memerah karena sering mengunyah sirih.
"Oh ... Begitukah, Buk?" Ida seperti kebingungan. Tanpa sadar tangannya mengusap perut.
"Nanti aku panggilkan mak Saroh, dukun beranak di belakang ya, biar dia yang pastikan benar apa tidaknya kau mengandung. Sekarang kau duduk saja, tidak usah turut memasak," usir buk Isah.
"Tapi, Buk ...."
"Sudah, sana kau ke atas dari pada kau makin pusing di sini." Buk Isah kembali mengusir Ida.
Ida berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamarnya. Perasaannya mulai tak menentu, rasa khawatir mulai menjalari pikirannya.
[1] Sato\= daun tembakau yang belum terlalu kering dijemur.
__ADS_1